MANDY

MANDY
Kekecewaan Sasha


__ADS_3

Numpang becak gratis adalah solusi ketika tangan hampa, saku celana dan jaket kering, uang hasil kerja keras bersih selokan ludes. Andy resah, bingung harus berbuat apalagi, dia duduk bersandar di sofa becak yang empuk sambil memijat kepalanya.


Resiko menerima dampak buruk kerjasama dengan Sasha, di hari pertama bersih selokan, berjalan dengan lancar, mulus dan senang berkat bantuan Sasha.


Andy diam menutup mulut rapat-rapat tidak ngobrol sama tukang becak yang fokus mengayuh becak jadulnya. Pandangan mata Andy tertuju ke kantor JoNews.co, kepala Andy mendongak ke atas lihat tinggal siapa aja disana.


“Berhenti sebentar pak!” ucap Andy.


Mbak-mbak karyawati loper koran asyik bercanda gurau di halaman depan kantor, mereka saling barter koran hasil terbitan mereka.


“Belum pulang juga kau Sasha.” gumam pelan Andy.


Roda becak kembali berputar pelan, entah kemana tujuan Andy kali ini. Andy mengerutkan dagunya, berpikiran kira-kira Sasha diajak kemana sama bosnya.


Andy tengok kanan kiri, di tiang lampu listrik terpajang foto bounty kepalanya yang disobek oleh orang-orang, bukan hanya satu melainkan setiap lewat perempatan bahkan gang besar Andy bisa temukan foto bounty kepalanya dimana-mana.


Lega rasanya bila orang-orang tidak ikut campur ataupun niat ingin menangkap Mandy dengan imbalan 50jt rupiah. Kertas bounty kepala itu hanyalah pancingan bagi siapapun yang berani melawan Mandy dengan resiko fatal ditanggung sendiri.


“Mas Andy, kudengar anda jadi buron polisi The Punk, apakah itu benar?” tanya tukang becak penasaran.


“Lupakan saja pak, aku tidak mau bahas itu lagi, anterin aku ke pasar Tawangmangu aja.” jawab Andy dengan tangan mengepal.


Bebas dari polisi The Punk itu pun sudah cukup, apalagi Andy banyak menolong tahanan kabur dari Club, menguntungkan bagi mereka untuk bertemu keluarganya masing-masing.


...***...


Di penampungan sampah, gerombolan kakek-kakek tua antri ramai di depan rumah kayu, tangan mereka menerima upah berupa sebagian uang hasil menjual sampah jenis plastik bening, kresek, karpet bekas, dan kain.


Kring! Kring!


Bunyi lonceng becak membuat semua orang boleh ke belakang, terutama Ben yang langsung keluar dari rumah kayu menghampiri penumpang yang sangat dia kenali.


“Syukurlah kamu masih hidup wahai sobatku!” ujar Ben peluk Andy.


“Aku baik-baik saja, sehat, tetap santai, walaupun sakit ditinggal seseorang.” jawab Andy wajahnya polos.


Anak-anak pekerja sampah ikut bersalaman dengan Andy, mereka terharu bisa bertemu lagi dengan atasannya. Ben bubarkan semua orang di penampungan sampah, dia ajak Andy ngobrol empat mata di dalam rumah kayu. Namun sebelum itu Andy mau ritual terlebih dahulu, yaitu mandi basahan.


Mereka berdua pun duduk berhadapan dibawah karpet anyaman rotan, tampang wajah dan pakaian Ben bersih bersinar seperti piring dicuci dengan kanebo yang berbau wangi.


Sedangkan Andy terlihat masih basah semua, tetesan air di rambut, wajah sampai ke lehernya mengalir ke bawah hingga ke karpet. Posisi Ben masih nyaman meski di depannya ada temannya yang suka mandi basahan.


Ben dengarkan semua keluh kesah Andy selama meninggalkan penampungan sampah selama ini. Mulai dari menetap di villa tua hingga melarikan diri dari Club Brondong.

__ADS_1


Andy bicara keras blak-blakan, jujur terus terang saja karena dia juga merasa galau sejak bekerja sendiri tanpa bantuan Sasha.


“Yang bikin aku kesal, nomorku diblokir Sasha, uangku habis bayar administrasi persalinan, dipenjara pula, bangsat!”


“Aku yakin Sasha bakalan kecewa banget kerja bareng Jojo dan Bron, lihat saja nanti.” sambung Andy tersulut emosi.


“Tenangkan pikiranmu bos, buang jauh-jauh yang negatif, kamu boleh kerja lagi disini kok.” kata Ben suaranya pelan.


Andy menganggukkan kepalanya sambil menunduk, Ben memijat pundak kanan Andy, rasanya berat pasti jadi orang seperti Andy. Dia menyembunyikan rasa sedihnya di depan Ben, mungkin kerja jadi pembersih sampah akan membuat Andy semangat lagi.


“Ada satu hartamu yang tidak disita polisi The Punk pada tempo lalu,”


“Mana, aku mau ambil sekarang juga!” Andy menoleh ke kiri kanan.


“Tunggu sebentar.” Ben keluar dari rumah kayu.


Air mata Andy mengalir deras ke pipinya, dia lepaskan kesedihan yang dia alami. Dia pukul lantai kayu dengan kepalan tangannya, luapkan segala amarah yang membakar hatinya.


Ben menggeser sebuah peti harta karun besar, disini dia memakai masker saking busuknya bau di dalam peti tersebut. Andy membuka kuncinya, lalu dibukalah peti harta karun lebar-lebar.


“Waduh! ngeri banget isinya, aku minta ampun Andy.” kata Ben tertawa kecil di akhir kalimat.


“Kamu ini orang baik Ben, terima kasih!” ucap Andy tersenyum lebar dengan matanya yang melotot.


“Sudah lama aku tidak berburu jari orang lagi, aku harus pulang ke rumah lamaku, Ben.” Andy pegang semua jari jemari korbannya,


Gairah menyiksa orang jahatnya hilang, jiwa iblis telah lama terpendam. Andy senyum-senyum sendiri memegang berbagai posisi dapur miliknya.


Ben menuntun Andy keluar rumah kayu sambil membopong peti harta karunnya “Monggo pulanglah Andy, istirahat yang cukup, besok kamu kembali kerja lagi.” katanya.


“Terima kasih Ben!” balas Andy sambil bungkuk setengah badan.


...***...


Tubuh Sasha tepar di dalam kursi belakang mobil Rubicon, tes fisik akademi The Punk sudah selesai, kini dia harus lanjut ke tes tulis yang sepertinya lumayan santai.


Capek, pegal, puyeng rasanya bila terus-terusan dipaksa gerak dengan stamina yang terkuras habis selama latihan fisik tadi, polisi The Punk memang kasar banget jikalau urusan melatih anggota baru apalagi wanita seperti Sasha.


Tes tulisnya berada di kantor JoNews.co yang sekarang lagi sepi karena anak tim redaksi sudah pulang duluan. Badannya Sasha lemas banget seperti kurang gizi, diseret masuk ke ruang konseling untuk mulai latihannya. Sengaja dipisah sendiri karena Bron benar-benar ingin melihat kemampuan pengetahuan Sasha soal dunia kepolisian.


Saat fokus mengerjakan tes tulis, tiba-tiba Bron membanting pintu konseling, dia membusungkan dadanya, melotot tajam ke arah Sasha. Tangan kanannya yang lembut menyentuh dagunya Sasha yang halus, membuat jantung wanita ini berdegup kencang.


“Nilai tes fisikmu jelek banget, jangan berharap jadi polisi wanita bila dirimu lembek, lelet seperti siput.” kata Bron menusuk dada Sasha dengan jari telunjuk.

__ADS_1


“Jangan ganggu aku Tuan Bron, aku yakin bisa buktikan ke semua orang bahwa aku pasti bisa.” jawab Sasha dengan nada suara tinggi.


Bron menghentakkan kakinya keluar dari ruang konseling, berdiri di depan ruangan sambil menyalakan rokok.


Sasha memutar bola matanya malas banget kalau sudah berhadapan dengan Bron, bikin moodnya makin buruk. Balik fokus ke lembar kertas tes tulis.


Tak lama kemudian, pensil 2B jatuh di tangan Sasha, matanya membelalak ke soal nomor 13, dia coba perhatikan lebih teliti tulisan soal tersebut.


“Seseorang tak dikenal sedang membuntuti sepeda motor ojek yang membonceng gadis remaja yaitu Ginny, saksi mata gembong narkoba Bron Family, tindakan apa yang harus dilakukan untuk membunuh Ginny?”


“Ginny, bukankah ini nama adiknya Andy?” tanya Sasha pelan.


Mulut Sasha menganga lebar, dia geleng kepala tidak mau jawab soal nomor 13, soalnya sudah mulai ngawur, ini keterlaluan. Dia merogoh saku celananya, tetapi handphonenya tidak ada.


Sasha berdecak kesal tepuk jidat, niatnya mau memotret soal nomor 13 ini sebagai tanda bukti ke Andy. Entah siapa lagi yang menyita handphonenya. Dia lanjut mengerjakan soal.


Sasha beri tanda setrip ke jawaban nomor 13, bayangkan sendiri skenario orang di jalan raya pakai mobil Rubicon yang ingin membunuh Ginny. Sasha tidak mau ikut campur karena takut dihantui pikirannya.


Setelah bercumbu dengan soal tes tulis, Sasha mengelus dadanya lega, dia berikan hasilnya ke Bron lalu tinggalkan ruang konseling tanpa pamit.


Waktunya santai, Sasha rebahan di kursi hangat bangku komputernya sambil menutup matanya. Dia ingat raut wajah Andy yang sedang marah berdiri di dalam jeruji besi. Sasha khawatir bila Andy tidak suka dengannya, hubungan partnernya bisa bubar gara-gara ini.


Dari kejauhan Jojo berjalan cepat menghampiri Sasha, dia menggenggam sebuah kertas yang diremas seperti sampah. Kerah jas Sasha ditarik sehingga dia reflek berdiri dengan raut muka ketakutan melihat bola matanya Jojo yang memerah.


“Sasha, kamu niat jadi polisi wanita nggak sih, lihat ini hasil tesnya dapet C, kalau bisa dapat S dong!” bentak Jojo dengan nada suara 10 oktaf.


Sasha buka remasan kertas lembar soal tes tulisnya, dan benar saja nilainya C, beberapa soal dicoret dan diberi simbol lingkaran seperti telor. Terutama soal nomor 13 yang diberi keterangan dengan pulpen warna merah “Wajib Dijawab”.


Ini yang benar aja pelatihan tes polisi wanita didikan The Punk hasilnya harus memuaskan, tidak adil. Sasha tidak menyangka bahwa dapat nilai kecil.


Jojo keluarkan lembaran peringkat calon polisi di meja komputer, dia tuding baik-baik nama Sasha yang paling terbawah. Rasanya Jojo ingin mencubit tangan Sasha, tetapi dia masih sabar.


“Kamu gagal, nggak ada kesempatan lagi bagimu untuk jadi polisi wanita, mulai besok kembali kerja seperti semula, paham!” ucap tegas Jojo.


Jojo letakkan handphone gepeng Sasha ke meja komputer, dia berdecak kesal menggelengkan kepala lalu tinggalkan Sasha sendirian. Jadi selama ini handphonenya dipegang sama bosnya.


Degh!


Sasha terduduk lemas, hatinya halus, dicampur pusing dan kecewa. Kenapa harus berakhir seperti ini, bukan ini yang diharapkan oleh Sasha sebelumnya. Niatnya sudah bulat, tetapi berakhir pahit.


Air mata membanjiri muka Sasha, tidak ada tisu, telapak tangan pun jadi penghapus tangisan. Sadar bahwa yang dikatakan Andy benar, beginilah rasanya gagal total. Sasha membaringkan kepala ke meja, kecewa banget ya.


Sasha memilih istirahat, kedua tangannya masih nempel di keyboard portabel. “Andy, Andy, maafin aku ya!” ucap lirih Sasha.

__ADS_1


Tinggal Sasha seorang diri dalam bangku komputer di ruang tim redaksi. Lama kelamaan dia tidur mendengkur, tanpa disadari handphonenya bergetar.


__ADS_2