
Kantor JoNews.co terbuka lebar bagi siapapun yang berminat untuk melamar atau minta hubungan kontrak kerjasama dengan Jojo. Selama slogan kayu “Buka Lowongan” yang dipajang di depan pintu utama menarik perhatian pejalan kaki berseragam setelan atas putih bawah hitam, Jojo berharap ada anak karyawan baru.
Di ruang security, Jojo membuka lembar-lembar dokumen dengan mata yang serius. Di samping map dokumen ada teh hangat yang bau asapnya masuk ke hidung.
Mengisi sebuah lembaran dokumen kolom tanda tangan yang sudah tertera namanya. Jojo terdiam, dia goyangkan pulpen sambil menoleh ke teh hangatnya.
“Wee, woo, wee, woo!” suara sirine dari lobby utama.
Jojo terkejut mundur ke belakang, kakinya menyenggol meja persegi panjang, membuat gelas teh hangatnya bergetar. Tetesan air teh membasahi lembar dokumen tanda tangan.
Berdecak sebal membuka jendela, melongo lihat ke bawah rupanya Andy pecahin kaca pintu utama dengan slogan. Jojo menjambak rambutnya sendiri, tendang kursi kantor buru-buru turun ke lobby utama.
Anak-anak tim redaksi pada ngumpul semua di tangga lantai dua, mereka pegang kepala mondar-mandir bingung mau ngapain.
“Pak Jojo, Pak Jojo!” teriak anak tim redaksi.
Jojo tergesa-gesa berlari sambil merapikan sabuk pinggangnya yang copot, menghampiri anak tim redaksi yang tuding ke bawah tangga, suara pecahan kaca makin keras terdengar di telinga Jojo. Mereka pun turun ke lobby utama demi menghentikan ulah Andy.
Serpihan kaca pintu utama hancur berkeping-keping, dengan mata kepalanya Jojo tahu bahwa bunyi sirine tadi berasal dari Fingerprint yang lampunya berkedip warna merah, itu berarti ada tamu tak di undang yang memaksa masuk.
Andy membungkuk seperti kera, dia mengayunkan papan slogan ke atas bawah, paku payung yang menancap di sudut papan slogan panjang dan tajam. Tidak ada yang berani menjinakkan Andy, bahkan ada karyawan yang memberi selembar uang, tetapi uangnya malah ditendang dengan kaki tanpa alas kaki yang penuh dengan tanah berlumpur.
“Dimana Jojo, aku ingin bicara padanya.” kata Andy pelan.
Karyawan yang badannya menggigil gemetaran saking takutnya sama Andy, tuding ke arah tangga atas. Hentakan sepatu boots hitam Jojo turun dari tangga lantai dua. Andy berjalan lemah lembut mendekati ujung tangga.
Jojo terdiam, membungkukkan kepala melipat tangannya ke punggung belakang. Andy senyum-senyum sendiri melirik wajah karyawan yang pada tutup mata, ada juga yang berlindung di belakang punggung Jojo.
Andy menggelengkan kepala, merasa terlalu berlebihan merusak fasilitas kantor, dia buang jauh-jauh papan slogan ke luar pintu utama. Mengulurkan tangan kanannya ke Jojo sambil tersenyum rapat.
“Tolong telpon Sasha sekarang juga, aku sedang marah besar padanya.” ucap Andy mengepalkan tangan kirinya.
Jojo gerak cepat mencomot salah satu handphone layar sentuh tim redaksi, mengetuk ikon telepon masuk ke nomor Sasha. Andy menunggu panggilan masuk sambil menghentakkan kakinya pelan ke lantai. Tidak sabar ingin berbicara dengan Sasha.
Jojo mengelus dada setelah tersambung panggilan telepon dengan Sasha, anehnya tidak ada jawab sapaan “Halo” dari Sasha, melainkan suara teriakan perempuan yang menembus masuk.
Ben khawatir, wajahnya memelas berulang kali panggil nama Sasha, tetapi suara teriakan perempuan itu semakin keras seperti disiksa. Andy ambil alih handphone dari tangan Jojo yang lemas, badan Jojo benar-benar kaku, bibirnya bergetar.
“Andy, tidak salah lagi itu suaranya Sasha, aku hafal banget teriakannya ketika marah, sungguh.” Ben menggigit bibirnya.
__ADS_1
“Halo Jojo, jika kau tidak ingin Sasha disiksa sampai mati, berikan sertifikat kantormu padaku sekarang juga.” ucap Bron dalam telepon tertawa kecil diakhir kalimat.
Belum sempat bicara sepatah kata, panggilan telepon diputus. Jojo memukul tembok sambil berdecak kesal, Bron mengambil Sasha darinya, memanfaatkan perempuan tersebut demi keuntungan. Otak Jojo dihantui teriakan Sasha, dia khawatir bila terjadi sesuatu kepada asisten pribadinya.
Sedari tadi Andy pasang telinga di dekat handphone, mengetahui Sasha dalam bahaya membuat dadanya terbakar. Andy teringat momen penampungan sampah terbakar, mana mungkin perempuan loper koran bisa dikawal polisi The Punk melakukan kejahatan.
Resepsionis mengecek alamat nomor panggilan tadi di layar monitor komputer, muncul gambaran kantor polisi The Punk yang bangunan mepet dengan pepohonan ceri. Tembok gedungnya masih dilapisi semen tanpa dicat.
Jojo memutari badan Andy, dia menganggukkan kepala melihat postur tubuh dan kulit Andy yang berbeda dari sebelumnya. Kulit tubuhnya banyak bintik-bintik merah, otot bisepnya sebesar gunung.
“Tolong selamatkan Sasha, aku tidak mau kehilangan dia, bahkan aku tak sudi berikan sertifikat kantorku pada Bron, Kumohon.” Jojo membungkuk setengah badan sambil pejamkan mata.
Andy menghela nafas lega, menatap Jojo yang seakan-akan tunduk dan butuh bantuannya rasanya kasihan banget. Andy menepuk pundak kanan Jojo, dia ambil handphone yang digenggam oleh Jojo.
“Serahkan saja padaku.” Andy tersenyum kecil memberi salam hormat ke Jojo.
...***...
Bercak merah membekas di sekujur tubuh Sasha, dicambuk berkali-kali oleh anak buah Bron yang memaksanya mengecat tembok halaman depan kantor polisi The Punk.
Putar kanan kiri kuas cat yang sudah dicelupkan satu tetes cat kental warna hitam. Tangan Sasha sudah gemetaran pegang kuas cat, mengecat pilar tembok dengan hati-hati, warnanya tidak boleh pecah apalagi tidak merata.
Sasha menoleh ke belakang, rupanya sedari tadi Bron ternodai cat hitam yang berceceran di jas hitamnya yang mahal dan berkilauan kunang-kunang.
“Ampun Tuan Bron, saya akan lakukan dengan baik dan benar.” ucap Sasha suaranya pelan lemah lembut.
Bron balik badan melihat Ginny yang duduk santai di bawah tiang bendera, menundukkan kepala sambil memegang kaki yang ditekuk. Jas hitamnya dilepas lalu dibanting menutupi kepala Ginny.
“Awasi Sasha, jangan sampai dia kabur.” Bron ambil lagi jas hitamnya dari kepala Ginny.
Rambut Ginny hampir kena jambak sama tangan Bron yang sebesar pisang ambon. Postur badan Bron seperti gorila kecil yang punya pergelangan tangan dan jari jemari yang besar.
Ginny menghampiri Sasha yang sangat serius mengecat tembok, jarak wajahnya satu jengkal kelingking dengan tembok. Mencoba lebih teliti agar tidak salah lagi.
“Jika Tuan Bron marah tiga kali lipat, mungkin kamu sudah jadi mayat, Sha.”
“Memangnya Brondong pernah menyiksa orang sampai mati?” tanya Sasha terdiam sejenak.
“Aku nggak bohong Sasha, ini serius.”
__ADS_1
Kuas cat Sasha terjatuh tenggelam di baskom cat hitam, turun lompat dari kursi panjang. Sasha mengibas bajunya dan mengelus kulit tangan, dan kaki yang hangat rasanya.
Sasha berjalan cepat sambil menanyakan dimana mayat korban Bron, Ginny yang wajahnya basah hanya diam doang. Dia coba ikuti kemana Sasha pergi.
Bingung tidak ada tempat aneh di sekitar kantor polisi selain pabrik tahu. Memeriksa akar di bawah pohon ceri yang banyak tanah berhamburan, Sasha menggesekkan kaki ke ke tanah, tetapi tidak ditemukan lubang liang lahat.
Sasha melirik ke belakang, pandangan mata Ginny masih mengawasinya. Satu-satunya tempat yang dirasa masih aneh hanyalah pabrik tahu. Jalannya santai banget lewat di depan muka Ginny yang mengetuk jam tangannya tanpa takut disuruh balik kerja mengecat.
“LEPASIN AKU, AKU GAK MAU MATI DISINI!” terdengar suara teriakan lelaki yang menggema.
Kepala Sasha lurus tegak ke sumber suara teriakan yang menggema di dalam pabrik tahu, dia menganggukkan kepala lalu berlari secepat mungkin menjauh dari Ginny.
Ginny yang dari belakang mengulurkan tangannya ke depan melarang Sasha masuk lagi ke pabrik tahu. Ginny berdecak kesal, gregetan rasanya bila situasi makin gawat seperti ini. Andaikan mata Bron mengawasi Sasha 24 jam nonstop, sudah habis riwayat perempuan itu sekarang.
Mata Sasha bergetar terkejut menatap Robet menggigil badannya membeku seperti es, rambutnya banyak bintik putih, berusaha melepaskan diri dari jeratan tali di perutnya yang ditarik oleh polisi The Punk.
“Uhuk, Uhuk!!” Ginny batuk-batuk sambil pegang leher.
Ginny tidak kuat mengejar Sasha, dia berhenti tengah lapangan di bawah terik sinar matahari. Kepalanya terasa sakit dan puyeng, mencopot jaket tentara abu-abu lalu dipakai di atas kepala.
Sasha mendorong kuat pintu kaca pabrik tahu yang bisa menutup sendiri. Banyak polisi The Punk yang teriak-teriak sambil menyeret tangan dan kaki Robet, bergotong royong mengangkat Robet seperti keranda mayat.
“Turunkan temanku, ini perintah!” bentak Sasha menudingkan jari telunjuk.
Robet diturunkan dengan posisi berdiri, kakinya bergetar goyang-goyang mau jatuh. Dengan sigap Sasha copot ikatan tali tambang yang hampir bikin Robet sesak nafas, merangkul pundak Robet membantunya jalan.
“A-Ada mayat perempuan di ruangan pendingin, sungguh!” kata Robet giginya bergetar saking merasa kedinginan.
Sasha dorong Robet yang berjalan pincang, mereka berdua melewati lorong yang begitu gelap gulita. Semakin berjalan maju, Sasha mulai merasakan hawa dingin di tangannya.
Lorong tersebut membawa mereka ke tempat dimana tembok-tembok pabrik tahu ini dilapisi bebatuan balok es. Rak berbentuk persegi panjang disandarkan di tembok, atasnya ditaruh tahu mentah warna putih yang mengeluarkan asap putih.
Robet berhenti di depan rak besi yang kosong, kepala Sasha menatap sekeliling ruangan pendingin ini, hanya ada banyak stok tahu yang tersimpan.
Rak besi didorong paksa oleh Robet, terbuka ruangan minimalis ukuran 1x1. Sasha masuk duluan, mulutnya menganga lebar melihat di depannya ada mayat perempuan telanjang bulat di dalam peti mati. Dua matanya bolong hitam gelap, bibirnya tersenyum, wajahnya kemerahan mengering pucat pasi dan rambut hitamnya rontok.
Sasha terburu-buru merogoh isi tas ranselnya, dia ambil kamera handycam memotret wajah mayat perempuan ini. Tidak lupa memasukkan kaset VCD kecil pemberian Ginny ke dalam tas agar aman.
Baru satu langkah pergi keluar ruang pendingin, terdengar suara orang lain berjalan menghentakkan kakinya. Muncul kepala Ginny yang mengintip ruang pendingin, tetapi kepalanya linglung, hidungnya mimisan berdarah sampai dia menelan darah ke mulutnya.
__ADS_1
Sasha reflek berteriak melihat Bron menyeret masuk Ginny dengan cara menjambak rambutnya secara kasar. Bron berjalan mundur sambil tersenyum jahat.
“Jangan harap kalian bisa keluar hidup-hidup dari wilayahku.” kata Bron pelan dengan menodongkan pistol ke kepala Sasha.