MANDY

MANDY
Ginny?


__ADS_3

Mendadak bangun kesiangan karena reflek lihat jam dinding yang menunjuk pukul saya 10 pagi, Sasha tepuk jidat, dia buru-buru keluar pintu menoleh kanan kiri tidak ada kecuali Agent OB yang membersihkan lantai dengan sapu.


Tidak perlu bertanya-tanya, Sasha keluar pintu belakang yang sistem keamanan di nonaktifkan karena kabel di kotak gensetnya diputus satu persatu. Sinar Laser merah tak lagi menghalangi jalan Sasha, Sasha banting pintu ukuran kayu bercorak jam tangan.


Sasha angkat kedua tangan ke atas, menghirup udara segar sambil mulat-mulet, jujur dia tidak mau sampai ketiduran lagi. Sepeda onthel dijemur di bawah terik sinar matahari tanpa diberi alas jas hujan atau kantong kresek supaya sadelnya tidak panas.


Dipegang sadel sepeda onthel dengan telapak tangan yang halus, Sasha berjingkat mundur satu langkah, sadel sepedanya panas banget. Dia geleng-geleng kepala, meluruskan pengganjal sepeda lalu menuntunnya ke trotoar.


Berjalan menuntun sepeda dengan satu tangan, Sasha sibuk main handphone, layarnya berfokus ke pesan dan nomor yang tidak terjawab. Sasha menggaruk kepalanya, mulutnya monyong seperti bebek ketika melihat nama kontak Jojo.


“Kayaknya aku harus kembali ke JoNews.co, pengen tahu Jojo lagi ngapain selama tidak ada aku.” ucapnya berbicara sendiri.


Di sepanjang jalan raya, banyak orang-orang bawa tong sampah kosong, sebagian ada juga yang menghitung lembaran uang di dalam tong sampah. Sasha tersenyum rapat, dia berpikiran mungkin gerobak sampah keliling sering lewat jalur jalan raya, apapun isi tong sampah yang dibawa, pasti bisa dijual lagi.


Pandangan mata Sasha fokus ke tukang becak yang mengangkut penumpang pembawa tong sampah yang kosong. Sasha kepo, rasa ingin tahu pun menempel dalam pikirannya.


“Selamat pagi menjelang siang pak, mau tanya memang benar ada gerobak sampah keliling lewat jalan raya?” tanya Sasha posisi duduk jongkok.


Tukang becak dan penumpangnya tertawa terkekeh mendengar pertanyaan Sasha, penumpang becak langsung tunjuk puluhan lembar uang di dalam tong sampah, saking banyaknya uang, dia aduk-aduk dengan telapak tangannya.


“Bukan gerobak sampah mbak, itu komplotan pembersih sampah naik truk besar segede bus DAMRI hehehe!” jawab penumpang becak.


Sasha anggukkan kepalanya sambil tersenyum meringis, dia paham yang dimaksud itu si Andy beserta anak buahnya, Sasha lanjut menuntun sepeda, kepalanya miring seraya berpikir kemana perginya si Andy, sampai naik truk besar bersama anak buahnya.


Sadel sepeda terasa hangat, Sasha putuskan lompat lalu posisi duduk di sadel sepeda, mulai menambah kecepatan mengayuh sepeda di jalur garis putih jalan raya agar tidak tertabrak apalagi dengar bunyi klakson mobil orang kasar.


Setelah segan lihat orang bawa tong sampah sekarang, makin banyak pejalan kaki yang bantu ambil sampah kulit buah-buahan di bawah tiang lampu lalu lintas, dipandu oleh polisi daerah Malang yang ikut bantu demi kebersihan jalan raya. Mobil dan sepeda motor terpaksa harus di panaskan terlebih dahulu, berdiam diri di bawah garis zebracross.


Sasha iseng bantu ambil satu kulit pisang warna kuning yang basah, baunya juga busuk. Sasha langsung lemparkan ke lubang kantong kresek merah yang disediakan oleh polisi.


“Pak, yang berani buang sampah sembarangan disini siapa sih?” tanya Sasha memicingkan matanya.


“Saya dapat laporan dari saksi pejalan kaki bahwa penumpang truk besar pengangkut sampah melempar kulit buah-buahan kepada oknum polisi.” jawab polisi menuding pejalan kaki di trotoar.


“Oknum polisi, jangan-jangan?” batin Sasha sambil mengetuk keningnya dengan jari telunjuk.

__ADS_1


Logo tengkorak rambut punk masuk dalam otak Sasha, dia ucap salam terima kasih lalu bergegas mengayuh sepedanya lebih kencang lagi. Decitan suara roda gigi terdengar nyaring, entah apakah oli rantainya sudah kering. Sasha geleng-geleng kepala, tidak mau terjadi sesuatu lagi yang menimpa nasib sepedanya, lebih memilih jalan yang lurus mulus dan beraspal, ketimbang jalan yang terjal, liku-liku dan banyak polisi tidur.


Pengendara sepeda motor jalannya santai banget, posisi tangan lemas di bagian rem, bahkan ada yang menyetir pakai satu tangan di samping Sasha. Entah sengaja atau memang ingin pamer sepeda motor, mengingat kecepatan sepeda onthel Sasha yang kalah jauh dengan sepeda gunung.


Bruagghh!!


Aksi menyetir sepeda motor satu tangan berakhir bobrok menabrak tiang listrik warna abu-abu. Sasha tutup mulut tahan tawa, pengendara motor tadi pegang kaki dan tangan saking sakitnya jatuh dari sepeda motor bermerek N-Max yang cukup berat bila dipakai ugal-ugalan.


Sasha baru mau turun, eh ada perempuan berjaket abu-abu berkalung peluit di lehernya, anggaplah sebagai tukang penertib jalan raya yang langsung sigap menolong pengendara motor N-Max tadi, dia tolong angkat motornya sendirian. Dibantu berdiri di pengendara motor ini berterima kasih.


“Terima kasih mbak, saya jadi nggak fokus menyetir sepeda motor satu tangan di samping mbak sepeda onthel kampungan itu.” kata pengendara motor N-Max tuding tangan ke Sasha dengan tersenyum miring.


Sasha terkejut melongo ketika bertatapan mata dengan perempuan jaket abu-abu itu, alisnya terangkat sebelah seakan-akan dia tidak percaya apa yang dilihatnya sekarang.


“Gin...Ginny? apa aku tidak salah lihat, wajahnya mirip seperti yang ada di pigura emasnya Andy.” batin Sasha matanya melotot.


“Ginny?” Sasha asal panggil nama, perempuan jaket abu-abu itu malah melangkah mundur pelan-pelan, melirik jalanan mulai sepi, dia baru lari sekencang-kencangnya. Sasha ulurkan tangan ke depan, tetapi perempuan yang diduga namanya Ginny itu pergi melarikan diri.


Tidak tinggal diam, Sasha kejar perempuan jaket abu-abu itu, memang dari segi warna bentuk jaket abu-abunya berbeda dengan punya Andy, tetapi Sasha harus cari tahu siapa dia sebenarnya.


“Halo Ginny, atau siapapun namamu, keluarlah!” ucap Sasha suaranya menggema.


Sasha menoleh kanan kiri tidak ada siapapun disana, dia panggil perempuan jaket abu-abu dengan sebutan “Ginny” berulang kali tetapi hanya suara jangkrik yang menjawab. Bahkan kucing yang jalannya lambat menggelengkan ekornya ketika menjauh dari hadapan Sasha.


Pasrah, percuma dikejar kalau ujungnya menghilang seperti Ninja. Sasha berdecak kesal berbalik badan kembali ke sepeda onthel yang sengaja tergeletak di pinggir jalan.


“Aduh, mana nggak sempat di foto lagi tuh perempuan!” kata Sasha merasa kesal.


Mau pergi sepedaan hari ini ada-ada aja kejadian di luar dugaan, pokoknya kali ini harus fokus pada tujuan yaitu ke JoNews.co. Tidak perlu belok sana sini karena penasaran lihat orang kecelakaan di jalan.


...***...


Lihat logo besar kantor JoNews.co yang terbuat dari keramik, Andy langsung lompat turun dari truk besar, ada sebagian anak buahnya yang coba lompat turun dari atas truk, tetapi di halau langsung oleh Andy. Sebelum itu Ben menganggukkan kepalanya ke arah Andy sambil tunjuk jari jempol.


Truk besar penampungan sampah pun melaju kembali dengan sisa bensin yang tersedia menuju Rumah Gubuk Gadang. Andy rapikan celana jeans biru yang kurang rapi karena belum tahu di setrika apalagi jaket tentara abu-abunya. Dia jalan layaknya seorang petarung berotot sebesar gunung menghentakkan kakinya ke depan pintu utama.

__ADS_1


Tendangan keras berhasil membuat pintu utama yang terbuat dari kaca bergoyang-goyang. Di hampiri oleh resepsionis dan pelayan makanan yang memakai sepatu roda.


“Ada yang bisa dibantu mas?” tanya resepsionis bibirnya tersenyum sumringah.


Andy mendorong jatuh resepsionis, pelayan sepatu roda menghadang badan Andy, jika ingin masuk harus kalibrasi jari terlebih dahulu. Namun Andy menjegal kaki pelayan lalu menerobos masuk jalur masuk absen Fingerprint.


Alarm ambulan warna merah menyala berputar-putar, Andy bingung mau pergi kemana mencari Jojo, baru pertama kali masuk kantor perusahaan koran JoNews.co.


Suara lift yang turun ke lantai satu, suara gemuruh langkah kaki para karyawan dari tangga turun ke lobby utama. Disusul oleh Jojo yang koar-koar menarik kerah baju karyawannya. Jojo betul-betul heran siapa penyusup yang masuk ke dalam markasnya.


“DIMANA JOJO! KELUAR KAMU!” teriak Andy suaranya serak.


Jojo pun berhadap-hadapan dengan Andy setelah karyawannya memilih berlindung di belakangnya. Ada karyawan yang balas melotot tajam ke Andy, ada juga yang ketakutan tutup telinganya.


Andy lemparkan bukti jaket tentara abu-abu dan topeng beras yang berhasil dirampas dari orang gembel.


Andy tendang jaket tentara abu-abu ke arah Jojo, kerah baju Jojo ditarik sampai terdengar bunyi sobekan. Leher Jojo dipiting dengan lengan kanan Andy yang tumbuh banyak otot bisep sebesar gunung.


“Kau harus dihukum karena mengirim Mandy palsu untuk menculik Mandraguna.” pelan kata Andy regangan tangannya makin erat di leher Jojo.


“A.... Apa maksudmu.... kau salah orang!” jawab Jojo suaranya gagap mencoba lepaskan tangan Andy.


Para karyawan dibelakang menyuruh Andy lepaskan Jojo, tetapi Andy malah berpura-pura menghantam pipi Jojo dengan kepala tangan kirinya. Suasana kantor makin ramai.


Dari arah jalur masuk area resepsionis, datanglah Sasha yang menghela nafas berat akibat kelelahan mengayuh sepeda secepat kilat. Dia tarik nafas dalam-dalam lalu mengembuskan secara perlahan-lahan.


“HENTIKAN ANDY!!” tegur Sasha teriakan tidak kalah dengan suara para karyawan.


Tangannya Andy lemas, badannya membungkuk setelah menengok Sasha di belakangnya. Wajahnya berubah memelas, melepaskan Jojo begitu saja dari jeratan lengan tangannya.


“Jujur, aku telah bertemu perempuan lain berjaket abu-abu, mukanya mirip seperti Ginny, ini serius!” Sasha meninggikan suaranya merasa percaya diri.


Seketika Andy duduk selonjoran, kepalanya membungkuk lemas. Bola matanya bergetar, tangannya meremas jaket abu-abu yang tergeletak di bawah kaki Jojo.


“Ini tidak mungkin, Ginny masih hidup?” Andy bertanya-tanya dengan raut wajah kebingungan.

__ADS_1


__ADS_2