
Jojo mendorong pintu kantor pribadinya dengan lengannya yang penuh dengan lemak, dia berjalan mundur, duduk di kursi hangat dengan rasa takut dan bingung, dahulu ia berani menggerebek rumah kayu Mandy.
Sekarang dibalas kedatangan Mandy ke kantor JoNews.co karena suatu masalah yang melibatkan Jojo, dia mengaku tidak bersalah sampai memohon genggam telapak tangan dan tunduk dihadapan Andy yang memarahinya.
Jojo gunakan pigura persegi foto Sasha demi melindungi diri, berharap Andy kontrol emosi dan tidak menyerangnya secara kejam. Namun emosi psikopat tetap kokoh dan tidak luntur.
Andy mengelak tangan Jojo yang pegang pigura foto Sasha, sampai terjatuh tepat di bawah kakinya Sasha. Retakan bentuk garis tumpul tampak jelas di ujung gagang pigura foto Sasha.
”Kumohon jangan sakiti Jojo, jelaskan padaku apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Sasha sambil pegang kepala dengan kedua tangan.
Andy lepaskan tangannya dari kerah baju kemeja putih Jojo yang sudah bengkok, Jojo menghela nafas berat, dia jalan ngesot berlinang di belakang Sasha, satu-satunya orang yang membelanya saat ini.
“Ada orang gembel menyamar jadi Mandy palsu yang mencoba menculik Mandraguna, dia bilang dengan mulut tajamnya sendiri bahwa dia suruhan Jojo.” jawab tegas Andy nada suaranya tinggi satu oktaf.
Sasha menengok ke bawah, Jojo cuma bisa geleng-geleng, bisu tidak mau buka suara. Sasha semakin yakin bahwa ini fitnah, mana mungkin CEO koran punya cecunguk orang gembel di jalanan yang sukanya menetap di kolong bawah jembatan sambil makan ikan-ikan mentah di sungai kecil.
Andy luruskan jari jemari tangan kiri membentuk ujung pisau, kukunya panjang-panjang dan banyak kotoran hitam yang menambah rasa jijik apabila dilihat lebih dekat.
Jojo menarik Sasha keluar perlahan-lahan dari kantor pribadinya, tetapi kaki Sasha tertahan, wajahnya mengkerut saking waspada dengan tindakan Andy selanjutnya.
Andy menjegal kaki Sasha sampai dengkulnya jadi tumpuan duduk di lantai, tangan kiri Andy setajam pisau mengarah ke mata Jojo, tetapi tangan kiri Andy malah ditendang oleh Sasha.
Karyawan tim redaksi masuk ke dalam kantor pribadi, mereka menghadang badan Andy dari Jojo, mereka tunjukkan bukti lembar revisi koran edisi hari ini yang di koreksi langsung oleh Jojo. Tiga hari berlalu projek berita JoNews.co menurun, karena kehilangan Sasha yang di lelang oleh Bron.
Tangan kilat Andy merebut lembar koran revisi tersebut, tertulis topik utama font tulisan hitam paling besar “Benarkah Tuan Brondong adalah orang yang baik?”
Dada Andy terasa panas, sosok Bron terlintas dalam pikirannya, jika Mandy palsu bukan suruhan Jojo, maka satu-satunya orang yang juga mengincar Andy dan diduga menyimpan rahasia besar kematian Ginny hanyalah Bron.
Menoleh ke arah Jojo yang menutup kepalanya dibalik punggung Sasha, amarah Andy membuat Jojo ketakutan seperti seekor tikus yang trauma digigit kucing garong.
“Sasha, kamu lebih percaya bosmu dibanding aku? oke mulai detik ini—”
“Ya, aku lebih percaya Jojo, karena dia cuma doyan uangnya Bron, gara-gara Bron aku dan Jojo jadi terpisah.” potong Sasha meninggikan suaranya tidak mau kalah sama Andy.
Andy meludahi lantai kantor, menghentakkan kaki tinggalkan kantor JoNews.co saat itu juga. Bahkan tim redaksi bersorak “Huuuuu!" meledek Andy yang dianggap terlalu gegabah.
Jojo duduk bersandar di kursi hangat sambil menghela nafas lega karena Andy sudah pergi, memperhatikan Sasha nama mengelap air ludah di lantai tanpa bilang terima kasih.
Salah satu karyawan tim redaksi mengoper gelas plastik air minum ke meja bundar, Jojo coblos gelas plastik dengan tangan yang gemetaran. Sasha pijat pundak Jojo agar bosnya makin tenang dan rileks.
__ADS_1
Orang random yang ngegas datang ke JoNews.co selain klien terhormat yang sopan santun adalah Andy, Jojo menelan ludahnya sendiri sambil mengelus dada, dahulu dia berani banget merusuh di rumah kayu penampungan sampah.
Sekarang hati Jojo dibuat berdegup kencang, seolah-olah badannya mengecil ketika bertatapan mata dengan Andy. Jojo lepaskan tangan Sasha yang memijat pundaknya.
“Terima kasih Sasha!” ucapnya pelan sambil mengangguk kepala.
Sasha balas senyum bibir rapat, dia bertepuk tangan ke arah pintu masuk ruang kantor yang masih banyak karyawan tim redaksi mengintip dari balik pintu.
“Boleh pinjam selembar hasil koran terbitan kalian?” tanya Sasha sambil rentangkan tangan kanan.
Telapak tangan Sasha menumpuk banyak lembaran koran halaman pertama, bola matanya berputar mengecek satu persatu dengan teliti.
Tim redaksi saling bergandengan tangan menatap wajah Sasha dengan polos, berharap hasil karya mereka tidak di roasting. Kepala Sasha mendongak ke atas, jam dinding kantor pribadinya Jojo mati. Jarumnya goyang-goyang tetapi tidak berputar.
“Kerja bagus, lanjutkan tugas kalian, dan bolehkah aku minta file mentahan, ada yang harus di rombak.” kata Sasha sambil berikan lembar-lembar koran ke pemiliknya.
Satu langkah Sasha injak kaki keluar kantor, kakinya di tahan tangannya Jojo, bola mata Jojo berkaca-kaca, dia tatap Sasha yang melongo.
“Terima kasih sudah mau datang kemari, kami selalu terbuka untukmu,”
“Sama-sama pak, maaf kalau aku belum bisa kerja lagi di JoNews.co, aku lebih nyaman di Agent News sekarang.” jawab Sasha
Sasha lepaskan tangan Jojo dengan lemah lembut, dia bantu Jojo bangkit berdiri. Raut wajahnya bosnya memelas, jarang banget Sasha lihat Jojo yang tipikal orangnya kasar, sekarang berubah seperti orang penakut.
Sasha buru-buru masukan lembaran koran dan flashdisk ke dalam tas ranselnya berlogo huruf “A” lalu melambaikan tangan ke tim redaksi.
“Tok! Tok Tok!” bunyi ketukan pintu utama.
Pandangan Sasha beralih ke pintu utama, dia tarik nafas, pegang ujung bawah tas dengan tangan kanan bersiap-siap apabila Andy datang kembali.
Dibuka pintu utama pelan-pelan, mulut Sasha menganga lebar melihat Robet yang datang berdiri tegak sambil peluk plastik bening jumbo berisi bunga mawar.
“Ngapain kamu ke sini, nggak ada kerjaan?” tanya Sasha alisnya terangkat.
“Mau beli koran, butuh asupan gosip kriminal, hehehe!” jawab Robet sambil garuk kepala.
Sasha buka resleting tas ransel, memberikan lembaran koran dari anak tim redaksi. Mulut Robet monyong membuka lembaran koran, melipat bagian ujung atas bawah membentuk segitiga.
“Nggak usah bayar, tetapi tolong temani aku ke pasar Tawangmangu sekarang,”
__ADS_1
“Serius, terima kasih ya Bu Sas— eh, maksudku mbak Sasha.” jawab Robet tersenyum miring.
Robet merapikan rambut hitam bergelombang yang lurus dan mengkilap. Sasha tengok di balik badan Robet, sebuah motor Astrea terparkir di depan halaman kantor. Sasha melirik ke arah Robet sambil tersenyum jahat.
...***...
Mandra sedang main lumpur yang diwadahi ember plastik yang penuh semen, di dalamnya ada mainan bebek bekas yang berubah warna kuning keputihan. Bola matanya besar melebihi ukuran kelereng, bibir mungil dan giginya yang bersih rapi membuat dia makin imut dan lucu. Saking lucunya dia berani turun tangga kecil jalan merangkak mendorong wadah ember yang cukup enteng.
“Oooh! lihat siapa yang mulai belajar turun tangga sendiri, hehehe!” tawa kecil Andy menghampiri Mandra sambil mencium pipinya.
Di dagunya Mandra ada bekas bubur coklat yang menempel seperti brewok, Andy mengusapnya dengan ibu jarinya yang kotor.
“Pa...pa...papa!” ucap Mandra tersenyum manis giginya berseri-seri.
Andy tutup mulutnya, tidak menyangka jika Mandra memanggilnya dengan sebutan Papa. Mandra digendong bawa masuk ke dalam rumah kayu, disusul dengan ibu muda dan Ben yang bawa dot bayi tak berisi formula susu.
“Baru pulang nih anak, belikan susu Mandra ke supermarket,” Ben serahkan uang warna biru ke tangan Andy.
“Nggak ah, mau tidur ngantuk!" jawab Andy berdecak kesal.
Ben menggelengkan kepala, ketika uangnya mau ditarik lagi, tangan Andy menahannya. Mereka berdua saling berebut selembar uang warna biru yang masih baru. Sedangkan Mandra bingung menoleh sana sini sambil ngomong bahasa bayi.
Mandra tarik tangan Andy dan Ben, dia angkat tangan coba meraih uang yang direbutkan. Lama kelamaan, Mandra berteriak minta uangnya dikembalikan.
“Bremmm!” suara mesin sepeda motor Astrea yang membuat Mandra kaget. Dia tunjuk ke arah Sasha dan Robet yang barusan sampai.
“Ya ampun, kalian berdua ngapain sih?" Sasha keheranan melihat Andy dan Ben yang masih pegang ujung lembar uang kertas.
Mata Andy melotot tajam ke arah Sasha, dia lepaskan lembar uang kertas, lalu melipat lengan tangannya.
Sasha yang dipelototi seperti katak beracun mata merah, berbalas saling bertatap muka dengan Andy. Sedangkan Robet memberikan kotak susu kaleng bayi khusus Mandra yang dibungkus kantong minimarket.
Andy menggesek kepalan tangannya ke kening Sasha, sebaliknya si Sasha juga ikut balas ke kening Andy, tidak mau kalah.
Yang awalnya saling gesek kening kepala, ujungnya malah saling jambak rambut seperti anak kecil. Bukannya sedih si Mandra malah tertawa cekikikan.
“Jangan bertengkar lah woi! malu dilihat anak buahmu.” tegur Ben menarik mundur badan Andy.
Andy dan Sasha saling memalingkan wajah, tidak mau bertatapan satu sama lain, memilih diam dan mendongak kepala ke atas langit.
__ADS_1
“Sssttt!” Robet berbisik ke Sasha sambil tuding jam tangannya.
Sasha dan Robet pun pamitan ke Mandra, mereka pun menuntun sepeda motor keliling jalan setapak pasar Tawangmangu yang ramai penjual dan pengunjung.