
Sasha membuka mata pelan-pelan, baru sadar kalau dari tadi sudah terbaring di sofa empuk model kantoran. Di depan mukanya ada dua karyawan Agent News yang berpakaian setelan serba hitam ditambah aksesoris kacamata Spycam yang punya dua lubang kamera pengintai kecil di samping kiri kanan.
“Selamat datang di kantor Agent News, nona Sasha!” salah satu karyawan ulurkan tangan.
“Singkirkan tanganmu! aku mau pulang sekarang juga.” Sasha menghentakkan kaki meninggalkan ruangan.
Tiba-tiba garis laser merah muncul di depan muka Sasha, hampir saja ujung hidungnya yang mancung terbakar. Sasha balik badan, todongan senjata pistol mengarah ke kepalanya.
Cuma bisa pasrah, Sasha angkat tangan lalu duduk lagi di sofa. Lihat sekitar tidak ada jendela atau ventilasi bolong untuk kabur. Sasha tundukkan kepala berpikir bagaimana cara bisa keluar dari kantor Agent News yang isinya orang intel bersenjata.
“Turunkan senjata, kosongkan ruangan!” ujar Boss Agent News.
Di ruangan ber-AC yang luas dan dinding yang dihiasi lampu warna warni, dua orang saling berhadapan. Boss Agent News senyum-senyum sendiri menatap paras wajah cantik Sasha yang cemberut.
Di depan meja kaca, Sasha diimingi oleh plastik bening berisi badge polisi warna emas. Dia buka mulut lebar-lebar, sang Boss mengayunkan plastik bening, mengecoh Sasha yang mencoba mengambilnya.
“Diam, turuti semua perintahku jika kau ingin mendapatkan badge langka ini.” kata Boss Agent menyembunyikan kedua tangan.
Sasha menyeringai, ingin banget tendang burung Boss Agent, tetapi dirasa kantor ini yang punya penjagaan super ketat, Sasha pun mengangguk kepala pelan, matanya terus menyoroti badge emas polisi yang berkilauan.
Boss Agent News tidak main-main, dia serahkan laptop Lenovo model kantoran ke Sasha, kertas bounty kepala Mandy dan brosur Agent News juga diletakkan di samping laptop, Sasha tahu kerjaannya masih sama seperti di JoNews.co.
“Aku ingin berita koranku laku keras banyak pelanggan, kerja yang bener, paham!”
“Siap Bos!” Sasha salam hormat sambil tersenyum.
Suara ketikan keyboard yang renyah seperti krispi dirasakan Sasha, gerakan jemari yang begitu cepat dan akurat merangkai kalimat, di buktikan kemampuannya di JoNews.co. Entah apa strategi marketing Agent News akan lebih baik daun dibanding Jojo yang sudah kehilangan karyawan favoritnya.
“Setelah beres kerja, aku harus cepat keluar dari sini, makin ngeri kalau udah dijagain agen mata-mata.” kata Sasha berbicara sendiri.
...•••...
Mata Andy melotot tajam setelah siuman dari kecelakaan mobil pick up, disampingnya sudah ada kakek tua yang disuap kapsul oleh dokter. Kemudian tutup botol minyak kayu putih dibuka, kakek tua itu mencium bau aroma wangi yang membuat dirinya makin tenang.
Namun tidak dengan orang yang dibalik tirai hijau samping kanan Andy, seorang suster jalan cepat sambil bawa kain kafan. Pertanda bahwa ada orang yang meninggal.
Andy lancang buka tirai hijau, betapa terkejutnya ketika melihat salah satu dokter yang pegang nampan silver berisi pecahan kaca yang berdarah. Saking penasaran, Andy menerobos masuk ke tirai hijau.
“Dok, jangan bilang mayat ini supir pick up itu ya!” Andy tuding kepala korban yang terlilit perban seperti mumi.
“Ya, otaknya bergetar kencang, sarafnya terbuka longgar hingga infeksi, sayangnya dia sudah meninggal.” jawab pelan Dokter.
Bola mata Andy bergetar, dia pukul kotak P3K sampai penyok, terbawa emosi dan merasa bersalah atas kecelakaan tadi. Andy coba ditenangkan oleh dokter yang menepuk pundaknya.
__ADS_1
“INI SEMUA GARA-GARA THE PUNK!” jerit Andy emosinya tidak terkontrol.
Dokter dan suster coba tenangkan Andy, tetapi mereka malah didorong menabrak lemari kaca besi.
Tanpa kenakan jaket tentara abu-abu, Andy nekat meninggalkan rumah sakit, dari belakang si kakek tua berusaha jalan pegangan tembok menyusul Andy yang sudah di parkiran sepeda motor.
Andy mendorong orang-orang yang lagi antre giliran vaksinasi, sebagian orang mengelus dada ketika berpapasan dengan Andy. Sedangkan dari belakang, si kakek tua jalannya lambat banget seperti kura-kura. Ya mau gimana, stamina beda jauh.
Berhenti di depan parkiran sepeda motor, Andy tengok kanan kiri, entah apa yang dia cari.
“Ya ampun baru ingat tadi kecelakaan, mobilnya pasti rusak parah, mending aku cari tumpangan.” Andy garuk kepala.
Dari belakang kakek tua sudah megap-megap pegang dada nggak kuat lagi kejar Andy. “Mas Andy, terus saya gimana?” tanya kakek tua menyipitkan matanya.
Andy pun ulurkan tangan, rasanya nggak tega meninggalkan orang sesepuh, bernasib sial, dan tepar di rumah sakit. Melihat ke arah jalan raya, kepala Andy terasa pusing, muncul kunang-kunang dalam penglihatan matanya.
Mencoba bercermin di kaca spion mobil, Andy melongo menatap bagian matanya yang berwarna putih berubah menjadi merah kehitaman. Dia sentuh kelopak mata, tidak terasa sakit ataupun nyeri.
“Wah mataku memerah seperti vampir, gas air mata benar-benar bikin mata perih.” kata Andy mengelus alisnya.
Andy bingung menoleh kanan kiri jalan raya tidak ada pangkalan ojek bahkan angkot lewat. Terpaksa harus kuatkan tenaga berjalan kaki.
Kakek tua yang jalannya lembek, lemas kurang makan nasi, dan butuh uang ingin kembali ke pasar Tawangmangu. Serangan gas air mata bikin sesak nafas apalagi sambil lari.
“Mas Andy, kalau marah jalannya pelan-pelan, saya sudah tua.” ucap kakek tua sambil tepuk kakinya.
Andy putar-putar kepala, sudah lama tidak menjumpai preman pemalak di jalan raya.
...•••...
Pemulung sampah memeluk karung beras mencoba melindungi barang-barang bekas yang ditendang sama preman, merengek minta ampun sambil tunduk bersujud, makin edan preman jaman sekarang.
“Keren banget kacamatanya bang, aku pinjam dong hehe!” Andy lancang mencabut kacamata yang gantung di daun telinga preman.
Kakek tua mengintip aksi Andy dari balik tiang lampu lalu lintas, tidak mau ikut campur orang dewasa macam Andy. Duo preman saling tarik kaos polos hitam Andy yang luntur dan halus, sedangkan Andy angkat kacamata setinggi langit.
Cairan ludah menempel di pipi Andy, rasanya lebih bau dibanding orang yang jarang gosok gigi, sudah jelas banget duo preman ini tidak pernah mandi.
“Sudah cukup main-mainnya ya!” ujar Andy pakai kacamata merah dengan santai.
Kepala duo preman saling dibenturkan kepalanya, Andy pukul bagian dagu mereka sampai bunyi 'Kretek!!' lalu muntah darah merah kental.
Duo preman pun tepar tidur telentang di pinggir jalanan, sorotan mata pengguna jalan raya tertuju ke Andy yang menghampiri pemulung sampah.
__ADS_1
“Wah! Mas Andy jago banget tarungnya, terima kasih sudah tolongin saya.” ucap pemulung sampah menggenggam kedua telapak tangannya.
Sudah nggak asing lagi bila bertemu pemulung sampah di jalan raya, mereka sudah kenal dengan sosok Andy yang jadi pahlawan di pasar Tawangmangu.
Andy coba bertanya ke si pemulung, pernahkah dia lihat mobil polisi berlogo tengkorak berlalu-lalang di wilayah Lavalette. Namun pemulung sampah cuma geleng-geleng kepala.
Beres dengan duo preman, Andy dan kakek tua pun lanjut berjalan santai sambil bercakap-cakap. Mereka pasrah pilih jalan kaki sampai dapat tumpangan, entah dari angkot, mobil pick up atau truk besar.
...***...
Sasha merasa cukup lega dan senang karena kerja loper koran diantar oleh driver ojek pribadi Agent News, daripada lelet, capek naik sepeda onthel, rantai gampang copotan malah bikin pusing kepala.
Entah ini sebuah kebetulan, driver ojek Agent News ini malah nyasar sampai melewati pabrik tahu milik Brondong. Sasha yang tahu tempat itu, langsung tepuk kaca helm driver sampai mendadak rem.
“Aku berhenti di sini aja, tunggu dulu sebentar ya!”
“Lah korannya masih banyak mbak Sasha, kasihan klien Boss Agent yang nungguin,”
“Bodoh amat sama klien Bos Agent, aku harus ketemu sama Brondong.” Sasha turun loncat dari sepeda motor driver tanpa lepas helm.
Sang Driver berdecak kesal sambil hentakkan kaki kesal, terpaksa duduk di sadel sepeda motor sembari menunggu Sasha kembali.
Tanpa disadari Andy dan kakek tua jalan melewati sang driver tanpa tengok ke arah pabrik tahu. Mereka berdua masih asyik ngobrol berduaan.
Sementara itu di depan pintu besi pabrik tahu, Sasha terdiam membeku ketika melihat dengan kepala matanya sendiri bahwa Bron sedang merangkul pundak seorang wanita berjilbab warna hitam menutup wajahnya. Mereka berdua juga berpelukan cium pipi kiri kanan, sepertinya Bron sudah lama berhubungan dengan wanita lain.
“Tuan Bron!!” panggil Sasha nada suara tinggi.
Bron terkejut ketahuan Sasha dari belakang, dia langsung sandarkan kepala wanita lain ke dadanya, seraya menyembunyikan rupawan wajah si wanita tersebut.
“Sasha, tumben kamu datang kemari, sudah puas kerja sama Agent—”
“Rupanya selama ini anda punya wanita lain ya, katakan siapa dia?” potong Sasha bertanya serius, tangannya mengepal kuat.
Bron mengelus rambut coklat dan mengecup kening wanita di pelukannya.
“Wanita ini penggantimu Sasha, aku tidak butuh kamu lagi, tujuanku hanyalah untuk memisahkan dirimu dengan Jojo dan Mandy.” jawab Bron tertawa di akhir kalimat.
Dua polisi The Punk anak buah Bron pun menarik tangan Sasha menyeretnya keluar dari pabrik tahu. Sasha berusaha melawan, tetapi tangannya diremas oleh polisi The Punk.
“Lepaskan tanganku! aku harus bicara sama Bron tentang kasus kematian Ginny, dia pasti tahu segalanya.” kata Sasha suaranya serak.
Gerbang utama pabrik tahu dikunci rapat, Sasha ditendang hingga jatuh keluar gerbang. Dia pukul gerbang yang terbuat dari besi dengan kepalan tangannya, selama ini dia cuma dimanfaatkan oleh Bron, Jojo juga mudah percaya pula sama dia.
__ADS_1
“Aku harus kasih tahu fakta kasus kematian Ginny kepada Andy, banyak informasi yang sudah menumpuk dalam otakku.” batin Sasha.
Mau tidak mau Sasha lanjut boncengan sama driver ojek Agent News demi antar pesanan klien. Dia tidak mau dirugikan lagi oleh atasannya. Setelah ditawar badge polisi, Sasha harus kerja keras demi menggapai impian menjadi polisi wanita.