
Polisi The Punk penjaga tirai merah keliling jeruji besi sambil mengoceh tidak jelas, menyindir para tahanan agar mentalnya makin down. Di genggaman tangan sudah ada tongkat listrik yang siap menyetrum siapapun yang berusaha keluar atau melawan balik sang polisi.
Karena banyak bicara, para tahanan tidak mau kalah, air ludah disemprot ke arah seragam hitam polisi The Punk, ada pula yang tunjuk jari tengah, dengan bibir miring sambil hina polisi The Punk pengecut.
Sedangkan Andy enak rebahan di kasur tipis yang bikin punggung pegal, tidak ada bantal guling, hanya spons warna kuning kecoklatan yang jadi tumpuan kepala.
Telinga Andy bergetar saking mendengar kerasnya keributan di luar jeruji besi. Mungkin karena Jojo dan Bron pergi, tahanan tirai merah ini semakin beringas menentang penjagaan polisi The Punk.
Dang Dang Dang!
“Woi bangun, tidur mulu kerjaannya!” bentak tegas polisi The Punk pukul jeruji besi dengan gembok.
Mata Andy mendelik memerah, dia berdiri lalu berhadapan muka dengan polisi The Punk. Bola mata Andy berputar kiri kanan ketika gembok besi di tangan polisi diayunkan.
“Ayo ambilah kunci gembok ini, Mandy.” tawar polisi The Punk dengan tersenyum lebar.
Tangan kanan Andy keluar lubang jeruji, mencoba meraih kunci gembok yang diayunkan di tangan polisi The Punk. Namun begitu kunci gemboknya dipegang, tangan Andy dipukul tongkat listrik.
“Akhhh!” Andy tercengang kesakitan, reflek mundur 3 langkah ke belakang sambil menahan perih tangan kanannya.
“Hahahaha, mampus!” ledek polisi The Punk dengan tertawa.
Andy hembuskan nafas pelan-pelan lalu bersandar dibawah pintu jeruji besi, kakinya selonjoran dan menundukkan kepalanya. Kedua tangannya gemetaran rasanya gatal ingin menghantam muka cina polisi The Punk.
Dia pijat lengan tangan, mencoba relaksasi dahulu sambil mengumpulkan energi amarah terbesarnya. Polisi The Punk pun jalan mondar-mandir di tuding satu persatu tahanan yang menempelkan kepala di pintu jeruji besi.
“Siapa berikutnya yang mau di gampar pake tongkat listrik ini, jangan berani macam-macam ya kalian semua!” tegur polisi The Punk.
Bukannya takut, para tahanan lain yang ikut emosi melempari batu kerikil hitam ke arah polisi The Punk penjaga tirai merah seperti lempar jumrah. Mereka menyumpahi polisi The Punk bangkrut, miskin, dan hidup sengsara.
“Awas aja kalau Bron pulang, mati kalian semua!” marah polisi The Punk menakut-nakuti tahanan.
“Hahahaha!” Andy tertawa lepas.
Tahanan lain tutup mulut, mendengar tawa cekikikan Andy, ada pula yang tutup telinga dengan jari telunjuk saking berisiknya suara tawa Andy.
Tawa itu membuat polisi The Punk semakin kesal, dia ketok-ketok jeruji besi Andy dengan gembok besi warna perak. Wajahnya mengkerut saking tidak terima ditertawakan.
“Diam Mandy, kamu bisa ketawa bebas ya, walaupun adik perempuanmu sudah mati.” ucap tegas polisi The Punk.
Seketika itu Andy, membekap mulutnya sendiri, selagi berhadapan dengan musuh yang lemah, dia berhak tertawa sepuasnya, ada pepatah bilang tertawalah sebelum tertawa itu dilarang.
Polisi The Punk berbalik badan bersandar di pintu jeruji besi Andy, matanya melotot ke arah tahanan lain yang bermuka melas melihat paras wajahnya yang di operasi plastik.
“Eh, di ventilasi aku lihat helikopternya Bron lho!” ujar Andy.
__ADS_1
“Dimana Tuanku, aku tidak melihatnya?” polisi The Punk angkat kepala menoleh ke ventilasi.
Tiba-tiba Andy merebut gembok besi di genggaman polisi The Punk yang terkecoh.
DUAAGHH!!
Kepala polisi The Punk dipukul keras menggunakan gembok besi perak yang bobotnya lumayan berat dan kuat. Belum merasa puas, Andy injak kepalanya berkali-kali sampai pingsan. Seketika polisi The Punk itu jatuh sempoyongan, Andy ambil kesempatan membuka lubang kunci pintu jeruji besinya.
Andy membuka pintu lebar-lebar lalu menyeret polisi The Punk yang pingsan masuk ke dalam(jeruji besi). Dia geledah saku ikat pinggangnya, menemukan kontak kunci-kunci lain. Tidak lupa Andy ambil tongkat listrik sebagai senjata sekunder, mengingat barang-barangnya disita.
“Mandy, tolong kami!”
“Tolong buka kuncinya, aku ingin bebas.”
“Cepat keluarkan aku dari sini!”
Banyak tahanan yang mau bebas, Andy perhatikan wajah mereka yang tampak melas, putih pucat, dan rambutnya dikelilingi nyamuk.
“DIAM!” teriak keras Andy.
“Aku tahu kalian semua disini pengangguran, kalian harus bertaubat jika dibebaskan.” sambungnya.
Dengan rasa belah kasihan, Andy membebaskan semua tahanan di penjara tirai merah, mumpung Jojo dan Bron belum kembali, ini kesempatan mereka untuk kabur bersama dari Club.
...***...
Tidak peduli mau polisi wanita atau pria, yang namanya pelatihan polisi harus tegas dan keras, apalagi ini golongan polisi The Punk yang tampang mukanya macam preman mohawk yang suka ngamen atau balap liar.
Selama latihan berlangsung, Sasha mengerang kesakitan, mengatur nafas agar tidak terlalu shock dalam menghadapi cobaan hari ini.
Bukan latihan polisi seperti ini yang diinginkan oleh Sasha, mana mungkin calon anggota polisi wanita dididik keras oleh senior polisi The Punk yang galak-galak.
Bruukkk!!
Sasha ambruk terlentang lemas di atas matras, matanya silau menatap sinar matahari yang begitu cerah dan panas. Rasa haus mulai kerasa, dia buka mulut lebar-lebar sambil tarik nafas pelan-pelan.
Jojo berdiri depannya sambil tersenyum lebar, dia ulurkan tangan membantu Sasha bangkit lagi, tetapi sayang Sasha tambah lemas, dia jalan membungkuk seperti orang lansia yang bawa tongkat kemana-mana.
“Sudah cukup pak, aku menyerah!" ucap Sasha dengan nada suara tinggi.
Jojo menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar, membuat Sasha bersandar lemas di belakang pohon Cemara. Kepala Sasha pusing, kejang-kejang, sepertinya dia butuh istirahat penuh.
“Ayo semangat latihannya kurang sedikit lagi, masih ada tes tulis yang harus dipenuhi.” kata Jojo melipat kedua tangannya.
Sasha pasrah, mengacak-acak rambutnya lalu ganti posisi push up. Giliran Jojo yang mendampingi Sasha latihan, sedari tadi lihat dari belakang polisi The Punk, membuat bosnya kasihan karena asisten favoritnya dilatih secara paksa dan kasar.
__ADS_1
Bron menghampiri Jojo, menyerahkan sebuah surat hasil latihan fisik Sasha. Wajah Jojo cemberut membaca surat tersebut dari bagian atas sampai bawah. Tidak ada rasa senang bila melihat nilai Sasha yang cukup tinggi.
“Tuan Bron, aku yakin Mandy pasti bisa kabur melarikan diri dari Club dengan mudah,”
“Hahaha, bagiku Mandy adalah orang lemah, mana mungkin dia bisa kabur tanpa kunci atau alat bantu lain,” Bron menyombongkan diri.
“Aku serius, jika Mandy marah besar, jangan coba-coba melawannya.” Sasha melotot mata di depan Bron.
Bron menggelengkan jemari telunjuknya, tidak akan percaya terhadap ucapan Sasha barusan. Memanfaatkan Sasha demi menangkap Andy sudah cukup, sekarang pelatihan polisi inilah imbalan yang cocok bagi Sasha.
...***...
Andy tendang semua inventaris di Clubnya Bron, menimbulkan suara keras yang membuat bala bantuan polisi The Punk garda luar pintu kaca utama. Karena jalan keluar terhalang, maka Andy memilih cara B agar bisa keluar dari Club rumah tahanan ini.
Andy keliling ke bagian lantai 1 Club, beruntung ada ruang penyimpanan senjata yang pintunya terbuka lebar. Tahanan lain pada rebutan masuk, memborong semua senjata api, tongkat listrik dan yang lebih penting adalah loker panjang warna biru yang menyimpan barang sitaan.
Syukurlah pisau dapur favorit dan handphone gepeng jadul Andy masih ada, dibungkus di kantong plastik bening.
“Buruan woi!! hajar polisi The Punk biar kita bisa keluar hidup-hidup.” teriak Andy sambil menoleh kanan kiri.
Suara adu baku tembak, dan teriakan polisi The Punk terdengar jelas di lubang telinga Andy, tahanan penjara di Club ini memang gerak cepat tidak sabaran ingin segera kabur.
Namun ketika di lobby utama Club, polisi The Punk malah dorong-dorongan dengan tahanan penjara, kepalan tangan Andy memerah, dia benar-benar marah kali ini.
Tanpa aba-aba seperti kerbau menyeruduk pria berkain merah, Andy berlari lalu tabrak punggung salah satu tahanan yang menahan gagang pintu. Semua orang disana pada berjatuhan.
Tidak peduli mana polisi dan tahanan penjara, Andy berjalan menginjak kaki dan tangan mereka. Salah satu polisi The Punk memakai helm armor level 3 pegang kaki kiri Andy lalu menggigitnya, buset berani banget.
Pukulan tongkat listrik tepat mengenai leher polisi The Punk tersebut, Andy lepas helmnya lalu menjejal mulutnya dengan tongkat listrik. Andy pun pakai helm armor lalu pergi kabur duluan.
Bremmm Breemmm!!
Tak disangka Andy terpojok oleh polisi The Punk gendut yang mengendarai motor Kawasaki Ninja 250R. Sok keren banget gayanya, dia tunjuk jari tengah dihadapan Andy yang sedikit serius.
“Hayooo mau kemana, maju sini!!” tantang polisi The Punk gendut.
Tidak ada kata menyerah selagi masih bisa terus maju dan terobos halangan, Andy berani berlari bersamaan dengan polisi The Punk yang langsung tancap gas.
BRUAAGGH!!!
Suara bantingan motor yang roboh di jalan, polisi The Punk jatuh loncat dengan cipratan darah di mulutnya. Mukanya lebam membekas tendangan maut Andy yang menyebabkan hidungnya mimisan.
Sedangkan Andy duduk selonjoran sambil memijat kedua lengan kakinya, rasanya nyeri setelah nekat lompat lalu tendang muka polisi The Punk dengan dua kaki. Baru pertama kali Andy lakukan aksi tersebut.
Handphone Andy dinyalakan, tidak ada pesan atau panggilan dari Sasha, saking khawatirnya, dia kirim pesan minta maaf ke wanita loper koran itu. Namun raut wajah Andy seketika murung saat mengetik pesan.
__ADS_1
“Sial!” gumam Andy.
Nomor anda telah diblokir.