
Gelas kaca berisi teh dingin saling cheers di meja bundar warna coklat, Jojo begitu senang karena Mandy sudah tertangkap. Dia tertawa bareng polisi The Punk sambil menyeruput teh dingin yang tercampur sesendok gula didalamnya.
Dari sekian banyak orang bersenang-senang, Jojo sama sekali tidak memperhatikan bahwa diantara mereka semua ada yang merasa dirugikan. Kecewa berat karena tidak mendapat upah apa-apa hanya memandang sedih Andy yang jadi tahanan Bron.
Ada sesuatu yang janggal yang masih nyangkut di pikiran Sasha yang belum dia lepaskan. Entah kenapa merasa tidak puas ikut senang bersama Jojo.
“Pak, boleh izinkan aku berbicara empat mata dengan Andy?” tanya Sasha tersenyum rapat.
“Tentu saja boleh, tetapi sebentar aja ya! nanti kita pergi bersama Bron ke lapangan yang luas.” jawab Jojo sambil menggeser gelas kaca yang kosong.
Tanpa pikir panjang, Sasha masuk ke dalam tirai merah yang mana didalamnya ada penjara isolasi lain yang terbuat dari besi baja. Sasha memutar bola ke atas, tidak ada CCTV, sengatan aliran listrik maupun anjing penjaga.
Minusnya dibalik tirai merah ini, banyak para tahanan yang menggedor pintu jeruji besi dengan kepalan tangan dengan keras, bahkan dinding temboknya penuh dengan bekas pukulan tangan.
Langkah kaki Sasha terhenti di depan penjara tahanan nomor 15, kepalanya bersandar di pintu jeruji menatap Andy yang sedang duduk lemas selonjoran dibawah lantai yang kotor.
Lelaki itu menatap ke kertas kalender yang sudah diarsir dengan pensil. Berarti ada orang lain yang pernah ditahan di penjara ini.
“Andy, boleh kita bicara sebentar?” tanya Sasha suaranya pelan.
Menoleh Sasha dibelakangnya, Andy berjalan cepat sampai membentur pintu jeruji besi, tangan kanannya keluar lubang, mencoba meraih helaian rambut Sasha yang lembut dan berkilauan.
Sayangnya tangan Andy tersangkut sampai bagian betis. Sasha perhatikan jari jemari Andy yang besar gemuk seperti Hulk. Andai tangan Andy meremas kepala Sasha, mungkin rasanya nyeri dan pusing.
Sasha menggenggam telapak tangan Andy yang kasar, dia cium bau tidak sedap yang masuk ke lubang hidungnya.
“Kalau kamu marah, marah aja gapapa!” ujar Sasha dengan nada tinggi.
Andy berdiri tegak, dia jalan perlahan-lahan sambil menatap tajam Sasha, alisnya mengkerut, menggeram seperti harimau buas yang ingin memakan mangsanya.
“Kamu senang akhirnya aku ditangkap, sudah puas bikin bangga Bosmu yang aliansi sama Brondong?”
“Pergi sana! tinggalkan aku sendiri, aku pasrah ditangkap demi dirimu.” perintah Andy jari telunjuknya menuding dada Sasha.
Sasha tampak memelas, dia tunduk dan anggukan kepala setiap Andy bicara. Bingung mau jawab apa karena bila dia ngeles ucapan Andy, mungkin lelaki psikopat itu bakalan marah.
“Jaga dirimu baik-baik ya, sekali lagi aku minta maaf, aku pamit terima kasih.” ucap Sasha pelan.
Sasha berbalik badan berjalan lemah lembut meninggalkan ruangan isolasi, setiap 3 langkah dia melirik ke belakang, melihat ke belakang tangan Andy tunjuk jari tengah.
“Tunggu Sasha!”
Sasha berhenti sejenak, dadanya terasa panas ketika dipanggil oleh Andy barusan.
__ADS_1
“Ingat baik-baik, aku yakin hidupmu akan jauh lebih susah bila kerja dengan Jojo dan menuruti segala perintahnya.” kata Andy dengan suara lantang.
Andy dengar jelas hentakan kaki Sasha yang keluar dari tirai merah, dia menghela nafas lega, senyum-senyum sendiri melirik sekeliling dalam jeruji besi.
Di atas tempat cuci tangan, ada gulungan tisu bekas yang kotor, Andy tarik semuanya helaian tisu lalu diikat ke pergelangan tangan, membentuk sarung tangan bela diri.
Menghadap ke dinding yang di cor dengan semen tiga roda, Andy pukul tembok sekeras batu kasar itu dengan kedua tangannya. Bergaya teknik pukulan tinju, gunakan kedua kepalan tangan secara bergantian, menghantam tembok sisi kiri kanan hingga keluar bunyi dan rontokan semen tembok yang jatuh ke bawah lantai.
“Aku harus bebas dari penjara dengan cara apapun, lihat saja nanti.” kata Andy berbicara sendiri.
Sasha keluar dari kantor JoNews.co, di depan matanya sudah siap mobil Bus pribadi Bron yang berwarna hitam abu-abu berlogo tengkorak besar. Banyak orang di kursi penumpang memakai topi polisi, Sasha garuk kepala bingung, memangnya mau pergi kemana kok bawa circle polisi The Punk.
Dari belakang pundak Sasha disentuh oleh Bron, tangan kanannya menyembunyikan sesuatu.
“Apa kamu yakin mau jadi polisi seperti mereka?” tanya Bron tuding jari ke mobil Bus.
Sasha buka mulutnya lebar-lebar “Ya Tuan, dari kecil aku ingin banget kerja bareng polisi memberantas kejahatan.” jawabnya.
Bron memakaikan topi polisi ke kepala Sasha, lalu dia dorong calon polisi wanita ke Bus The Punk bergabung dengan polisi lainnya. Baru masuk memijak kaki di dalam jalan tengah samping kiri kanan kursi penumpang, suasana dalam Bus jadi ricuh.
Satu persatu polisi The Punk yang rata-rata bermuka cina saling tarik tangan Sasha, dorong-dorongan rebutan memberi kursi kosong baginya.
“Eh, lepasin tanganku! bisa tenang nggak sih kalian semua, jangan sentuh tanganku!” bentak Sasha suaranya keras sampai ke kursi kemudi.
Terpaksa harus duduk di kursi paling belakang yang kosong dan melonggar panjang ke samping. Sasha tidur-tiduran di kursi sofa bus tersebut yang rasanya empuk. Semuanya kembali normal, Sasha diam terlarut lamunan sambil menggerakkan jari jemarinya.
...***...
Pertama kali lihat pemandangan lapangan Rampal di siang hari ini benar-benar ramai pengunjung, menapakkan kaki di area jogging ditambah kicauan burung merpati yang jalan santai berputar di jalanan. Sasha tidak menyangka kalau dia bakalan diajak ke tempat ini.
Sasha dituntun ke lapangan hijau muda yang bersih, subur tanpa ada jejak sepatu kotor yang tertinggal di atas rumput. Diikuti oleh polisi The Punk yang berbaris banjar rapi, mereka bertepuk Pramuka menyambut datangnya Sasha di tengah lapangan.
“Hari ini cukup spesial karena kalian semua harus membimbing dan mengajarkan latihan fisik ala polisi The Punk kepada Sasha.” kata Bron berjalan mondar-mandir.
“Oooh! jadi aku wajib lulus latihan sebelum resmi jadi polisi?” tanya Sasha memiringkan kepalanya.
Jojo membawa gulungan banner yang panjangnya mencapai 60 x 120 cm, berdempetan di tengah polisi The Punk lalu bersama-sama membeber gulungan tersebut didepan mata Sasha.
“Monggo dibuka gulungannya bersama-sama!” perintah Bron.
Ketika gulungan banner dibeberkan dari ujung atas sampai bawah, betapa kagumnya Sasha melihat gambar dan tulisan di banner tersebut, diikuti suara tepuk tangan yang meriah dari polisi The Punk.
Selamat bergabung calon anggota polisi The Punk dalam pelatihan fisik Akademi The Punk tahun 20xx. Salam sukses dan sejahtera bagi kita semua.
__ADS_1
Dari sekian banyaknya polisi The Punk, cuma Sasha yang perempuan. Entah siapa saja yang mengajarinya yang terpenting dia harus semangat latihan.
Bron membubarkan barisan banjar, mengelompokkan polisi The Punk untuk menata kasur matras tipis dan tiang pull up di lapangan hijau yang rindang ini. Cuacanya begitu panas, sehingga daya vitamin semakin terasa.
Sasha ikut pemanasan senam aerobik terlebih dahulu, di dampingi langsung oleh Bron yang beri aba-aba dengan suara dalamnya yang keras seperti gorila.
Kemudian dengan tongkat anyaman rotan, Jojo mendorong Sasha berlari sambil mengekor dibelakangnya, dia pun langsung gerak cepat ikuti instruksi dari Bosnya, dari kursi santai yang jaraknya di luar lapangan, Bron mengawasi mereka berdua, dia ingin tahu seberapa solidnya Sasha dengan Jojo.
Di tangan Jojo sudah ada stopwatch yang akan hitung jangka waktu lari Sasha selama 12 menit penuh tanpa istirahat atau jalan santai.
“Huuuh!!” Sasha coba tarik nafas sambil lari.
Seraya lari maraton keliling lapangan futsal, Sasha pantang lelah berlari meskipun ditekan oleh Jojo.
12 menit kemudian, Sasha terbaring tepar di rumput hijau lapangan, mengibas mukanya yang kepanasan dan berkeringat. Lagi dan lagi kaki dan perut Sasha dipukul dengan tongkat rotan Jojo, Bosnya koar-koar sambil pegang tangan Sasha.
“Pak, beri waktu istirahat bentar ya!” pinta Sasha wajahnya memelas.
“Tidak ada kata lelah bagi seorang polisi apalagi kamu,”
“Kakiku gemetaran, tolong beritahu Tuan Bron aku butuh energi lebih,”
“AYO CEPAT BANGUN!!” marah Jojo.
Bos galaknya itu mendorong paksa Sasha untuk posisi push up di matras, tongkat yang ia bawa sedia di dekat lulut kaki Sasha apabila dia berhenti.
Polisi The Punk yang lain mengerubungi Sasha, mereka, bersenda gurau sambil memarahi Sasha yang kurang semangat.
“Huh! dasar wanita lembek, gitu doang udah capek, untung kita tamat sekolah kepolisian,”
“Asal kamu tahu ya, Akademi ini diadakan cuma buat demi kamu yang ingin banget jadi polisi.” sambung kata polisi The Punk bermuka cina.
Pelatihan polisi macam apa yang terus memanasi dan menegaskan calon anggota yang baru pertama kali latihan. Punggung, betis tangan dan bola kaki Sasha diinjak oleh kaki polisi The Punk, sengaja lakukan itu demi menguji pertahanan Sasha.
“WOI BACOT KALIAN SEMUA!!” Sasha tersulut emosi.
Sasha bangkit berdiri membawa matras, memilih pindah ke area yang sepi dari jangkauan polisi The Punk. Mukanya cemberut sambil jalan menghentakkan kakinya.
“Ingat baik-baik, aku yakin hidupmu akan jauh lebih susah bila kerja dengan Jojo dan menuruti segala perintahnya.”
Kata-kata itu masih menempel di kepala Sasha, dia berdecak kesal lalu buang air ludah sembarangan di lapangan. Sasha menoleh ke belakang, memperhatikan polisi The Punk yang pada kumpul bareng Jojo dan Bron membentuk lingkaran.
Sasha bingung sebenarnya mereka mau rencanakan apa sih kepadanya, sampai niat bikin acara akademi pelatihan polisi di lapangan luas dan bebas seperti ini.
__ADS_1