
Turun dari angkot setelah beri ongkos ke supir, Andy kembali lagi ke villa tua, membawa 3 bungkus mie pangsit yang akan dibagikan ke penghuni yang perutnya belum terisi.
Mengamati jejak kaki sepatu di lantai, Andy sudah tebak bahwa Sasha dan polisi The Punk memang benar mampir ke villa tua ini. Entah apa reaksi para penghuni setelah bertemu polisi The Punk yang seraya ingin menggerebek, semoga saja tidak ada yang ketakutan.
Begitu membuka pintu kamar yang sudah reyot dan retak, ketiga penghuni lain menatapi Robet memakai jas dan jaket, seperti dia akan segera pergi dari tempat ini.
Baru aja masuk, 2 lelaki gelandangan berkulit coklat muda berbaris ke hadapan Andy, ulurkan tangan ke bawah meminta makanan yang dibawakan Andy.
Andy tersenyum rapat, dengan senang hati dia berikan 2 mie pangsit ke dua lelaki gelandangan tersebut. Namun raut wajahnya berubah melas ketika ibu muda yang duduk di kursi goyang sakit perut, dia tahan kuat-kuat perutnya yang sudah mengembung tinggi bagaikan gunung.
“Robet, mau kemana kamu?” tanya Andy.
“Aku harus pulang karena ada tamu pasien pengidap OCD yang butuh pertolonganku,” Robet melangkah cepat keluar pintu.
Tangan kiri Andy menahan dada Robet, dia pandang mimik wajah Robet yang terlihat gugup dan berkeringat. Rasanya ingin membentak Robet, tetapi dia ada urusan lain di rumahnya.
Sedangkan Robet melirik ibu muda yang lagi hamil, dia tidak bisa berbuat banyak apalagi membantu lahiran anaknya. Dia merogoh saku kemeja putihnya, memberikan brosur rumah sakit Lavalette ke Andy.
“Bawa pergi ibu ini ke rumah sakit Lavalette, maaf aku tidak bantu banyak, tetapi terima kasih banyak ya!” Robet terburu-buru keluar mendobrak pintu masuk kamar villa tua.
Andy terdiam, tangan kanannya masih pegang sebungkus mie pangsit yang niatnya ingin diberikan ke Robet. Dia menghela nafas berat, ya mau bagaimana lagi si Robet mendadak pulang, tidak berhak baginya untuk melarang dokter yang harus menangani pasiennya.
“Aduh perutku sakit sekali!!” teriak ibu muda meremas perutnya.
Dua lelaki gelandangan ini panik geleng-geleng kepala, bingung harus berbuat apa, wajah ibu muda ini berkeringat basah dicampur hangat, dia merengek kesakitan memegangi telapak tangan gelandangan seraya minta tolong.
“Aduhhh! sakit mas tolong bawa saya ke rumah sakit!” teriak ibu muda.
Karena tidak punya baju bersih lain, maka Andy terpaksa memakai jaket tentara abu-abu lagi, pikirnya bodoh amat mau ketahuan polisi The Punk, Jojo ataupun Brondong, yang terpenting ibu muda ini selamat sampai rumah sakit.
Dua lelaki gelandangan membopong badan ibu muda yang beratnya satu ton karung beras, sementara Andy di luar villa tua melambaikan tangan ke angkot yang kebetulan lagi parkir di tiang stop jalan.
“Pak, anterin ke rumah sakit Lavalette bisa?” tanya Andy sambil merogoh uang.
“Bisa bang, monggo masuk,” jawab supir angkot.
“Nih ambil ongkosnya, sisanya bonus.” Andy berikan 3 lembar uang 10 ribu.
Ibu muda ditidurkan di kursi panjang sendirian, Andy dan dua gelandang lainnya fokus memandangi suasana luar jalan raya di jendela. Semoga tidak makan waktu terlalu lama.
Di sisi lain di luar villa tua, ada mobil Avanza hitam yang parkir di area tiang stop.
“Lapor Bos, kami berada di titik lokasi Mandy, tinggal menunggu dia keluar dari villa tua,” ucap lelaki berpakaian serba hitam.
“Bagus, terus awasi dan ikuti kemanapun Mandy pergi, bawa dia hidup-hidup.” nada suara dalam pria dalam telepon.
...•••...
__ADS_1
Ibu muda dilarikan ke ruang bersalin, tidak boleh bawa rombongan masuk ke dalam ruangan, Andy pun duduk santai di kursi tunggu sambil menghitung lembaran uang.
Dia diperhatikan oleh dua gelandangan yang melongo melihat banyaknya uang di genggaman Andy. Tangan mereka gemetaran, ingin rasanya ambil selembar uang lalu disimpan di kantong. Ujung-ujungnya ke warung beli rokok.
“Mas Andy, apa nggak capek baru pulang kerja terus pergi ke rumah sakit?” tanya lelaki gelandangan bandana merah.
“Capek sih, kalau pilih libur, istirahat, tidur mulu seharian, siapa yang mau bayarin administrasi.” jawab Andy tersenyum meringis.
Andy perhatikan punggung tangannya yang masih ada bekas noda hitam kena kotoran air selokan di kantor bus DAMRI. Mereka bertiga masih menunggu sabar hasil kehamilan ibu muda di ruang bersalin yang bersuhu dingin.
Berselang beberapa menit, terdengar suara jeritan keras ibu muda, proses melahirkan bayi bagi seorang wanita itu sangatlah besar. Lama kelamaan suara jeritannya memekik, banyak tenaga yang terkuras habis.
“Tahan, ibu, tahan, sedikit lagi!!” suara keras dari sang bidan terdengar sampai ke telinga Andy.
Andy mondar-mandir di depan pintu ruang bersalin, mendekapkan tangan di dada, berdoa kepada Tuhan semoga anak bayinya selamat.
“Andaikan jika Ginny menjadi ibu muda ini, mungkin aku akan selalu menggenggam tangan halusnya.” batin Andy.
Andy masih aja kebayang adik perempuannya dahulu, suasana di rumah sakit cukup sepi, jadi dia bisa sepuasnya keliling sana sini sambil membayangkan sesuatu di dalam otaknya.
Pandangan Andy beralih ke pengunjung rumah sakit yang didorong keluar oleh pria berpakaian outfit serba hitam. Bukan hanya pengunjung, dokter yang lagi jalan pun juga disuruh keluar.
Merasa ada yang nggak beres, Andy melangkah pelan sambil bersandaran di tembok, akan tetapi ketika mau mengintip ke arah lain, pintu ruang bersalin terbuka lebar.
Ooeeekk!!!
Andy pun berlari masuk ke ruangan bersalin, dia tatap baik-baik sosok bayi laki-laki yang baru lahir tidur di samping ibu muda dibalut selimut sutra warna pink.
Posisi ibu muda itu bersandar setengah duduk di matras pasien, begitu senangnya melihat Andy yang mengelus kepala bayi kecil yang begitu mungil dan lucu.
Suara adzan merdu Andy mewarnai ruangan bersalin, dia pegang kepala sang bayi yang masih telanjang bulat. Dua lelaki gelandangan terharu mendengar suara Andy, ini benar-benar momen yang tidak terlupakan.
“Mas Andy, boleh kasih nama buat anak saya?” tanya Ibu muda dengan suara lirih.
Andy garuk kepalanya, bingung mau beri nama apa bayi ini, lagian ini juga bukan anaknya. Di usia remaja akhir yang masih kerja mati-matian, Andy belum siap jadi seorang ayah.
“Mandraguna Bramantyo, suatu saat anak ini akan menjadi pahlawan tangguh bagi ibunya.” jawab Andy tersenyum bangga.
Tiba-tiba pintu ruang bersalin didobrak paksa oleh lelaki berpakaian serba hitam ditambah memakai masker Hazmat. Dia todongkan dua pistol Dessert Eagle ke arah dua gelandangan dan bidan. Frontal banget dah tuh orang.
“Aku hitung mundur 20 Mandy harus segera keluar dari rumah sakit menemui Sasha, yang lainnya diam di tempat.” tegur tegas lelaki berpakaian serba hitam.
Andy merasa geram dan gregetan, kedua tangannya mengepal sampai memerah, otaknya berapi-api, kenapa situasi buruk harus datang tiba-tiba seperti ini.
Sebelum pergi, Andy berikan amplop putih berisi uang tebal ke samping bantal ibu muda, bayi kecil menangis di samping ibunya, mata Andy berkaca-kaca, berat sekali meninggalkan orang yang dia sayangi termasuk Mandra yang baru lahir.
“Bu, ini ada uang untuk biaya administrasi, semoga tercukupi. Dan untuk kalian berdua nanti tolong jaga baik-baik Mandra dan ibunya, paham!” jelas kata Andy dengan nada suara tinggi.
__ADS_1
“Tapi mas—”
“Sembilan, delapan, tujuh!” hitung mundur lelaki berpakaian serba hitam dengan tegas.
Andy pasrah melangkah pelan keluar dari ruangan bersalin, tangannya dipiting lalu diborgol oleh lelaki berpakaian serba hitam. Jalannya lambat banget, Andy melirik ke Mandra kecil yang menatap ke arahnya.
Duagghh!!
“AYO CEPAT JALAN!!”
Kepala Andy dipukul gagang pistol Dessert Eagle, darah mengucur di keningnya. Andy tidak peduli betapa ngilu dan sakitnya kepala, yang terpenting dia tetap tahan rasa amarah yang begitu dalam dibalik wajah melasnya.
Saat keluar rumah sakit, Andy disambut oleh Bron, Jojo beserta pasukan polisi The Punk yang berbaris rapi di depan mobil polisi dan Rubicon hitam.
Tidak ada Sasha disana, yang datang cuma rombongan lelaki gagah perkasa yang mau menangkap Andy. Dia telah dibohongi, dengan cara memancing keluar menyebut nama Sasha, Andy langsung menurut.
“Mandy, kamu resmi ditangkap atas semua perbuatanmu selama ini. Aku tidak segan-segan menyiksamu jika kau berani melawan anak buahku.” kata Bron tertawa kecil di akhir kalimat.
Bron memegang foto jaket tentara abu-abu hasil bukti potretan dari Sasha, dilihat dari segi bentuk dan warnanya pun sama. Bron tidak salah tangkap, dia berhasil menangkap Mandy.
Andy didorong masuk ke bagasi mobil Rubicon, mobil tersebut melaju cepat diikuti mobil polisi The Punk dari belakang.
...•••...
Sasha lihat sekeliling tempat Club yang dibuat pesta disco junkie, berubah menjadi rumah tahanan yang terdapat ring tinju, dan susunan sel penjara pintu besi. Entah sejak kapan ide muncul di kepala besar Bron yang mengubah tempat hiburannya menjadi rumah tahanan.
Ngiiieekk!!
Pintu kaca utama terbuka lebar, angin sepoi-sepoi masuk ke dalam bersamaan dengan Bron, Jojo dan pasukan polisi The Punk yang baru sampai.
“Gimana Sasha, tempat bagus kan?” tanya Jojo tersenyum bahagia.
Sasha membelalakkan matanya ketika Andy diseret naik ke atas ring, lelaki itu dorong sampai terjatuh. Bron bersalaman dengan Jojo lalu pergi ke ruangan lain.
“Selamat datang Andy.” ucap Sasha dengan suara lembut.
Andy bangkit berdiri, dia bersandar di tiang ring menatap tajam wajah polos Sasha, bola matanya memerah bergetar, dia benar-benar marah.
Jojo datangkan polisi The Punk bermuka cina yang dahulu dompetnya sempat jatuh ketinggalan di rumah kayu, mengakibatkan markas bengkel motor diserang olehnya.
“Pak aku mau Mandy dihukum seberat-beratnya, TEMBAK SAJA DIA PAK!” teriak polisi The Punk bermuka cina sambil menarik dasi hitam Jojo.
Andy didorong turun paksa oleh polisi The Punk, lalu dilarikan ke sel jeruji besi rahasia yang berada dibalik tirai merah.
Sasha menundukkan kepala, kedua tangannya menutup wajah cantiknya, suara tangisan kecil terdengar hingga ke telinga Jojo. Rasa bersalah dicampur aduk kelegaan menyatu dalam lubuk hatinya.
“Maaf Andy, aku lakukan semua ini demi menebus kesalahanku pada Jojo, sekarang dia bahagia tetapi kamu malah menderita.” batin Sasha.
__ADS_1