MANDY

MANDY
Gabby Delvinda


__ADS_3

Sepeda motor Jupiter MX tergeletak sembarangan di depan pagar pintu masuk pabrik tahu. Jojo terburu-buru berlari bawa dokumen sertifikat, Andy susah payah menendang bokong polisi The Punk berjalan sambil membawa kotak botol Sosro berisi armor vest level tiga.


Jojo panggil berulang kali nama Sasha, tetapi tidak ada yang menyahut. Seorang security membawa tongkat lampu merah beri komando arah Jojo menuju kantor polisi The Punk.


Andy yang dari belakang terus memaksa jalan polisi The Punk yang berhasil tunduk padanya. Tangan Andy sudah siap-siap membacok kepala polisi The Punk yang lonjong apabila tidak menuruti perintahnya.


“Beep! Beep!” Walkie Talkie di kantong sabuk pengaman polisi The Punk berbunyi.


Dengan cekatan, Andy merampas Walkie Talkie, terdengar suara ketokan palu tiga kali diikuti tepuk tangan yang meriah.


“Lapor, posisimu dimana sekarang?” muncul suara bapak-bapak dari Walkie Talkie.


Benda itu pun langsung dibanting dan diinjak oleh hentakkan kaki Andy sampai rusak dan pecah. Kaki polisi The Punk di depannya tremor, dia berhenti menunjuk ke arah Jojo yang sudah berdiri di depan kantor polisi The Punk.


“Brondong keluarlah! aku sudah bawakan apa yang kau mau.” teriak Jojo mendongak ke atas jendela lantai dua yang terbuka lebar.


Suara orang-orang di lantai dua kantor polisi The Punk semakin ramai, Jojo nekat masuk tetapi di hadang oleh polisi The Punk penjaga pintu yang memegang pistol.


Andy mendekati Jojo, berbisik pelan ke telinganya. “Tetaplah disini, aku harus serang pabrik tahu terlebih dahulu.” bisiknya Andy.


Banyak polisi yang berlalu lalang di pintu besi utama pabrik tahu, Andy menyalakan gergaji mesin, berjalan terang-terangan sambil tertawa terbahak-bahak.


“JANGAN BERGERAK!!” teriak polisi The Punk mengepung Andy yang hampir dekat dengan pintu besi.


Bola mata Andy berputar melirik ke lawannya yang hanya pegang tongkat lampu merah, memasang kuda-kuda sambil mengangkat gergaji mesin dengan dua tangan.


Tiba-tiba punggung Andy ditebas tongkat lampu merah yang melancarkan sengatan listrik. Andy yang kena setrum masih bisa berdiri tegak normal, meski di pundaknya keluar gumpalan asap.


Mata Andy melotot kemerahan, dia berputar-putar sambil melayangkan gergaji mesin ke arah polisi The Punk yang menyerbu, gigi Andy meringis, dia coba menakut-nakuti polisi The Punk dengan menghentakkan kaki dengan keras.


“Maju kalian semua! aku layani satu persatu.” ucap tegas Andy membusungkan dada.


Namun polisi The Punk malah berlari panik ke kantor polisi sambil teriak panggil nama Tuan Bron. Andy menghadap ke pintu besi pabrik tahu yang terkunci dari dalam, dia tarik tuas gergaji mesin sekencang mungkin, lalu menggores bagian tengah pintu agar dapat memotong kuncinya.


Pintu besi didobrak keras mengagetkan semua polisi The Punk yang tengah bekerja membuat tahu kokain. Andy menarik tuas gergaji mesin lebih kencang lagi, percikan listrik muncul di sela-sela gigi gergaji.

__ADS_1


Andy dikepung banyak polisi yang maju mundur mengecoh pergerakannya, mereka jalan bergeser kanan ke kiri dengan cepat. Mata Andy menatap depan fokus, biarkan daun telinganya yang bergetar merasakan hentakan kaki polisi.


Tiga polisi angkat tongkat lampu merah ke kepala Andy, dengan sigap gergaji mesin mampu mematahkan tongkat lampu merah menjadi dua. Andy didorong menabrak tembok, dipukul, ditendang, dijambak seperti anak kecil oleh polisi The Punk, mereka mulai main keroyokan.


Ada juga yang menarik-narik gergaji mesin dari tangan Andy, posisinya terdesak, tidak bisa bergerak leluasa, dan badannya ditahan. Andy semakin menggeram, dia lepas gergaji mesin, lalu mendorong polisi The Punk paling depan yang badannya kurus seperti dua ekor badak saling beradu cula.


Andy pegang kapak merah memukul seluruh polisi The Punk yang menghalangi jalannya, sebagian polisi kena bacok kapak merah di bahu, dan lengan tangan, sisanya memilih kabur berteriak nama Bron dengan keras.


Suasana di area pabrik tahu sepi, semua mesin produksi tahu kokain dirusak oleh Andy dengan kapak merahnya, dia hancurkan semua sampai ke kabel-kabel berwarna yang menjalar seperti akar pohon.


“Tok, Tok, Tok!!” suara ketukan pintu dari dalam lorong yang gelap.


Andy reflek menoleh ke ujung tembok sebelah kanan, ada jalan menuju lorong yang gelap gulita dibanding di area pabrik tahu. Andy berjalan cepat masuk ke lorong, di depannya sudah ada pintu yang terlihat bayangan tangan seseorang.


...***...


Hawa nafas lubang hidung Andy terasa dingin, saking gelapnya lorong tersebut, mata Andy dikelilingi kunang-kunang yang beterbangan kemana-mana.


“Halo, ada orang di dalam?” tanya Andy dengan suara lantang.


“Andy, tolong buka pintunya dong!” Sasha gedor-gedor pintu.


“Traaang!!”


Gagang pintunya patah, Andy buka pelan-pelan pintu ruangan pendingin. Seketika mulutnya melongo melihat Gabby yang berdiri di samping Robet. Sasha merangkul pundak Andy, dia bawa Andy mendekati Gabby.


“Ginny, kamu baik-baik saja? apa kamu kedinginan?” tanya Andy tangannya mengelus pipi dan telapak tangan Gabby.


Gabby menundukkan kepalanya, dia pasrah biarkan Andy mengelus tangannya yang lembut dan dingin. Dia tidak mau menatap Andy karena takut akan diajak pulang.


Sasha menghalangi peti mati Ginny agar tidak kelihatan Andy, tetapi Robet malah mengibas tangan ke Sasha menyuruh minggir dari peti mati.


Andy menoleh ke Sasha, perempuan itu tersenyum kaku sambil tertawa kecil, Sasha lihat ke bawah kaki memastikan peti matinya tidak dilihat sama Andy.


“Ginny yang kamu cari ada dibelakangnya Sasha,”

__ADS_1


“Apa maksudmu? kamu ini adikku Ginny, aku masih ingat betul wajahmu.” Andy pegang pipi Gabby.


Gabby mengelak tangan Andy dari pipinya yang kenyal seperti jelly. Dia malah dorong Sasha sampai jatuh, membuat pandangan Andy beralih ke peti mati Ginny.


Andy berjalan terdiam kaku, dia dekati peti mati itu lalu tuding mulut mayat Ginny yang tersenyum lebar. Andy duduk lemas, kata-kata Ginny yang terbayang di pikirannya dahulu bersuara dalam otaknya.


Badan Andy menggigil gemetaran, tetesan air mata menetes di muka mayat Ginny yang mengering. Tangan Andy angkat pelan-pelan kepala Ginny, bunyi retakan tulang terdengar jelas.


“Kak Andy!” panggil Gabby pelan.


Andy menoleh bolak balik menatap wajah mayat Ginny dengan Gabby, wajah mereka berdua sama persis, hanya saja bentuk rupa kulitnya yang berbeda.


Robet jalan pelan-pelan menepuk pundak Andy, menggelengkan kepala setelah merasakan jantung Andy berdetak kencang, pertanda dia merasa dehidrasi ditambah makin banyak beban pikiran yang menonjol dalam otaknya.


“Ini bukan halusinasi kan, siapa Ginny yang di belakangmu?” tanya Andy sambil tarik nafas.


“Tenangkan hatimu Andy, buang semua pikiran—”


Robet didorong jatuh ke lantai, Andy berdiri maju mencekik leher Gabby sampai membenturkan kepalanya ke tembok, Andy angkat badan Gabby hanya dengan satu tangan.


“SIAPA KAMU?” teriak marah Andy.


Sasha dan Robet membantu tarik tangan Andy sekuat tenaga menjauhkannya dari Gabby. Andy ditarik mundur, tetapi ketika maju lagi sayangnya sudah ada Sasha yang merentangkan tangan siap melindungi Gabby.


Gabby batuk-batuk sambil pegang lehernya, mukanya merengek mau nangis, tapi dia mengucek matanya menahan agar tidak terlihat cengeng. Sedangkan Robet duduk bersila lemas tidak bisa apa-apa lagi kalau Andy sudah beringas.


“Namaku Gabby Delvinda, anak angkat Tuan Bron,” serak suara Gabby menutup kepala dengan lengan tangan.


“Berani sekali kamu pakai nama panjang adikku, MAJU SINI AKU GOROK LEHERMU!.” bentak Andy semakin tersulut emosi.


Sasha malah memiringkan kepalanya, dia tepuk lehernya suruh Andy menggorok lehernya. Ginny menangis sampai tubuhnya kejang-kejang. Robet langsung berdiri merangkul leher Gabby, dia elus rambut sambil berbisik di telinganya.


“Ayo penggal leherku kalau berani, jangan beraninya bentak Gabby doang, ayo Andy!” Sasha tepuk lehernya berkali-kali.


Sasha mengedipkan matanya ke Robet, Gabby jalan bersandaran di tembok, wajahnya memelas melihat raut wajah Andy yang dipenuhi urat-urat syaraf di keningnya. Gabby mengaku dia bukanlah adik kandung Andy, dia tuding peti mati lalu bilang dengan suara lantang bahwa Ginny yang asli sudah lama meninggal.

__ADS_1


“Sebaiknya kita bicara setelah keluar dari sini, ayo cepat!” Sasha menggandeng tangan Gabby.


Andy ditinggal sendirian di dalam ruangan pendingin, dia angkat perut Ginny dengan dua tangan lalu menggendongnya dengan muka memerah. Kepalanya benar-benar seperti mau meledak, dia bawa mayat Ginny keluar dari pabrik tahu. Dia genggam bahu mayat Ginny erat-erat, pikirannya dipenuhi amarah yang bergejolak.


__ADS_2