
Jojo bertepuk tangan atas kinerja Sasha dalam menjadi reporter berita siaran langsung, Jojo rekrut kru stasiun TV yang punya koneksi dengan JoNews.co lewat tersebar luasnya berita M si Pembunuh.
Berhubung seluruh sampah ludes habis disita, Jojo membubarkan kru serta polisi The Punk yang ikut bertugas menyelidiki penampungan sampah.
Ketika yang lain sudah masuk mobil, Sasha masih berdiri tegak diam di area sampah yang kosong, menyisakan tanah pasir yang banyak kotoran.
“Sasha, tunggu apalagi ayo balik ke kantor!” ajak Jojo dengan nada suara tinggi.
Wanita itu cuma menggelengkan kepala tanpa menoleh ke Jojo, sang Bos berdecak kesal lalu suruh polisi The Punk dan sopir mobilnya jalan duluan.
Saat suara mobil menghilang, Sasha buru-buru masuk ke dalam rumah kayu, Ben sedang berpelukan dengan pekerja sampah lain yang wajahnya ketakutan, bibirnya gemetaran.
Ada yang sampai pegang kepala pusing kepikiran sampah-sampah yang diambil. Sasha melirik sekitaran rumah kayu, hanya ada satu peti harta karun yang diamankan dibelakang Ben.
“Syukurlah ada barang yang tidak diambil, peti harta karun itu punya siapa ya?” tanya Sasha tersenyum lega.
“Ini peti harta karun Andy, cuma sahabatnya yang boleh membuka box peti ini.” jawab Ben sambil mengelus peti harta karun.
Peti harta karun itu sudah lawas dan penutupnya bolong-bolong, Sasha penasaran apa isi peti harta karun itu. Sasha menggenggam kepalan tangan memohon kepada Ben untuk lihat isi peti harta karun sekali saja, tanpa dipotret, direkam bahkan dibawa kabur.
“Bolehkah kulihat apa isinya, please!” mohon Sasha matanya berkaca-kaca.
Ben menghela nafas berat, dia masih ragu menunjukkan isi peti harta karun milik Andy. Raut wajah Sasha seolah-olah minta dikasihani, dia penasaran banget sama barang milik Andy yang satu ini.
Peti harta karun digeser ke Sasha yang tengah berdiri di depan pintu rumah kayu. Lubang kunci petinya bolong, berarti tidak ada kunci.
Awal membuka peti, Sasha begitu senang tetapi setelah melihat isi harta karun tersebut, tiba-tiba dia tutup hidung, mulutnya bergelembung lalu menggeser peti tersebut kepada Ben lagi.
Uhuk-Uhuk! Sasha batuk ambil tisu di saku kemejanya.
“Baunya busuk banget, itu semua milik Andy?” tanya Sasha kurang percaya.
“Ya, jangan bilang siapa-siapa terutama bosmu tentang peti harta karun ini.” jawabnya Ben sambil menggelengkan jari telunjuknya.
__ADS_1
Langit biru berubah menjadi oranye, pertanda matahari akan segera terbenam. Sasha pamit pulang duluan naik angkot, dia mau lanjut lembur kerja setengah sebelum istirahat total.
...•••...
Semua orang di dalam Club pada panik keluar pintu kaca. Tidak ada satupun polisi yang menghalangi mereka, dari dalam terdengar suara keributan, mulai dari pecahan botol, meja, kursi dibanting, dan yang lebih parah lagi teriakan polisi The Punk yang disakiti Andy.
Di dalam Club tepatnya di lobby utama, banyak polisi The Punk yang tepar, luka-luka bahkan ada yang sampai pingsan. Mereka dihampiri Bron yang marah mengacak-acak rambutnya.
“ANDY!!!!” teriak keras Bron wajahnya memerah.
Andy keluar Club dalam keadaan babak belur, jenggot dan kumisnya palsunya miring, banyak luka lebam di muka dan kepalan tangannya. Dia berjalan sambil mengayunkan pisau dapur yang berlumuran darah, bahkan cairan kental merah tersebut menetes di jalanan.
Dia jalannya lemas, perutnya keroncongan butuh asupan makan dan minum, bukan cari makan di Club malah cari ribut sama polisi The Punk. Tidak peduli gimana reaksi Bron atas kerusuhan dan kerusakan dalam Club-nya. Yang terpenting Andy tahu siapa orang-orangan The Punk.
Cepat-cepat kabur dari area sekitar Club, beruntung saat di tiang tanda stop ada mobil taksi biru putih yang lagi parkir. Andy berikan uang 200 ribu ke supir taksi, memintanya diantar ke kantor koran yaitu JoNews.co.
“Masnya kok babak belur, habis tawuran ya?" tanya supir taksi melirik ke arah Andy.
“Bunuh orang di Club Brondong, buruan jalan!" ucap tegas Andy.
...•••...
Angkot Sasha berhenti di parkiran belakang kantor JoNews.co. Duduk manis di kursi panjang bawah tiang lampu. Menyandarkan punggungnya ke kursi sambil minum botol air mineral.
Kerja totalitas memang melelahkan, dibawah pimpinan Jojo yang beraliansi dengan The Punk. Kok bisa pendiri kantor surat kabar ternama punya anak buah polisi yang siap diperintah.
Pandangan mata Sasha tertuju ke atas langit, ada dua bintang yang berkelap-kelip warna merah dan putih. Tangannya coba genggam bintang putih, Sasha tersenyum lebar, matanya berbinar-binar.
“Semoga bintang ini tetap bersinar terang selalu ketika waktu pulang kerja.” batin Sasha.
Suara mesin mobil taksi berhenti di depan parkiran, membuat Sasha memicingkan matanya, tidak mungkin ada karyawan yang datang malam ke kantor, tidak ada kegiatan Shift malam dalam jadwal.
Lantas dia berdiri ketika seorang pria penumpang taksi turun, lalu melambaikan tangan ke supir taksi yang sudah pergi. Pria itu membalikkan badan lalu diam membeku menatap Sasha yang lihat ke arahnya.
__ADS_1
“Halooo!” sapa Sasha melambaikan tangan kanannya.
Pria itu berlari ke arah Sasha sambil melepas kumis, jenggot palsunya, menampakkan jelas luka lebam di sekujur wajahnya. Dia lari memegang senjata tajam di kedua tangannya.
Mata Sasha melotot tajam, baru saja balik badan mau kabur, dia dipeluk oleh pria dibelakangnya. Dia mencium aroma darah segar dari pisau yang ia pegang.
Sasha melirik ke belakang, mulutnya melongo mengetahui wajah asli pria yang tidak asing baginya.
“Andy, darimana saja kamu ini?” tanya Sasha heran.
“Ceritanya panjang, aku kesini mau ketemu dan bicara sama kamu,” jawab Andy.
“Aku ingin bicara serius, aku nggak mau ninggalin kamu, aku—”
Sasha membalas pelukan hangat Andy, memotong ucapan lelaki itu yang diam seketika ketika Sasha mengelus punggung tangan Andy yang memar berbekas darah kering.
Andy menghembuskan nafasnya, pegang pundak Sasha lalu duduk bersamanya di kursi panjang. Sasha cuma geleng-geleng kepala menatap wajah Andy yang babak belur.
Andy mulai buka suara pelan, ceritakan dari awal keliling trotoar, sampai keluar Club hidup-hidup. Andy bilang terus terang saja biar tidak dikira bohong.
Sasha cuma manggut-manggut mendengarkan tanpa memotong ucapan Andy, dia dengarkan bagaimana cara Andy menikam leher, menggores perut, mematahkan tulang ekor hingga memotong rambut mohawk polisi The Punk dengan pisau andalannya.
“Cukup Andy cukup, aku tidak tahan mendengarkannya lagi,”
“Jadi apa tujuanmu berikutnya?” tanya Sasha penasaran.
“Mulai besok aku kerja sebagai pembersih selokan panggilan, dan aku mohon bantuanmu, Sasha.” jawab Andy mengelus pelan rambut panjang Sasha.
Mengingat Andy yang sekarang sudah tidak di pasar Tawangmangu lagi, membuat Sasha turut prihatin apalagi sekarang Andy jadi buronan polisi The Punk. Mungkin Sasha dengan senang hati menyalurkan bantuan ke Andy yang niat dengan tujuan barunya.
“Baiklah Mandy, aku bersedia membantumu, tetapi ada syaratnya, hehehe!” tawa kecil Sasha.
Andy mendekatkan telinganya ke wajah Sasha, gadis ini membisik pelan sambil merampas pisau dapur di genggaman Andy.
__ADS_1
“Gimana, kamu setuju wahai partnerku?" tanya Sasha.
“Setuju, siapa takut?" jawab Andy menepuk kepalan tangannya.