MANDY

MANDY
Mandy's Everywhere


__ADS_3

Mengedipkan mata pelan-pelan baru sadar bila dia tidur telentang di bawah sampah kaos-kaos rombengan yang basah dan kotor. Andy reflek duduk selonjoran ketika kakinya ditarik oleh seseorang bertopeng hitam seperti tahanan narapidana. Dia pukul kepala Andy dengan gagang tongkat sapu ijuk yang sudah patah.


“BURUAN PERGI SANA JAUH-JAUH!” teriak marah orang bertopeng hitam.


Andy berdiri dengan muka polos tanpa ekspresi, dia bersihkan sampah-sampah lengket yang menempel di tangan dan kakinya. Bulu keteknya bau dicampur bau bangkai sampah, Andy tidak tahan bila pulang dengan keadaan kotor.


Jalan keliling gang sempit yang penuh dengan tumpukan kantong plastik jumbo dari warna hitam sampai merah pun ditumpuk seperti tangga.


Memandang terik cahaya matahari yang begitu cerah, menyilaukan mata membuat kepala Andy pusing. Kepalanya memutar 180° bingung sekarang dia berada dimana, karena tempatnya lebih kotor, berantakan dibanding penampungan sampah Pasar Tawangmangu.


Memori dalam awan di atas kepala Andy muncul, dia teringat momen Ginny berlari kabur meninggalkannya setelah tertabrak sepeda motor. Setelah itu semuanya jadi gelap.


“Ginny, apa salahku padamu?” batin Andy mengelus dadanya yang terasa hangat.


Sosok Ginny yang selalu tersenyum dalam pigura emas, berubah menjadi orang yang risih berhadapan dengan kakaknya. Andy akui akal pikirannya gila, kapasitas otaknya beda dengan teman yang lain.


Andy jalan lemas banget, kurang gizi, vitamin, badan kurang vit, hanya jalan kaki sambil memakai jaket tentara abu-abu favoritnya. Di jalanan Car Free Day, Andy mendekati bapak pemulung yang tidur lesehan.


Mengintip karung berasnya yang bolong-bolong, isinya kosong, hanya ada sebilah balok kayu persegi panjang. Bapak pemulung ini senyum-senyum sendiri lihat Andy yang melayani membuka lebar mulut karung beras, agar pejalan kaki tidak buang sembarangan.


Di sebelah bapak pemulung, daun telinga Andy bergoyang, terdengar jelas seorang pemuda mahasiswa berpakaian serba hitam dari seragam sampai tas yang ditaruh di depan perut, pemuda itu berbicara di depan orang berjaket tentara abu-abu dengan nada suara cepat seperti rapper. Tidak ada intonasi, suaranya pelan banget, mungkin karena jalan raya ramai bunyi knalpot sepeda motor, jadi terasa kurang jelas.


Andy berdiri tegak, kepalanya agak miring, saking kepo sama apa yang dibicarakan sama pemuda mahasiswa ini. Kemudian dua bungkus Snack stik panjang-panjang diberikan kepada orang berjaket tentara abu-abu tersebut.


“Harganya 10.000 bang, silahkan dibeli kalau suka sama varian rasanya.” pemuda mahasiswa ini setengah membungkuk biar sopan sedikit sama orang yang lebih tua.


“Ogah, perut dah kenyang, mending kamu pergi jangan ganggu saya.” jawab orang berjaket tentara abu-abu.


Pemuda ini malah membuka bagian atas bungkus Snack untuk menarik perhatian, akan tetapi orang berjaket tentara abu-abu ini membanting bungkus Snack sampai berceceran di jalan.


Lencana polisi dan pistol Dessert Eagle ditodong di kening pemuda mahasiswa ini. Mata Andy terbelalak ketika sadar bahwa orang berjaket tentara abu-abu adalah polisi The Punk.


“Dor! Dor!” dua tembakan peringatan diluncurkan ke atas langit. Semua orang yang asyik santai di jalanan Car Free Day panik lari terbirit-birit nekat nyebrang sampai ada yang hampir nabrak sepeda motor yang melaju kencang seperti hewan cheetah.


Pemuda mahasiswa ini lari ke arah Andy, tetapi kerah bajunya ditarik sehingga dia tercekik dipaksa mundur oleh Andy. “Menunduk di belakangku, cepat!” bisik Andy.


Andy didorong oleh polisi The Punk sampai posisinya jongkok, tangan kanan Andy pegang ujung lubang pistol, pemuda mahasiswa di belakangnya menunduk sambil tutup telinga. Bola mata Andy memerah, dia lawan balik pukul leher polisi The Punk.


Satu tembakan tepat mengenai telapak tangan Andy, lubang warna merah kehitaman tampak jelas di telapak tangannya. Andy mendesis kesakitan, dia tahan terus pistol polisi The Punk.


Tas ransel berisi makanan ringan dilempar sampai menghantam kepala polisi The Punk, kepalan tangan sebesar pisang Ambon tepat menghantam hidung polisi The Punk sampai jatuh pingsan.

__ADS_1


Andy beri tepuk tangan ke pemuda mahasiswa itu, mereka berdua saling TOS salam tinju. Uang lembaran hijau diberikan ke tangan pemuda mahasiswa sebagai tanda terima kasih karena sudah membantu.


“Terima kasih mas, semoga rezeki anda dilimpahkan oleh yang maha kuasa.” ucap pemuda mahasiswa dengan tersenyum lebar.


Andy menganggukkan kepala pelan saat ditinggal pergi oleh pemuda mahasiswa. Di genggaman tangannya sudah ada dua bungkus Snack stik rasa pedas. Dia makan duduk lesehan sambil menggeledah pakaian polisi The Punk.


...***...


Sasha dan Robet ditendang masuk ke ruang produksi tahu mentah yang dingin, ujungnya pun sudah dilapisi es batu. Dari selain banyak mesin aneh yang tidak diketahui oleh seorang dokter dan loper koran. Ada gentong besar berisi kokain, dan formalin.


“Si Brondong mau jualan apa sih, tahu campur kokain aneh banget.” Sasha tutup hidung tak mau menghirup bau tidak sedap di ruangan produksi tahu suara mesinnya rame banget mengalahkan keramaian di jalan raya.


Robet sentuh beberapa tahu mentah yang disimpan dalam kardus telur ayam. Entah kenapa pas di pegang kulitnya terasa kasar. Sasah mengibas tangan ke arah Robet supaya jangan sentuh apapun, tetapi suara langkah kaki dari pintu masuk, membuat Sasha gemetaran.


“HEY, MAU NGAPAIN KAMU!” bentak Bron yang barusan masuk menuding Robet mengelus tahu-tahu mentah.


Lima polisi The Punk menangkap Robet, tubuhnya diangkat, kaki dan tangannya dipegang satu persatu. Kepalan tangan Bron begitu kuat hingga akar uratnya tampak jelas. Sasha cuma geleng-geleng, menatap Robet yang kakinya terpingkal-pingkal ingin meloloskan diri.


“Aaaakhh! SAKIT TUAN, AMPUN!” jerit Robet kesakitan sambil putar kepala.


Sendi tangan dan betis kaki Robet disikut dengan kepalan tangan Bron. Walau tidak terdengar bunyi retakan tulang, tetapi yang disakiti pasti merasakan sakit yang begitu dalam.


Sasha menarik-narik jas merah maron Bron yang berkelap-kelip seperti kunang-kunang. Robet yang seorang dokter psikiater hanya bisa sedih menahan tangis, dia tidak mau menangis di depan Sasha.


Bron menggesekkan gigi gerahamnya, tidak tahan bila menyakiti Sasha yang pernah jadi asistennya. Lagipula sekarang Bron butuh Sasha bekerja lagi untuknya.


Robet cuma manggut-manggut tersenyum kecil ke arah Sasha, lalu dia diseret keluar ruang produksi tahu, digotong melewati pasukan barisan polisi The Punk yang sudah berpakaian jaket tentara abu-abu menyamar sebagai Mandy palsu.


Sasha melongo melihat sekian banyaknya Mandy palsu yang berbaris rapi, mereka tidak pakai sabuk pinggang polisi. Masing-masing Mandy palsu bertopeng karung beras yang diberi nomor.


Bron menyerahkan kartu ID Card Asisten Manager ke tangan Sasha, lalu tangan Sasha digenggam erat-erat. Mata Sasha berkaca-kaca menatap wajah tersenyum jahat Bron.


“Sasha, tugasmu hanyalah mengerahkan semua pasukanku ke lokasi tempat tinggal Mandy.”


“Tapi Tuan Bron, aku tidak bisa—”


“JANGAN MEMBANTAH, LAKSANAKAN!” teriak Bron sambil menghentakkan kakinya.


Bron tunjukkan sikap tegas dalam menjadi Boss dari The Punk, karena ini bukan di JoNews.co, Sasha tidak bisa menolak mentah-mentah. Dia menghela nafas pelan sambil mengelus dada.


Robet yang sudah tidak berdaya, dibanting ke lantai, Bron keluarkan tongkat besi yang ujungnya berbentuk paruh burung elang. Tangannya sudah bersiap-siap untuk memukul kepala Robet seperti bola golf.

__ADS_1


“Baik Tuan, akan kulakukan sesuai perintahmu.” ucap Sasha suaranya pelan.


...***...


Ramai, tertib dan banyak antrian panjang yang berjejeran seperti ular di pasar Tawangmangu, anak-anak kecil main odong-odong, orangtuanya sibuk belanja dan beli oleh-oleh gorengan enak.


Di sisi lain, truk besar penampungan sampah dikeluarkan, bobot sebesar jerapah itu akan dikendarai oleh para pekerja kuli bangunan yang ingin menyewa untuk mengangkut material panggung pernikahan.


Ben sedang santai mengibas kepalanya yang berkeringat dengan kipas angin anyaman. Hari ini capek banget bantu sana sini urus pesanan material kuli bangunan, dan bantu pembersih sampah selama berjam-jam tanpa bantuan Andy.


Setiap Ben bekerja sendirian, moodnya turun parah, kurang bersemangat karena pemimpin pembersih sampahnya belum juga pulang. Bahu Ben terangkat ketika mendengar bunyi nada dering handphone dari saku celana jeans pendeknya yang bolong-bolong.


Panggilan masuk dari nomor yang tak dikenal, Ben mengernyitkan alisnya, heran siapa lagi orang asing yang meneleponnya.


“Halo saya Ben, dengan siapa ini?”


“Aku Andy, maaf belum bisa kembali ke pasar karena lagi tersesat di jalan,” nafas lelah Andy terdengar jelas.


“Andy, cepat kembali ke pasar, urus anak-anak buahmu ini, kasihan mereka belum digaji pula.” Ben melotot tajam.


Suara Andy dalam panggilan masuk menghilang, berubah menjadi suara angin kencang. Ben mencoba memanggil nama Andy berulang kali-kali tetapi tidak ada respon.


“Halo Andy, Halo, Halo!” Ben meninggikan suaranya.


Kerumunan pekerja sampah pada ke tengah jalanan menunjuk ke arah tiang besi penghalang, Panggilan telepon terputus tiba-tiba, Ben berdecak kesal sambil ikut ngumpul di tengah jalan.


Rombongan Mandy palsu menerobos masuk loncat ke tiang besi penghalang, saking banyaknya orang, penglihatan Ben kurang jelas berapa jumlah Mandy di depan sana.


Pembersih sampah saling bertatapan muka, mulutnya melongo bingung mana Mandy yang asli, kenapa begitu banyak Mandy yang masuk ke pasar Tawangmangu. Mereka melambaikan tangan menyapa menyebut nama Andy dari jauh, diikuti oleh Ben yang berdiri berjinjit lebih tinggi.


Gerobak siomay, gorengan dan bakso didorong sampai jatuh berantakan, dagangannya terinjak kaki pengunjung. Semua orang yang menyapa Mandy terdiam seketika.


Ban kereta odong-odong ditendang ramai-ramai, pemiliknya didorong sampai membentur pagar pemakaman. Anak-anak yang awalnya senang jadi panik teriak panggil ayah dan ibunya minta tolong.


Teriakan itu sampai membuat daun telinga Ben bergoyang, ia langsung menyela pembersih sampah paling depan berjalan cepat menolong anak-anak yang masih berada di atas mobil odong-odong.


Dari arah gang sempit penampungan sampah, datang lagi para Mandy palsu lain mengepung pembersih sampah yang saling berdempetan membentuk lingkaran. Mandy yang mereka lihat ada dimana-mana, tidak ada jalan lagi mereka untuk kabur.


“Deghh!!” kepala Ben mendongak ke atas, badannya mematung, serpihan batu bata menempel di leher belakang, dia dipukul dengan batu bata merah dari arah belakang.


“BAPAK IBU SEMUANYA CEPAT KELUAR!” teriak salah satu Mandy palsu.

__ADS_1


Matanya Ben buram, dia masih bisa mengedipkan matanya pelan-pelan, di depannya ada badan seorang perempuan yang bergetar.


__ADS_2