MANDY

MANDY
Resiko Buruk


__ADS_3

Orang-orang berhamburan kemana-mana teriak minta tolong, pagar besi akses masuk kampung ditutup, ini demi keamanan apabila maling mobil berusaha kabur.


Sasha mengayuh cepat sepedanya mengikuti Andy yang sudah lari kencang duluan seperti kuda. Andy menoleh kanan kiri cari keberadaan maling mobil yang mau kabur.


Karena baru pertama datang, mereka berdua tanya ke salah bapak yang bersembunyi dibalik korden jendela depan rumah.


“Bang, maling motornya dimana ya?” tanya Andy.


“Di... disana mas, malingnya ada tiga orang lagi kabur entah lewat mana.” jawab bapak yang tampak ketakutan.


Andy dan Sasha berpencar, mereka yakin maling mobil itu masih bingung berkeliaran di jalan Kedawung yang sudah tertutup. Andy berlari ke sumber suara-suara warga yang menunjukkan jalan.


Sasha yang bersepeda hanya bisa mengayuh sekuat tenaga, mana mungkin sepeda onthel miliknya bisa lebih cepat dibanding sepeda pancal modern lainnya.


Mereka berdua sama-sama capek garuk kepala bingung mau cari pelakunya kemana. Padahal ini salah satu kesempatan bagi Andy untuk menghajar maling mobil sesuka hatinya.


...•••...


“Woi maling berhenti jangan kabur!” teriak pak RT yang berhasil menciduk tiga sekawan maling mobil yang sedang membongkar isi kap mesin mobil.


Maling handal tersebut mencopot komponen penting di balik kap mesin seperti radiator, tabung radiator dan minyak rem. Kedua tangan mereka berubah menghitam memegang obeng dan kunci Inggris.


Dan lebih parahnya lagi kostum maling mobil ini seperti ******* dari atas kepala sampai bawah kaki. Memang beneran terlalu niat mencuri mobil sampai segitunya.


Sayangnya nyali pak RT turun ketika warga dilempari batu kerikil dan diancam pukul pakai tongkat kasti berpaku. Saking ngerinya tidak mau warganya tersakiti, pak RT teriak minta tolong.


“Siapa saja tolong kami, ada maling!” teriaknya sekencang mungkin.


Para warga yang lagi berkerumun mondar mandir cari pertolongan.


“Kalian semua minggir.” ujar Andy.


Dari tadi Andy berdiri santai lihat kepanikan dan takutnya pak RT sama maling mobil. Sekian banyak warga mungkin hanya 0,01% yang berani lawan maling. Karena tidak ada yang mengusir, maka giliran Andy yang akan mengatasinya.


“Itu tukang bersih selokan, kenapa dia kemari?”


“Apa dia nggak takut sama maling mobil?”


Pertanyaan itu diutarakan lewat mulut warga, kalau sudah takut adu pukul, maka bapak atau ibu-ibu gunakan skill bacot sebagai komentator.


Andy jalan santai aja kayak orang tak dikenal nyelonong aja mengelilingi mobil yang mau dicuri. Pandangan maling fokus ke Andy, lelaki tersebut memeriksa spare part mobil dari depan sampai bumper belakang.


Saat menyentuh radiator yang tergeletak di tanah paving, kepala Andy dilempar batu kerikil tepat di jidatnya.

__ADS_1


“WOY!! anak mana lu berani banget sentuh barang milik orang.” kata salah satu maling pakai bandana merah.


“Ini bukan mobilmu kan, yasudah pergi sana jauh-jauh.” tegur Andy jalannya pelan.


Maling yang di atas atap mobil turun loncat, dia menjambak keras rambut dan menarik kerah baju Andy. Tampang lelaki psikopat masih santai, tidak perlu panik atau minta ampun.


“Banyak bacot lu anj*ng!!” marah si maling mobil emosinya memuncak.


Dari arah belakang Andy dipukul dengan kunci Inggris, seketika Andy mendongak ke atas merasakan sakitnya, kakinya di jegal sehingga tubuhnya ambruk ke tanah paving. Lengan tangan dan kaki rasanya nyeri sedap ketika berbenturan langsung dengan paving yang bahannya keras.


Pisau dapurnya jatuh, warga-warga Kedawung cuma bisa teriak-teriak berhenti. Sasha baru sampai ke TKP, bingung kenapa orang-orang pada teriak. Sasha menyela orang-orang, ingin lihat lebih dekat lagi apa yang sebenarnya terjadi di depan para warga.


Bugh!


“Andy!!!” teriak kaget Sasha.


Andy makin dikeroyok habis-habisan setelah senjata favoritnya jatuh, suara pukulan tangan dan kaki terdengar begitu keras sampai ke gendang telinga Sasha.


Badan Andy tidak berkutik, baju dan celana kotor kena debu jejak sandal maling mobil yang kotor. Bola matanya Sasha bergetar melihat partnernya yang dikeroyok seperti kawanan ayam mematok cicak.


Hembuskan nafas dalam-dalam, beranikan diri mendorong maling mobil menjauh dari Andy. Sasha tidak mau partnernya makin terluka parah setelah bekerja keras berjam-jam.


“Aku laporkan kalian semua ke polisi, biar tau rasa!” ancam Sasha sambil memotret maling mobil.


Maling mobil yang berselimut sarung pun ambil pisau dapur yang tergeletak di samping Andy. Kedua tangan Sasha ditahan oleh dua maling mobil lainnya.


Pisau dapurnya Andy dijilati seperti psikopat yang hendak eksekusi mangsanya. Sasha coba memberontak menggerakkan tangannya yang dipegang.


Yang lebih parahnya leher gadis itu dirogoh dari kerah bajunya, dasar maling cabul. Tiga maling ini malah menertawakan Sasha yang lemah dan lembek.


“Andy, tolong aku Andy!!” ucap Sasha kakinya mencoba menendang punggung Andy. “Kau tidak boleh kalah, kau harus kuat Andy. Ayo bangun!!” suara Sasha jadi serak.


Pipinya Sasha kemerahan dibasahi air mata yang berlinang. Dia terus memohon, menguatkan Andy supaya bangun. Warga Kedawung membisu, menundukkan kepala seraya berdoa. Maling mobil ini sudah bertindak di luar batas maling biasanya.


“Sasha... aku masih... baik-baik saja.” kata Andy suaranya lirih pelan.


Pisau dapur itu hampir menghunus perut Sasha, tetapi dengan cepat ditangkap oleh Andy yang baru bangkit, alisnya mengkerut, urat-urat saraf kepalanya keluar. Tatapan mata tajam Andy fokus ke maling mobil yang pegang pisau dapurnya.


“Berani sekali kamu pegang senjataku, mau mati di tempat?” tanya Andy senyuman miring.


Buaaagh!!


Satu pukulan Andy membuat maling mobil itu reflek pegang perutnya yang sakit terkena pukulan maut, rasanya ingin mual-mual. Pisau dapurnya dirampas balik ke tangan Andy.

__ADS_1


Lelaki psikopat itu menyayat kedua kaki maling mobil sampai tergores berdarah-darah. Kurang merasa puas, Andy hantam bertubi-tubi kepala maling mobil sarungan itu hingga bonyok.


“Dan ini yang terakhir karena sudah berani menyentuh Sasha-ku.” kata Andy mengangkat lengan kakinya tinggi ke atas.


Kepala maling mobil di tendang sampai nemplok di tanah paving yang kasar, bunyi dentuman keras kerasa banget di telinga. Bahkan warga tutup mata nonton adegan tersebut.


Cipratan darah menempel di pipi Andy, dia ambil kap mobil lalu memukul dua maling mobil lainnya hingga jatuh tepar. Pisau dapurnya dia ambil lagi, lalu berbalik arah menghadap Sasha yang masih memejamkan mata sambil pegang handycam.


“Tugasku sudah selesai, aku ingin cepat-cepat pulang,”


“Memangnya kamu mau pulang kemana?” tanya Sasha angkat kedua tangannya.


“Rahasia, kamu tidak perlu tahu, aku nggak akan kembali lagi ke penampungan.” jawab Andy menundukkan kepalanya.


Sasha ambil tisu dari saku jasnya, lalu mengusap darah kental di pipinya Andy, matanya berkaca-kaca melihat mata Andy terlihat lebam, wajahnya kemerahan, dan ada darah di bibirnya.


Sasha pegang gagang pisau dapur, ketika mau mengusap ujung pisau pakai main tisu yang baru, tangannya digenggam oleh Andy.


“Jangan, biarkan noda darahnya mengering.” ucap Andy menahan tangan Sasha.


Pak RT berdiri di tengah mereka, sebuah amplop coklat tebal diserahkan ke Sasha. Beliau membungkuk setengah badan beri salam hormat kepada mereka berdua yang sudah membantu dan menolong kampung Kedawung, dari awal pembersihan sampah hingga adu mekanik dengan maling mobil.


Warga beramai-ramai menggiring maling mobil yang badannya sudah lemas tidak bertenaga ke kantor polisi untuk tindak lapor.


“Terimalah ini, semoga bisa mencukupi kebutuhan kalian berdua.” ucap pak RT sambil tersenyum melirik ke arah Sasha dan Andy.


......•••......


...Di depan gapura jalan Kedawung, Andy berdiri bersandar di tiang lampu, menatap Sasha yang mengecek ban dan rantai sepeda onthel nya. Andy perhatikan gadis tersebut yang memutar ban sepedanya, mengecek oli di rantai hitam yang terpasang di roda gigi sepeda. ...


Sasha buka isi amplop coklat, dia ambil tiga lembar uang lalu sisanya ia berikan ke pembersih selokan yang sudah bekerja dengan baik.


“Nih untukmu, kamu pantas dapat lebih banyak.” kata Sasha sambil genggam tangannya Andy.


Andy berdeham tersenyum kecil setelah mendapatkan hasil jerih payahnya jadi tukang pembersih selokan. Baru hari pertama sudah ikut campur berhadapan dengan maling mobil.


“Kalau kamu keberatan dan ingin berhenti kerja bilang aja gapapa, aku nggak mau kamu kayak begini lagi.” kata Sasha mengelus pergelangan tangan Andy.


“Resiko buruk hidupku adalah bekerja demi melindungi orang-orang baik terutama dirimu. Aku hanya lakukan tugasku dengan baik.” Andy lepaskan tangannya dari Sasha.


“Aku malah senang bekerja seperti ini, jangan khawatir Sasha." lanjutnya.


Sasha paham menganggukkan kepalanya, selama Andy senang sama pekerjaannya, dia rela lakukan apapun meskipun harus kerja mati-matian, tapi ini demi dirinya yang ingin kaya raya. Hidup Andy tergantung pada keuangan dan kesehatannya saja.

__ADS_1


Sasha pun naik sadel sepeda onthel, dia menoleh ke arah Andy sambil melambaikan tangannya “Dadah Andy, sampai ketemu besok!!” ucapnya.


Ketika gadis itu sudah jalan jauh dari jalan raya, Andy angkat amplop coklat itu ke atas langit, dia cium bau uang yang wangi seperti habis dicuci. Dia bangga sama dirinya sendiri, tidak sia-sia kabur cari pekerjaan yang lebih menguntungkan dibanding memungut sampah di tong sampah rumah-rumah orang.


__ADS_2