MANDY

MANDY
Peringatan untuk Sasha


__ADS_3

Sasha berusaha membuntuti motor polisi The Punk yang terus membunyikan sirine lampu merah biru di lampu sen, suara nyaringnya mengganggu pendengaran orang-orang di jalan raya besar.


Mengusap keringat basah di keningnya, cuacanya panas, sinar matahari menyilaukan apalagi bagi orang bersepeda onthel yang tidak memakai topi atau helm.


Perempatan jalan di depan mata, tetapi motor polisi The Punk tambah ngebut, Sasha menggelengkan kepalanya. Tuh polisi berani banget ngebut pas ada kendaraan yang berjejer berhenti di belakang lampu merah.


Bunyi klakson motor memperingatkan polisi The Punk berhenti, tepat di momen itu lampu lalu lintas berubah hijau sekian detik. Motor polisi The Punk menabrak salah satu motor Vespa yang belum sempat tancap gas, mengakibatkan plat nomor belakangnya bengkok.


Sasha pun memotret kejadian tersebut, lalu menuntun sepedanya menghampiri polisi The Punk yang sedang adu bacot sama pengendara Vespa yang tidak terima ditabrak.


Dia turun langsung dari sepedanya yang digeletakkan jatuh, lalu menjadi penengah diantara polisi dan pengendara Vespa. Polisi The Punk bermuka cina itu membuka kaca helm lalu meludahi sadel Vespa.


Adu cekcok pun terjadi, Sasha pun diam-diam ambil dua kantong plastik bening yang menggantung di setir motor polisi. Tangan Sasha gemetaran dan kaku, dari takut ketahuan polisi The Punk yang masih ribut sama pengendara Vespa.


Polisi The Punk dilerai oleh pejalan kaki yang menyuruh agar damai dengan pengendara Vespa, polisi itu makin marah-marah sambil teriak menghina motor Vespa adalah motor kampungan, padahal kenyataannya Vespa adalah motor legendaris.


Tangannya ditahan oleh pejalan kaki yang membela pengendara Vespa, tetapi Polisi The Punk makin marah besar, dia todongkan pistol ke orang-orang yang menahannya. “Lepaskan aku! Ini peringatan, cepat minggir!” bentaknya.


“Bapak harus ganti rugi plat nomor saya, ini baru ganti kemarin pak!” pengendara motor mendorong polisi The Punk menjauh dari Vespa.


“Halah!! urus sendiri tuh motor kampungan, aku gak peduli,”


“Kamu mau aku tembak kepalamu?” lanjut polisi The Punk nggak mau kalah bacot ancam pakai pistol.


“Dor!!” satu tembakan diarahkan ke atas langit.


Pejalan kaki sekitar memisahkan mereka berdua yang saling misuh kata kotor khas orang Malang. “Polisi Anj*ng!!!” kata pengendara Vespa.


“Janc*k kau ya, berani banget lawan polisi The Punk, Hah!” sentak Polisi The Punk. “Nyawamu berapa?” sambungnya.


Polisi macam apa yang berani berkata kotor seperti ini, cuma The Punk doang.


Sasha berhasil mencomot dua kantong plastik bening, ia cepat-cepat angkat sepeda lalu naik ke sadel. Namun sayangnya ketahuan polisi The Punk yang kaget melihat barangnya sitaan yang dicuri.


Sasha memutar sepeda ke sudut jalan besar tepat di garis putih, baru saja mengayuh sepeda onthel yang belok-belok setirnya, ban sepedanya ditembak berkali-kali oleh Polisi The Punk.


“WOY BERHENTI, ANGKAT TANGAN!!” teriak polisi The Punk sambil menembak ke arah sepeda onthel.


Polisi The Punk dengan beraninya memukul kening Sasha dengan gagang pistol Dessert Eagle, Wanita itu pun jatuh sempoyongan sambil pegang kepalanya, matanya buram dan berubah gelap seketika.

__ADS_1


Kemudian dua kantong plastik bening dirampas balik, lalu dibawa kabur polisi The Punk dengan motornya yang sempat ditendang oleh pengendara Vespa tadi.


“Breeemm!!!” bunyi tancap pedal motor polisi, orang itu tak sadar ada sebuah dompet yang jatuh dari saku celana belakangnya. Bodoh amat dengan Sasha, polisi The Punk langsung ngebut melarikan diri dari perempatan jalan.


...•••...


Sasha buka mata-mata pelan, menoleh ke sekelilingnya, wanita ini duduk bersandar di kursi tukang becak. Disebelahnya ada tas kecil yang resletingnya tertutup rapat.


“Dimana Polisi itu?” tanya Sasha menegakkan badannya, masih teringat kejadian tadi.


“Polisinya sudah kabur mbak, saya antar anda ke pasar Tawangmangu aja ya!” ucap Tukang becak.


Sasha menengok ke belakang, rupanya sepeda onthel nya digantung oleh tukang becak lain. Sasha mengelus dadanya, dia sedikit merasa lega.


“Tunggu!” Sasha baru kepikiran nih kenapa bisa dia diantar sama tukang becak. Ingatan terakhir dia dipukul dengan gagang pistol lalu penglihatannya gelap. Sepertinya dia barusan bangun dari pingsan.


“Pak, memangnya tadi anda darimana? kok bisa nemuin saya di perempatan jalan sana?” tanya Sasha sambil tunjuk jari ke jalanan besar.


“Ceritanya nanti saja mbak, kita harus ke penampungan sampah dulu ketemu Andy.” jawab tukang becak.


Sasha membaringkan badan ke kursi becak yang empuk, memegangi luka lebam di keningnya, masih memikirkan dua kantong plastik bening berisi jaket dan topeng milik M si Pembunuh yang dijadikan barang bukti.


...•••...


Sasha menarik nafas dalam-dalam lalu hembuskan perlahan-lahan, ia tahu bakalan dimarahi Andy nanti, semoga saja tidak. Sasha pun berani masuk ke dalam rumah kayu yang mana di dalam sana ada Ben dan Andy yang asyik nimbrung sambil menghitung jumlah botol dan gelas plastik bekas.


“Gimana, sudah kau ambil jaket dan topengku dari polisi bajingan itu?” tanya Andy yang langsung berdiri tegak dihadapan Sasha.


“Oooh, jadi jaket tentara abu-abu dan topeng karung beras itu punyamu ya?”


Andy cuma diam mengangguk kepalanya.


“Jadi selama ini kamu—”


“Mana jaket tentara abu-abu dan topeng karung berasku, cepat berikan!” Andy mengulurkan tangannya.


Sasha mundur selangkah kebelakang, dia menelan ludah sekali lalu menunduk kepalanya tidak mau menatap wajah Andy yang tampak mulai emosi.


“HEH! KOK DIAM, MANA??” bentak Andy tidak sabaran.

__ADS_1


Sasha pegang tas kecil, menutup mukanya dengan barang itu, rasanya deg-degan parah dibentak sama Andy. Wanita ini menelan ludah sambil memejamkan mata, lebih baik berkata jujur walau rasanya pahit seperti air jamu warna hitam pekat.


“Kantong plastik beningnya dibawa kabur sama polisi itu, dia memukulku dengan gagang pistolnya, nih!” jawab Sasha lirih sambil menunjukkan benjolan lebam di keningnya.


Andy ambil paksa kantong besar dan tas kecil yang dipegang Sasha, mengeluarkan semua barang didalamnya. Mereka membelalakkan mata ketika menemukan sebuah dompet hitam berlogo tengkorak rambut Punk.


Ketika Sasha mau mengambil dompet itu, sudah direbut oleh Andy duluan. Lelaki pemarah itu lempar dompet ke arah Ben. Kemudian dia buka resleting kantong besar warna hijau tua. Dia ambil sisa koran terbaru lalu membacanya secara cepat.


“Srakkk!!” suara sobekan koran terbaru yang disobek dengan tangan Andy.


Andy menyobek koran terbaru menjadi kecil-kecil lalu menginjaknya di lantai kayu dengan hentakkan kaki yang keras. Sasha yang nggak terima, mendorong-dorong Andy sampai ke tembok kayu.


“Kenapa korannya di sobek-sobek sih, kalau nggak suka ngomong dong!”


“Kau telah menyebar fakta kegilaanku yang berbicara sendiri dengan foto adik perempuanku di koran terbarumu,”


“Tapi jangan disobek, korannya itu dijual Andy!!”


“Terus kau menjual koran terbaru ini demi mencari keuntungan uang agar ingin kaya sendiri, gitu?” kata Andy nada suaranya semakin tinggi.


Ben pun memisahkan Sasha yang terus menggoyangkan badan Andy, sudah menjadi tugasnya sebagai penengah diantara kedua orangnya.


“Aku kasih peringatan, jangan sebar aib, kejelekan dan identitas tentangku ke dalam koranmu, Paham!” kata Andy melepaskan kemarahannya.


“Sudah Andy, cukup!” tegur Ben.


Bibir Sasha bergetar, matanya memerah meneteskan air mata yang mengalir di pipinya, dia berlindung dibelakang punggung Ben, melepaskan tangisannya yang ia tahan.


Andy sudah membaca sekilas berita koran terbaru yang menggambarkan foto dirinya yang tengah duduk berbicara sendiri dengan pigura emas di warung lalapan. Bahkan berita itu terpampang di halaman utama.


Dengan laku penjualan dan viral nya berita tentang M si Pembunuh, identitas asli Andy makin banyak diketahui oleh pihak berwajib. Andy yakin koran terbaru ini sampai ke kantor pusat polisi terutama The Punk.


“Tenang Andy jangan marah dulu, aku tahu Sasha salah, kasihan dia kerja seharian demi memuaskan bosnya,”


“Ingat, kalau kamu ingin jaket tentara abu-abu dan topengmu kembali, pergi sendiri sana ke markas The Punk.” sambung Ben sambil berikan dompet hitam ke Andy.


Andy membuka isi dompet tersebut, ternyata ada banyak uang rupiah warna biru dan oranye. Dia ambil semua uang lalu menaruh di saku celananya. Kemudian dia menemukan sebuah kartu nama kelompok The Punk dan lipatan selembar kertas buku bergambar peta lokasi.


Andy menggeram seperti harimau sampai bulu kuduk Sasha berdiri, dia masih saja menempel di punggung belakang Ben, tidak mau menatap wajah Andy yang marah besar.

__ADS_1


“Kalian berdua tetaplah disini, sekarang giliranku yang akan menggerebek markas The Punk.” kata Andy.


Andy pun keluar dari rumah kayu sendirian dengan tangannya yang mengepal erat memegang pisau dapur hingga keluar urat-urat. Berjalan pelan dengan badan yang gagah berani nan kuat.


__ADS_2