
Rebahan di rumah sederhana berdinding cat abu-abu yang sudah retak dan bolong-bolong, kerikil kecil mengotori lantai sehingga pemiliknya harus tidur di meja panjang sekolahan.
Dingin, Andy mengerubuti badannya dengan jaket tentara abu-abu berbahan halus dan hangat, walaupun ada lubang tembakan peluru, tetap masih nyaman dipakai.
Di samping kepalanya ada handphone yang layarnya menyala tiada henti, dia sabar menunggu kabar langsung dari Sasha, biarkan dia yang hubungi Andy pertama dahulu, menguji kesetiaan antara kerjasama partner.
Sehari semalam, istirahat sebentar, bergerak terus menguras banyak energi. Parahnya Andy tidak makan dan minum semenjak uangnya habis menjadi pasir yang bertaburan.
Karena susah tidur, Andy pilih duduk di atas meja, meletakkan pigura emas foto adik perempuan di hadapannya. Yap, foto itu masih aman, ia jadikan satu dengan isi peti harta karun besarnya dibawah meja.
“Ginny aku lapar banget, tetapi aku cukup bangga karena banyak menolong orang, kamu mau dengar?” tanya Andy mulai berbicara sendiri saking sepinya rumah.
Andy menggerakkan pigura emas seperti mainan, dia peluk, cium dan mengusapnya agar tetap bersih. Dia kencangkan suaranya hingga menggema, berdiri di atas meja memperagakan aksinya waktu bebas dari rumah tahanan Club Brondong.
“Kamu itu hampir mirip sama Sasha, dia teman partner kerjaku, hubungan kami sudah lama dekat, tetapi....” Andy memelankan suaranya merenungi sesuatu.
Sia-sia berbicara dengan benda mati yang tidak punya telinga, bagaimana cara luapkan perasaan sakit hatinya ke orang lain, kalau adik perempuannya sudah tidak ada. Seringkali Andy bicara sendiri seperti ini, tetapi kali ini beda rasanya.
Srekk! Srekk!
Langkah gesekan kaki seseorang masuk ke dalam rumah Andy yang gelap, kumuh, dan bau seperti orang pinggiran. Ada ibu gendut obesitas kaget lihat Andy dan sekitaran rumah, tidak menyangka bahwa orang gila pemilik rumah ini akhirnya pulang setelah sekian lama.
“Wah, wah, wah, ternyata ini bocah ingat rumah ya, tetapi masih saja kelakuan nggak berubah, dasar anak gila.” ujar ibu gendut suaranya naik satu oktaf.
Andy sembunyikan pigura emas di belakang punggung, tersenyum meringis ketahuan bicara sendiri. Dia perhatikan postur perut obesitas ibu ini yang perlu diturunkan, tundukkan kepala malu diledek ibu gendut ini, maunya sih ledekin balik, tetapi Andy sadar dia masih banyak kekurangan.
“Masih hidup aja kau ini, bersihkan tuh halaman belakang rumahmu, banyak kayu reyot dimakan rayap.” kata ibu gendut mengoceh sambil tuding jari telunjuk.
“Siap, siap!" jawab Andy sopan menganggukkan kepalanya.
Dalam hati sabar banget tidak perlu emosi depan ibu gendut ini, masa baru aja pulang disuruh bersihkan rumah yang lama terbengkalai.
Jalan goyang kiri kanan macam orang kaya, ibu gendut ini pamer tas mahal merek Gucci warna merah maron emas lalu pergi tinggalkan Andy.
Andy menghela nafas lega, tidak mau tergoda dengan barang mahal milik orang yang belum tentu kerja banting tulang di jalanan pulangnya bawa jutaan lembar uang harum.
Tak ada televisi untuk menonton santai, bahkan punya radio jadul antenanya patah menjadi kecil-kecil. Andy menerangi jalan yang gelap ke halaman belakang, ingin tahu seberapa kotornya tempat tersebut.
Bukan hanya satu, tumpukan balok kayu mebel yang nganggur bolong-bolong dimakan rayap, membuka jalan bagi para semut berlalu lalang masuk keluar lubang.
Untungnya handphone jadul Andy merek Sony Ericsson mampu memancarkan senter dengan pencahayaan warna sepia, tidak terlalu terang tetapi berguna banget.
“Aduh!”
Andy kaget tangannya digigit semut yang rasanya nyeri satu detik, baru saja pegang ujung kayu, sudah diserbu semut. Tangan Andy berkeringat kotor dan hangat, dia memilih cari sarung tangan dalam rumah untuk pengamanan.
Bulan purnama bersinar terang dia atas langit, Andy bisa lihat pemandangan tersebut dari halam depan rumah, menengok ke belakang pun gelapnya minta ampun. Serasa tinggal di gua yang dingin dan sepi.
Andy perhatikan layar pesan di handphone, tidak ada bunyi dering pesan masuk, meski spam pesan di kontak Sasha, takkan membuahkan respon karena diblokir.
“Ada yang nggak beres nih sama Sasha, besok harus minta bantuan orang buat cari tahu.” batin Andy dalam lubuk hatinya.
__ADS_1
Geledah semua rak buku, lemari, dan ruangan lainnya. Mata Andy benar-benar melotot tajam saking fokusnya cari sarung tangan biar tidak buta map.
Merogoh loker perkakas yang banyak lilitan kawat, Andy paksa tangannya sentuh semua benda di dalamnya. Badan Andy lurus tegak, ketika dia mengeluarkan suatu benda dalam loker.
Sarung tangan Hazmat warna biru pencegah virus menular di tangan berhasil ditemukan. Sarung tangan ini berbeda dengan yang dipakai oleh Andy ketika mungut sampah, biasanya dia pakai sarung tangan model kulitnya yang tebal, kasar, tidak luntur cocok untuk pekerja kuli bangunan.
Begitu banyak semut merah merayap di tangan Andy, dengan cekatan ambil kantong kresek hitam lalu dia masukkan semua semut merah yang menempel di sarung tangannya. Dia putar tangan agar semut merahnya lepas.
Tidak mau terlalu barbar menepuk semua semut di balok kayu, karena Andy masih sayang hewan. Suara dengungan nyamuk berputar di atas kepala Andy, diikat kantong kresek berisi semut merah lalu dibawanya masuk ke dalam rumah.
...•••...
Sasha terkejut baru kedipkan mata bangun tidur dari bangku komputer, sadar semalaman ketiduran setelah kena marah Jojo. Sampai lupa matikan komputer dan hubungi teman dekatnya.
Mata Sasha tertuju ke layar handphone yang mana banyak panggilan tak terjawab dari Robet. “Ya ampun, sembilan kali panggilan dari Robet.” kata Sasha berbicara sendiri sambil tepok jidat.
Tiba-tiba ada panggilan telepon masuk dari pihak polisi The Punk, Sasha terdiam sejenak pilih jawab panggilan atau tidak, mengingat dirinya sudah tidak lulus jadi polisi wanita gara-gara bimbingan anak buah Bron yang terlalu kasar sama perempuan.
Dering panggilan masuk di diamkan selama 10 detik, Sasha pasang handphone di telinga sambil memejamkan mata.
“Halo, kami asisten Tuan Bron melaporkan bahwa saudara Mandy telah meloloskan diri bersama tahanan lain, dimohon pak Jojo dan Sasha untuk segera ke Club, terima kasih.” lapor asisten Bron.
Suara panggilan itu terdengar hingga menembus ke seluruh ruangan tim redaksi. Betapa gembiranya Sasha mendengar kabar tersebut. Dia naik kursi kantor lalu joget tidak karuan, tidak jelas seperti orang gila, memang nih anak sudah ketularan Andy.
Sengaja memutus panggilan telepon, bohlam lampu menyala terang di atas ubun-ubun Sasha, dia buka blokir nomor kontak Andy lalu coba kirim pesan ke Andy, berharap dia tidak marah padanya.
Sasha
^^^Andy^^^
^^^”Nggak! aku lagi sibuk, nanti lagi ya!”^^^
Bibir Sasha monyong, alisnya mengkerut, dia penasaran tumben pagi-pagi Andy udah sibuk aja, mentang-mentang sudah bebas dari Club Brondong.
Sasha
“Memangnya lagi sibuk apaan?”
^^^Andy^^^
^^^“Ngumpulin semut merah.”^^^
Sasha buka mulut lebar-lebar, dia bingung ngapain pula si Andy ngumpulin semut merah, agak aneh juga.
Karena terlanjur ketiduran di kantor berada shift malam di rumah sakit angker, Sasha mengemasi koran-koran edisi terbaru terbitan kemarin yang harus segera dikirim ke pelanggan.
Mumpung baru bangun dan anak-anak tim redaksi belum datang, Sasha mengotak-atik searching google di komputer mengenai kematian Ginny.
“Pembunuhan berencana, kasus kematian Ginny ditutup?” ucap Sasha membelalakkan matanya.
Sasha pegang kepalanya dengan dua tangan, deretan situs berita yang muncul di layar monitor hampir menyatakan bahwa kematian Ginny ditutup oleh pihak kepolisian. Tidak ada yang menyertakan nama The Punk ataupun Bron Family.
__ADS_1
Tampilan foto google terpampang sebuah sepeda motor Jupiter MX ambruk di pinggir jalanan, ban bocor kempes, kaca spion dan spidometernya juga ikut pecah.
Sasha menoleh ke belakang, baru ada dua anak perempuan tim redaksi yang baru datang. Layar monitor komputer dipotret dengan kamera HD yang tidak blur, sehingga kelihatan jernih dan jelas.
Sudah cukup main Mbah Google, sekarang waktunya kirim koran lagi ke pelanggan setia JoNews.co, Sasha belum mau temui Andy karena tidak mau dimarahin Jojo dan gajinya terpotong.
...***...
Andy jalan santai keliling kampung halamannya yang sekarang berubah total, yang dulunya tanah berpasir, sekarang tanahnya paving warna hitam, merah dan hijau. Rumah warga banyak renovasi jadi lebih bertingkat tinggi dan pastinya kelihatan mewah banget.
Ketika turun ke jalan perosotan, ada bapak-bapak tua kumisan, raut mukanya jijik melihat Andy yang pakaiannya di kelilingi lalat, saku jaketnya dimasukkan kantong kresek.
Lirikan mata Andy masih tajam, dia tahu kalau diam-diam lagi digusur “Hush! Hush!” pake dua tangan seperti mengusir kucing asing dari dalam rumah.
Tetap santai dan rileks, tidak perlu dibawa ke dalam hati, buang-buang wajah bapak-bapak tadi lewat bunyi kentut.
Baru mau keluar gang kecil, Andy buka mata lebar-lebar lihat di depannya ada dua orang saling bertatapan muka depan belakang. Andy jalan jongkok pelan-pelan, posisinya lagi Stealth Mode seperti ninja.
Rupanya salah satu dari mereka ada yang pakai almamater seragam polisi The Punk bercelana jeans, tidak pakai topi, kelihatan banget rambut mohawk setinggi tower Monas.
Ternyata lagi bisnis barter barang antara kantong plastik bening berisi garam putih bening dengan uang dalam koper perak.
Andy tersenyum sinis, dengan cekatan kantong kresek berisi semut merah dimasukkan ke kepala polisi The Punk seperti pakai helm. Andy cekik leher polisi The Punk lalu hantam kepalanya sampai jatuh terbentur paving.
Orang disampingnya melongo, tangannya gemetaran merogoh saku kemeja oranye, dia menunjukkan kartu kurir toko Online.
“Ampun mas.... jangan tolong jangan pukul saya!” ucap Kurir dengan suara lirih sambil angkat tangan.
Polisi The Punk tercengang kesakitan berteriak kulit kepalanya digigit semut merah, saking keras teriakannya, Andy menginjak kepala polisi The Punk sampai pingsan.
“Ambilah koper ini, lain kali jangan terima kiriman barang narkoba ke orang lain terutama polisi The Punk ini,” Andy tersenyum lebar.
“Tapi barangnya gimana mas? saya takut ditangkap polisi,” tanya serius sang Kurir.
“Polisi ini musuhku, garam putihnya aku amankan, sekarang pergilah cepat!” jawab Andy.
Sang Kurir tersebut tergesa-gesa naik sepeda motornya yang terparkir di pojok jalan, dipeluk erat koper peraknya lalu tancap gas meninggalkan Andy.
Andy cabut logo simbol di seragam polisi The Punk, sepertinya dia sudah muak terhadap aksi polisi The Punk yang mulai berani transaksi narkoba untuk Brondong. Syukurlah dia berhasil menggagalkan kiriman sang Kurir tadi, kalau tidak Brondong bakalan untung besar.
Andy pegang handphone jadul lalu mulai panggilan telepon dengan dokter psikiater.
“Halo selamat pagi Robet, lagi sibuk apa hari ini?”
“Lagi Cuti kerja nih, mau refreshing tapi nggak tau mau kemana hehe!” Robet tertawa di akhir kalimat.
“Aku minta kamu ke kantor JoNews.co, tolong jagain Sasha ya!”
“Wah, siap Andy hahaha! boleh nih ajak makan bareng Sasha ke restoran,” kata Robet tampak senang banget, suaranya terdengar keras sekali.
Andy kantongi handphone lalu berjalan santai sambil tersenyum sendiri melewati jalan raya yang sepi di pagi hari yang cerah ini.
__ADS_1