MANDY

MANDY
Meninggalkan Penampungan Sampah


__ADS_3

Berjam-jam di ruangan privasi yang cukup dingin dan nyaman dengan suara AC yang menyejukkan hati Sasha yang tersakiti dikurung sendirian. Kurang enak apa coba wanita ini dikunci dalam ruangan pribadi bosnya yang berkelas VIP.


Sasha ketiduran dibawah pintu, masih ada garis aliran air mata yang membekas di pipinya. Entah sampai kapan Jojo akan mengampuni wanita jurnalis sekaligus loper koran terbaik di JoNews.co ini.


“Tok! Tok! Tok!”


“Sasha, tolong buka pintunya nak!” mohon Jojo yang mengetuk pintu berkali-kali.


Sasha terbangun mendongak kepala ke gagang pintu, dia berdiri sambil merapikan jas biru dongker. “Pak, apakah boleh kembali bekerja lagi?” tanya Sasha sambil memegang gagang pintu.


“Tentu saja iya, sekarang buka pintunya lalu kembali ke bangku kerjamu.” kata Jojo dari luar pintu.


Sasha menghela nafas lega, ketika membuka pintu pelan-pelan, tiba-tiba Jojo menendang pintu dengan keras sampai Sasha mundur. Rupanya datang polisi The Punk yang menampar pipi kanan Sasha lalu dengan cekatan memborgol kedua tangannya.


“Apa-apaan ini pak, kenapa saya ditangkap?” tanya Sasha dengan raut wajah bingung.


Jojo menampar pipi kiri Sasha lebih keras lagi “Ikuti aku dan jangan membantah, paham!” katanya sambil melotot mata.


...•••...


Andy berdiam diri bersandar di sudut tembok sambil menatap pigura emas foto adiknya. Dia usap debu-debu yang mengotori kaca pigura yang tidak mengkilap lagi. Andy menghela nafas berat sambil memeluk pigura emas seperti boneka.


Lelaki psikopat ini sudah menyiapkan sebuah tas gunung bekas warna biru yang biasa digunakan anak gunung ketika hiking. Entah apa isi di dalam tas tersebut, ketika menoleh ke jendela, terlihat Ben yang sedang kumpul ngobrol bareng pembersih sampah.


Andy keluar rumah dengan muka malas karena sebentar lagi statusnya sudah tidak aman lagi di pasar Tawangmangu. Ikut kumpul bareng Ben yang membagikan lembaran surat berisi gaji bulanan.


“Andy, kamu nggak apa-apa kan? mukamu kayak nggak tenang gitu?” tanya Ben.


“Mulai hari ini kuserahkan penampungan sampah kepada Ben, aku mau pamit undur diri.” jawab Andy menepuk pundak kanan Ben.


Ben menundukkan kepalanya, diikuti pembersih sampah lainnya yang tampak sedih akan ditinggal sama pemimpinnya. Mereka semua tutup mulut, tidak ada yang protes maupun angkat tangan.


“Ini pilihan berat bagiku untuk meninggalkan penampungan sampah, tetapi aku harus pergi, aku tidak mau kalian terlibat masalah besar dengan The Punk. Bekerjalah dengan baik, jangan menyerah.” jelas kata Andy dengan suara lantang.


Ben, merangkul pundak Andy, dia berbisik pelan ke telinganya “Berjanjilah kau akan datang kembali lagi, Mandy.” bisiknya pelan.


Mendengar nama lainnya disebut, Andy jadi makin tak kuasa memandang wajah-wajah matang sawo pembersih sampah yang menundukkan kepala. Ditinggal seorang pemimpin memang pahit rasanya, tetapi mereka semua harus kerja rutin seperti biasa.


Andy memakai jaket sweater warna biru dan celana jeans, sengaja memakai atribut seperti ini agar tidak gampang ketahuan sama polisi The Punk. Andy pakai kacamata hitam lalu bergegas pergi meninggalkan pasar Tawangmangu.


“Sasha, maafkan aku bila berpisah denganmu untuk sementara waktu.” batin Andy.


Keluar pasar Tawangmangu lewat jalan sempit yang terhubung ke tengah jalan raya. Para pedagang pasar menyapa Andy dan menanyakan kemanakah dia akan pergi.

__ADS_1


“Hey Andy mau kemana kamu?"


“Mampir dulu lah ke sini bro!”


“Tumben keluar nggak pakai jaket favorit.”


Berbagai ucapan diutarakan oleh para pedagang pasar, tetapi si Andy tidak menggubris omongan para pedagang. Tetap berjalan cepat sambil toleh kanan kiri.


Setelah keluar batas pasar tepatnya di trotoar jalan besar, Andy membelalakkan matanya sambil duduk jongkok. Menemukan mobil polisi The Punk yang melintas masuk ke pagar masuk pasar Tawangmangu.


Andy sekilas melirik ke belakang, banyak pedagang pasar yang menatapnya dengan wajah bingung. Berpikir pahlawan akan meninggalkan pasar begitu saja.


Dengan langkah cepat Andy bergegas berlari setelah mobil polisi The Punk masuk kawasan pasar. Pandangan terus ke depan tanpa menengok ke belakang. Apa sebenarnya yang akan dilakukan oleh Andy?


Tak lama kemudian Andy pegang kedua lutut kakinya yang lelah berlari sedari tadi. Ia sampai di pangkalan ojek, yang ramai pejalan kaki.


Andy kepo sama pejalan kaki yang mengerubungi tempat pangkalan ojek yang mirip pos kamling di kampung. Rupanya arah pandang mata tertuju ke TV tabung yang menyiarkan siaran berita sore hari, terpampang gambar kertas bounty kepala Mandy.


“Ternyata selama ini Mandy itu buronan polisi, ini sungguh mengejutkan,”


“Mandy kalau lawan penjahat di pasar memang terlalu sadis, pantas diburu sama polisi,”


“Dibekuk polisi paling sudah minta ampun tuh psikopat gila, hidupnya cuman di penampungan sampah doang.”


Dengan beraninya Andy dorong ibu-ibu pejalan kaki yang menenteng bawa barang belanjaannya. Bukannya pulang malah gosip di pangkalan ojek, dasar ibu-ibu.


“Dengar baik-baik, kalian boleh menghina Mandy sekarang, tapi suatu saat dia akan buktikan kepada orang-orang bahwa dia mampu jadi orang kaya yang disegani dan ditakuti oleh polisi The Punk.” jelas kata Andy dengan suara nada tinggi.


Orang-orang pejalan kaki jadi makin koar-koar mereka pada mundur jaga jarak dari Andy, meratapi mukanya dengan tidak senang dan bibirnya miring.


“Eh, kamu siapa kok tiba-tiba ngomong ngegas kayak gitu, masih aja belain si Mandy, norak tahu nggak!” bentak ibu-ibu gendut rambut gimbal.


Rasanya Andy pingin pukul ibu-ibu, tangannya sudah gatal banget. Sadar posisinya di tempat publik jadi dia pendam amarah. Dengan sopan santun, Andy minta salah satu tukang ojek mengantarnya ke Moto Punk Garage. Masih ada yang ingin ia bereskan di area tersebut.


“Huuuuuuu!” sorak serentak para pejalan kaki.


Baru saja boncengan sepeda motor ojek, ada ada aja ibu rambut gimbal tadi tunjuk jari tengah ke Andy. Masa bodoh dengan hinaan, Andy lebih milih tidak menghiraukan, lupakan saja orang-orang semacam itu karena cuma mengompori pikiran dalam otakmu.


......•••......


Di pasar Tawangmangu sendiri para pengunjung membuka jalan lebar bagi Jojo yang dikawal oleh The Punk menuju penampungan sampah. Polisi The Punk sudah siap sedia dengan senjata pistol di sabuk pinggang.


Memasuki area penampungan sampah, pekerja sampah yang masih bekerja tiba-tiba kaget lalu angkat tangan. Jojo mengarahkan polisi The Punk ke rumah kayu untuk mencari Andy.

__ADS_1


Namun kedatangan mereka sudah disambut hangat oleh Ben yang berdiri bersandar di tembok rumah kayu.


“Selamat sore pak, ada yang bisa dibantu?” tanya Ben dengan sopan.


Polisi The Punk menggeledah semua properti di rumah kayu mulai dari lemari, meja belajar bekas, hingga kolong rumah kayu yang sangat kotor dan banyak jaring laba-laba.


“Anda cari Mandy, maaf dia sudah dipecat. Lebih baik kalian—”


“Bohong, aku tanya dimana Mandy sekarang?” potong Jojo sambil menarik kerah baju batik Ben.


“Sudah kubilang dia sudah dipecat dari tempat ini, mending anda cari sendiri dan jangan ganggu kami yang lagi kerja.” jawab Ben sambil rentangkan tangan kanan ke depan menyuruh Jojo keluar.


Jojo menghela nafas berat, dia tepuk tangannya seraya memanggil seseorang. Ternyata dibelakangnya sudah ada Sasha yang ditahan oleh polisi The Punk. Mata wanita itu berkaca-kaca berlinang air mata yang membekas di pipinya.


Entah apa yang diperbuat oleh Jojo padanya, ia dibawa ke penampungan sampah untuk membantu penangkapan Mandy, tetapi targetnya diduga dipecat.


“Aku nggak percaya Mandy dipecat, Pak Ben pasti bohong kan.” kata Sasha suaranya serak.


Mmpff!! mulut Sasha dibekap Jojo yang menodongkan pistol Dessert Eagle ke keningnya.


Ben berdiri membeku, dia merasa tegang ketika Jojo main todong pistol, seakan-akan dia ancam nyawa Sasha demi mencari jawaban.


“Jadi aku tanya sekali lagi, DIMANA MANDY?” teriak marah Jojo raut wajahnya mengkerut.


Pekerja sampah diluar yang mau masuk rumah kayu dihadang oleh polisi The Punk, niat mereka ingin melindungi Ben. Karena situasinya tidak ada lagi jalan keluar, apalagi di rumah kayu yang sempit tanpa pintu jalan pintas, Ben mengerutkan keningnya, berpikir jernih apa yang harus dilakukan ketika didesak oleh orang-orang jahat.


Ben menghentakkan kakinya sekali, dia lawan balik menatap wajah Jojo dengan tatapan tajam yang begitu serius seperti mengajak berantem. Sebagai pemimpin pengganti, Ben tidak mau kalah dari Andy.


“Sayang sekali kalian semua datang terlambat, Mandy sudah pergi kabur meninggalkan kami sebelum kalian kemari.” Ben tersenyum picik ke Jojo yang melotot mata ke arahnya.


Tak ada lagi alibi selain berkata jujur ke orang jahat macam Jojo. Ben mengira Jojo ini adalah pemimpin dari pasukan polisi The Punk, akal si Jojo juga pintar mengajak Sasha sebagai tawanannya.


“Kalo begitu, apa lagi yang kalian tunggu, ambil semua sampah di tempat ini tanpa tersisa, cepat!" perintah Jojo.


Jojo menendang punggung belakang Sasha hingga wanita itu jatuh di depan Ben. Rombongan polisi The Punk garda paling belakang langsung sigap membungkus semua sampah-sampah di penampungan lalu dimasukkan ke dalam dua karung beras berukuran jumbo.


Para pekerja sampah mencoba mencegah, menghalau polisi The Punk berhenti mengambil sampah-sampah hasil kiriman orang-orang luar pasar. Bila tidak ada sampah di penampungan, bagaimana cara mereka mencari makan.


Sasha yang melihat kejadian itu hanya berpelukan sama Ben, kenapa ini harus terjadi padanya, apa kesalahannya pada Jojo, sehingga bosnya memihak ke polisi The Punk.


“Aku ingin Andy kembali pak, dia harus lakukan sesuatu.” kata Sasha pelan.


Ben tidak balas pelukan hangat Sasha, dia masih perhatikan suasana di luar jendela, Jojo puas menertawakan pekerja sampah yang berlutut memohon padanya.

__ADS_1


__ADS_2