
Sasha lemas banget bangun pagi ini menuntun sepeda onthel ke parkiran khusus karyawan kantor. Dia menguap, matanya berkedip-kedip, sebelum masuk kantor, dia olahraga singkat, memutar kepala, menekuk lengan tangan supaya nggak mulat-mulet waktu jam kerja.
Suasana kantor masih sepi, hanya ada beberapa tim redaksi yang lagi rundingan mengumpulkan bahan informasi terupdate untuk berita yang akan dicetak di koran.
Lihat orang kumpul bikin Sasha malu, masa nggak ada seorang pun teman rekan kerja yang menyapanya lalu ajak dia masuk ruang komputer sambil ngobrol santai. Apalah daya dirinya cuma jurnalis favorit Jojo dan loper koran keliling daerah kampung.
Jika begini terus, lama kelamaan Sasha sulit bertukar pikiran sama karyawan yang beda divisi. Sasha percepat jalan ke ruang CEO untuk menghadap Jojo.
Baru sampai di depan ruangan, Jojo tengah bercakap-cakap dengan klien yang merupakan pemilik Club, siapa lagi kalau bukan Bron. Badan Sasha bergetar dingin melihat rupawan Bron yang ototnya kekar, akar-akar urat di leher dan tangan tampak jelas.
“Aku datang kesini untuk bagi informasi tentang orang gila yang menyerang Club-ku dan pasukan polisi The Punk.” kata Bron.
“Boleh kutahu ciri-ciri orangnya seperti apa Tuan?” tanya Jojo mengerutkan keningnya.
Bron memperagakan postur fisik tubuh Andy dan cara membabi buta polisi The Punk penjaga Club. Sasha membelalakkan matanya, skenario Bron barusan mirip seperti orang yang familiar.
“Wah, makin sadis dan nggak waras nih Andy.” batin Sasha menggelengkan kepalanya pelan.
Ketika Jojo melirik kearahnya, Sasha hormat menunjukkan setengah badan, lalu balik lagi ke bangku kerjanya. Karena belum ada kerjaan, Sasha iseng searching google bala bantuan pembersih selokan.
Hasil pencariannya macam-macam, disini matanya Sasha sedikit merem karena nggak tahan lihat betapa kotornya selokan kotor yang dipenuhi sampah dan sisa septic tank yang mencemari air di selokan jadi bau busuk.
Lagi mau nge-zoom foto, eh si Jojo malah datang samperin tim redaksi dan Sasha suruh berdiri beri salam ke Bron.
“Halo Tuan Bron!” serentak Sasha dan tim redaksi.
Kepala Bron menoleh kanan kiri seperti cctv, dia tatap wajah Sasha yang tersenyum sumringah ke arahnya.
“Halo nona, siapa namamu?” tanya Bron balas senyum.
“Sasha Devagani.” jawab Sasha.
Bron merangkul pundak Jojo, jari telunjuknya menuding Sasha yang tersenyum lebar, Bron ketawa bangga bisa lihat perempuan cantik seperti Sasha.
“Kamu cantik Sasha, Jojo tidak rugi punya karyawan sepertimu,”
“Terima kasih!” ucap Sasha senyum unjuk giginya.
Jojo datang mengabarkan bahwa dia dan Bron harus pergi survei ke tempat Club yang lumayan jauh dari kantor. Jojo berpegang teguh kepada Sasha untuk mengawasi dan mengontrol kerjaan tim redaksi hari ini harus tuntas dan nggak boleh lembur.
Jojo dan Bron undur pamit meninggalkan kantor JoNews.co. Ketika suara mereka sudah hilang dari ruang tim redaksi. Sasha tutup pintu rapat-rapat lalu menghentakkan kakinya senang banget ditinggal sama Bos.
“Yes, Yes, Yes, Senang banget!” Sasha begitu ceria sambil joget nggak jelas.
Saking bahagia ditinggal atasan, Sasha naik kursi lalu angkat dua tangan lebar-lebar sambil teriak “Yessssss!!!”
Tim redaksi cuma mengernyitkan alisnya, heran lihat kelakuan Sasha yang mulai ikutan gila kayak Andy.
“Baiklah Sasha, sekarang waktunya hubungi Andy untuk bekerja membersih selokan, Let's go!” kata Sasha bicara sendiri.
Membuka handphone lipat lalu mulai panggilan dengan kontak nama Mandy, nomor belakangnya 666.
“Pagi Andy, aku punya pekerjaan untukmu lho!”
__ADS_1
“Benarkah, tolong beritahu aku lokasinya ya,” Andy tampak senang banget.
“Dibutuhkan pembersih selokan di jalan Kedawung No.5 sekarang juga, kamu kesana dahulu aku menyusul,”
“Siap Ginny...eh maksudku Sasha aku segera kesana.” jawab Andy keceplosan salah sebut nama.
Telepon terputus, alisnya Sasha miring, dia berpikir sejenak kenapa tadi Andy panggil dia Ginny. Mulutnya membulat membentuk huruf “O” dia baru ingat kalau nama Ginny itu ada di kerah jaket tentara abu-abunya Andy.
Sasha mendesah pelan, lupakan nama itu dan cepat selesaikan pekerjaan artikel berita dan packing koran sebelum otw ke lokasi pembersih selokan.
...•••...
Andy senyum-senyum sendiri pegang handphone berbentuk kentang jadulnya berlayar kuning. Dia baru bangun rebahan di bawah mobil pickup pengangkut sampah kardus yang dilipat.
Olahraga pemanasan dahulu sebelum berangkat, biar badan tidak kaku dan tetap fit, ya walaupun pekerjaan hari ini gladi kotor tetapi harus semangat.
Di pojok jalan raya, angkot biru berjejeran menunggu penumpang, Andy genggam uang 10 ribu lalu pilih angkot yang desain body kitnya bagus dan memanjakan mata.
Ada sih satu angkot yang bumper depan sama belakangnya udah kaya mobil Nascar. Andy naik angkot tersebut lalu meminta ke kang supir diantarkan ke jalan Kedawung secepatnya dengan ekstra ongkos tentunya.
Kali ini Andy cuma modal masker, topi fedora hitam, kaos hitam polos, celana jeans dan tidak lupa sarung tangan karet tebal anti air.
Selama di perjalanan menumpang angkot, Andy lihat pemandangan suasana keramaian jalan raya. Dia tatap kaca jendela sambil ulurkan dua telapak tangan di dada seraya berdoa mengawali kerja pembersih selokan, dia harap banyak kampung yang tertolong.
...•••...
Sesampainya di lokasi selokan jalan Kedawung, baru aja nengok ke bawah sudah dipenuhi sampah-sampah plastik, dedaunan kering, dan pakaian bekas kotor terbuang sia-sia. Selokan ini cukup dalam dan ada genangan air terjun yang suaranya satisfying di telinga Andy.
“Salam pak RT saya Andy bersedia mau membersihkan selokan di kampung halaman anda,” kata Andy bersalaman dengan pak RT.
“Syukurlah ada pembersih selokan yang berminat kemari, monggo silakan kalau mau langsung ke bawah selokan.” jawab pak RT.
Andy memijak bebatuan besar agar bisa turun dari selokan, tidak lupa memegang sepatu karet sebagai pengaman kaki agar tidak gampang sakit.
“Anda datang sendirian toh mas?” tanya pak RT
“Sebentar lagi teman saya kemari, jadi aku mulai bersihkan selokan terlebih dahulu." jawab Andy.
Andy mulai kerja, merogoh kedalaman air untuk diambil sampah-sampah yang bikin saluran arusnya tersumbat. Dia lakukan dengan kedua tangan yang kuat memukul wajah penjahat.
Lama-kelamaan yang awalnya cuma diawasi pak RT doang, tiba-tiba banyak warga kampung yang ikut menengok kinerja Andy dalam membersihkan selokan.
Ada pula yang beri tong sampah kosong untuk membuang segudang sampah yang berhasil terkumpul ditumpuk jadi beberapa jenis sampah.
Kesulitan Andy adalah harus menenggelamkan kepalanya untuk mencabut inti sampah penyumbat air di selokan. Lepas masker, topi lalu merendam kepala ke dalam air yang baunya busuk banget.
“Semangat kak!”
“Alhamdulillah ada orang baik yang jago bersihin tuh selokan,”
“Anak itu luar biasa banget ya pak RT!”
Suara dukungan dari warga kampung terdengar jelas di lubang telinga Andy, dia senyum-senyum sendiri. Keringat basah di sekujur wajahnya dicampur dengan tetesan air selokan yang mengotori wajahnya.
__ADS_1
Beberapa lama kemudian, sedikit lagi air selokan ini akan bebas mengalir tanpa hambatan.
Kring-Kring!
Lonceng sepeda onthel Sasha baru datang ke kampung jalan Kedawung. Gadis itu menyela orang-orang yang lagi pada nonton Andy dari atas jalan alas paving.
“Andy Semangat ya!” ucap Sasha nada tinggi.
Lelaki itu reflek mendongak ke atas, Sasha lambaikan tangan sambil senyum sumringah. Andy lihat telapak tangannya yang sudah banyak garis-garis. Dia menghela nafas panjang merasakan capeknya kerja mandiri di tempat selokan.
“Aku rekam ya buat bukti dokumentasi,” Sasha fokus menggerakkan kamera handycam.
“Ingat, nggak usah dimasukkan koran kantor kamu, bisa bahaya kalau aku ketahuan The Punk,” Andy tuding jari telunjuk ke Sasha.
“Nggak kok, santai aja percaya sama aku.” jawab Sasha.
Sasha angkat tong sampah yang terisi penuh, raut wajahnya risih tidak tahan mencium bau busuknya sampah selokan. Mereka berdua dipandang kompak oleh warga kampung. Asal kalian tahu yang nonton Andy sedari tadi masih banyak orang.
Salah satu warga membantu berikan ember bekas untuk pengganti tong sampah apabila masih kurang. Sasha pegang ember warna hitam, lalu tangannya turun ke bawah.
“Andy, ambilah ember ini, nggak ada tong sampah lagi,” kata Sasha sambil pegang ember dua tangan.
Saat mengulurkan tangan meraih ember yang dipegang oleh Sasha, entah kenapa tiba-tiba Andy melamun, matanya melotot jeli menatap Sasha.
Kak Andy tong sampahnya nggak ada, jadi aku bawain ember ini aja ya. Ginny nggak tahu mau cari kemana lagi. Adik perempuannya tersenyum lebar ketika rambutnya di elus oleh Andy.
Bekerja keraslah, siapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan berhasil.
“Andy, Andy!" panggil Sasha dengan nada tinggi tangannya melambai di depan muka Andy.
“Apa yang kamu lakukan, lepaskan tanganmu!”
Andy menggelengkan kepalanya, tangannya lepas dari rambut halus Sasha. Barusan dia kebayang bahwa Sasha ini adalah Ginny. Warga kampung Kedawung bersiul-siul melihat tingkah Andy yang setia banget sama Sasha.
Arus sungai di selokan yang segede gaban ini mengalir drastis, diikuti air terjun kecil yang begitu deras. Pembersihan selokan pun selesai.
...•••...
“Kamu tadi kenapa sih kok melamun, lagi mikirin apa?” tanya Sasha serius.
Andy pegang kedua pundaknya Sasha, matanya melirik dari atas rambutnya sampai ke bola kaki Sasha. Raut wajah Andy senyum ketawa kecil ketika meraba pipi Sasha yang lembut.
Reaksi gadis itu diam membeku, pipinya memerah, mau mengelak tetapi tangan dan kakinya kaku. Baru istirahat kerja kenapa Andy jadi begini.
“Rambutmu, kulit wajahmu, kamu hampir mirip sama dia,” kata Andy matanya berkaca-kaca.
“Mirip siapa?" jawab Sasha kebingungan.
Momen berduaan mereka terganggu setelah ada pak RT yang lari tergesa-gesa pakai sepatu boots ke Andy.
Pak RT menghela nafas sambil tunjuk ke arah belakang. “Mas, tolong ada maling mobil yang coba kabur, orangnya berani main pukul sama bapak-bapak!” katanya raut muka panik.
Andy dan Sasha saling bertatapan muka, di tangan kiri Andy sudah sedia pisau dapur favoritnya yang siap menghukum maling.
__ADS_1