MANDY

MANDY
Namaku Mandy


__ADS_3

Andy membagikan sebagian uang dompet hitam ke tukang becak yang mengirim barang bekas ke penampungan sampah termasuk keranjang botol kaca minuman lagi. Sedangkan wajah pengamen tongkat kasti yang jadi budak pembersih sampah tampak melas menatap wajah Andy yang senyum-senyum sendiri ketika berbagi uang.


“Mas, saya juga mau uang!” pengamen tongkat kasti itu melambaikan tangannya.


Lirikan mata Andy ke pengamen tongkat kasti tampak tidak senang dan masih memendam amarah, bola mata kirinya melihat halaman penampungan sampah yang bersih dari serpihan kaca botol.


“Hey, kemarilah!” panggil Andy pelan ke pengamen tongkat kasti.


Dua lembar uang 50 ribu diberikan ke pengamen tongkat kasti, dia menggenggam yang itu dengan kedua telapak tangan lalu meminta mohon ampun ke Andy.


“Terima kasih mas Andy, saya janji nggak akan mengulangi lagi dan mau jadi musisi yang bermanfaat bagi semua orang.” kata pengamen tongkat kasti.


“Kamu boleh pergi sekarang.” jawab Andy menganggukkan kepalanya pelan.


Setelah cukup lama melayani tukang becak yang mengantri panjang, kini waktunya Andy pergi keluar pasar. Ada urusan yang harus dia selesaikan setelah kegagalan Sasha mengejar polisi The Punk.


Mampir ke pangkalan ojek yang jaraknya tidak jauh dari pasar, lalu dia tawarkan ongkos termahal ke tukang ojek yang bisa mengantarkannya ke markas The Punk dengan cepat.


“Lho, kamu kan temannya Ben pemilik UD.Sumber Berkah ya?" tanya salah satu tukang ojek bergaya pakaian serba hijau mulai dari topi hingga kaki.


“Iya bang, boleh antarkan aku ke alamat ini?” Andy tunjuk kartu nama polisi The Punk.


Mulut tukang ojek itu menganga melihat kartu nama anggota polisi The Punk, dia pikir nih si Andy ingin cari mati atau mau buat kerusuhan disana.


Tukang ojek itu itu memakaikan helm ke kepala Andy dengan kedua tangannya yang bergetar. Rasa ingin terburu-buru, Andy menodongkan pisau di leher tukang ojek biar jalan lajunya cepat demi merebut kembali kostum jaket tentara abu-abu dan topeng karung beras.


Andy melakukan hal itu supaya tukang ojek ini takut padanya, bukan bermaksud mengancam nyawa tetapi demi pelayanan tukang ojek biar cepat mengemudikan motornya sebelum terlambat.


Sementara itu di rumah kayu sendiri, Sasha membantu Ben menghitung jumlah pemasukan dana kiriman barang bekas dari tukang becak. Sasha juga perhatian bagaimana cara Ben melayani klien tukang becak yang memberi harga barang bekas mereka sesuai kesepakatan.


Barang bekas yang sudah deal harganya akan ditimbang terlebih dahulu, kemudian dikasih kasbon sebagai bukti pembayaran. Sasha cuma manggut-manggut mendengar omongan antara Ben dengan para tukang becak. Sepertinya bekerja di penampungan sampah lebih meringankan daripada di kantor JoNews.co.


“Pak Ben, Andy itu orangnya pemarah ya? pantesan kalau ladenin orang jahat dia berlebihan banget.” tanya Sasha.


“Ya, Andy bisa dibilang orang psikopat yang pemarah, dia tak segan-segan menyiksa lawannya yang berani menganggu hidupnya.” jawab Ben menoleh sekian detik ke arah Sasha.


Sasha mengerut dagunya, dia ingat-ingat lagi video M si Pembunuh yang sempat viral belakangan ini, lalu ulah gila Andy yang bicara sama pigura emas yang merupakan adiknya perempuannya. Sasha berpikir alangkah baiknya dia lebih sopan ke Andy biar enak jika diajak kerjasama bareng.


Butuh waktu lama menunggu Andy kembali ke rumah kayu sebelum Sasha harus pamit pergi ke kantor JoNews.co untuk menyetor uang hasil jualan koran.

__ADS_1


...•••...


Motor Ojek yang ditumpangi Andy, berhenti di halaman teras sebuah ruko bengkel motor markas The Punk, ada slogan papan nama warna putih bertuliskan Moto Punk Garage. Disamping tempat tersebut juga ada Club karaoke yang tutup.


Andy berikan uang 100 ribu ke tukang ojek, tanpa kembalian. Lalu bergegas jalan ke bengkel motor markas The Punk sendirian, disini tukang ojek memundurkan sedikit motornya sambil mengintip Andy dari jauh, ia berniat menunggu Andy balik lagi bilamana urusannya sudah selesai, mana mungkin diberi ongkos lebih tetapi tidak balas budi.


Andy jalan santai, badannya sok gagah dan tatapan tertuju ke arah tongkrongan polisi The Punk yang nimbrung canda tawa sama mekanik bengkel.


Menghentakkan kakinya di tanah paving warna abu-abu, membuat polisi The Punk kepancing mengalihkan pandangan ke Andy yang bermuka datar sambil memutar kepalanya hingga bunyi retakan kecil.


“Woi, siapa kau berani datang kemari dengan pakaian orang kampungan!” ejek salah satu Polisi The Punk yang menuding Andy.


“Namaku Mandy, aku datang kemari untuk mengambil jaket dan topengku.” jawab Andy to the point


“Oooh, jadi kamu M si Pembunuh itu ya, ambil sendiri sini kalau berani, Hahaha!" tawa polisi The Punk bersama mekanik bengkel.


Mandy melangkah cepat masuk sembarangan ke bengkel motor, dia dihadang oleh polisi The Punk yang memukulnya dengan tongkat hitam panjang yang biasa dibawa polisi di sabuk pinggangnya.


Rasanya dipukuli tongkat hitam itu seperti suntikan jarum yang tidak bisa menembus kulit manusia yang keras dan tahan pukulan. Mandy meremas bagian kepala polisi The Punk lalu mendorongnya jatuh ke mekanik bengkel yang masih bekerja.


Mandy tendang motor-motor ninja 250R yang diperbaiki, dia injak-injak lalu melemparnya ke arah polisi The Punk. Jalan terbuka lebar, ada satu ruangan rahasia lain di ujung belakang bengkel motor ini.


“Kamu nggak bisa kemana-mana lagi Mandy, jangan harap bisa lolos dengan selamat.” kata polisi The Punk bermuka cina.


Mandy melirik pelatuk pistol akan ditekan, dia menjegal salah satu polisi lalu mengunci lehernya dengan kedua tangannya yang berotot kekar.


“Dorrr!!!" Seketika badan polisi The Punk pelindung Mandy tertembak dua peluru di bagian perutnya.


Dengan tangan panjang yang cekatan, Mandy merebut pistol lalu menembak ke arah atas, memecahkan lampu-lampu neon yang masih bagus.


Mandy dengan kejam menyayat tangan dan kaki polisi The Punk secara kasar, meninggalkan bekas luka goresan yang cukup dalam. Dia gunakan kesempatan untuk masuk ke dalam ruang rahasia.


Akhirnya dalam ruang rahasia, Mandy memakai jaket dan topeng karung beras yang telah ditemukannya. Bukan hanya itu saja, Mandy membelalakkan matanya melihat papan mading yang tertempel lemar kertas kepala bounty dengan foto adik perempuannya.


Mandy menggeram sambil mengepalkan tangannya, dia tarik kertas bounty tersebut lalu menyobeknya kecil-kecil.


“Kenapa, kenapa bisa ada kertas bounty kepala Ginny disini.” batin Mandy.


Tanpa diduga dari atas atap ruang rahasia yang cukup luas ini, ada polisi The Punk yang menyamar jadi ninja memegang palu.

__ADS_1


Leher Mandy tercekik, dia tabrakan badannya sendiri ke tembok agar polisi ninja ini lepas.


“Aaargghh!” dada Andy terkena pukulan keras besi palu.


Mandy hampir jatuh tidak seimbang, dadanya terasa sakit sekali kena besi palu yang begitu menyakitkan. Dengan sekuat tenaga Mandy membanting tubuh polisi The Punk ke lantai.


“Hahahaha!” tawa Mandy.


Telapak tangan polisi The Punk di pelintir sampai bunyi retakan tulang. Jeritan keras polisi malah membuat Mandy ketawa terbahak-bahak merasakan sensasi senangnya menyiksa orang.


Mandy mengembalikan dompet hitam, dia keluar dari ruang rahasia. Dia bergegas lari kabur meninggalkan bengkel motor, tetapi dari belakang rupanya ada mekanik bengkel yang membawa pistol P90.


“Dor! Dor! Dor!” bunyi tembakan 3 kali pistol.


Namun sayangnya Mandy terkena tembakan peluru di bagian punggung, pundak kiri dan kanan. Sempat berhenti sejenak setelah tertembak, Mandy menghembuskan nafas mencoba berlari lagi dengan sisa staminanya.


Tukang ojek memencet klakson motor berkali-kali, Mandy berhasil selamat dan dibawa pergi langsung ke penampungan sampah. Boncengan bareng tukang ojek, Mandy tidak berpegangan sadel motor, melainkan memegang kedua pundaknya yang rasanya sakit banget. Mandy menahan rasa sakit biar si tukang ojek fokus menyetir.


...•••...


Suara mesin motor dimatikan di depan rumah kayu, membuat Sasha dan Ben keluar menghampiri Andy yang sudah kembali dengan selamat. Sasha memperhatikan sekilas postur tubuh Andy dengan jaket tentara abu-abu dan topeng karung beras yang ia gunakan.


“Ternyata benar selama ini M si Pembunuh adalah Andy.” kata Sasha pelan berbicara sendiri.


Ben memeluk Andy bergantian dengan Sasha yang mengelus punggung dan melepaskan topeng karung beras. Wajah Andy memerah, rambutnya berantakan. Sasha menatapnya dengan raut senyuman lebar.


Andy melepaskan pelukan erat Sasha dia pandang wajah Sasha yang tampak khawatiran “Kenapa kamu nggak balik ke kantormu langsung?” tanyanya.


“Aku nungguin kamu sambil bantu Ben melayani tukang becak, kamu nggak papa kan Andy?”


“Mandy, panggil aku Mandy,”


Sasha memutar bola matanya, teman didepannya ini masih dalam mode psikopat jadi dia punya nama lain selain nama aslinya, maklum dia juga disebut sebagai pahlawan.


“Mau panggil kamu Mandy, Andy kek terserah aku lah,”


“Kalo begitu aku pamit dulu ya!" sambung Sasha.


Dia memutuskan pergi, karena sepeda onthel telah ditambal oleh tukang becak yang ahli di bidang tambal ban, Sasha mengira tukang becak cuma bisa mengayuh becak doang. Selain itu sebelum waktu petang, loper koran harus ada di kantor JoNews.co untuk konsultasi dengan Jojo.

__ADS_1


Sasha mengayuh sepeda onthel nya sambil menengok kebelakang melihat Andy melambaikan tangan padanya. Hari ini Sasha cukup lega karena pekerjaannya lancar, ditambah lagi kena marah sama Andy. Udah kapok dimarahi Andy sampai menangis, coba rasakan sendiri berhadapan tatap muka sama Andy.


__ADS_2