
Sasha kembali ke ruang komputer dengan perasaan senang dan lega, dia rebahkan kepalanya di kursi besi biru silver yang biasa dipakai di acara kondangan. Dia letakkan barang-barangnya dibawah meja lalu menatap ke arah lampu yang menyilaukan matanya.
Seketika itu kepala besar Jojo menghalangi pandangan Sasha yang membuat gadis itu terlompat kaget. Reflek pindah posisi hadap ke komputer seperti semula, tidak berani menoleh ke Jojo yang alisnya mengkerut.
“Enak ya ditinggal sama bos, darimana saja kamu tadi hah? kayaknya bahagia banget.” tanya Jojo menyilangkan tangannya.
Sasha menelan ludahnya, habislah sudah nasibnya bakalan kena amukan sama Jojo yang mulai sewot. Matanya fokus sama pencarian google seputar pembersih selokan.
Jojo merogoh kantong besar Sasha, terdapat banyak gulungan koran yang masih utuh dan hanya ada dua yang terjual. Bosnya menggulung kantong besar lalu membuangnya jauh dari bangku Sasha.
Tim redaksi menelan ludah, sambil lirik mata ke Jojo yang marah ke loper koran kepercayaannya. Baru kali ini Jojo marah ke karyawan favoritnya, sebelah tidak pernah.
“Serahkan kameramu, CEPAT!” Jojo memperingatkan tegas.
Sasha tampak ragu banget, tangannya tremor pegang handycam didalam saku jasnya. Suara hembusan nafas berat Jojo terdengar di lubang telinga Sasha, dia siap apabila kena hukuman.
“Plaaakk!”
Tamparan keras tangan Jojo yang besarnya kayak pisang Ambon tepat melukai pipi Sasha hingga bengkak merah. Anak-anak tim redaksi cuma melongo kaget Sasha kena tamparan dari Jojo.
Jojo menoleh sekian detik ke arah tim redaksi yang langsung terdiam beralih fokus mencetak koran. Jojo jalan memutari bangku komputer sambil posisi tangan diikat dibelakang pinggang.
”Aku tinggal pergi survei, titip selesaikan kerjaan kepadamu, kenapa malah pergi keluar kantor tanpa izin.” jelas kata Jojo dengan suara nada tinggi.
Jojo mendekati bangku tim redaksi, dia perhatikan jumlah lembaran cetak kertas koran yang sudah jadi 100% tanpa revisi. Gunakan tangan telunjuk untuk membaca sekilas artikel cerita yang dibawakan.
“Apa satu topik berita viral sudah beres semua?” tanya Jojo.
Anak tim redaksi saling senggol bahu, mereka mendesis pelan memilih siapa yang menjawab. Lama kelamaan tim redaksi nahan emosi melotot mata supaya menjawab pertanyaan Jojo barusan.
Salah satu wanita gemuk dari tim redaksi mengacungkan tangan dengan grogi, dilihat dari kaki dan tangannya bergetar ke atas sudah menandakan ia lagi takut kepada Jojo.
“Baru setengah pak, belum semuanya selesai karena Sasha izin pergi keluar kantor, katanya ada janjian survei ke tempat lain.” jawabnya.
Jojo tendang kursi tim redaksi sampai terbalik, berbalik arah ke Sasha dengan raut wajah memerah. Tampaknya gadis itu tidak aman lagi.
“Serahkan kameramu padaku, atau aku akan...”
Sasha dengan cepat memberikan kameranya tidak ikhlas ke Jojo, pikirannya amburadul dicampur kesal karena ditampar oleh Bosnya. Dia kembali duduk, lalu kembali mengetik keyboard komputer.
Jojo membelalakkan matanya sambil geleng-geleng, dia scroll galeri kamera Sasha yang banyak foto Andy yang basahan di selokan tanpa gunakan topeng karung berasnya.
“Oooh! jadi nih anak diam-diam menyimpan fotonya Mandy.” kata Jojo tertawa kecil di akhir kalimat.
“Pak, saya mohon maaf, saya bisa jelasin kenapa—”
“Sssst! gajimu dan tim redaksi dipotong 15% dan mulai besok kamu bekerja didampingi polisi The Punk, titik.” potong Jojo dengan suara pelan.
Sasha tertunduk lemas di meja komputernya, mendengar kata dipotong gaji membuat dia tidak bisa lawan balik ucapan Jojo. Kamera handycam-nya disita sama Jojo, Bosnya keluar ruangan sambil bersiul.
__ADS_1
Anak-anak tim redaksi mendekati Sasha, mereka pegang punggungnya dengan halus, Sasha menutup matanya dengan lengan tangan kanan, menahan rasa sedih yang begitu dalam.
“Yang sabar Sha, kita semua kena potong gaji, tolong jangan diulangi lagi ya!” pinta si wanita gemuk.
Sasha balas mengangguk kepalanya pelan, wanita gemuk tadi melirik ke tas kecil Sasha yang terbuka, ada handphone-nya yang menyala dapat notifikasi pesan dari seseorang.
Setelah menelan emosi dari Jojo, Sasha dan tim redaksi bekerja seperti semula, saling bertukar pikiran, ide, komunikasi dan bagi informasi fakta seputar berita yang lagi booming sejagat raya.
...•••...
Krukkk!!
Bunyi suara renyahnya kerupuk tahu coklat yang disantap oleh Andy bercampur nasi uduk sebungkus, lelaki itu senyum-senyum sendiri saking nikmatnya.
Seperti biasanya dia makan sambil menatap foto Ginny, setiap suapan dalam mulut dia menoleh ke arah foto adiknya yang sudah tiada. Mata Andy berkaca-kaca sambil mengunyah makanan dalam mulut.
“Andai kamu masih hidup, aku bisa bagi makanan denganmu dan sekarang aku punya uang sendiri.” kata Andy berbicara sendiri.
Andy makan nasi bungkus dibawah tumpukan batu bara, ia berada di kamar villa tua yang sudah gagal proses pembangunan. Menyisakan material kuli yang tidak terpakai.
Banyak pilar dinding yang masih disemen tanpa di cat, bintik-bintik debu pasir mengotori lantai. Tidak ada alat pembersih yang disediakan.
Tok, Tok, Tok!
“Halo mas Andy!” sapa orang diluar pintu.
Andy pun membukakan pintu meski jemari tangannya basah. Datang tiga orang penghuni lain, dua orang bapak-bapak satu ibu muda. Sepertinya Andy sudah lama menetap di villa tua ini.
“Lho, ini nggak mungkin!” dokter itu mulut menganga melihat Andy, dia mundur kebelakang sambil tunjuk jari telunjuknya.
“Anda ini kan... orang-orangan pasar Tawangmangu yang masuk koran toh!” lanjutnya.
Andy memiringkan kepalanya, wajahnya tampak lesu banget karena capek. Dia main goyang pintu hingga membunyikan decitan suara pintu.
Pria dokter itu pun berjalan cepat membungkuk setengah badan, lalu masuk lewat bawah tangan kanan Andy yang nahan pintu.
“Selamat sore semuanya, ketemu lagi bersama saya Robet si dokter psikiater.” ucapnya Robet.
Andy tutup pintu rapat-rapat, Robet berdiri di tengah kamar berbicara di depan 3 orang penghuni. Andy belum tahu untuk apa tujuan Robet kemari.
3 penghuni lain pada ngumpul bentuk lingkaran di depan Robet, tangan mereka dicek urat nadinya masing-masing, khususnya bagi si ibu muda yang usianya 25 tahunan, diperiksa kondisi kandungan dalam perutnya yang membesar.
Pandangan Andy fokus ke perut si ibu muda tadi, bahkan kerupuk yang ia pegang jatuh ke bungkus makanannya. Matanya berkaca-kaca menatap ibu muda mengelus perutnya dengan wajah ceria.
Andy menutup bungkus makanannya dengan karet lalu mendekati Robet dan ibu muda yang lagi hamil sambil menggenggam uang.
“Ini rumah gelandangan dan pengemis, sebaiknya pak dokter keluar dari sini.” perintah Andy dengan sopan.
Mendengar dokter yang mau diusir Andy, dua pria itu malah mengunci dan bersandar di bawah pintu kamar. Robet menghalangi tubuh ibu muda, dia berikan sebuah map berisi surat konsultasi psikiater tiap harinya.
__ADS_1
Nama-nama 3 orang penghuni villa tua juga tercantum dengan huruf tebal di kolom tabel daftar nama.
“Setiap hari saya selalu datang kesini untuk periksa dan kontrol mental kesehatan 3 orang ini pak, gratis tanpa dipungut biaya.” jelas kata Robet.
Andy lihat atribut Robet dari ujung kepala sampai jempol kakinya, tampilannya memang seperti dokter asli pada umumnya, tidak ada mencurigakan.
Ketika ibu muda hendak berdiri, tiba-tiba jatuh, duduk lagi sambil memegang perutnya. Baru duduk anteng, suara keroncong terdengar jelas di dalam perut si ibu muda.
“Aku akan belikan makanan untuk kalian semua, nanti ngobrol bareng juga, oke!” Andy tunjuk jari jempol ke Robet. Pintu kamar villa dibuka, Andy gerak cepat mampir ke angkringan nasi uduk.
Saat merogoh sisa uang dalam saku celananya, beruntung masih ada 4 lembar uang 100 ribu, tanpa banyak pikir Andy beli 4 bungkus.
Pas lagi menyerahkan uang ke penjual, rasanya sulit bagi Andy untuk melepas uangnya sendiri. Dia terdiam sejenak, membayangkan wajah-wajah pengemis di villa tadi yang bajunya kotor, dihinggapi lalat kecil.
“Mereka beda banget sama orang penampungan sampah.” batin Andy.
Mas penjual angkringan menepuk pundaknya Andy sambil memanggil namanya. “Bang, jadi beli apa nggak, sudah terlanjur dibungkus semua lho!” katanya.
“Maaf, ini uangnya, maturnuwun ya!” jawab Andy.
Tes!
Setetes darah keluar dari hidung Andy, syukur empat bungkus nasi uduk masih digenggam penjual, Andy langsung mondar mandir meja makan pelanggan, dia ambil tiga serbet tisu lalu mengusap darah kental di lubang hidungnya.
Terlihat hidung Andy merah membengkak, seperti habis kena tonjok seseorang, mungkin ini dampak resiko melawan maling mobil.
“Kok bisa hidungnya mimisan bang?” tanya penjual angkringan.
“Gapapa, cuma mimisan doang, terima kasih.” jawab Andy mengambil empat bungkus nasi uduk.
Andy mempercepat jalannya, dia usap sisa darah di hidungnya dengan punggung tangan. Menghela nafas berat sambil lihat ke atas langit. Kalau sudah kerja sambil basmi penjahat, beginilah nasibnya. Meskipun prajurit perang terkuat di bumi, jika raih kemenangan pasti kondisinya babak belur.
...•••...
Andy bagikan bungkus nasi uduk ke 3 penghuni villa tua dan juga Robet. Tidak lupa ucapkan terima kasih ke Andy karena sudah baik membelikan makanan.
Selagi yang lain menikmati makanan, Andy dan Robet memilih ngobrol santai duduk di batu bata warna abu-abu. Robet tunjukkan handphone gepeng layar sentuhnya ke Andy.
Rupanya nih dokter menyimpan screenshot koran JoNews.co, berita layar TV, dan foto selfie Sasha dengan Andy di penampungan sampah.
Andy mengamati foto-foto itu dengan serius, dalam benak pikirannya ini dokter pasti penggemar koran JoNews.co atau gadis loper koran favorit Jojo.
“Kenapa kamu menyimpan fotonya Sasha?” tanya serius Andy alisnya mengerut.
“Tolong, pertemukan aku dengannya sekali saja, please ini penting banget.” jawab Robet wajahnya memelas.
Andy memutar bola matanya malas, dia pegang kepalanya berpikir bagaimana caranya, mengingat Sasha yang kerja di JoNews.co diawasi oleh Jojo si Boss galak yang sempat mampir geledah penampungan sampah tempo lalu. Ini cukup berat baginya.
“Okay!” ucap Andy pelan.
__ADS_1
Robet langsung berdiri melompat sambil bilang “Yes, Yes, Yes!” merasa senang banget. Dia pun buka bungkus nasi uduk, makan dengan lahap sambil unjuk jari jempol ke Andy.
Lelaki psikopat itu cuma diam, dia tengok foto Sasha di handphone Robet dengan raut wajah tersenyum kecil.