
Awali pagimu dengan merendamkan kaki di selokan yang setinggi pinggang, makin semangat nih langsung mandi basahan di air kotor yang banyak sampah-sampah beraneka macam.
Lakukan pekerjaan sendiri tanpa dibantu oleh partner wanita loper koran yang lagi fokus kerjaan berjalan bareng bertiga di kawal sang polisi The Punk yang berseragam rapi.
Andy tengok ke atas, banyak warga yang menatap dirinya kasihan, tidak ada yang bantu cari tong sampah seperti hari pertama dahulu, berbekal sebuah jala ikan dan kantong kresek tebal warna hitam yang tahan air. Andy sekuat tenaga mengambil satu persatu sampah yang terlihat di matanya.
Andy tampak lesu memutar bola matanya malas ketika jalan maju masuk ke terowongan yang cukup dalam dibawah jembatan terminal bus DAMRI kota Malang.
Penglihatan agak gelap karena masih ada pantulan di area luar jembatan. Andy berdecak kesal saking minimnya penerangan, toh dia tidak bawa senter satupun.
Dari belakang, ada bapak-bapak yang mengecilkan panjang celananya lalu lompat turun ke permukaan selokan.
“Permisi bang, boleh ikut bantu?” tanya bapak random tersebut.
Bukan hanya satu, anak-anak muda dan kakek sepuh pun ikut lompat turun, mereka berkumpul dengan celana panjang yang dilipat jadi pendek.
Andy celingukan, berpikir nih orang-orang memang beneran niat membantunya, padahal dirinya sendiri pun sudah cukup. Ya yang namanya dapat bantuan tenaga ekstra, mana mungkin Andy menolak.
“Boleh, monggo cabut sampah di dalam air, lalu masukan semuanya ke kantong kresek.” jawab Andy dengan tersenyum sumringah.
Gotong royong bersama angkut sampah ke atas jembatan untuk dikumpulkan menjadi satu sampah yang super besar. Sayangnya tidak ada tong sampah, terpaksa sampah-sampah bau busuk ini mengotori kantong kresek.
Yang awalnya kesusahan, berkat bantuan orang baik, kinerja pembersihan selokan jadi lebih cepat dan bersih total. Ternyata sekejam dan se-brutal apapun Andy, masih ada orang sekitar yang memandanginya sebagai orang baik.
Andai hidupnya hanya untuk kerja menyayat kulit penjahat yang dia lawan, mungkin Andy di cap sebagai psikopat yang doyan membunuh.
Memang inilah solusi terbaik Andy untuk memperkaya dirinya demi masa depan nanti, selama ada orang yang peduli padanya, dia tetap respect.
“Terima kasih pak, aku pamit duluan ya!” ucap Andy melambaikan tangan ke bapak-bapak.
Alhasil sampah hari ini berukuran jumbo, mana kuat Andy angkat sendirian, beruntung dapat tumpangan dari tukang becak yang sepi penumpang.
“Pak, tolong kirimkan kantong sampah jumbo ini ke pasar Tawangmangu,. bilanglah atas nama Andy Bramantyo,”
“Oke mas, siap laksanakan.” jawab supir becak salam hormat.
Segepok uang tebal di amplop putih berada di genggaman Andy, tidak mau lihat berapa banyak uangnya, dia langsung memesan mie pangsit yang kebetulan gerobaknya dekat kantor bus DAMRI.
Andy mengunyah makanan mie sambil tangan kirinya mengetuk pelan meja makan, dalam otaknya membayangkan wawancara Robet dan Sasha di villa tua. Apa reaksi gelandangan dan pengemis ketika mendengar tempat menginap mereka didatangi oleh Sasha yang bawa kawalan polisi The Punk.
Drrttt!!
__ADS_1
Handphone Andy bergetar, layar menyala menampilkan missed call dari Robet, alis mata Andy terangkat, untuk apa Robet memanggilnya, waktu menunjukkan pagi menjelang siang, seharusnya mereka berdua sudah ketemuan.
Sebuah bohlam lampu menyala di kepala Andy, dia baru ingat akan nomor kontaknya Ben. Dia mengetik angka sambil mengeja pelan setiap nomor yang dia ingat. Kemudian dia dekatkan handphone ke daun telinga.
“Halo Pak Ben, sudah lama nggak ngobrol bareng lagi, hehehe”
“Andy? rupanya nih anak masih ingat nomorku, piye kabarmu bro?” tanya Ben
“Alhamdulillah sehat, habis kelar kerjaan bersihin selokan, eh gimana sampah di penampungan?” tanya balik Andy.
“Aman lancar jaya bosku, 3 hari kemarin sampah kiriman tukang becak menumpuk semua disini, pokoknya anak buahmu tambah semangat.” jawab Ben dengan rasa bahagia.
Mata Andy berkaca-kaca mendengar jawaban Ben, dia tahu sampah-sampah angkutan tukang becak itu berkat dirinya hasil bekerja membersih selokan. Tidak perlu membalas, panggilan telepon putus diakhiri salam, Andy juga ikut senang apabila anak-anak buahnya di penampungan sampah bisa makan enak.
...•••...
Robet mengajak Sasha mengeksplorasi villa tua yang sudah tidak aktif lagi, menyoroti ke wajah Robet sambil bercakap-cakap, wajah dokter psikiater itu tersenyum ketika jadi pemandu setiap ruangan.
Begitu sampai di kamar gelandangan dan pengemis, orang-orang disana bersalaman dengan Sasha dengan membungkuk setengah badan.
“Kamu cantik sekali mbak!” puji ibu muda yang duduk di kursi goyang.
“Terima kasih!” jawabnya Sasha.
Berbeda dengan Sasha, wanita ini justru membelalakkan matanya menemukan jaket tentara abu-abu Andy, sekilas teringat ketemuan di zebracross tadi pagi.
Sasha diam-diam memotret jaket tentara abu-abu milik Andy tanpa ketahuan Robet.
“Jadi, kamu tinggal disini ya, Andy.” batin Sasha.
Karena sudah dapat bonus bukti jaket tentara abu-abu, Sasha memanfaatkan waktu untuk ngobrol lesehan dengan Robet. Mereka berdua duduk di alas lantai yang baru dibersihkan dengan sapu ijuk bekas.
Walaupun lantainya masih ada debu-debu kecil yang nempel di lubang garis lantai, yang penting enak dipandang.
“Sejak kapan Andy tinggal di villa tua ini?” tanya Sasha mendekatkan mic ke mulut Robet.
Robet menggaruk kepalanya, bingung mau jawab apa, soalnya si Andy datang ke villa tua ini juga kebetulan pas banget ketemu sama Robet di jam kontrol mingguan.
“Robet, kenapa kamu malah diam, ayo jawab!” paksa Sasha tangannya udah gemetaran.
Robet tersenyum meringis, tangannya menyaut mic yang dipegang Sasha, sekarang giliran dia yang menanyai wanita tersebut.
__ADS_1
“Kalo boleh tahu nih, mbak Sasha sama Andy punya hubungan apa sih, pacaran ya?” tanya serius Robet.
Sasha menampar pelan pipi Robet, merebut mic yang dipegangnya lalu mengusapnya dengan telapak tangan. Bibir Sasha miring, dia berpacaran dengan Andy adalah hal yang mustahil.
“Idih, asal kamu tahu Andy itu bukan tipeku, siapa juga yang mau pacaran sama tukang pembersih sampah,”
“Kalau sama aku, gimana?” canda Robet tertawa di akhir kalimat.
Sasha mengibas debu di pundaknya, memandang wajah Robet dari ujung rambut sampai jari kakinya. Robet juga gitu, dilihatin sama Sasha nyengir senyum doang.
“Kamu juga bukan tipeku, dasar dokter kepedean.” jawab Sasha menjulurkan lidahnya.
Dua polisi The Punk berdeham, menuding jam tangan yang tampaknya waktu wawancara sudah habis, waktunya balik ke kantor.
Lihat raut wajah Sasha yang cemberut main langsung cabut meninggalkan ruangan membuat Robet curiga, memangnya Sasha kenapa, bukannya dia sering berdekatan sama Andy.
“Mbak Sasha, kalau lagi depresi berat jangan dipendam atuh, cerita ke saya, siapa tahu bisa bantu meredamkan amarah anda.” ucap Robet sambil jalan mengikuti Sasha.
“Nanti anda bisa stress berpikir hal-hal negatif, jadi tolong tenangkan diri, relax, tersenyumlah.” lanjutnya.
Sasha jalan turun tangga terus sampai halaman depan, berpura-pura tidak dengar ucapan Robet, entahlah mungkin mengejar waktu kerja di kantor JoNews.co.
“Kamu dokter apaan sih bacot mulu dah!” sentak Sasha berhenti jalan sejenak.
Seketika hati Robet terasa panas, dia tutup rapat mulutnya lalu kembali masuk villa tua sambil menundukkan kepalanya. Sesak banget disentak sekali oleh Sasha barusan, memang benar tuh wanita punya banyak masalah.
...•••...
Saking nikmatnya makan mie pangsit, makan pun jadi lama, piring kaca putih bening itu bersih mengkilap, walaupun ada sisa Lombok hijau kecil.
Ketika mengembalikan piring ditambah bayar mie, syukur Andy diberi bonus gratis karena sudah bantu bersihkan selokan di bus DAMRI, mie pangsitnya sudah dibayar sama bapak-bapak random.
Andy cuma bilang terima kasih, yang namanya rezeki itu datangnya tak disangka-sangka. Akhirnya Andy beli minuman botol air mineral pakai uangnya sendiri.
“Mas, pernah lihat mobil polisi lewat jalan raya sini?” tanya Andy sambil menunjuk ke jalan raya.
“Kalau patroli malam sering lewat daerah sini bang, mobilnya dikawal sama motor ninja hitam berlogo tengkorak.” jawab mas-mas penjual mie pangsit.
“Oalah, The Punk.” gumam pelan Andy.
Lagi mau jalan ke jalan raya, ada mobil polisi hitam berlogo The Punk yang dikawal dua mobil Rubicon. Andy berbalik badan menatap wajah penjual mie pangsit yang keheranan.
__ADS_1
Ketika suara kebut mobilnya hilang, Andy mengelus dadanya, beruntung dia tidak nyebrang duluan tadi, kalau ketahuan habislah sudah nasibnya.