
“Braaakk!!”
Bunyi koran dibanting di meja pelanggan kafe Baturaja, membuat bola mata semua orang tertuju kepada Sasha yang dimarahi oleh tukang ojek online. Tidak terima membayar koran bulanan hanya untuk mendapat berita yang membahas pendidikan sekolah dasar dan kecelakaan lalu lintas di kota Malang.
“Mbak Sasha, saya butuh asupan berita Mandy, pokoknya saya nggak mau bayar ini koran.” protes tukang ojek online.
Sasha menundukkan kepalanya, turut meminta maaf atas ketidakpuasan pelanggan JoNews.co selama ini. Sudah tiga kali koran terbitan bulan ini ditolak mentah-mentah oleh pelanggan setia karena beritanya yang terkesan garing dan kurang Hype sejagat raya.
“Maaf pak, lain kali kami usaha lagi untuk memberikan berita yang lebih booming dan menarik lagi.” ucap Sasha pelan.
Koran baru yang halamannya tertekuk di lempar sampai masuk tong sampah, Sasha tutup mulut melongo tidak menyangka kalau koran hasil kerja tangannya dibuang seperti sampah sisa bungkus makanan yang menjijikan.
“Sekali lagi saya mohon maaf—”
“Halah! pergi sana, nggak minat lagi baca koran JoNews.co, mending beli di kios pasar Tawangmangu aja lebih murah.” potong tukang ojek online mengibas tangannya mengusir Sasha.
Sasha berjalan cepat mengusap setetes air mata di pipinya, dia lekas mengayuh sepeda meninggalkan kafe Baturaja. Matanya berkaca-kaca, hidungnya memerah, menahan tangisan di jalan raya besar agak tidak malu dilihat pejalan kaki trotoar.
Otaknya mulai kepanasan, dia sudah lelah kerja di depan komputer tetapi hasilnya tidak sesuai dengan ia harapkan. Pelanggan lapar berita Mandy, Sasha masih dapat larangan dari Andy, jangan sebarluaskan berita mengenai Andy, dari segi status, kejiwaan, pekerjaan dan sisi gelapnya.
Pernah merasakan sakitnya ditampar tangan Andy sebesar pisang ambon, itupun sudah bikin Sasha sakit hati. Sasha bersepeda satu tangan, sebelah kanan memegang kepala yang terasa pusing dan hangat.
“TINNNN!!!”
Klakson mobil truk Semen Gresik membuat Sasha kaget mendadak rem sepeda, hampir saja ketabrak bumper depan truk yang banyak lilitan kawat.
“WOI AWAS!” teriak supir truk.
Dadanya deg-degan kencang, Sasha memilih menuntun sepedanya menyebrangi zebra cross yang diatur mas-mas pengatur jalanan, membunyikan peluit kencang memelankan gerak roda sepeda motor dan mobil yang melintas.
Sasha megap-megap, tengok kanan kiri tidak tahu mau jual koran kemana lagi. Bisa gawat apabila ketahuan membawa tangan hampa di hadapan Jojo. Trotoar sepi tidak ada pejalan kaki yang lewat, Sasha berdiri, tangan kiri pegang sadel sepeda onthel, tangan kanannya sibuk dengan handphone.
“Hehehe, Sasha aku melihatmu!” pesan teks Robet dengan emoji tersenyum lebar.
“Hah!” Sasha bingung bibirnya miring.
Entah serius atau bercanda, di sepanjang trotoar yang panjang seperti ular tangga, tidak nampak batang hidung Robet dari pandangannya.
Tanpa balas chat, Sasha kembali menuntun sepedanya, mengembuskan nafas dan mulut menganga lebar. Kendaraan berhenti di jalan raya tepat lampu merah.
“Koran, koran, monggo dibeli koran koran JoNews.co harganya murah lho!” ucap Sasha memaksakan senyumnya sambil angkat koran setinggi langit.
Namun sayang tidak ada yang tertarik perhatian ke Sasha, pengemudi sepeda motor malah mengotak-atik helmnya, padahal tidak miring, sedangkan kaca mobil ditutup rapat-rapat.
Lemas tangan Sasha pegal angkat koran yang seringan kertas, raut wajahnya berubah memelas jadi malu kalau promosi seperti ini.
Greppp!
Sentuhan tangan ke pundak membuat Sasha reflek tengok belakang.
“Hai Sasha, tumben jualan koran di jalan raya, nggak ada teman?” tanya Robet tersenyum meringis.
__ADS_1
Rasanya pengen banget nampar pipi empuk Robet, lagi kecewa berat malah dibikin tambah panas otak. Sasha berjingkat dua langkah menjauh dari Robet, dia putar pedal sepeda onthel dengan cepat lalu berlari menjauh dari Robet.
Krekk! ngek! ngok!
Ya ampun pakai acara rantai lepas dari gir sepeda pula, dari belakang Robet tertawa puas lihat Sasha terduduk lemas di tanah mencoba memperbaiki rantai sepeda.
Robet geleng-geleng kepala, baru aja disamperin eh malah lari ngegas kayak dikejar sama anjing. Robet pelan-pelan mendekati Sasha.
“Kamu lagi ada masalah apa sih? ngomong dong jangan kabur,” tanya Robet serius.
“Aku diusir sama pelanggan, mereka nolak mentah-mentah bayar koran JoNews.co.” jawab pelan Sasha menundukkan wajah.
Robet mengembuskan nafas pelan, dilihat kantong di boncengan sepeda onthel, masih numpuk banyak gulungan koran. Apa jadinya jika Sasha terburu-buru balik ke kantor terus dipecat gara-gara ini.
Susah jadi koper koran, resikonya besar apabila jualan tidak laku menghabiskan banyak waktu demi deadline sesuai target dari atasan. Robet turut kasihan.
Tangan halus Sasha ternodai oli warna hitam, Robet pun ikut duduk disebelahnya lalu mengotak-atik rantai ke gir sepeda bertingkat tiga.
Beruntung rantai sepeda onthel masih berlumuran oli licin, sehingga mudah menempel di gir besi yang sangat keras dan tebal.
Mereka berdua kompak berdiri bareng, Sasha memalingkan wajah ke arah Flyover, pasti si Robet menyebrang naik jembatan tersebut. Robet mengerutkan dagunya, berpikiran ingin menghibur Sasha agar tidak jenuh.
“Ayo ke kafe atau restoran bareng yuk!” tawar Robet mengulurkan tangannya.
Sasha manggut-manggut, raut wajahnya tersenyum meringis “Boleh, aku juga laper nih belum makan, hehehe!” jawabnya.
...***...
Sembari menunggu pesanan, Sasha nonton laptop kantor Robet yang menampilkan rekaman meeting kliennya yang terkena gangguan jiwa di balik jeruji besi warna putih.
Kepala klien lelakinya yang berambut gundul ini membenturkan kepalanya ke tembok sambil tertawa memanggil nama “Kakak” berulang kali.
Video rekamannya di jeda, Sasha teringat Andy yang pernah panggil namanya dengan sebutan Ginny, apakah itu pertanda bahwa Andy belum bisa move on kehilangan adik perempuannya.
“Bet, aku pinjam laptop kamu ya buat artikel koran,”
“Boleh, santai aja Sasha jangan buru-buru.”
Sasha buka blogger lewat internet, dia rangkai semua ide dan informasi kasus kematian Ginny yang di tutup. Dia ikut sertakan nama Mandy sebagai adik perempuan Ginny yang sekarang kesepian, bekerja keras demi menjadi orang kaya.
Sayang tidak ada footage gambar kematian Sasha lewat google, maka dari itu Sasha tambah keterangan gambar ilustrasi mobil sedan jatuh terbalik di jalan tol.
“Sha, menurutku kamu pantes jadi mata-mata, tugasnya meringkus aksi kejahatan dan cari kebenaran kasus yang belum terpecahkan, gimana?” tanya Robet sambil menuding layar laptop.
Kening Sasha terangkat seperti ombak, dia sependapat dengan ucapan Robet barusan. Sekarang posisi Andy selain bekerja tiap hari, dia juga ingin mencari pelaku pembunuh Ginny.
Dia bisa lempar, bagikan informasi dan bukti kuat apabila berhubungan dekat dengan Bron dan polisi The Punk.
“Kamu benar, sebelum menjabat sebagai polisi wanita, aku harus berhubungan lebih dekat lagi dengan Brondong.” kata Sasha membuka matanya lebar-lebar.
Sudah lebih dari 2 jam mereka berdua berduaan di kafe Baturaja, karena ingin cepat-cepat cetak koran edisi terbaru, Sasha pun berpamitan berpisah dengan Robet siang hari itu.
__ADS_1
Hati Robet berdetak kencang ketika terus melihat Sasha pergi meninggalkannya naik sepeda onthel, rambut panjang Sasha lurus bergoyang diterpa angin. Robet berharap semoga wanita loper koran itu tidak dipecat oleh bosnya.
...***...
Ceklek!!
Membuka pintu ruang tim redaksi, Sasha kaget mundur ketika melihat banyak anak-anak tim redaksi sedang menundukkan kepalanya di depan Jojo dan Bron.
Sasha menelan ludahnya ketika Jojo menoleh ke arahnya dengan raut wajah marah. Tangan Sasha ditarik-tarik maju ke hadapan semua orang. Jojo menjambak rambut panjang Sasha.
“Kamu darimana saja hah! bukankah kamu tadi ditelpon suruh ke Club, kamu tahu di mana Mandy kabur?” tanya serius Jojo meninggikan suaranya satu oktaf.
Sasha meletakkan kantong besar berisi gulungan koran yang gagal terjual, amukan nafas beruang ganas Jojo mulai keluar, dia remas rambut Sasha.
“Maaf Pak, korannya ditolak pelanggan, makanya saya balik lagi, jujur saya nggak tahu kemana Mandy.” jawab Sasha pelan.
Kalau sudah dijambak rambut oleh Bos, jangan harap meninggikan suara lebih keras, atau pukulan maut balasannya. Bron pindah ke belakang Sasha, dia pegang denyut nadi wanita itu yang berdetak cepat.
Jojo melayangkan tangan ke atas, Sasha memejamkan mata melindungi kepalanya dengan kedua tangan yang menyilang.
“MULAI DETIK INI! KAMU KUPE—”
Jojo terdiam membeku, tangannya di tahan dengan tangan kanan Bron yang penuh otot bisep yang besar seperti gunung. Sasha menyipitkan matanya, dia melepas tangan Jojo yang menjambak rambut berkilaunya.
“Daripada kamu pecat, mending aku sewa Sasha sebagai asisten pribadiku, berapapun akan aku bayar,” kata Bron dengan santai menghitung uang di kantong jas hitam.
“Serius?” Jojo belum percaya.
“Nih, makan tuh 10 juta!” Bron menempelkan segepok uang tunai ke muka Jojo yang bahagia.
Tanpa bilang rasa terima kasih, Jojo langsung jalan keluar sambil mencium bau wangi uang pemberian Bron, Entah mau Jojo gunakan apa uang sebanyak itu.
Sasha diseret keluar oleh Bron, kalau sudah disewa mah harus manut, tidak boleh lancang membantah. Dari luar kantor sudah ada mobil Rubicon yang setia menunggu Bron.
Kenapa rasanya deg-degan jalan berduaan di samping Bron, Sasha membekap mulutnya sendiri.
“Terima kasih Pak Bron, meski anda jahat, berkatmu aku tidak jadi dipecat.” ucap Sasha bicara pelan.
Di kursi mobil paling belakang, Sasha berjejeran dengan Bron, pria itu menoleh ke arah Sasha dengan tampang wajah curiga.
“Apa kamu benar tidak tahu dimana Mandy kabur?” tanya Bron.
Kaki Sasha gemetaran, pikirnya kenapa ditanya lagi soal kemana kaburnya Mandy, padahal dia sendiri juga tidak tahu, sungguh.
“Demi apapun Pak, saya juga hanya tahu kabar Mandy kabur dari penjara Club anda dari asistenmu yang lain.” jawab Sasha menggenggam telapak tangannya.
Bron menganggukkan kepala pelan mengiyakan jawaban Sasha, kemudian dia keluarkan dua gulungan kertas dibalik kursi duduknya.
Dibukalah dua gulungan kertas tersebut menampilkan poster bounty kepala Mandy dan Ginny, tetapi tunggu ada yang berbeda dari poster kepala Ginny.
Mata Sasha melotot melihat wajah Ginny yang berdarah-darah seperti diguyur air hujan. Hidungnya mimisan dan bibirnya masih bisa tersenyum lebar untuk yang terakhir kalinya.
__ADS_1