MANDY

MANDY
Bosan Bermain Pisau


__ADS_3

Panasnya matahari di siang hari ini membuat pengunjung pasar memilih jalan lewat gang pertokoan, saking ramainya orang-orang saling berdempetan memberi jalan satu sama lain agar tetap rukun dan tidak rusuh. Terutama bacotan ibu-ibu tukang belanja yang suaranya lebih ramai dibanding toko pedagang lain.


Tidak ada kata antri, semuanya pada ngumpul ulurkan tangan ke penjual sayuran yang bingung melirik sana sini melayani ibu-ibu.


Selain itu, yang tak kalah ramainya beberapa wartawan, fotografer yang mainan kamera menjepret penampungan sampah di berbagai sisi. Yang awalnya rombongan tukang becak bawa rongsokan, pembersih sampah antre kirim sampah yang siap dijual. Kini berubah total.


Tidak ada satupun batang hidung kakek sesepuh yang sering aduk-aduk sampah yang menumpuk sebesar gunung. Sekarang jadi bahan dokumentasi berita viral setelah insiden pembakaran kemarin lalu.


Cuma Ben seorang diri yang menghadapi banyak orang yang ingin mewawancarainya, berbagai macam mic diarahkan dekat ke mulutnya. Alisnya Ben bengkok ke bawah, bingung mau bicara depan kamera yang merekamnya.


“Pak Ben, boleh dijelaskan alasan pelaku membakar penampungan sampah?” tanya wartawan dengan senyum lebar.


Entah kenapa makin banyak sorotan kamera yang mengarah ke Ben, dia tersenyum meringis, menggerakkan tangan sambil menoleh ke kanan kiri. Belum ada sepatah kata apapun yang dilontarkan Ben.


Telapak tangan Ben langsung menggeser kamera lalu berjalan cepat minggir jauh-jauh dari keramaian ini. Beruntungnya banyak pengunjung pasar yang sok perhatian mendekat ke kamera sambil lambaikan tangan, sengaja menghalangi jalan supaya para wartawan dan fotografer ambil jalan lain.


Ben mendadak berjingkat mundur selangkah saat sepeda motor Jupiter MX berhenti dari depan mukanya. Matanya melotot senang bertemu dengan teman dekatnya lagi.


“Selamat siang Andy, permisi mau lewat,”


“Tunggu, Ben.” Andy tarik kerah baju belakang Ben.


Pandangan Andy fokus ke berbagai sorotan kamera yang mengarah ke wajahnya. Ben sembunyi di belakang Andy, menunduk kepala tak mau terlihat di kamera. Andy tersenyum kecil, dia mengerti situasi pasar saat ini.


Ben ditarik mundur Jojo, giliran Andy yang berdiri di tengah orang-orang yang berkumpul mendekatinya. Jepretan kamera membuat mata Andy kelilipan, seseorang memberinya mic yang ada logo stasiun TV.


“Mas Andy, tindakan apa yang akan anda lakukan untuk membalas pelaku pembakaran penampungan sampah?” tanya wartawan.


Andy mengembuskan nafas, wajah Bron dan Ginny muncul di atas kepalanya, teringat kembali momen terburuk yang mengganjal di pikiran Andy.


“Dengar Bron, tunggu pembalasanku, kau pasti akan di jebloskan ke penjara dan kubawa Ginny pulang ke rumah.” ucap tegas Andy memegang mic dengan tangan gemetaran.


Ben bertepuk tangan pelan, diikuti oleh Jojo dan pedagang pasar kaki lima lainnya. Semuanya bertepuk tangan dan bersorak nama Mandy dengan suara lantang. Wartawan serta fotografer pamit undur diri.


“Mandy, Mandy, Mandy!” serentak orang-orang di area jalanan pasar Tawangmangu.


Pengunjung pasar mundur satu langkah membukakan jalan tengah bagi Andy yang dikawal oleh Ben. Masuk ke dalam gudang UD. Sumber Berkah, banyak peralatan kuli bangunan yang menganggur dan digantung di jala ikan atas tembok.


Andy pegang satu persatu benda-benda tajam, mulai dari gergaji besi, kapak merah, celurit, cangkul dan lain-lain. Di depan meja kerajinan, Andy temukan satu kapak merah yang ujungnya lancip tipis berkilauan.


Andy coba pegang senjata tajam itu, dia elus bagian gagang kapak, menyentuh pelan-pelan ujung lancip kapak yang setajam silet sampai buat goresan kecil di jempol tangan Andy.

__ADS_1


Yang tidak kalah menarik adalah gergaji mesin yang dialiri sengatan listrik di angin roda giginya yang berputar secepat kilat bila dinyalakan.


“Brenggg! Brenggg!” suara gergaji mesin yang dipegang dua tangan Andy.


Andy angkat kapak merah dan gergaji mesin, di telapak tangan Ben sudah sedia pisau dapur yang masih bersih dan kinclong. Andy keluar ruang gudang tanpa ambil senjata favoritnya.


Ben garuk kepalanya yang tidak gatal, tumben Andy malah cuek tanpa lihat pisau dapur di genggaman tangan Ben. Mana mungkin psikopat yang jago nimbun pisau berdarah kental yang jadi peti harta karun tidak mau pakai senjata favoritnya.


“Andy, kamu nggak bawa pisau dapur juga?”


“Nggak perlu, pakai pisau buat nyerang orang banyak rasanya kurang mantap.”


Ben menganggukkan kepalanya, paham betul akan kepuasan Andy melawan musuhnya secara brutal tanpa pandang belah kasihan. Ben beri salam hormat kepada Andy yang sudah mau mampir ke pasar Tawangmangu lagi.


Semuanya sudah siap, dokumen sertifikat sudah di tangan Jojo, ditambah kelengkapan bertarung Andy untuk berjaga-jaga bila melawan Bron dan kawanan polisi The Punk. Mereka berdua berboncengan sepeda motor melaju kencang menuju pabrik tahu Brondong.


...***...


Kondisi jalan raya besar lagi longgarnya jalur kiri dan kanan, yang biasanya bikin macet truk Pertamina serta mobil yang lajunya melambat karena mendadak mogok lalu kebelet cari pom bensin terdekat.


Jojo fokus menyetir sembari melirik ke Google Maps yang telah melacak lokasi pabrik tahu. Andy agak kesusahan karena harus berpegangan gergaji mesin dan pundak Jojo supaya tidak jatuh.


Baru pertama kali boncengan sepeda motor dengan Jojo, yang biasanya suka marah-marahin Jojo sampai kena mental, dan tunduk dibawah kaki Andy, sekarang malah harus menolong Jojo demi menyelamatkan Sasha dan Ginny.


Jojo hanya fokus menyetir sepeda motor tanpa respon ucapan maaf Andy. Apakah dalam hati Jojo masih belum terima kaca kantornya pecah, ditambah Andy yang asal terobos masuk sembarangan.


Tepat di pertigaan jalan yang luas berdekatan dengan pom bensin Pertamina yang ramai antrian. Lampu lalu lintas warna merah, simbol seberang jalan menyala.


Saat pengguna jalan raya pada santai cek ban motor dan main handphone, Andy malah berdiri di sadel sepeda motor menatap seorang polisi The Punk berjaket tentara abu-abu menyebrangi jalan, sebuah mobil pick up maju sedikit berhenti di garis putih. Polisi itu ambil karung botol Sosro berisi armor vest level 3.


Andy langsung lompat dari sepeda motor Jojo, berlari menangkap polisi berjaket tentara abu-abu supaya tidak kabur. Jojo geleng-geleng panggil nama Andy berkali-kali, tetap saja Andy terlalu gegabah.


Ujung kapak merah yang berbentuk kotak dihantamkan ke bahu polisi The Punk sampai jatuh sempoyongan. Kotak botol Sosro pun jatuh, Andy ambil satu armor vest, kemudian dia pakai menutupi bagian perutnya.


Polisi The Punk masih bisa berdiri, dia pegang tongkat hitam yang biasa dibuat memukul penjahat.


“Mana pisaumu, ayo lawan aku!” polisi The Punk mengayunkan tongkat.


“Aku bosan bermain pisau, tangan kosong pun sudah cukup.” Andy menggoyangkan tangan jatuhkan kapak di bawah kakinya.


Kepala Andy langsung dipukul bertubi-tubi dengan tongkat hitam, polisi The Punk ini melampiaskan amarah sambil berteriak tidak jelas. Sedangkan Andy berdiri diam, raut wajahnya menahan pukulan. Tangannya mengepal menunggu momen yang tepat untuk balikan serangan.

__ADS_1


“Segitu doang?” Andy memiringkan kepalanya.


“Buaaghhh!”


Pukulan maut ke wajah polisi The Punk membuatnya jatuh jungkir balik, dari belakang Jojo cuma bisa tutup muka, mengintip dibalik jari jemarinya.


Andy menyeret masuk polisi The Punk yang jadi korban tinju samsak, dia bawa masuk kotak botol Sosro ke sebelah kursi kemudi pick up. Beruntung polisi The Punk itu masih cepat sadar, ia langsung nyalakan gas mobil.


“Sekarang tugasmu, antarkan aku dan Jojo ke pabrik tahu, awas jangan berani kabur ya!” Andy tuding jari telunjuk ke mata polisi The Punk.


...***...


Ginny rela pasrah tidur di sebelah peti mayat perempuan, Robet berdiri ditengah-tengah mengerutkan dagunya mencocokan wajah Ginny dengan mayat perempuan tersebut.


Sasha bersandaran di pintu masuk yang hawanya tidak sedingin di kotak penyimpanan tahu mentah. Walaupun kedinginan seperti berjalan di pasir salju Kutub Utara, semuanya pada diam tanpa panik.


“Ginny, wajahmu benar-benar mirip dengan mayat perempuan ini.” Robet melongo tutup mulut dengan tangannya.


Sasha langsung bantu bangun Ginny berdiri, menarik tangan Ginny menyuruhnya duduk bersebelahan dengan Sasha. Sasha menggenggam erat tangan Ginny yang dingin dan halus.


Ginny memalingkan wajahnya dari Sasha, tidak mau bertatapan dengan Sasha. Robet ikut duduk di samping Ginny.


“Jawab dengan jujur, siapa mayat perempuan di peti mati itu?” tanya Sasha mengelus jari jemari Ginny.


Ginny malah menggaruk dagunya yang gatal, Robet angkat dagunya Ginny, ada luka memar merah yang mengering jadi keping merah kehitaman.


“Jawab dulu jangan garuk-garuk—”


Ginny dengan kasar mengelak lepas tangan Robet, Sasha makin dekat berdempetan dengan Ginny. Robet mengusap tangannya ke lantai, terlihat bintik merah kecil dari tangan Robet.


Sasha tersenyum lebar, alisnya melengkung ke atas, dia atur nafas supaya tetap tenang dan jangan terbawa emosi.


“Sebenarnya aku bukan Ginny, tapi Gabby anak angkat dari Tuan Bron.”


“APAAA?!” serentak Robet dan Sasha.


Gabby berdecak kesal, pahit rasanya ngomong jujur di samping Sasha dan Robet. Dia benturkan kepala ke tembok belakang seraya melepas kekesalannya.


Robet menenangkan Gabby dengan cara memijat tangan dan mengelus punggungnya, dia bantu tarik nafas dalam-dalam supaya makin tenang.


“Aku ingin bebas, sudah tidak kuat lagi hidup dengan Tuan Bron, huhuhu!" kata Gabby pelan sambil menutup wajahnya.

__ADS_1


Sasha memegang kaset VCD Memori Hitam Putih, dia menganggukkan kepalanya menatap kaset berwarna putih itu, telinganya bergoyang mendengar Gabby yang menangis sesenggukan.


__ADS_2