
Menikmati makanan pempek khas Palembang memanglah enak, tetapi pernah tidak diajak makan bersama di bawah pohon dekat kuburan bersama Robet. Terasa aneh aja bila mereka berduaan makan bareng duduk di meja kayu dekat kotak amal.
Robet senyum-senyum sendiri lihat Sasha makan pempek, di samping tas ransel Sasha ada bunga mawar pemberian Robet. Melambaikan tangan di depan muka Sasha yang serius banget mengunyah pempek tanpa ada suara kecapan.
“Mbak Sasha doyan banget makan pempek, suka nggak sama bunga mawarnya?” tanya Robet tersenyum lebar.
Sasha memandang jijik wajah Robet, dia sengaja menyenggol bunga mawar jatuh ke permukaan tanah, kaki Sasha ikut goyang-goyang seakan-akan ingin melakukan sesuatu.
Sekali menyentuh bunga mawar, Sasha malah injak ujung plastik bening yang membungkus bunga itu agar tidak diambil Robet. Dengan polosnya Robet berusaha menarik bagian tengah plastik bening agar melepaskan bunga mawarnya.
“Hihihi!” Sasha tertawa kecil melihat kelakuan Robet yang ingin melepaskan bunga mawar dari injakan kaki Sasha.
Robet menggelengkan kepala ke arah Sasha dengan raut wajah memelas, Sasha terus tahan tawa sampai bungkus plastik pempek yang sudah basah jatuh menempel di kepala Robet.
“Buang sampah enak banget ya, di atas kepala orang,” Robet memiringkan bibirnya saking kesal.
“Maaf, maaf, akan kusimpan bunga mawarnya, tetapi dengan satu syarat.” jawab Sasha sambil pegang tas ransel Robet.
Robet mendongak ke atas, dia menampar mukanya sendiri ketika Sasha keluarkan laptopnya Robet. Kaki Sasha terangkat sedikit, dengan cepat Robet ambil bunga mawar lalu duduk berdempetan dengan Sasha.
Robet melongo melihat situs blog Sasha yang membuka file koran mentahan dari tim redaksi JoNews.co. Terpampang wajah Jojo dan Brondong yang rambutnya gondrong seperti helm.
Dengan skill mengetik tingkat dewa, Sasha mampu menulis dengan cepat tanpa lihat huruf keyboard yang suaranya seperti krispi. Saking satisfying dengan suara keyboard krispi, Sasha buat mainan tombol-tombol huruf berkali-kali.
Robet cuma bisa terdiam mematung, dia terus perhatikan layar monitor laptopnya. Di area kuburan TPU Samaan tampak sepi tidak ada peziarah, hanya pengendara sepeda motor yang numpang lewat melirik mereka berdua dari kejauhan.
Ada pembersih sampah yang mondar-mandir bawa karung beras di pinggang, menyapa Sasha dan Robet dari seberang jalan. Sembari mengetik laptop, kepala Sasha ikut miring, memikirkan apakah Andy masuk jam kerja hari ini.
Robet ungkapkan perasaannya bertemu dengan Mandra sambil memperagakan gerakan menimang bayi. Robet merogoh uang dalam sakunya yang tinggal recehan dan uang kertas 1000-an. Dia genggam sisa uangnya dengan raut wajah memelas.
“Aku ikhlas uang bensin motor kupakai beli susu bayi demi adik Mandra, semoga Andy nggak marah lagi sama kamu, Sha.” kata Robet mengelus pundak Sasha.
Sasha tersenyum kecil, menghela nafas lega dan mengetik keyboard laptop dengan santai. Layar laptop dimatikan, Sasha melemaskan jari-jari tangan agar tidak kaku.
Mengingat kembali kejadian di kantor pribadinya Jojo, jujur Sasha tidak bisa berbuat kasar apabila amarah Andy sudah memuncak, Sasha tidak mau terpancing emosi di depan Jojo.
Kerjaan sudah kelar, Sasha pun minta dibonceng ke kantor Agent News lagi meski jalan sepeda motor Robet pelan-pelan. Sasha harus membuat koran khusus Andy, sebagai bukti kebenaran Ginny yang masih hidup.
...***...
__ADS_1
Ambil celurit menyayat libas semua tanaman berduri yang menempel di pagar rumah orang kaya yang dijual, Andy lakukan bersama petugas dinas kebersihan Malang Raya. Masuk ke lubang selokan seperti tikus, Andy mencabut akar-akar yang sudah menyatu dengan bebatuan.
Bercak kemerahan di telapak tangan Andy terasa hangat, kerikil kecil menempel di kuku Andy. Di atas selokan petugas menepuk tangannya menandakan tugas sudah selesai.
“Priiit!!”
Bunyi peluit kencang membuat gendang telinga berdengung, Andy bergegas ikut berbaris di depan selokan. Sebuah gerbang tong sampah warna biru kuning di dorong tepat depan Andy.
”Sekarang giliranmu buang sampah-sampah ini, jangan bawa pulang!” kata petugas dinas kebersihan berhelm kuning.
Ketika yang lainnya asyik menyeruput kopi hangat buatan warung makan, Andy dorong gerobak sampah dengan raut wajah memelas, keringat basah, genangan air kotor warna coklat mengalir di pergelangan tangannya.
Berjalan tanpa sandal, beralaskan lumpur coklat mengering yang menempel di bawah kaki. Andy tengok kanan kiri, banyak jodoh lelaki perempuan lewat di samping sambil berpegangan tangan.
Andy menoleh ke arah kanan, dia mulai berbicara sendiri lagi, menyebut nama Ginny yang seakan-akan menemaninya. Tertawa terpingkal-pingkal, sampai-sampai menabrak tiang listrik.
Reflek geleng kepala, menoleh ke segala penjuru arah, rupanya sudah ada orang yang merekam kegilaan Andy barusan. Ambil kantong kresek putih, dipakai seperti helm agar menutup rasa malu.
“Yailah ketahuan banyak orang pula, ketabrak tiang lagi, bodolah!” batin Andy menggigit bibirnya.
Tiba-tiba kantong kresek putih dilepas dari kepala Andy, seketika bola mata Andy terbelalak bergetar menatap wajah perempuan di depannya. Rambut hitamnya panjangnya halus ponytail, bibirnya merah merona, matanya berkaca-kaca melihat reaksi Andy yang kaget.
“Halo kakakku yang gila, jangan keseringan ngomong sendiri, dikatain stress nanti marah.” jawab Ginny.
Andy menyandarkan bahu di gerobak sampah, dia menutup muka dengan kedua telapak tangan. Kepala masuk ke dalam jaket, melepaskan jaket tentara abu-abu lalu menunjukkan sisi kerahnya ke Ginny.
“Jaket ini punyamu kan? sekarang pakailah, aku mau kamu kembali pulang.” Andy merentangkan jaket tentara abu-abu di depan Ginny.
Ginny malah garuk-garuk dagunya, keluar sisik putih yang berjatuhan. Kepala Andy miring, menemukan bahwa ada benjolan merah di bawah dagu Ginny sampai ke daun telinga.
“Kamu kenapa Gin—”
“Jangan pegang aku, dasar kakak gila!” potong Ginny berpura-pura menendang Andy supaya kakaknya mundur.
Lampu lalu lintas warna merah, Ginny buru-buru kabur berlari terbirit-birit seperti orang dikejar harimau. Andy pun mengejarnya sambil menggantung jaket tentara abu-abu di pundak.
“Brakkk!!”
Sepeda motor polisi nekat melawan lampu merah melindas Andy sampai terjatuh terkapar. Seorang polisi berjaket tentara abu-abu mengibaskan tangan ke arah Ginny, menyuruhnya segera kabur.
__ADS_1
Belum puas melawan lampu merah, polisi The Punk sengaja tendang muka Andy sampai terbentur aspal kasar, lalu tancap gas melarikan diri.
Penglihatan Andy buram, kedua tangannya lemas, perlahan-lahan matanya tertutup rapat. Tidak terdengar suara minta tolong dari telinga Andy, apapun yang ia dengar benar-benar kosong.
...***...
Perempatan jalan Bungur macet total, tidak ada kendaraan saling spam klakson, melainkan segerombolan polisi The Punk berjaket tentara abu-abu memegang pistol, mereka ulurkan tangan ke pengendara mobil, mengemis sambil mengamen dengan gunakan ketukan jari.
Ada pula orang yang cuek mengunci kaca mobil, tetapi kaca mobilnya malah dipukul dengan batu. Sasha dan Robet mencoba putar balik mundur, tetapi sayang daerah jalan lampu merah dikepung ketat oleh polisi The Punk yang memakai kostum Mandy.
Sepeda motor Robet didorong oleh empat polisi The Punk sampai jatuh, mereka berdua dikepung, ditodong pistol, dan barang mereka ditendang jauh dari jangkauan tangan.
“Target ditemukan, serahkan semua harta bendamu pada kami!” ucap polisi The Punk menuding ke arah Robet.
Robet angkat tangan sambil mundur ke belakang, melirik ke segala arah cari jalan keluar. Polisi The Punk maju satu langkah, dengan beraninya Sasha menghadang polisi mendekati Robet.
“Minggir kalian, AKU BILANG MINGGIR!" teriak Sasha tersulut emosi alisnya mengerut.
“Jangan halangi kami mbak Sasha, anda juga harus ke markas Tuan Brondong.”
Salah satu polisi The Punk menempelkan Walkie Talkie ke daun telinga, dia memanggil nama Bron berkali-kali. Decitan mobil Rubicon terdengar keras di tengah jalan perempatan. Diikuti bantingan pintu mobil kemudi yang dibuka oleh Bron.
“Gawat, kenapa situasinya jadi begini sih! The Punk menyamar jadi Andy, ini pasti rencananya si Brondong.” batin Sasha menggigit bibirnya.
Bron menghampiri Sasha dan Robet sambil tepuk tangan, di saku jas hitam, celana biru dongker Bron tergantung rantai warna emas.
Tangan kanan Bron yang halus, berkulit putih bersih memegang dagu Sasha, tidak ada bekas luka apapun di bagian leher dan pipi Sasha.
“Kamu harus bekerja lagi dibawah perintahku, Sasha,”
“Tetapi, gimana dengan Agent—”
“Diam, bawa mereka berdua ke pabrik tahu sekarang juga, cepat!"
Badan Sasha dan Robet didorong paksa naik mobil Rubicon, Robet cuma bisa melongo, sedangkan Sasha masih menahan marah menatap tajam ke Bron dari dalam mobil.
Bron tertawa jahat melihat ekspresi Sasha dan Robet yang terkunci di mobil Rubicon. Lampu lalu lintas berubah warna hijau, gerombolan polisi The Punk berlarian ke arah trotoar.
Dari belakang mobil Rubicon, pandangan mata Bron masih mengawasi Sasha dan Robet, sebagai bosnya The Punk dia seenak jidatnya numpang boncengan sepeda motor polisi.
__ADS_1
“Lihat saja Bron, sifat aslimu pasti akan segera terbongkar!" ucap Sasha berbicara sendiri dengan mata yang melotot.