MANDY

MANDY
Mandy Palsu


__ADS_3

Ramainya ibu-ibu bawa belanjaan pokok ke depan rumah lama Andy, mereka ngobrol sambil bersenda gurau. Ada pula yang menginjak lantai pecah halaman rumah, sampai keramiknya dibuang sembarangan tempat.


Selain itu mereka saling berdempetan ke salah satu ibu berbadan gendut obesitas yang bermain handphone sambil ketawa sendiri.


Dari belakang ibu-ibu yang lain diseret mundur oleh seseorang, dia ikut mengintip layar handphone ibu gendut yang rupanya memposting foto rumah lama Andy ke media sosial.


“Permisi Bu, apakah benar ini rumahnya Andy Bramantyo?” tanya Sasha serius.


Seketika para ibu memelankan suaranya, begitu pula yang pegang handphone langsung masukkan ke dalam saku. Ibu gendut berdeham lalu sok bergaya mengibas rambutnya dengan kipas warna emas.


“Iya Mbak, saran saya jangan masuk ke dalam, banyak arwah gentayangan, yang punya juga orang gila.” goda ibu gendut.


Sasha garuk kepalanya yang tidak gatal, memang benar Andy sudah di cap sebagai orang gila sejak dahulu. Bahkan warga kampung sini pun mengenalnya.


Sasha rapikan baju dan celananya, dia pegang handphone jalan perlahan-lahan masuk ke dalam rumah lama Andy. Tiga langkah masuk ruang utama yang begitu gelap gulita tanpa ada lampu atau lilin, Sasha merasakan kakinya menginjak serpihan lantai keramik dan kaca tembus pandang.


“Andy, Andy, betapa malangnya nasibmu kini, pantesan dibilang orang gila sama ibu-ibu tukang gosip.” Sasha bicara sendiri melihat sekeliling ruang utama.


Dinding rumah warna abu-abu banyak retakan, lubang-lubang kecil bekas sarang nyamuk tampak seperti sarang lebah. Rumah lama Andy butuh renovasi penuh bila dia niat ingin bangun suasana baru di tempat tinggalnya.


Sasha potret berbagai kerusakan dalam rumah tersebut, kursi goyang penuh jaring laba-laba, kain korden putih yang kotor berubah warna jadi coklat muda, dan lain-lain. Semuanya dijadikan satu folder, dan yang paling disorot senter handphone gepeng adalah meja panjang yang terdapat foto pigura emas di tengahnya.


Sasha buka mata lebar-lebar, tersenyum miring menatap foto Ginny di pigura emas itu, dia pegang dengan dua tangan. Dia tiup debu pasir, terlihat semakin jelas senyuman manis Ginny yang berpose hormat dengan jaket tentara abu-abu.


Namun ketika pigura emas dibalik, cairan darah merah kental berlumuran di telapak tangan Sasha. Dia berjingkat mundur, menjatuhkan pigura emas posisi terbalik.


Tangannya gemetaran memegang handphone gepeng, Sasha menyalakan mode flash simbol petir di kamera handphone, kemudian pandangan beralih ke dapur yang tertutup korden. Aneh, korden dapur ini jauh berbeda dibanding kain korden yang di foto sebelumnya.


“Astaga, Hiiiiii!!” mulut Sasha meringis bergidik ngeri.


Jari jemari manusia yang kulitnya putih pucat tersusun rapi dari ujung atas sampai bawah dirajut dengan benang jarum pentul yang tipis, dijadikan sebagai korden dapur.


Rasa penasaran semakin bergejolak, pasti ada yang lebih aneh lagi yang tersimpan di dalam rumah Andy. Sasha buka korden jari manusia yang sudah kering kaku, sekarang dia masuk ke ruang dapur.


Senter handphone menerangi tungku zaman baheula, diatasnya ada wajan gosong berisi ceker ayam yang membusuk. Sasha iseng sentuh ceker ayam itu, seketika dia memejamkan mata. Ceker ayam tersebut jarinya ada lima bulan empat. Kukunya juga panjang dan menghitam tidak pernah dipotong.


Parahnya lagi di telapak tangan ada bercak darah tusukan pisau yang gagal menembus kulit punggung tangan. Sasha geleng-geleng kepala, bau busuknya seperti bau racun tikus. Sasha menemukan secarik kertas buku di atas tudung saji.


“Maafkan aku kak, jaga dirimu baik-baik ya!” tertulis dengan tinta hitam.


Tangan Sasha lemas, membuat kertasnya jatuh ke lantai. Kepala terasa hangat, survei kali ini bikin merinding dan pusing. Sudah menempel banyak tanya dalam otak Sasha, dia tidak habis pikir kelakuan Andy di dalam rumah jauh lebih ngeri dibanding di pasar.


Buru-buru keluar dari rumah Andy yang penuh sisi gelap, dari depan pintu Sasha dihadang oleh ibu-ibu yang sedari tadi menunggunya.


“Mbaknya cari apa sih kok lama banget?”

__ADS_1


“Nggak Bu, saya cuma eksplorasi buat tugas di kantor.”


Sasha membungkuk badan permisi lewat ibu-ibu yang masih berdiri di halaman depan rumah Andy. Tanpa menoleh ke belakang, Sasha mempercepat jalannya tidak mau di cegah atau dipanggil oleh ibu gendut.


Handphone bergetar di saku celana Sasha, panggilan telepon atas nama Jojo. dia langsung tempel ke telinga tanpa menoleh ke belakang.


“Halo, ada apa Pak Boss?”


“Sasha dimana kamu? tolong jangan pergi ke pasar Tawangmangu ya!”


Bibir Sasha monyong, dia tidak tahu kenapa dilarang pergi ke pasar Tawangmangu.


“Lah, saya barusan habis dari sana, emangnya kenapa pak?” tanya Sasha keheranan.


“Ada Mandy, ada Mandy!!” teriak Jojo dalam panggilan telepon.


Tiba-tiba panggilan telepon terputus, Sasha benar-benar dibuat bingung. Setelah lama tidak bercakap dengan Jojo, kenapa Bos pertamanya jadi begini.


Sasha tahu posisi Andy di pasar Tawangmangu, tetapi kenapa Jojo jadi kayak panik sebut nama Mandy dua kali. Sasha berdecak kesal, setelah survei rumah Andy, sekarang dibuat pusing lagi sama Jojo. Sudah waktunya disuruh istirahat, butuh hibernasi supaya makin tenang.


...***...


Para pemuda kuli bangunan saling kerjasama, mengecat tembok, mengobok-obok semen yang sudah bercampur air, dan menggiling semen di mobil molen. Kecuali Andy seorang diri, menyendiri di spot bebatuan besar.


Bertugas sebagai pemecah batu handal adalah pekerjaan yang mudah sekaligus olahraga menguatkan otot tangan. Satu pukulan demi pukulan Andy kerahkan sampai batu besar bentuknya seperti komet terbelah menjadi dua bagian. 


Bunyi keras pukulan batu lebih terasa di hidung Ben dibanding suara gergaji mesin yang tidak bisa di kontrol suaranya. 


"Yuk semangat yuk!" ucap Andy mengusap keringat di kening dengan lengan tangan.


Setiap satu kali pukulan, Andy berteriak "HAH!" dengan kencang, membayangkan bahwa batu besar yang mati ini adalah kepala musuh-musuhnya Andy.


Tidak ada bala bantuan, akar urat di tangan dan kaki merambat ke kulitnya, Andy tunjukkan ke semua pekerja bahwa memecah batu sama halnya dengan memukul lawanmu yang paling tidak disukai.


Dalam benak pikiran Andy, muncul paras wajah cantik Sasha, palu yang digunakan Andy punya dua pentolan di bagian kiri kanan, gagang yang terbuat dari kayu jati mebel membuat genggaman semakin kuat.


15 menit kemudian, ketika Ben ditinggal oleh Mandor, ia menghampiri Andy yang terbaring lemas di permukaan semen yang berserakan. Mulut Ben terbuka lebar membentuk huruf "O" melihat beberapa batu yang sudah tertata rapi berukuran sedang.


Ben menjentikkan jari di depan muka Andy, sampai lelaki psikopat itu duduk bersila.


"Turut berduka cita atas kematian supir langgananmu, Ben!"


"Aku ikhlas dan tabah, anggaplah masalah kecelakaan itu usai, istirahatlah dengan tenang." 


Andy tinggalkan Ben sendirian, melangkah ke bak truk besar yang berisi sampah-sampah bersih yang sudah dipilah agar laku terjual. Dia elus kaca spion truk besar yang berdebu, Andy menatap wajahnya, matanya yang memerah menambah kesan mengerikan.

__ADS_1


Tersenyum lebar, mencubit bibirnya sendiri terlihat gigi gerahamnya yang berwarna kuning. 


Ritual mandi basahan seperti biasa, sekarang tanpa jaket tentara abu-abunya. Mengusap punggung belakang dan muka dengan spons sabun cair. Tanpa memakai handuk, Andy menggoyangkan tangan, perut dan kaki agar cepat kering. 


Di sisi lain, terdengar langkah kaki menginjak tangga kayu tipis rumah kayu. Ibu muda dan Mandra sedang tertidur pulas bersandaran di pojok tembok kayu. Mandra dalam pangkuan sang ibu, tertidur sambil mengulum ibu jarinya.


Bayangan seseorang berbadan kurus mendekati mereka berdua, semakin dekat menghalangi pandangan mereka berdua yang berubah gelap.


Grebbb!!!


Mandra digendong paksa dalam pelukan seseorang yang tak dikenal, ibu muda reflek buka mata, terkejut melihat di depan muka ada Mandy palsu berkostum lengkap membekap mulut Mandra. 


"Hey siapa kamu! kembalikan anak-"


Duaghh!


Kepala ibu muda ditendang keras sampai membentur tembok kayu, dadanya di bacok dengan pisau daging yang tajam dan besar. Mandra menangis keras, semua orang di luar rumah kayu pada koar-koar, terutama Andy yang baru selesai mandi basahan langsung bergegas lari. Salah satu pembersih sampah melompat kepalanya mendongak ke atas melihat Mandy palsu terdiam membeku. 


"ADA PENYUSUP, CEPAT KEMARI KALIAN SEMUA!" teriak kencang pembersih sampah.


Rumah kayu dikepung ketat, bahkan para pembersih sampah ada yang bawa tombak kayu, Andy menyela semua orang maju paling depan. Dihadapannya ada Mandy palsu yang menodong pisau daging dengan tangan yang gemetaran. 


“Mau kabur kemana kau hah!!” bentak Andy nada suaranya tinggi.


Andy tendang dagu Mandy palsu dengan kakinya, pisau daging jatuh tergeletak di bawah kaki Andy. Dengan cekatan, leher Mandy palsu dicekik sampai di dorong mundur menabrak tembok kayu.


Andy menjulurkan tangan kanannya ke orang yang dibelakang “.... Pisau daging.”


Ibu muda yang duduk lemas, jalan merangkak menyerahkan pisau daging ke Andy, luka bacok tampak terbuka lebar. Pembersih sampah di luar rumah kayu melemparkan sebungkus tisu untuk ibu muda. Mereka tidak mau masuk karena Andy sedang serius tatap muka dengan Mandy palsu.


“Siapa yang menyuruhmu datang kemari?” tanya pelan Andy.


Tangan kiri cekik leher, tangan kanan siap dengan pisau daging. Andy tertawa kecil melihat topeng beras yang jauh lebih jelek dibanding miliknya.


“B...Bro...Jojo!” jawab Mandy palsu gagap.


Asap kecil keluar dari hidung Andy, dia tusuk jari tengah Mandy palsu sampai berdarah dan membengkok. Mendengar nama Jojo, membuat Andy semakin marah, berpikiran Jojo masih belum menyerah Andy.


Mandy palsu ditendang keluar rumah kayu, dibantu oleh pembersih sampah yang ikut melucuti Mandy palsu melepaskan jaket tentara abu-abu dan topeng beras yang dirasa tidak cocok dipakai.


Hari demi hari Andy makin di target oleh musuhnya, entah apakah ini pengaruh kerjasama Jojo dan Bron. Andy mengumpulkan pembersih sampah jadi lingkaran besar. Mereka saling merangkul satu sama lain dan membungkuk kepala.


“Yang masih ingin aku tetap kerja di sini, angkat tangan dan berdiri di belakangku.” kata Andy sambil acungkan tangan.


Awalnya para pembersih sampah lagi ngelag semuanya, ada pula yang langsung tepuk pundak Andy lalu berdiri di belakang Andy. Begitu satu persatu saling acungkan tangan, semuanya pilih berdiri tegak di belakang Andy.

__ADS_1


“Besok kita punya tugas khusus, persiapkan diri kalian semua, oke!” kata Andy sambil tersenyum lebar mengacungkan jari jempol.


Para pembersih sampah salam hormat di tempat, tak disangka dari belakang Andy berdiri berjinjit melihat Ben yang ikut salam hormat juga dihadapannya.


__ADS_2