
Pancuran air keran mengalir deras, cipratan air menyebar ke antrian pembersih sampah yang bergiliran membasuh wajah dengan baskom, lalu cuci tangan pakai sabun yang sudah lonjong dan gepeng seperti piring.
Semuanya diam, berbaris rapi tanpa ribut sekalipun. Tidak ada yang menghibur malam itu, karena pasar sudah sepi, tinggal penjual yang siap-siap dorong gerobak pulang ke rumah.
Saking sepinya, mereka duduk di tepi jalan raya sembari di absen satu persatu penyerahan gaji terakhir sebagai pegangan untuk mencukupi kebutuhan.
“Monggo diterima ya, semoga bermanfaat bagi kalian semua.” ucap Ben sambil bagikan amplop coklat ke pembersih sampah yang duduk lesehan.
Ucapan terima kasih pun terdengar sangat pelan dan lemas dari mulut pembersih sampah. Entah kenapa setelah penampungan sampah terbakar, semuanya jadi merasa mengantuk.
Ben tersenyum meringis sambil menghibur pembersih sampah dengan menirukan gaya Andy ketika menyerang penjahat. Ben sempat batuk-batuk karena tidak bisa tertawa cekikikan badut Pennywise seperti Andy.
Bukannya ketawa, para pembersih sampah yang umurnya sudah sesepuh malah langsung pergi pamit ke Ben tanpa bersalaman.
“Srekkk! Srekkk!” gesekan sandal jepit Andy.
Suara gesekan sandal jepit Andy, membuat semua orang menoleh padanya terutama Ben. Andy menggenggam kantong plastik berisi garam kasar. Baskom berukuran sedang terisi penuh dengan air yang bergelombang.
Andy mengguyurkan air satu baskom sampai membasahi seluruh tubuhnya. Mandi basahan cuma pakai celana jeans biru muda yang bolong-bolong.
“Yang sabar mas Andy ya!” ucap seorang pembersih sampah mendekatkan dua telapak tangan ke mulut.
Andy sama sekali tidak merespon, menggaruk lubang telinganya yang bersih tanpa kotoran emas, berpura-pura tidak dengar.
Melangkah naik ke tangga kecil rumah kayu yang sudah hangus jadi arang, atapnya gosong mengeluarkan asap-asap kecil. Mengeringkan badan dengan handuk abu-abu lalu mencabut segel karet yang menutup kantong plastik berisi garam kasar pesanannya.
Pandangan mata fokus ke Andy yang lagi latihan, dia coba gerakan Shadow Boxing dengan kedua tangan, di bagian betis semacam karet yang sangat elastis.
Semakin malam, para pembersih sampah perlahan-lahan pamit pulang duluan sebelum latihan Andy selesai.
Kecuali Ben yang menyeruput kopi coklat panas sambil memandangi bulan purnama. Menemani Andy latihan dari jarak jauh, Ben geleng-geleng kepala lihat suasana kotor penampungan sampah, lingkungannya berubah menjadi hitam karena barang-barang bekas sudah gosong.
“Aku harap besok kamu balik kerja lagi di pasar Tawangmangu.” Ben menoleh ke Andy dengan tersenyum rapat.
Muka Andy penuh keringat setelah berjam-jam latihan kekuatan tangan. Dia pun menggaruk kulit kepala, tangan dan kaki, Posisinya membungkuk, mulai kelelahan sampai jatuh telentang di bawah lantai rumah kayu.
“Jangan harap besok penampungan sampah ini bakalan ramai.” Andy berjalan sambil pegang pundak Ben.
Ben menghela nafas berat, rasanya kasihan bila nasib pembersih sampah berakhir buruk seperti ini. Malam-malam begini mana mungkin Andy bersihkan semua sampah yang ludes terbakar sendirian, biarkan angin topan yang membawa sampah melayang ke udara.
__ADS_1
Andy menyeruput sedikit air kopi coklat, kemudian dia ambil 3 buah atap rumah yang berlumut, kemudian diikat tali di tiang bambu jemuran pakaian.
Ben tutup mata, Andy ambil ancang-ancang meloncat ayunkan tangan kanannya.
“Krakkk!” atap rumah yang patah terhantam keras pukulan Andy yang sudah dilapisi garam kasar.
Atap rumah itu hancur berkeping-keping, Ben hanya bisa melongo sambil tepuk tangan pelan. Andai pukul kepala orang, mungkin giginya sudah rontok berjatuhan.
Duduk berduaan di meja kayu yang cukup lebar buat rebahan, tanpa alas karpet, Andy menikmati malam hari itu dengan bersulang minum kopi coklat panas untuk meredakan amarahnya.
“Jangan usir aku jika ketiduran di sini,” kata Andy pelan duduk selonjoran di samping Ben.
“Tidak Andy, istirahatlah biar besok semangat kerja pagi.” Ben memijat punggung kaki Andy.
...***...
Keesokan paginya, keributan di penampungan sampah pun tidak terhentikan. Banyak tukang becak yang protes ke Ben minta ganti rugi barang bekasnya yang belum dikirim ke tempat TPS terdekat. Bahkan ada yang sampai membungkus sisa-sisa sampah terbakar ke dalam kantong plastik demi bisa dijual.
Andy masih tertidur pulas karena telinganya ditutup buntalan kapas. Tukang becak yang protes diajak ngobrol ke UD.Sumber Berkah biar tidak mengganggu tidur Andy.
“Pokoknya cepat berikan upah hasil jual barang bekas kami pak!” ucap tukang becak dengan nada suara tinggi.
Mata Ben melirik kanan kiri, dia sudah diawasi dari depan sampai belakang. Ketika mau menutup loker meja, lima orang tukang becak menyenggol Ben sampai jatuh, semua tukang becak pada rusuh bongkar loker meja Ben, dikeluarkan semua barangnya termasuk lembaran uang selusin yang isinya hampir satu koper.
Tangan dan kaki Ben ditahan, mulutnya disumpal dengan kantong plastik yang digulung jadi bola. Segepok uang digenggam masing-masing tukang becak, mereka semua langsung pergi mengayuh becak meninggalkan penampungan sampah.
“AYO USIR ANDY!!” teriak pengunjung pasar.
Di sisi lain, pengunjung pasar Tawangmangu juga mengepung Andy yang masih tertidur pulas, lima orang bersamaan menarik paksa tangan Andy, lalu dorong badannya yang masih lemas ke pagar besi penghalang.
Setengah jiwanya baru sadar bangun tidur, Andy mengucek matanya lihat kanan kiri dengan muka yang polos. Tiba-tiba dia membelalakkan matanya ketika didorong jatuh jungkir balik dari pagar besi penghalang.
Andy meraba kantongnya yang masih ada sisa garam kasar, semua pengunjung menyorakinya keluar dari pasar Tawangmangu. Baru pagi-pagi sudah bikin pengguna jalan raya merentangkan video kamera handphone ke arah Andy yang kebingungan.
“Jika itu mau kalian, mulai detik ini aku takkan kembali lagi ke pasar Tawangmangu, jangan panggil nama Mandy bila ada masalah.” kata Andy dengan suara serak.
Ben menyela orang-orang di pagar besi penghalang, berteriak nama Andy berkali-kali tetapi tidak direspon oleh Andy. Pemimpin pembersih sampah itu jalan lemas memakai sandal jepit di tangan.
Berjalan kaki di trotoar sambil diteriaki banyak orang rasanya berisik banget di telinga. Berbekal garam kasar pemberian Ben, sudah membuat bibir Andy senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
“Ginny, sekarang aku pengangguran, aku tidak punya apa-apa lagi, kakak macam apa aku ini?” lirih suara Andy berbicara sendiri.
Memanjat anak tangga Flyover yang bawa Andy ke atas jalan raya, bersandar di pagar menghirup udara segar. Bibirnya bergetar- getar, tetesan air mata mengalir di pipi. Andy membenturkan kepalanya di pagar sambil menahan tangis.
Hidup sebagai pembersih sampah berakhir gagal, impian bangun rumah bintang lima juga menghilang dalam otak Andy.
Andy geleng-geleng kepala bingung mau ngapain pagi ini, membentur kepala ke pagar besi tidak membuahkan hasil apapun. Andy cuma bisa *******-***** garam kasar yang terbungkus dalam kantong plastik.
Mengaduk-aduk garam kasar dengan telapak tangan, kemudian Andy genggam sekuat tenaga. Dia rasakan betapa sakitnya ujung biji garam kasar yang menusuk ke telapak tangannya.
Dalam benak pikiran Andy teringat senyuman manis Sasha ketika lagi bahagia dan tawa jahat Bron yang masih terngiang di otak Andy.
“Tunggu pembalasanku Sasha.” ucap pelan Andy tapi tajam.
...***...
Badan Sasha ikut mundur ketika latihan tembak pistol di lapangan tembak kantor polisi The Punk. Dari belakang Robet menutup telinganya dengan tangan kanan yang sikunya diperban. Tangan kirinya pegang tongkat pasien, Robet perhatikan cara Sasha menembak pistol asli.
“Gimana mau jadi polwan, pegang pistol aja masih goyang-goyang,” Robet tertawa diakhir kalimat.
“Makanya aku belajar biar nggak dikatain lemah sama Brondong.” jawab Sasha.
Robet tutup mulut, tahan ketawa lihat patung sasaran yang hampir semua tembakan kena di bagian kaki.
Coba jalan pelan-pelan dengan tongkat, Robet berusaha meraih gagang pintu yang berbentuk lingkaran. Ketika diputar, ada polisi The Punk yang menabrak pintu sampai dorong Robet jatuh.
Sasha terkejut, pistolnya dibuang di bawah lantai, membantu mereka berdua berdiri. Dari luar pintu ada menodongkan pistol ke arah polisi The Punk, tetapi karena dibopong oleh Sasha, Bron langsung pergi.
“Ya ampun wajahmu babak belur memerah seperti ini.” Sasha pegang pipi polisi The Punk yang memejamkan mata sambil meringis kesakitan.
Seragam polisi The Punk warna hitam digantung di pundak Sasha, Robet periksa seragam tersebut. Tidak ada lubang tembakan peluru, hanya ada debu pasir yang menempel di bagian punggung.
“Pakai seragam ini, sudah tak kuat lagi jadi polisi The Punk, tolong patuhi perintah Tuan Bron.” kata polisi The Punk suaranya lirih.
Sasha pegang seragam polisi The Punk yang logonya sudah dirobek. Dia tatap wajah Robet yang memelas melihat kondisi polisi The Punk.
“Bet, aku punya ide gimana caranya mudah deketin Ginny sama Brondong,” Sasha tertawa kecil.
“A...Apa??” jawab Robet bingung.
__ADS_1
Sasha merangkul bahu kanan Robet, membantunya keluar dari pintu ruang lapangan tembak.