MANDY

MANDY
Menyamar Jadi Polisi


__ADS_3

Bron gedor meja dengan kepalan tangannya, mata berputar kiri kanan, memperhatikan kostum seragam The Punk lengkap dengan ditempel logo di bagian saku sebelah kanan.


Polisi The Punk menundukkan kepala, jika sang Bos sudah gedor meja, maka mereka berdiri anteng tanpa bersuara memotong ucapan.


“Aku nggak butuh polisi yang cemen, lemah, apalagi kalah dihajar sama Mandy.” Bron mondar-mandir di depan papan tulis putih.


Mencorat-coret papan tulis putih dengan cekatan, suara ketokan spidol membuat pandangan mata polisi The Punk fokus ke papan tulis putih.


Gambaran orang digantung di tali dengan posisi tubuh terbalik, Bron ambil satu borgol meletakkan ke atas meja. Kemudian dia tarik salah satu polisi bertubuh kurus seperti asbes rumah.


Saking kurus polisi ini, Bron coba tendang pelan-pelan kedua kakinya. Sekali tendang di bagian betis, kaki polisi sudah bengkok. Berdiri tegak, dada dicondongkan ke depan.


Polisi The Punk yang kurus ini, menyembunyikan tangan ke belakang, dengan kasa tangannya ditarik oleh Bron. Bagian otot diremas-remas, ketika ditepuk rasanya cuma ada tulang belulang.


Bron tendang paha polisi kurus sampai duduk jongkok, kemudian menjambak rambutnya. “Kalian wajib latihan fisik setiap hari sebelum dilantik jadi pasukan khusus. Paham!” ucap Bron.


“Cklek!”


Pandangan mata mengarah ke Sasha yang membuka pintu sambil tersenyum melihat polisi The Punk kurus yang tersakiti di depan rekan-rekannya.


Baru satu langkah masuk ke ruangan meeting, tangan Sasha diseret mundur oleh seseorang dibelakangnya. Bron tepuk jidat, kakinya mengetuk-ngetuk lantai menunggu Sasha masuk.


“Aku masuk duluan, kamu tunggu di sini aja.” bisik pelan Sasha walau terdengar di dalam ruangan rapat.


Sasha melangkah pelan mendekati Bron, tangannya menyilang ke perut. Polisi The Punk yang kurus itu langsung dilepaskan begitu saja, dia langsung jalan cepat berdiri paling belakang.


Sasha berikan papan nama absen seluruh polisi The Punk garda terdepan yang sudah dicentang warna merah, menandakan semuanya hadir ke kantor pusat polisi The Punk.


Bron menganggukkan kepala, dia pencet stempel di bagian kolom tanda tangan. Lalu melempar papan ke meja. Bron memakaikan topi beret hitam berlogo The Punk ke atas kepala Sasha.


“Tugasmu sekarang berjaga di pabrik tahu, periksa kinerja anak buahku, dan masuklah ke ruang privasi.” Bron berikan kontak kunci pabrik tahu ke tangan Sasha.


Dalam lubuk hati yang dalam, Sasha ingin memeluk Bron karena diberi tugas di pabrik tahu, seharusnya di dalam sana juga ada Ginny. Sasha tidak mau kehilangan kesempatan untuk bisa menggali informasi tentang Ginny lebih dalam lagi.


Beri salam hormat kepada Bron, Sasha keluar pintu ruang meeting dengan hati yang gembira. Dia tidak tahu sedari tadi Robet garuk-garuk punggung, leher dan pahanya.


Mulut Sasha bergelembung, dia tahan tawa lihat postur badan gendut Robet setelah memakai seragam polisi The Punk yang dilapisi armor vest level 3. Robet gunakan masker ******* sebagai penutup kepala agar tidak ketahuan, lengkap dengan sarung tangan dan kaos kaki.


“Gatal banget pakai seragam polisi, mau kemana kamu?” Robet masih garuk-garuk leher.


“Pabrik tahu, kita harus temui Ginny mumpung Bron lagi marah sama anak buahnya.” jawab Sasha bergandengan tangan dengan Robet.

__ADS_1


Kemanapun diajak gandengan tangan, meski sendi-sendi kaki masih sakit, Robet harus nurut kemauan Sasha. Sebelum ke ruang meeting, Robet pasrah aja diseret masuk ke kamar mandi pria buat ganti baju. Sasha pengen Robet menyamar dan merasakan jadi seorang polisi bawahan Bron.


Di sepanjang koridor kantor polisi The Punk, Robet tunjukkan lencana polisi milik orang lain, biar kelihatan ramah dan mudah dipercaya aja.


...***...


Di halaman depan pabrik tahu sepi sekali tidak ada penjagaan ketat, tetapi ketika Sasha mengintip di lubang pintu gerbang pintu pabrik tahu, banyak polisi The Punk yang bekerja mencetak bungkusan kokain.


Pintu gerbang terbuka lebar, polisi yang tengah bekerja beri salam hormat pada Sasha, memberi jalan lebar dipersilahkan masuk ke dalam ruangan privasi.


Sasha melirik ke mesin-mesin pembuat tahu rasa kokain ini, tidak ada bahan aneh-aneh lain. Dia balas salam hormat lalu menyuruh polisi The Punk kembali bekerja.


Robet mengekor di belakang Sasha, tidak mau keliling sana sini, lihat ember ukuran besar yang tidak terlihat jelas apa isinya. Bila bisnis tahu kokain ini membahayakan nyawa orang, Robet ingin bawa Sasha pergi jauh-jauh dari The Punk.


Pintu ruang privasi di dorong pelan, Sasha mengintip setengah kepala, rupanya di dalam Ginny lagi tidur. Kepalanya bersandar dengan meja besi warna putih, di atasnya banyak tumpukan kertas tersusun rapi.


Sasha berjinjit masuk ke dalam, duduk di kursi plastik kaki empat di sebelah Ginny. Robet tengok ke belakang sambil tutup pintu pelan-pelan, jalan berpegangan tembok mendekati Ginny.


Tangan Robet gemetaran ketika menyentuh leher dan kepala Ginny yang berkeringat basah, Sasha berdiam diri mengamati Robet yang tampak serius.


“Ginny sakit demam, Sha.” bisik Robet sambil tuding Ginny.


Sasha mendongak ke tembok atas, tidak ada CCTV yang mengawasi ruangan ini, dia taruh handphone gepeng di depan vas bunga, posisi lensa kamera mengarah ke Sasha dan Ginny.


Ginny reflek mundur ke belakang, tetapi sayang dia dihadang oleh Robet yang menempelkan jari telunjuk ke bibir Ginny. Sasha berdiri sambil angkat tangan pendek, menoleh lubang pintu yang tertancap kunci, Ginny pun mengelus dada.


“Aku Sasha teman kakakmu, dan itu Robet teman dekatku juga, salam kenal!” Sasha ulurkan tangan sambil kepalanya manggut-manggut ke arah Robet.


Dengan tangan kanan yang halus dan berkulit putih, Ginny bersalaman dengan Sasha. Mereka menggoyangkan tangan secara bersamaan.


Sasha pegang pundak Ginny lalu menyuruhnya duduk kembali. Sedangkan Robet duduk bersila di samping Ginny, melepas kaos kaki dan sarung tangan.


Robet memakaikan kaos kaki hitam ke kaki Ginny, dia memijat kaki perempuan itu agar semakin tenang dan nyaman. Walaupun sedang menyamar jadi polisi, sifat kedokteran Robet melekat dalam dirinya.


Ginny tuding jari telunjuk kanan ke arah Sasha, wajahnya tampak ketakutan mengingat kemarin lalu dia pernah ketemuan dengan Sasha untuk pertama kalinya.


“Kamu bukan orang jahat kan, apa maumu dariku?” tanya Ginny suaranya serak.


“Aku ingin tahu siapa kamu sebenarnya, dan kenapa kamu bekerja dengan Brondong?” tanya balik Sasha.


Ginny menutup mulut menahan batuknya, dia berbalik arah ke arah rak kabin kecil, mengambil sebuah kaset VCD bertuliskan “Memori Hitam Putih.” dengan spidol warna merah. Ginny berikan kasetnya pada Sasha sambil menggaruk dagunya.

__ADS_1


Kaset VCD-nya di bolak-balik, sepertinya ini sudah lawas dan jarang disetel. Warna pelangi yang biasa muncul dibalik cover kasetnya terlihat tipis. Seharusnya masih bisa dinyalakan.


Sasha memicingkan matanya, penasaran banget kenapa si Ginny malah ngasih kaset VCD, dia harus segera menonton nanti.


“Dalam kaset itu ada kenangan indahku bersama Tuan Bron waktu dahulu sampai sekarang.”


“Hah! berarti kamu sudah lama bekerja dengan Brondong, kenapa?” tanya Sasha heran suaranya naik satu oktaf.


Ginny menunduk, menutup mulutnya rapat-rapat. Sasha menggoyangkan pundaknya dengan raut wajah marah. Robet yang dibelakang Sasha langsung menarik mundur Sasha menjauh dari Ginny.


Sasha coba menyikut perut Robet, tetapi vest level 3 itu benar-benar keras, bahkan peluru pistol tak dapat melubangi armor yang satu ini. Sasha berkali-kali minta dilepaskan, tetapi Robet tidak akan mau sebelum Sasha kembali tenang dan rileks.


“Kau menghina Andy orang gila, dia anggap kamu sudah mati, kenapa kamu malah kerja sama Brondong. Jawab Ginny, JAWAB!” teriak Sasha diakhir kalimat saking tersulut emosi.


Ginny merengek menangis, bahkan keringat di wajahnya menempel di tetesan air matanya. Dia geleng-geleng kepala, terburu-buru buka kunci pintu lalu keluar berlari terbirit-birit.


“Teng! Teng! Teng!” lonceng besar berbunyi di pabrik tahu. Robet menyuruh Sasha mengembuskan nafas dalam-dalam, mereka berdua menatap Ginny yang lari tinggalkan pabrik tahu.


Sasha ambil handphone lalu menaruhnya ke saku celana. Robet merapikan dandanan kostum polisinya, rasanya panas bila terus-terusan pakai pakaian polisi yang menghimpit badannya.


Baru saja keluar ruangan privasi, pasukan polisi The Punk berjejeran masuk ke dalam pabrik tahu disusul oleh Bron memeluk Ginny. Sasha dan Robet saling bergandengan tangan, mereka berdua dihampiri Bron yang berwajah polos.


Hidung Bron keluarkan asap seperti banteng, matanya memerah melotot ke arah Sasha dan Robet. Sasha menelan ludahnya, dari luar dia bertatapan mata dengan Bron, tetapi dari hatinya dia benar-benar takut sama Bosnya yang keras dan galak.


“Sudah kamu hitung semua tahu kokain yang sudah dibungkus?” tanya Bron pelan.


“Be....Belum Tuan, maaf.” jawab Sasha tersenyum meringis merasa malu.


Robet duduk jongkok, dia lepas dua belah sepatu yang berdebu, dia garuk dan bersihkan kerikil kecil yang menempel di bawah kakinya. Bron duduk jongkok dan perhatikan Robet yang merogoh dalam sepatunya.


Lencana polisi yang menggantung di leher Robet terlihat jelas perawakan foto pemiliknya. Bron menyeret kerah seragam Robet sampai tubuhnya terangkat. Lencana polisinya dicabut oleh Bron.


Topeng ******* Robet dilepas Bron, pasukan polisi The Punk yang berbaris pun mulai cekcok adu mulut. Mereka kenal wajah Robet yang matanya agak sipit dan pipinya tembem.


“Dia bukan rekan kita Tuan, dia dokter temannya Sasha.” kata polisi The Punk.


Bron tepuk tangan sambil tertawa kecil, dia tidak menduga bahwa Robet menyamar jadi polisi. Sasha dan Robet melangkah mundur, mereka tengok kanan kiri cari jalan keluar.


Namun kedua tangan Sasha diremas Bron, tangan dan kaki Robet yang masih sakit ditarik-tarik oleh pasukan polisi The Punk seperti bermain tarik tambang.


“Orang yang menyamar jadi polisi dianggap mata-mata, maka dia harus dihukum. Kita hukum mereka berdua.” ucap tegas Bron dengan nada suara tinggi.

__ADS_1


Sasha diseret keluar oleh Bron dan Ginny, dia ulurkan tangan ke depan mencoba meraih tangan Robet yang terlalu jauh. Robet dikeroyok massa polisi The Punk. Kepalanya mendongak ke atas berteriak memanggil Sasha yang sudah hilang dari pandangannya.


Pintu pabrik tahu ditutup, kepala Robet terasa pusing dan buram, tangan dan kakinya gemetaran. Lama kelamaan tongkat yang ia pegang patah menjadi dua.


__ADS_2