
Sasha terbaring di sofa yang empuk dan panjang, kakinya bisa selonjoran sepuasnya karena terdapat spons yang begitu tebal di dalam sofa ini. Dia tidur bersama puluhan lembar uang hasil gajian dari Boss Agent. Setelah pergi mampir keliling sana sini, Sasha mau istirahat total demi hari esok.
Sasha cium bau lembaran uang yang harum dan masih baru, mungkin Boss Agent mendapatkannya dari Bank. Memang kerja totalitas itu rasanya senang, lega dan tidak nanggung. Segepok uang diikat karet dijadikan tumpuan bantal di bawah kepalanya, dia goyangkan kaki dan tangan cari posisi ternyaman untuk tidur.
Saat tidur terlelap terbawa mimpi indah, terdengar bunyi getaran handphone di meja kabin kecil samping sofa, sekian detik layarnya hidup mati tanda notifikasi yang terus masuk.
Di luar pintu Boss Agent berjalan memutari meja bundar sambil tempel handphone di telinga. Kepalanya manggut-manggut ketika diajak ngobrol oleh si penelepon.
“Bagaimana kinerja Sasha di Agent News?”
“Lancar Tuan Bron, aku yakin dia betah kerja sama saya hehehe!” tawa Boss Agent tersenyum meringis.
“Kerja bagus, jangan biarkan dia balik lagi ke JoNews.co,” suara Bron dalam telepon semakin keras.
“Baik, Tuan Brondong!” jawab Boss Agent langsung taruh handphone di saku celana.
Boss Agent merapikan rambut dan kerah jas birunya lalu berjalan santai keluar dari kantor, meninggalkan Sasha yang tertidur pulas di atas sofa yang begitu empuk dan nyaman.
...***...
Membentuk barisan panjang, dari pucuk bak truk besar sampai stan bunga kemenyan samping penampungan sampah. Satu persatu pembersih sampah antre naik ke bak truk besar sambil pegang sampah-sampah yang terbungkus kardus dan plastik merah.
Setiap naik, mereka harus menata sampah hingga rapi tanpa berantakan. Sebelum naik Andy meraba otot bisep tangan masing-masing pembersih sampah, bila ada yang lembek seperti triplek maka langsung ditolak.
Sedangkan Ben bantu bagian mengatur posisi sampah yang rapi biar nyaman dilihat dan kapasitas bak truk cukup bagi semua orang yang ikut naik.
“Andy, biarkan aku yang menyetir mobil truk ini, tujuan kita kemana?” tanya Ben mengusap keringat di keningnya.
“Kita harus ke TPS Kebonagung dan rumah gubuk Gadang, setelah itu jalan-jalan bebas.” jawab Andy.
Ben acungkan jempol ke Andy, dia hitung jumlah pembersih sampah yang masih mengantre sampai belakang.
Bobot bak truk besar semakin terasa ketika Ben membunyikan mesin, setelah semuanya siap, Andy tidak lupa pamit sama Mandra yang rebahan santai di stroller bayi.
__ADS_1
Andy mengelus rambut tipis Mandra yang lembut dan bikin gemas bila di acak-acak, tetapi Andy lakukan dengan penuh kasih sayang dan lemah lembut.
“Aku pergi dulu ya Mandra, jangan cengeng nanti aku pulang bawa oleh-oleh.” Andy tersenyum lebar sambil menggoyangkan tangan mungil Mandra.
Mesin truk besar setinggi jerapah ini cukup bikin telinga berisik, karena suara mesinnya hampir mirip kereta api. Ban depan belakang, aman, yang di bak truk juga aman, Ben pun bunyikan klakson sebagai bentuk awal perjalanan mereka.
Andy duduk di kursi samping kemudi, dia tengok kaca spion yang mengkilap cahaya matahari di pagi hari. Para pembersih sampah menyanyikan lagu dangdut lawas sambil joget-joget. Andy merasa tempat duduknya bergetar, bukan karena musik radio dangdut yang tidak terlalu keras, melainkan hentakan kaki pembersih sampah yang lagi joget tidak jelas di bak truk besar.
Truk besar berhenti sejenak di depan zebracross, menunggu lampu lalu lintas berubah hijau, Andy tengok kanan kiri tidak ada yang mencurigakan, seharusnya jalan-jalan kali ini aman. 3 anak pengamen mengulurkan topi ke pengendara mobil, bertepuk tangan di depan jendela, berharap menghibur si pengendara mobil.
Namun ada yang aneh dengan lampu lalu lintas, ketika semua orang bersiap tancap gas, tiba-tiba setiap satu detik warnanya berubah menjadi hijau ke merah dan ke kuning lagi.
Orang-orang pada tidak suka, sama halnya dengan Ben yang langsung keluar mobil lalu memandang ke depan.
Rupanya ada polisi The Punk yang berbaris banjar di titik garis zebracross, mereka latihan PBB di tengah keramaian jalan besar, itu sangat memancing emosi orang yang dari tadi bolak balik ke perempatan, mengendarai mobil pick up.
“Andy, usir tuh polisi The Punk, halangi jalan seenak jidatnya aja. Pantas suka ganggu kehidupan—”
Lebih dari 2 menit The Punk belum minggir dari zebracross, suara bel mobil pengguna jalan tetapi lampu lalu lintas masih merah.
Andy pindah posisi melompat dari atas truk sampai mendarat jatuh ke bak truk yang mana banyak kulit pisang yang tertumpuk di karung beras semen Gresik warna coklat. Andy ambil satu tangkai, dia ayunkan kulit pisang, melemparnya jauh sampai tepat nempel di kepala polisi The Punk.
“KALIAN SEMUA MINGGIR, masih berani banget gangguin orang ya!” ledek Andy dengan nada suara tinggi.
Polisi The Punk yang lewat angkat tongkat hitam seraya menakut-nakuti Andy, mereka berdiri tepat di tiang lampu lalu lintas sambil bersenda gurau. Andy ambil kulit pisang, melemparnya tepat mengenai kepala polisi The Punk.
Pembersih sampah lain juga ikut bantu lempar, tak hanya kulit pisang, biji salak, kulit mangga mentah dilempar semuanya. Mengotori seragam hitam polisi The Punk.
“Apa? kalau mau marah, marah aja sini hadapi aku kalo berani, ayo!!” Andy menantang polisi The Punk.
Reaksi polisi The Punk hanya diam balik badan pergi dari tiang lampu lintas, lima detik kemudian, lampu berubah warna hijau hingga jalanan raya kembali normal.
Andy tepuk lengan tangan Ben yang pegang roda setir “Berhenti saat di depan kantor JoNews.co, aku harus balas si Jojo.” kata Andy mengepal kedua telapak tangannya.
__ADS_1
Ben mengangguk pelan, berpikiran bahwa Andy masih pendam amarah ke Jojo atas kecelakaan kemarin lalu. Ben sudah ikhlas dan melupakannya. Berbeda dengan Andy, entah balasan apa yang Andy berikan kepada Jojo.
Semua orang di bak truk besar koar-koar sambil tunjuk jari tengah ke polisi The Punk yang terdiam menatap truk besar melaju jauh pergi. Tidak ada yang berani naik motor dan bawa gas air mata lagi.
...***...
Bukan namanya pembersih sampah kalau tidak saling bantu membantu pemulung jalanan yang rebahan di trotoar, kulit pemulung yang coklat matang akibat sering rebahan di terik sinar matahari. Mulutnya menganga lebar seakan-akan lapar butuh makan.
Hati Andy terasa halus, di genggaman tangannya sudah ada sebungkus pisang Ambon. Dari atas bak truk, dia ulurkan tangan kanannya berikan bungkus pisang Ambon ke pemulung jalanan tersebut.
“Maturnuwun mas, semoga rezekinya lancar dan sehat selalu.” ucap pemulung dengan mata berkaca-kaca.
Lebih baik berbagi dengan orang baik daripada pusing ladeni polisi The Punk yang terus gangguin Andy kemanapun pergi. Andy mau lepas semua emosi kecelakaan lalu dengan cara jalan-jalan bareng anak buahnya naik truk besar.
Sesampainya di TPS Kebonagung, si kakek tua yang sempat ikut numpang mobil pick up, di kumpulkan kembali dengan kakek dan nenek lansia yang kebetulan lagi merapikan sampah yang mengambang di sungai kecil.
Sayangnya para tetua di sini jalannya lambat banget kayak siput, tanpa pakai alat bantu seperti tongkat kayu untuk orang manula. Penjaga TPS Kebonagung ini pada gulung tikar anyaman sebagai alas duduk dan terima barang bekas.
Satu persatu sampah di truk besar diangkut semua ke dalam gudang sebesar garasi mobil. Kemudian barang-barang yang masih bagus dijual belikan dan dipakai ditumpuk jadi satu di area belakang penjaga TPS.
Berbeda dengan Andy, dia serahkan kardus merek botol minum berisi gelas plastik bekas es campur. Dibukalah kardusnya, betapa senangnya si kakek dan nenek yang mengecek kualitas plastik es campur yang terlihat seperti baru, padahal itu barang bekas.
“Pak, Bu, Nih ada sebagian uang dari kami semua untuk kalian dan TPS Kebonagung, mohon diterima,” Andy dengan senang hati masukan dua amplop putih ke saku baju penjaga TPS. Mereka sangat begitu senang, pipi dan rambut Andy dielus-elus oleh kakek dan nenek penjaga TPS Kebonagung. Serta-merta didoakan dengan nada suara pelan.
“Maturnuwun mas, semoga ente semuanya sukses, sehat selalu, rezeki dilipat gandakan oleh yang maha kuasa.” ucap nenek penjaga TPS Kebonagung.
“Sami-sami Bu!” jawab Andy sopan badannya setengah membungkuk.
Bukan hanya Andy saja yang melakukan itu, anak buahnya yang lain dibelakang pun ikut salam hormat tanda terima kasih ke TPS Kebonagung.
Berbagi itu indah rasanya, Andy bisa rasakan betapa kesal dan marah ketika melampiaskan amarahnya dalam bentuk memberi sampah kulit buah-buahan ke polisi The Punk.
Begitu juga pula dengan TPS Kebonagung yang mau menerima seluruh barang bekas yang terjual, ditambah saling berbagi untung kepada penjaga yang ramah tamah kepada Andy dan para pembersih sampah.
__ADS_1