MANDY

MANDY
Bounty Kepala Baru


__ADS_3

Musim kemarau di siang hari ini panas sekali, jalan raya beraspal terasa hangat bila dilewati ban mobil, motor bahkan sepeda onthel yang dituntun oleh Sasha sampai ke depan kantor JoNews.co.


Mengibas kepalanya yang keringetan dengan kertas koran. Sengaja duduk santai di tangga teras depan kantor, supaya memulihkan tenaga dulu sebelum tatap muka dengan Jojo lagi.


Sasha baca selembar kertas koran berisi topik Andy bicara dengan foto adik perempuannya. Dari gambar raut wajah Andy yang tertawa menawarkan sesendok potongan tahu ke pigura emas, memang terbukti bahwa lelaki ini sayang banget sama adiknya.


Sasha senyum-senyum sendiri membaca koran buatannya, koran inilah yang membuat Andy marah sampai disobek. Sasha melipat koran lalu masuk kantor bawa barang-barangnya.


Tanpa disadari di ruang tim redaksi, Jojo mengumpulkan semua anak-anaknya berbaris banjar rapi. Jojo memegang sebuah handphone di kedua tangannya yang dilipat ke belakang punggung. Mengamati almamater, komputer kerja serta kantong-kantong besar.


Seluruh koran terbitan hari ini ludes tidak tersisa sama sekali, sebentar lagi Jojo yakin makin banyak pelanggan baru JoNews.co yang masuk. Ini juga berkat ide dari Sasha mengenai M Si Pembunuh.


Sasha menyapa anak-anak tim redaksi dan menyalami Jojo. Tangan Jojo merangkul pundaknya, berdiri di samping wanita itu dengan wajah full senyum.


Sasha kumpulkan uang setoran hasil loper koran ke Jojo, mata bos gendut ini langsung melotot berubah jadi dollar warna hijau. Dia hitung segepok lembaran uang, dia bagikan setengah kepada Sasha.


“Semenjak M si Pembunuh jadi trending topik pada artikel koran kita bulan ini, banyak respon positif dari pelanggan, kuharap berita ini berlangsung lama hingga punah.” kata Jojo menoleh ke wajah-wajah karyawannya.


“Drrtttt!!” bunyi dering handphone di saku celana Jojo. Ada panggilan dari nomor tak dikenal. Barisan dibubarkan, Jojo pun berjalan santai sambil angkat panggilan.


“Halo, ini Jojo dari JoNews.co, ada yang bisa dibantu?”


“Apa katamu! ada orang gila menyerang bengkel motor The Punk, kok bisa sih?” tanya Jojo lewat panggilan telepon.


Mendengar percakapan itu, mulut Sasha menganga, dia mengerut keningnya mengingat sesuatu. Jojo berjalan cepat meninggalkan ruang tim redaksi, disusul oleh Sasha yang tidak mau ketinggalan informasi.


Telinga kanan Jojo masih mendengar panggilan telepon dari seseorang, saking fokusnya dia tidak menengok belakang kalau Sasha mengekor dibelakang sambil menundukkan kepala.


Jojo mengunci pintu ruang privasi, hanya dia seorang boleh masuk kecuali karyawan. Saking ingin mengulik informasi, Sasha lancang menguping pembicaraan antara Jojo dan lawan bicaranya.


Volume suara handphone kecil sehingga terdengar kurang jelas dari luar ruangan. Telinga Sasha didekatkan ke lubang pintu, sambil berdiri jongkok.


Sasha dengarkan baik-baik sambil menganggukkan kepala, Jojo yang bertelepon cuma berkata “Ya, baik aku mengerti, akan segera kulakukan sesuai keinginanmu dan kesepakatan kita bersama.”


Sasha menggaruk rambutnya yang tidak gatal, dia heran bosnya nih bicara sama siapa, dan apa yang akan dilakukan Jojo nanti. Terdengar mencurigakan karena baru kali ini Jojo melayani klien di ruang privasi yang tertutup. Sebagai anak kantor andalan sang bos, Sasha harus bertanya sesuatu secara serius.

__ADS_1


“Cklek!” pintu ruang privasi terbuka.


Jojo kaget angkat kedua pundak berhadapan dengan Sasha yang sedari tadi menunggunya keluar. Wanita itu merentang kedua tangan seraya mencegah bosnya pergi.


“Sedang apa kamu kesini, mau menguping ya??” tanya Jojo tersenyum meringis.


“Pak, Mandy itu bukan orang jahat, dia pahlawan di wilayah pasar Tawangmangu, anda harus ingat itu baik-baik.” jawab tegas Sasha.


Jojo mengelus rambut coklat Sasha yang begitu halus dan rapi. Dia tepuk berkali-kali seperti halnya mengelus seekor kucing. Jojo setengah membungkuk menatap wajah cemberut Sasha.


“Jadi kamu lebih berpihak ke Mandy si Pembunuh ini, iya?”


Sasha membuang selembar koran edisi terbaru tepat dibawah kaki Jojo. ”Aku tidak mau lagi membuat artikel berita tentang Mandy lagi, aku sudah cap—” jawabnya.


“Plak!” Jojo menampar keras pipi Sasha yang begitu empuk.


Rambut Sasha menutupi pandangan matanya, Jojo menyeretnya masuk ke dalam ruang privasi. Dia dorong Sasha sampai membentur meja besi hingga miring.


“Aaakkhhh!” Sasha kesakitan pergelangan tangan dan kakinya ditendang oleh Jojo.


“Hahahaha! tidak ada lagi yang bisa mengacaukan rencana ku sekarang.” tawa Jojo suaranya menggema berjalan meninggalkan ruang privasi.


Sasha gedor-gedor pintu, terbawa emosi dikurung oleh bosnya sendiri yang tidak mau ada orang yang ikut campur, apalagi suatu rencana menangani Mandy.


“WOI GENDUT, BUKAIN PINTUNYA!” teriak Sasha begitu keras sampai suaranya cempreng.


Diluar sudah tak ada respon dari siapapun, Sasha terduduk lemas dibawah pintu, dia tekuk kakinya lalu mendekapkan kepalanya ke kedua tangannya melipat.


“Apa yang harus kulakukan? sudah bikin Andy marah, ditambah Jojo yang punya rencana jahat.” batin Sasha.


Sasha membentur kepalanya pelan ke pintu ruang privasi. Sepi, hening, cuma suara angin doang dari ventilasi tembok berbentuk persegi bercorak mozaik pecahan kaca warna warni.


Terlarut lamunan begitu lama berpikir sejenak. Sasha menampar pelan pipinya, dia berdiri bangkit posisi tegak lurus. Mumpung cuma dia doang nih di ruangan privasi milik bosnya. Sasha iseng acak-acak loker kabin meja besi. Menemukan tumpukan lembar print dan pulpen hitam. Dia tuliskan segala isi hati, perasaan dan kabarnya hari ini atas nama untuk Andy.


...•••...

__ADS_1


“Permisi ibu-ibu ya, mau bersih-bersih.” ucap Andy sambil menganggukkan kepala.


Andy bawa sapu ijuk dan cikrak untuk membersihkan kotoran debu, sampah plastik, kulit buah-buahan yang tergeletak di sepanjang jalan setapak pasar.


Memakai almamater jaket tentara abu-abu tanpa topeng beras, membuat pengunjung disana menoleh ke arahnya. Andy nggak peduli mau dia dilihat banyak orang yang kurang tahu tentang identitas aslinya, tetap dia harus rajin bekerja.


Selama bersih-bersih ada pula orang random merekam Andy. Lelaki ini masih fokus bekerja sampai cepat selesai. Berganti area 1 ke area pasar lain, respect ke para pedagang pasar yang mau menyediakan tong sampah di stan dagangannya. Dengan begini Andy tak perlu repot-repot harus bolak-balik jauh-jauh cari tempat sampah.


Ketika bersih-bersih di dekat stan DVD dan radio, terdengar suara penyiar berita di radio bervolume besar.


“Halo warga-warga Malang sekalian, terkait peristiwa invasi bengkel motor Moto Punk Garage, pihak The Punk menyatakan bahwa detik ini Mandy M si Pembunuh diberi bounty kepala baru senilai 50jt rupiah, sekian terima kasih.” ucap penyiar radio yang suaranya seperti seorang laki-laki tak diketahui namanya.


Andy menundukkan kepalanya, tidak mau menunjukkan wajahnya dihadapan para pengunjung pasar Tawangmangu. Dia berlari kencang menyela warga yang lewat di jalanan.


“Brakkk!!” pintu rumah kayu didobrak paksa padahal tidak dikunci.


Ben terkejut setengah mati mengelus dada menatap wajah Andy yang tampak marah menghentakkan kakinya masuk ke dalam rumah kayu.


Andy meletakkan sebuah peti kayu semacam harta karun di tengah ruangan. Dia merogoh isi dalam peti yang terdengar banyak barang yang terbuat dari kaca dan besi. Andy pegang penutup peti agar Ben tidak bisa melihatnya.


“Hei, Hei, Andy, ada ada denganmu? baru masuk kok marah-marah gak jelas,”


“Kepalaku di-bounty 50jt rupiah,” jawab Andy santai.


“A-Apa?? kamu nggak bohong kan?” tanya Ben gelagapan tidak percaya.


Andy cuma balas mengangguk, bahkan tidak menoleh ke wajah Ben ketika berbicara. Kayaknya si Andy sudah muak dan kesal banget sama The Punk.


Ben mengintip ke jendela, banyak warga pejalan kaki yang celingak-celinguk ke arah rumah kayu. Sepertinya mereka semua sudah tahu jika sang pahlawan telah diburu oleh The Punk.


Selain itu ada pemilik warung lalapan langganan Andy yang koar-koar ke pengunjung untuk menonton siaran berita terkini di TV tabungnya. Ben pun nggak mau ketinggalan, dia keluar rumah kayu mampir ke warung lalapan.


Dan ternyata benar, siaran berita terkini dari channel Jawa Timur TV menampilkan sekilas detail kertas bounty kepala baru senilai 50jt rupiah ditambah foto potrait Mandy memakai jaket tentara abu-abu dan topeng karung berasnya.


Para pengunjung jadi saling debat buka suara, sedangkan Ben cuma diam, dia menoleh ke penampungan sampah yang mana masih banyak pekerja sampah yang gotong royong angkut tumpukan ke truk besar.

__ADS_1


Apa yang akan kamu lakukan sekarang Andy, kau belum bisa keluar kemana-lagi.


__ADS_2