MANDY

MANDY
Menebus Kesalahan


__ADS_3

Suara mesin mobil derek tang sampai di penampungan sampah, membuat semua pembersih sampah terdiam sejenak menjatuhkan alat-alat mereka. Sama halnya dengan Ben, matanya melotot melihat kondisi mobil pick up yang sudah rusak parah.


Ben meremas rambutnya dengan kedua tangan, tidak menyangka bahwa mobil pick up yang digantung dengan kail berakhir bobrok, masih ada asap-asap kecil yang mengepul di bumper depan.


Supir mobil derek turun dari mobil, diikuti rekannya yang mengusung sampah barang bekas milik kakek tua.


“Lho, supir mobilnya mana? kok nggak ada di kursi kemudi.” tanya Ben serius memicingkan matanya.


Ben melangkah maju mengecek bagian kursi kemudi, ketika pintunya dibuka, cipratan darah kering ditemukan di kaca yang pecah dan setir mobil. Ben melongo tidak percaya, dia mengucek matanya sekali, memang yang dilihatnya sekarang sungguh nyata.


“Ya ampun supir langgananku, apa yang telah terjadi padanya, gimana nasib Andy dan kakek tua itu?” tanya Ben geleng kepala menjambak rambutnya.


Tepat saat itu suara klakson kang bakso dari kang becak datang ke penampungan, Andy dan kakek tua baru pulang. Andy sempat terdiam membeku lihat Ben yang tampak kecewa.


Kakek tua itu ikut berjejeran dengan pembersih sampah lainnya, Ben menggeledah semua barang-barang di kursi kemudi. Sebuah sumbu gas air mata kecil, bentuknya seperti peluru sniper ditemukan di bagian bawah rem.


Andy baru kembali menginjakkan kaki ke penampungan sampah, pembersih sampah lain malah mengepung Andy dengan tangan mengepal, raut wajah mereka polos tanpa ekspresi, kemudian ada salah satu pembersih sampah yang menyela maju ke depan.


"Lihat tuh mobil, gara-gara kau Ben kesusahan mengirim material bangunan ke pembangunan masjid!" bentak si pembersih sampah.


Andy menundukkan kepala , merasa bersalah atas kecelakaan tadi yang meregang nyawa sang supir. Dia telan semua kemarahan pembersih sampah yang peduli terhadap Ben. karena Ben kerjaan pembersih sampah makin menumpuk dan meningkat pesat.


“Aku yang salah, gagal menyelamatkan supir ketika polisi The Punk menghujani bak mobil pick up dengan gas air mata.” Andy menundukkan kepalanya sangat menyesal, bola matanya berair.


Dari belakang Ben merangkul Andy, dia tepuk pundak kanan temannya itu dengan lemah lembut, menenangkan hati Andy yang tersakiti.


Para pembersih sampah saling berbisik-bisik menggosip Andy secara pelan dari telinga satu ke telinga yang lain.


Andy tak begitu mendengar dengan jelas suara pembersih sampah yang mayoritas pengangguran kalangan dewasa. Bahkan yang sesepuh pun pilih diam daripada ikut berbisik-bisik.


Sirine lampu merah biru mengagetkan orang-orang, mobil ambulan tiba di penampungan. Keranda mayat diturunkan memakai matras beroda empat.


Air mata Ben mengalir deras di pipi, tangisannya pecah melihat supirnya yang sudah terlilit kain kafan. Ben angkat kedua telapak tangan ke dada, seraya berdoa memohon kepada Tuhan agar amal ibadah serta kebaikan sang supir diterima di sisi-Nya.


“Pecat Andy Pak! daripada sialnya menular ke anak buah yang lain,”


“Betul Pak! tendang Andy jauh-jauh dari sini!” ucap para pembersih sampah dengan suara lantang.

__ADS_1


Ben rentangkan tangan ke depan, menegur pembersih sampah agar tenang dan tidak main hakim sendiri. Andy jalan lemas ke rumah kayu, tetapi dia dihadang oleh pembersih sampah dengan tangga kayu yang panjang.


Andy berbalik arah, berjalan lemas pandangan ke atas langit “Baiklah kalau begitu, aku izin resign dari pembersih—”


“Tunggu Andy, jangan pergi!” potong Ben pegang lengan Andy.


“Ikutlah denganku, ada pekerjaan yang cocok untukmu.”


“Baik, Ben.” sahut Andy menurut dituntun tangannya oleh Ben.


Sengaja menjauhkan Andy dari pembersih sampah yang protes, Ben niat bawa Andy ke proyek bangunan masjid yang letaknya di pertigaan jalan raya pasar Tawangmangu.


Dilihat dari pekerja kuli hampir semuanya berotot lembek, banyak lemak, kurus seperti asbes triplek yang mudah retak ketika diterpa hujan deras.


Ben melempari helm kuning yang ditangkap tangkas oleh Andy. Ben pijat bahu dan pergelangan tangan Andy dengan keras.


“Aku tak mau memecat pahlawan di pasar ini, sebagai gantinya kamu kerja bantu membangun masjid.” kata Ben tersenyum mulutnya miring.


Rombongan orang gotong angkat keranda mayat ke makam TPU Samaan. Bersama-sama ucapkan kalimat syahadat mengiringi keranda yang terbungkus kain hijau kuning panjang.


Andy lekas ambil cangkul dan celurit, bergegas menyusul para peziarah dari belakang. Ben menghela nafas lega, mulutnya tersenyum melihat reaksi Andy langsung ikut bantu menggali kuburan.


Ben kerja duluan ke proyek bangunan masjid, dia biarkan si Andy membantu gali kubur terlebih dahulu. Pembersih sampah kembali bekerja seperti biasa, sekarang mereka bergantung ke mobil truk besar yang banyak menampung sampah-sampah berkualitas yang bisa di daur ulang.


Bisa jadi mobil segede jerapah itu akan bergilir dengan satu ton semen tiga roda, aluminium, mebel kayu dan lain-lain. Berharap kejadian kecelakaan supir pick up tidak terulang kembali.


...***...


Sasha turun dari sadel motor, menghiraukan sang driver ojek pribadi yang mengulurkan tangan tanpa berkata apapun. Memang kalau lagi senang-senangnya, terkadang melupakan jasa seseorang yang sudah membantu.


Puluhan lembaran uang 50 ribu diikat karet tebal, Sasha banting pintu kantor Boss Agent sampai kopi panas di meja kecil bergetar menumpahkan setetes air.


“Bisa pelan-pelan nggak sih buka pintunya, ada masalah ya?” tanya Boss Agent coba menebak.


“Kiriman koran ke klien Agent News berjalan lancar, sekarang berikan gajinya dan aku akan pergi dari sini.” jawab Sasha jari telunjuknya mengetuk keras meja kecil.


Sasha dorong pintu kaca kantor Agent News, dia cium bau amplop persegi panjang yang tebal, wangi bau harumnya uang.

__ADS_1


Sang Driver melongo memandang Sasha yang cium-cium amplop, wanita itu menjejal mulut driver dengan selembar uang warna biru, dia kenakan helm lalu lompat naik ke sadel sepeda motor.


“Ke Pasar Tawangmangu, sekarang!” kata Sasha menepuk helm driver.


“Baik, mbak Sasha!” sahut Driver ojek pribadi.


Sudah lama Sasha tidak melihat batang hidung Andy dari hadapannya, mungkin inilah waktu yang tepat untuk menemuinya. Dalam perjalanan, kepala Sasha mendongak ke atas langit sore hari yang berwarna oranye.


Sasha ingat blog artikel koran Agent News, dia pajang foto selfie bersama Andy awal wawancara. Dia tahu rangkaian kata inspirasi hidup yang Sasha ambil selama kenal dekat dengan Andy. Mulai dari kegilaan sampai jiwa psikopat demi jadi pahlawan.


Entah apa reaksi Andy ketika menerima gulungan koran Agent News terbaru yang digenggam oleh Sasha. Menguji seberapa marahnya Andy ketika kisah hidupnya jadi sorotan utama dalam koran buatan Sasha.


...***...


Turun ke penampungan sampah, Sasha bolak-balik tanya ke setiap pembersih sampah, tetapi respon mereka cuma diam dan menuding ke arah TPU Samaan yang ramai peziarah. Mereka cuma tunjuk arah tanpa membuka resleting mulut yang ditutup rapat.


Sasha tengok kanan kiri menyebrang jalan raya, dia masuk ucap salam sebelum injak kaki dalam pemakaman. Sudah berjejeran orang fokus melihat seorang lelaki yang menggali kubur, melubangi liang lahat dengan dua jenis cangkul, satu cangkul vertikal dan horizontal.


Kaos kutang hitam dan celana jeans, tidak pakai jaket tentara abu-abu dan


topeng karung beras ciri khas Mandy. Keringat membasahi dada dan punggung Andy. Dia gali kubur sendirian dipandu oleh orang di atas liang lahat.


Tangan sebesar pisang ambon menepuk pundak Sasha, wanita itu pun reflek lihat ke belakang.


“Tumben kamu mampir ke sini, mau ketemu Andy ya?” tanya Ben keningnya terangkat seperti ombak.


“Ya Pak Ben, aku harus ngobrol empat mata dengan Andy, ini sangat penting,” Sasha berikan gulungan koran ke tangan Ben.


Ben tengok ke dalam laing lahat, Andy tampak masih bersemangat sekuat tenaga walau raut wajahnya memerah. Ben menggelengkan kepala, mungkin lelaki psikopat itu sedang sibuk dan tidak boleh diganggu.


“Maaf Sasha, sepertinya Andy sedang sibuk banget hari ini, biarkan dia menebus kesalahannya.” kata Ben memelankan suaranya.


Kepala Ben terangkat sedikit, dia baru ingat tentang sesuatu yang harus diketahui oleh Sasha. Merogoh saku celananya, menyerahkan sobekan kertas buku.


“Ini apaan Pak Ben?”


“Kamu boleh survei rumah lama Andy dari alamat tersebut, jangan lupa bawa senter.”

__ADS_1


Dilipat sobekan kertas itu seperti origami, lalu dimasukkan ke saku kemeja Sasha. Dia kembali melihat Andy dari kejauhan, lihatlah lelaki itu yang handal mengukur tanah kubur sesuai tinggi badan mayat korban.


Sasha berjalan melirik ke belakang, Andy berteriak tidak jelas membangkitkan api semangatnya yang berkobar. Meskipun belum bertemu tatap muka dengan Andy, Sasha berkesempatan survei ke rumah Andy, dengan begitu dia semakin tahu hubungan adik kakak antara Andy dan Ginny.


__ADS_2