MANDY

MANDY
Pertemuan


__ADS_3

Bohlam lampu-lampu di seluruh ruangan kantor dimatikan, anak-anak tim redaksi pulang bersamaan mengendarai sepeda motor matic yang kece dan keren. Duduk di sadel motor masing-masing sambil ngobrol sebentar sebelum tancap gas.


Dari belakang halaman depan gerbang kantor kaca, ada yang lagi duduk sambil mendekapkan kepala ke telapak tangan, dia perhatikan terus tuh canda tawa tim redaksi.


Siapa lagi kalau bukan Sasha Devagani yang habis kena marah Boss Jojo. Rasanya enak dan adem banget dengerin circle temen satu kantor yang memang sudah solid.


Sasha nggak biasanya mengalami kondisi ini pas lagi rajin atau niat kejar deadline target pasar berita koran yang ditentukan oleh Jojo. Namun setelah survei, eksplorasi bahkan wawancara di pasar Tawangmangu, hidupnya jadi makin berbeda.


“Aku harus perbaiki kesalahanku selam ini ke JoNews.co terutama Jojo.” kata Sasha berbicara sendiri.


Akan tetapi setelah mengatakan ucapan barusan, raut muka Sasha jadi makin murung dan memelas. dalam otaknya teringat kembali memori bersamaan dengan Andy selama ini.


Sisi baiknya Sasha mampu ulurkan tangannya apabila Andy butuh bantuan dalam hal pekerjaan. Sisi buruknya dia malah kena pelanggaran dari bos.


Hatinya yang halus berdegup kencang, Sasha menghentakkan kakinya pelan, berpikir apa yang harus lakukan untuk perbaiki kesalahannya.


“Aku jadi bingung, pilih Andy atau Jojo.” batin Sasha dalam lubuk hatinya.


Sasha masih tetap menunggu anak-anak tim redaksi hilang dari hadapannya. Lebih suka merenung sendirian seperti ini, daripada ngomong sendiri tetapi banyak telinga orang yang menguping.


Sasha coba menelpon nomor Andy, pasang layar hp di daun telinga. Bunyinya masih memanggil, belum ada respon sama sekali dari Andy.


Sayangnya panggilan terputus, bukan masalah koneksi internet, malah Andy sendiri yang memutuskan panggilan tersebut. Sasha tatap layar handphone-nya dengan kesal.


“Yailah, kenapa lagi sih Andy kok diputus panggilannya!” emosi Sasha.


Tim redaksi yang lagi naik motor sambil tancap pedal pun menoleh ke Sasha, mereka menjulurkan lidahnya lalu lambaikan dadah selamat tinggal untuk Sasha.


Tak ada balas ejekan dari mulut Sasha, dia hiraukan tim redaksi pergi pulang, sementara dirinya memilih tetap di kantor. Entah untuk apa jurnalis sekaligus loper koran ini di ruang komputer.


Sasha pun duduk santai di parkiran belakang kantor, lihat ke atas langit biru yang gelap, matahari berwarna oranye, raut wajahnya murung saat menatap bintang di langit.


Bintang warna merah itu hilang, yang tersisa cuma bintang putih yang cahayanya tidak mengkilap seperti dahulu. Setetes air mata berlinang di pipinya, teringat kembali bahwa bintang merah yang hilang di langit itu adalah Andy.


Sasha pegang dadanya dengan kedua tangan, kepalanya terus mendongak ke atas langit, berharap bintang merah itu muncul lagi.


“Apakah ini artinya Andy akan menghilang dalam hidupku?” tanya Sasha.


Awan-awan yang terpisah-pisah seperti puzzle bergerak menutupi matahari, Bola matanya Sasha terbuka lebar melihat ada satu bintang warna merah kelap-kelip jauh sekali dari bintang putih yang dia lihat.

__ADS_1


“Andaikan bintang putih itu jatuh menembus awan, semoga aku bisa wujudkan impian menjadi polisi wanita yang hebat.” batin Sasha.


Melangkah pergi dari parkiran, telinga Sasha mendengar ada suara ketukan pintu kaca berkali-kali, dia berjinjit pelan dan lihat kanan kiri. Mana mungkin anak tim redaksi balik lagi ke kantor, mereka selalu rajin dan tepat waktu.


Suara ketukan pintu semakin keras, Sasha mengangguk kepala yakin bahwa yang ketuk pintu barusan bukanlah karyawan JoNews.co


Sasha sedikit mengintip, rupanya orang yang mengetuk pintu sedari tadi bukan karyawan melainkan Robet yang berkostum seragam setelan serba putih seperti dokter pada umumnya.


“Halo mbak, kamu namanya Sasha kan?” tanya Robet acungkan telapak tangan.


“Bukan, namaku Devagani, maaf anda salah orang.” jawab Sasha pelan.


Dirasa ketemu orang asing, Sasha memutar bola matanya malas lalu masuk dorong pintu kaca. Begitu mau tutup pintu, Robet menghadang pintu dengan sepatunya.


Robet menahan pintu kaca sambil cari nama kontak huruf S di handphonenya, dia senyum-senyum sendiri lihat nomor kontak bernama Sasha Devagani.


Pintu kaca sengaja dibanting, sehingga kakinya Robet terjepit, menggigit mulut dengan giginya menahan rasa sakit. Sasha tertawa kecil melihat reaksi Robet yang matanya berkedip-kedip sambil mengelus kakinya yang sakit.


“Sakit mbak, tujuanku kesini buat kasih info survei di villa tua yang dihuni sama gelandangan dan pengemis, sungguh.” kata Robet to the point.


Sasha menutup mulutnya, membuka pintu kaca lebar-lebar, membiarkan Robet masuk ke dalam kantor JoNews.co. Mengelus dadanya pelan, Sasha lega masih dapat klien walaupun diluar jam kerja.


Robet suka jelajah keliling ke tempat-tempat orang kurang mampu, termasuk berinteraksi ke gelandangan yang selalu jalan-jalan tanpa henti sampai kakinya pegal demi cari makan.


Angka pengangguran memanglah banyak, tidaklah mudah dapet belah kasihan dari pemilik tenaga kerja yang cari lowongan kerja dengan serius. Mulut pedas bisa dirasakan oleh para gelandangan apabila ditolak mentah-mentah.


“Jujur aku kasihan sama mereka yang menetap di villa tua yang nggak punya hak tanah sepeserpun.” ujar Robet.


Potretan foto dokumentasi diserahkan ke tangan Sasha, wanita ini menatap foto-foto ibu muda yang senyum sambil pegang bayi dalam perut. Ada juga seorang pengemis berkulit coklat sawo matang rebahan di lantai dengan gitar ukulele sebagai guling untuk pelukan.


“Apakah ada orang lain lagi selain mereka?" tanya Sasha menuding foto dokumentasi.


Deghhh!


Robet menelan ludahnya, raut wajahnya terlihat bingung, grogi, dan mengetuk meja besi didepannya. Sedangkan Sasha malah angkat kepala kepo dengan handphone milik Robet.


“N-Nggak ada lagi kok mbak, cuma... yang di foto itu aja,” jawab Robet membalikkan layar hp.


“Oke, besok selesai kerja pagi ketemuan ya di villa tua itu, terima kasih Robet.” Sasha mengulurkan tangan kanan.

__ADS_1


“Sama-sama mbak Sasha, aku pamit duluan ya!” Robet balas jabat tangan Sasha.


Robet keluar dari kantor JoNews.co dia melambaikan tangan sambil tersenyum lebar ke arah Sasha yang lihat dari pintu kaca.


Emuach!


“Sampai jumpa besok mbak Sasha!" ucap Robet tertawa di akhir kalimat.


Sasha menatap dokter psikiater itu jijik, dia mengibas tangan ke arah Robet. Ketika sudah menghilang dari pandangannya, Sasha tutup pintu kaca sambil menahan senyum kecil.


......•••......


Pagi ini jalan raya ramai pejalan kaki yang berpakaian kemeja putih bawahan hitam, lewat trotoar menenteng tas ransel dan amplop coklat besar tersegel manik-manik warna merah.


Andy yang pakaiannya belum ganti dari kemarin sudah tidak heran lagi bertemu banyak remaja tengah berbondong-bondong cari lowongan kerja.


Dia jalan kaki bawa peralatan pembersih selokan, untuk kedua kalinya Andy berangkat kerja tanpa arahan atau informasi dari Sasha langsung. Bekerja sendirian sudah terbiasa bagi lelaki psikopat yang satu ini.


Lampu lalu lintas berwarna merah terang, orang-orang bersusun rapi lewat zebra cross. Saat menyebrangi zebra cross, Andy berpapasan dengan dua polisi The Punk yang pegang tongkat hitam.


Awalnya Andy terdiam sejenak membelokkan badannya, tetapi matanya yang jeli bisa lihat dibelakang mereka ada Sasha yang menunduk kepalanya.


Andy ambil kesempatan jalan maju, lalu menghadang polisi The Punk dengan merentangkan kedua tangan.


“Tumben nggak naik sepeda onthel, ternyata punya bodyguard sendiri, keren!” Andy tunjuk jari jempol kanan.


Sasha menyela dua polisi The Punk, karena situasi di jalan raya lagi ramainya. Sasha pergi begitu saja menyenggol pundak Andy tanpa berkata apapun.


“Oooh jadi gitu ya, mentang-mentang dikawal polisi The Punk, aku dikacangin kayak anak kecil.” ujar Andy nada suaranya tinggi.


Dua Polisi The Punk itu menodong pistol sambil maju menghampiri Sasha yang langkahnya terhenti di bawah tiang lampu lalu lintas.


“Jauhi aku, mending kamu kabur daripada ditembak.” tegur Sasha dengan nada suara tinggi.


Sasha serta pengawalnya berdiri tegak di trotoar jalan, lampu lalu lintas berganti kuning, Andy jalan mundur sambil menatap jauh Sasha yang raut wajahnya cemberut tidak suka padanya.


Ingin sekali rasanya barbar di tengah zebra cross, gendong paksa Sasha bawa kabur pergi jauh dari polisi The Punk. Namun masih ingat kalau ini ruang publik, apalagi banyak orang.


Suara knalpot motor dan mobil membuat kedua telinga Andy berisik, dia masih menatap Sasha dari jauh yang berjalan cepat meninggalkan area zebra cross tanpa melirik Andy.

__ADS_1


Rasa hati ini terasa halus, lantaran apa yang terjadi pada Sasha, itulah pikiran yang masih tertanam di dalam otak Andy.


__ADS_2