
Halo semuanya, ketemu lagi nih sama aku. Setelah sekian lama kalian menunggu lanjutan ceritanya.
Oke langsung aja aku lanjut ke ceritanya. Sorry ya guys kalau ada typo and salah kata.😁😁😊😊🙏🙏🙏. Maklum author juga manusia 😊😊😊🙏🙏🙏😻
---------------_-______------_____-------------
Happy reading guys😊😊😍😍
-----@@@@@@@-------@-----@-----
Third person POV
----------------_____-----
Di waktu yang bersamaan, Idris masuk bersama pemilik toko ke dalam ruang kamera pemantau. Idris pun tersenyum karena mendapatkan hal yang dia perlukan. Dan setelah mendapatkannya dia kembali menemui Jennita yang sedang duduk di salah satu kursi.
"Aku mendapatkan bukti baru" ujar Idris senang.
"Aku juga" ujar Jennita dengan senyum bangga di wajahnya.
Setelah itu mereka pulang ke rumah masing-masing. Dan Idris mengantar Jennita pulang dahulu. Setelah itu Idris melaju kan motornya ke rumahnya. Di sepanjang jalan, tak henti-hentinya Idris memikirkan Jennita.
"Apa aku mulai suka dengannya??" lirih Idris bertanya kepada dirinya sendiri.
"Apaan sih dris!! Sadar dia anak yang buruk dan membawa kamu ke masalah terus menerus! !" batin Idris menolak pernyataan itu.
****
Jennita POV
------________--
Hari ini adalah hari kamis. Hari kedua penyelidikan kami. Seperti rencana, kami belajar dahulu di sekolah seperti biasanya. Saat aku masuk ke kelas aku merasakan hawa yang tidak enak dari Nita.
Aku melihat Nita mendongakkan kepalanya yang tadi menunduk. Dan sekarang Nita menatap aku dengan tatapan kesal dan kecewa.
“Hai, Nita kamu kenapa?” tanyaku dengan wajah kaget dan sedikit takut dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Nita.
“Kau masih bisa bertanya kenapa kepadaku, ha?!” ujar Nita kesal sambil berdiri dari duduknya.
“Iya, aku kan tidak tau kamu kenapa??” ujar aku kaget dengan ucapan Nita kepadaku.
Aku melihatnya mengambil telepon dari saku roknya. Dan memainkan teleponnya. Lalu menunjukkan layar teleponnya yang berisi video aku dan Idris.
“Aduh… abis nih aku” batin aku sedikit takut. Dan aku pun bersiap untuk kabur, tapi pundak aku sudah di pegang oleh Nita.
“Mau ke mana kamu ha?!” ujar Nita dengan nada yang membuat aku merinding.
“Abis sudah aku” batinku pasrah.
“Duduk!” perintah Nita dengan wajah serius.
Aku hanya menelan ludah dan tersenyum kaku di depan Nita yang berwajah masih kesal dan serius.
Aku melihat Nita mulai membuka mulutnya untuk berbicara tetapi bel masuk sudah berbunyi sebelum Nita berbicara.
“Kita lanjutkan nanti” ujar Nita masih kesal.
Dan aku hanya bisa tersenyum kecil melihat tingkah sahabatku ini. Nita juga mendiami aku selama pelajaran berlangsung.
“Nita!” ujar aku di sela mengerjakan tugas.
Tak ada tanggapan dari Nita, Jennita pun pasrah. Dan tak lama kemudian bel Istirahat berbunyi.
“Ayo ikut aku!” ujar Nita sambil menarik tanganku ke kamar mandi.
__ADS_1
“Sabar dong, nit” ujar aku kaget tiba-tiba tanganku di tarik oleh Nita.
Skip kamar mandi
---------------------
“Jelaskan tentang video itu!” ujar Nita masih kesal.
Aku pun tidak ingin membuat sahabatku marah dan mendiami aku. Aku pun bercerita semuanya dan sampai rencanaku bersama si ketua osis dan kak Melia.
“Berarti kamu berbohong pas di kafe. Kenapa?” tanya Nita sudah mulai lembut.
“Maaf, itu di suruh sama si ketua osis. Supaya orang-orang tidak tau rahasia itu,” ujar aku sambil meminta maaf pada Nita dengan wajah yang sangatlah sedih. Catat aku benar-benar sedih.
"Tapi semua itu tersebar oleh seseorang yang melihat kami dan merekam lalu menyebarkannya di grup sekolah.” tambah aku dengan wajah yang sangat menyesal karena sudah membohongi Nita.
Aku melihat Nita tersenyum dan memeluk aku.
“Aku tidak marah, tetapi aku hanya sedih kamu tidak memberitahu aku tentang ini dan berbohong” ujar Nita lembut dan berhasil membuat aku menangis.
“Inikah yang dinamakan sahabat sejati yang sebenarnya” batinku bertanya.
Aku menangis sambil memeluknya dan kulihat Nita semakin mempererat pelukan nya. Dan beberapa menit kemudian, kami melepaskan pelukan. Lalu pergi ke kantin.
Skip Kantin
--------------_____
Di kantin terjadi keramaian, aku dan Nita yang baru sampai langsung buru-buru melihatnya. Dan betapa terkejut dirinya aku saat yang membuat masalah itu adalah Kevin dan si ketua osis. Ya, mereka berkelahi.
“Kenapa mereka berkelahi??” tanya Nita ke salah satu siswi yang sedang melihat adegan itu.
“Aku kurang tau, tetapi yang aku dengar mereka merebut kan satu perempuan” ujar siswi yang ditanya oleh Nita.
Tanpa pikir panjang, entah apa yang merasuki aku. Aku pun langsung menerobos kerumunan itu dan memisahkan dua orang yang aku kenal itu.
Lalu si ketua osis dan Kevin pun saling melepaskan tangannya. Dan kulihat mereka berdua sudah terluka.
Aku pun menarik kedua orang itu dan memanggil Nita untuk ikut denganku. Aku membawa mereka ke UKS.
Skip UKS
-------______--
Di UKS aku langsung menyuruh dua orang itu untuk duduk. Aku dan Nita pun langsung mengobati mereka berdua. Aku pun memberanikan diri untuk bertanya di sela-sela mengobati mereka.
“Kalian berkelahi karena apa??” tanya Jennita sambil menatap kedua cowok di depanku itu dengan tatapan tajam.
Tidak ada jawaban dari kedua cowok itu. Aku pun geram dan membentak mereka berdua.
“JAWAB!! KALIAN PUNYA TELINGA KAN?!” bentak aku kepada mereka.
Aku melihat Nita yang mendengarnya kaget dan juga dua cowok itu pun kaget.
“Tanya saja sama ketua osis kamu” ujar Kevin sambil melirik tajam kepada si ketua osis.
“Tanya saja sama dia yang tiba-tiba memukul aku” sindir si ketua osis tak mau kalah dengan Kevin.
Aku pun menghela napas dan menatap mereka tajam.
“tinggal menjelaskan saja susah?! Dan Kevin kenapa kau ada di sini??!” ujarku mulai geram dengan tingkah laku mereka yang seperti anak kecil.
Aku melihat si ketua osis itu pun membuka mulut dan menceritakan semuanya.
-----------_--------_____-----------------___-----
__ADS_1
Flashback on
------___---------__
Idris POV
-----___-_-----
Aku sedang duduk santai sambil memakan batagor aku bersama sahabatku dan juga Melia. Sahabatku bernama Aldo Pratama.
Cie Aldo muncul.
Saat aku sedang makan, ada seorang cowok yang menghampiri aku dan langsung menarik kerah bajuku. Aku pun langsung mengenali nya.
“Dia adalah Kevin ketua geng SMP Harapan Jaya yang pernah aku kalah kan saat balapan motor dahulu” batinku saat melihat wajah orang yang menarik kerah bajuku.
“Suatu kebetulan sekali, aku bertemu dengan dirimu” ujar Kevin dengan senyuman mengejek yang membuat aku geram.
Aku pun langsung menghempaskan tangannya yang menarik kerah bajuku.
“Untuk apa kau ke sini?” ujar aku dengan nada yang dibuat tenang.
“Untuk membalaskan dendam aku karena kau sudah merebut Jennita dari aku,” ujar Kevin sambil memukul wajah ku.
Aku pun tidak tinggal diam dan membalasnya.
“Apa maksudmu, ha?!” tanyaku di sela memukulnya.
“Memang aku tidak tau kalau kau berpacaran dengan Jennita, ha?!” ujarnya sambil melayangkan tinjunya ke rahang aku.
“Aku tidak pernah berpacaran dengan Jennita” ujar aku di sambil memegang sudut bibir aku yang berdarah.
Dan aku melihat dia tidak terima dengan jawaban itu pun langsung memukul aku lagi. Dan terus terjadi hingga sosok yang membuat kami berkelahi datang memisahkan kami.
------------------\,\,\,\,\,\,\,\,\,\,\,\,\,----------
Flashback Off
--------___-_------_______---------__--_---------
Third person POV
---__------------_____-----
“Siapa yang bilang aku berpacaran dengan si ketua osis ini?” tanya Jennita setelah mendengar semua hal yang terjadi hingga Idris dan Kevin babak belur.
“Kata Yusuf teman SMP kita dahulu” ujar Kevin dengan jujur.
“APA!! KATAMU YUSUF COWOK KURANG AJAR ITU!!” ujar Jennita geram dan semakin yakin dia tidak salah membenci orang itu.
“Kamu kenapa Jenn??” tanya Nita bingung atas tingkah laku Jennita.
“Kalian lebih baik memaafkan karena ini semua adalah ulah seseorang yang membuat semua masalah ini muncul” ujar Jennita tegas.
Idris dan Kevin pun saling memaafkan.
“Jadi aku di tipu oleh Yusuf?” ujar Kevin.
Dan Jennita hanya tersenyum penuh makna. Lalu pergi kembali ke kelas. Sebelum kembali Jennita pun bertanya kepada Kevin.
“Kenapa kau bisa masuk ke sini?” tanya Jennita bingung. Karena SMA Mutiara Harapan tidak akan membukakan pintu di saat jam pelajaran masih berlangsung.
-------------------@@@@@@@-------------
Special thanks to Allah Swt. dan kedua orangtuaku yang ternyata mendukung aku dalam membuat novel ini. Dan juga tidak lupa KALIAN SEMUA READERKUU YANG SUDAH MAMPIR DAN MENINGGALKAN JEJAK SERTA SETIA MENUNGGU CERITA INI.
__ADS_1
THANK YOU ALL AND LOVE YOUUU😊😊😊😊😍😍😍😍🙏🙏🙏.
Salam hangat author, Joya Ramadhana Tohir