MANDY

MANDY
Bermain Kasar Tanpa Ampun


__ADS_3

Andy dorong gerobak sampah dinas kebersihan yang warnanya kuning ke area parkiran mobil angkot. Sampah organik, anorganik dijadikan satu menumpuk hingga berjatuhan karena diterpa angin.


Pembersih sampah lain beri komando bahwa bagi yang sudah mengumpulkan banyak sampah melebihi kapasitas gerobak boleh merapat menerima amplop warna coklat.


Ada perwakilan pembersih sampah yang amanah banget disuruh amankan amplop dari korupsi. Andy-lah salah satu pekerja yang berhasil mengumpulkan sampah segunung. Yang bikin gerobak Andy tambah berat adalah temuan sepeda bekas, dan ban mobil bekas yang berlubang.


“Kerja bagus Mas Andy, kinerjamu benar-benar totalitas,” ucap pembersih sampah.


“Terima kasih banyak, senang membantu kalian semua, aku pamit duluan ya!” jawab Andy mengangkat tangan kanan yang pegang amplop coklat.


Mata Andy fokus lurus ke depan tanpa lihat belakang, karena saku celana jeans-nya bolong, Andy pegang kuat-kuat amplop coklat agar tidak diserang ninja atau jambret yang asal comot harta orang.


Setelah lama bekerja, Andy merasa bosan apabila rebahan selama berjam-jam di rumah kayu yang hanya ditempati olehnya. Dia jalan kaki cegat tukang ojek untuk antarkan pergi ke rumah sakit Lavalette, kangen ketemu bayi lelaki mungil.


...***...


Sudah seminggu sang ibu muda bersama Mandra terisolasi di ruang rawat inap, tingkatan gizi lancar, mereka berdua sehat dan bahagia.


Dua gelandangan lelaki penghuni villa tua juga masih setia menjaga 24 jam, raut wajah murung tidak kerasan terus menerus menetap di ruang rawat inap. Sebentar lagi harus segera keluar dari rumah sakit, bingung mau tinggal kemana lagi.


“Halo, semuanya, sudah lama nggak menengok Mandraguna di sini, kangen banget.” ucap Andy melambaikan tangannya.


Begitu melihat Andy, Mandraguna yang di pelukan sang ibu, berusaha berdiri jongkok dengan pahanya, dengan bahasa bayi dia angkat kedua tangan ke arah Andy.


Andy membungkuk setengah badannya, dia meraih tangan kecil, halus Mandraguna. Bola mata bayi lelaki itu besar, tampaknya dia juga kangen sama Andy.


“Mas Andy, kondisiku sudah membaik, gimana kalau kita pulang ke villa tua lagi?” tanya ibu muda pindah posisi duduk selonjoran.


“Villa tua itu sudah tidak aman lagi bagi kalian karena ketahuan polisi The Punk, lebih baik ikut aku ke pasar Tawangmangu.” jawab Andy.


Rambut tipis Mandra dielus-elus oleh Andy, dia tidak mau penghuni villa tua terlibat masalah dengannya. Tamatlah sudah bila mereka dalam cengkraman Bron.


Pada hari itu juga, penghuni villa tua mengemas barang-barangnya pindah ke pasar Tawangmangu. Selain itu Mandra butuh kebutuhan bayi, mulai dari susu, popok, makanan, dan pakaian bayi.


Kedatangan Mandra disambut hangat oleh pembersih sampah di penampungan, banyak sorotan mata yang ingin bergantian menimang dan menggendong bayi lelaki tersebut.


Pejalan kaki berkumpul di penampungan bukan hanya untuk buang sampah tetapi melihat bayi Mandraguna. Satu pangkuan ke pangkuan tangan lainnya dirasakan oleh bayi itu, tidak ada senyuman yang memancar lewat bibirnya.


“Minggir kalian semua! sini gantian aku yang gendong.” pria gembel menyela orang-orang yang berkerumun.


Andy memicingkan matanya mata ke pria gembel, merasa curiga kenapa bisa ada pria gembel masuk ke penampungan sampah. Anehnya pria ini memakai sepatu hitam kantoran yang baru disemir mengkilap.


Mandra menangis ditimang oleh pria gembel yang tertawa, mulutnya dibekap tangan kotor penuh debu pasir. Seperti biasa sudah sedia pisau dapur di genggaman tangan Andy.

__ADS_1


Pria gembel langsung gerak cepat berlari tergopoh-gopoh sambil menggendong Mandra. Semua orang berkoar-koar terutama Andy yang sudah mengejar duluan.


Tangisan Mandra terdengar hingga ke kuping pedagang pasar lainnya, teriakan maling membuat pengunjung menutup pagar besi yang mengarah ke jalan raya besar.


“Hahaha!” tawa pria gembel.


Bruaakkk!


Pria gembel menabrak kakek tua yang menuntun sepeda onthel pengangkut barang bekas.


Oeeekkk!


Mandra terjatuh terlentang di kardus bekas yang berantakan, syukur tidak terbentur jalan beraspal. Karma itu nyata.


Pria gembel menendang kepala kakek tua, menggendong Mandra kedua kalinya. Namun sayang dia merasa ada hawa iblis yang sudah berdiri di belakangnya.


“Kembalikan Mandra padaku.” ucap pelan Andy tapi tajam.


Kaki pria gembel bergetar, kedua tangannya lemas. Dia berbalik badan membelakangi Andy.


“Dia ini anakku bukan anakmu, dasar tukang sampah!” bentak pria gembel sok berani.


Aaaakhhh!!


Leher pria gembel disayat dengan pisau dapur, darah segar mengucur ke dadanya, kakinya di jegal sehingga duduk membungkuk di hadapan Andy.


Pria gembel itu jalan merangkak sambil pegang lehernya yang berdarah, dia ulurkan tangan ke orang-orang seraya meminta bantuan.


“Aduuuhh sakit, ampun bang!!” pria gembel menangis geleng kepala setelah bola kakinya diinjak Andy.


Menghajar tanpa ampun, Andy menjambak rambut pria gembel, menyuruhnya berdiri bertatapan muka.


“Berani sekali mau menculik anak orang, katakan siapa orang yang menyuruhmu?” tanya Andy matanya melotot.


“Polisi.... tengkorak.... dia yang menyuruhku menculik anak bayi ini.” jawab pria gembel bicara sambil mewek.


Andy menoleh ke orang-orang yang merekam aksinya, dia dekatkan 3 handphone ke arah wajahnya, lalu mengembuskan nafas agar bicara tetap santai.


“Woi Bron, Jojo, kalian boleh bawa Sasha, tetapi jangan harap bisa mengganggu hidupku. Jika sampai Sasha celaka, maka—”


Andy gunakan pisau dapur berpura-pura menggorok lehernya menatap ke kamera handphone, sudah beres dengan pria gembel pesuruh polisi The Punk. Andy pun tinggalkan keramaian.


...***...

__ADS_1


Mulut Sasha menganga lebar melihat produksi satu pack kokain dalam kotak kardus yang di cap logo The Punk. Yang awalnya cuma satu bungkus dicetak jadi selusin dalam kotak.


Sasha lihat dengan mata kepalanya sendiri di dalam pabrik tahu yang entah kenapa Bron punya bisnis pabrik yang dia gunakan untuk membuat narkoba jenis kokain.


“Selamat datang di rumah produksi kokain ala Brondong, tugasmu membuat video dokumenter seputar produksi di pabrik ini." ucap Bron merentangkan tangannya.


Dalam hati Sasha ingin banget menolak tegas permintaan Bron, setelah mengejar deadline target koran edisi terbaru di JoNews.co, kini dihadapkan dengan berbagai mesin pencetak narkoba jenis kokain.


“Siap laksanakan pak, saya akan lakukan yang terbaik,” Sasha beri salam hormat.


“Jangan kabur ya, aku tunggu diluar.” jawab Bron.


Ruangan produksinya berisik banget, suara mesinnya keras tidak bisa dikecilkan. Berbekal kamera handycam dan handphone gepeng, Sasha mondar-mandir kesana kemari, wajahnya terhalang kamera yang di atur angle transisi untuk merekam video sambil berbicara.


Drrtttt!


Handphone berdering di saku celana, ketika menatap layar yang kontrasnya begitu cerah, terdapat kiriman video dari email tim redaksi. Ternyata video Andy marah-marah di tengah banyak orang jadi viral di media sosial.


Sasha cuma bisa menutup mulut dengan tangannya menonton video Andy yang kena sensor di bagian pria gembel yang sudah dia siksa.


“Andy, kamu benar-benar orang yang kejam ya, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.” kata Sasha berbicara sendiri.


Kata-kata yang terlontar lewat mulut besar Andy dalam videonya memang sungguh-sungguh, dia mulai bermain kasar tanpa ampun ke para penjahat yang berani mengganggu hidupnya.


Hanya karena Mandra sempat diculik di pasar Tawangmangu, Andy langsung tindak diluar batas. Meski videonya disensor tetapi Sasha masih bisa bayangkan leher pria gembel yang bersimbah darah segar, dan rambut yang acak-acakan.


Sasha pun keluar gerbang pabrik, menemui Bron yang asyik merokok bersama polisi The Punk lain. Sasha perhatikan rokok yang dihisap oleh Bron, tidak ada garis warna coklat di ujung rokoknya.


“Permisi pak, coba lihat video ini.” Sasha tunjuk layar handphone tepat di muka Bron.


“Hahahaha, sudah gila Mandy ini sejak lahir, kamu harus jauh-jauh darinya, Sasha.” jawab Bron.


Reaksi Bron ketawa sambil batuk-batuk menonton video Andy marah-marah, beraninya lelaki psikopat itu menantang Bron dan Jojo.


Sasha terdiam hanya menurut saja apa kata bos barunya yaitu Brondong. Tidak peduli mau pemimpin The Punk, pemilik Club berkedok rumah tahanan, penjual narkoba yang terpenting bagaimana cara Sasha membongkar kasus kematian Ginny.


Kemudian ada polisi The Punk lain berjalan di tempat maju menghadap Bron.


“Lapor Tuan, kami menemukan rekan yang tak sadarkan diri di sebuah gang kecil, selain itu penculikan bayi ibu muda telah gagal total.” ucap polisi The Punk posisi tangan salam hormat.


Bugh!


Bron menendang keras perut polisi The Punk hingga jatuh membungkuk. puntung rokok yang menyala dilempar ke kepala polisi The Punk.

__ADS_1


Bron berdecak kesal, tangannya mengepal kuat, dia garuk jari jemari tangan yang terasa gatal. “Waktunya melakukan rencana B.” batin Bron.


Bron tersenyum lebar, mengedipkan matanya ke arah Sasha sambil anggukan kepala. Dilihat seperti itu, Sasha memalingkan pandangannya, dia harus tetap waspada apabila Bron berani bertindak aneh-aneh kepadanya.


__ADS_2