
Halo semuanya, ketemu lagi nih sama aku. Setelah sekian lama kalian menunggu lanjutan ceritanya. 😁😁😊😊😂😂😍😍
Apakah di bab ini bakal terungkap semua teka teki yang membuat kalian penasaran melulu ???? Kalau penulis baik pasti sudah diungkapkan.Tapi tidak tau ya kalau aku. 😂
Oke langsung aja aku lanjut ke ceritanya. Sorry ya semuanya kalau ada salah kata dan salah ketik.😊😊🙏🙏
Happy reading guys😊😊
-------------______-
Kevin POV
-------___--
Aku melihat senyum penuh makna dari Jennita membuat aku yakin aku telah ditipu.
“Kenapa kau bisa masuk ke sini?” tanya Jennita kepadaku.
“Aku pindah sekolah ke sini, hari ini aku baru masuk.” Jawabku yang membuat Jennita dan si ketua osis mengangguk.
“Ya sudah aku pergi ke kelas dahulu, ayo Nita” ujar Jennita meninggalkanku dengan si ketua osis itu berdua di UKS.
“Kau tidak suka sama Jennita?” tanyaku memecahkan suasana yang hening.
Dan aku melihat dia menggelengkan kepala. Aku pun tersenyum.
“Berarti aku memiliki kesempatan untuk mendekati Jennita” batinku senang.
“Aku heran kenapa sekolah ini mau menjadikan seorang bad boy menjadi seorang ketua osis” ujar aku dengan nada mengejek.
Aku melihat dia melihat aku sinis dan tajam.
“Santai dong lihat nya tapi benarkan kau tidak suka sama Jennita?” ujar aku memastikan jawaban dari si ketua osis itu.
“Iya!” jawabnya ketus dan mengobati luka yang ada di sudut bibirnya.
“kagak pernah berubah ya, kau. Dari dahulu sampai sekarang ketus terus.” ujar aku mengejek si ketua osis.
Setelah beberapa lama dengan suasana hening. Aku melihat Si ketua osis itu berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkanku sendirian di UKS.
Aku pun tidak mau sendirian di UKS pun ikut keluar dan pergi ke kelas aku di 11 IPA 2.
__ADS_1
Aku masuk ke kelas dengan santai padahal sudah ada guru di sana.
“Kevin!! Kau anak baru di sini tapi sudah membuat keributan! Keluar kamu, bersihkan kamar mandi perempuan di lantai dasar hingga bersih!!” perintah guru itu yang membuat aku mendengus dan segera keluar dari kelas.
Bukan Kevin namanya kalau menuruti perintah guru. Aku malah melangkah menuju kantin. Sesampainya di kantin aku melihat seorang perempuan yang sedang menelepon dan sayup sayup aku mendengar kata-kata yang membuat aku terdiam dan kesal.
“Kerjamu bagus Yusuf, kamu sudah membuat mereka berkelahi” ujar perempuan itu dengan tawa jahatnya.
Aku pun langsung pergi dari sana dan bersembunyi.
“Apakah dia dalang dari semua ini!” ujar aku sambil memukul tembok di sebelah aku.
Skip pulang sekolah
--------_******----
Third person POV
-----------____-
Kevin, Melia, Nita, Idris dan Jennita berkumpul di kafe setelah pulang sekolah.
Yang mengajak Nita dan Kevin adalah Jennita. Jennita pun membuka pembicaraan.
“Ini rekamannya” ujar Melia sambil menyodorkan alat perekam yang diberikan oleh Idris waktu itu.
“Ini bukti, orang yang merekamnya dan aku yakin” ujar Jennita sambil memberikan teleponnya dengan berlayar kan foto seorang laki-laki.
“APA!! YUSUF!!” ujar Kevin kaget.
Jennita pun hanya mengangguk dan Idris juga memberikan rekaman dari kamera pemantau yang dia ambil. Dugaan semakin kuat dan di tambah oleh ucapan dari Kevin.
“Tapi Yusuf di suruh oleh seseorang juga” ujar Kevin santai.
“Apa? siapa?? ” ujar Idris bingung.
“Iya, tadi aku melihat seorang perempuan sedang menelepon di pintu belakang kantin dan dia berbicara kepada seseorang di seberang telepon. Dan yang kudengar seperti ini 'Kerjamu bagus Yusuf, kamu sudah membuat mereka berkelahi' seperti itu.” Ujar Kevin serius.
Semua yang ada di meja itu pun langsung menatap bingung dan meminta penjelasan perempuan itu kepada Kevin.
“Apa kau masih ingat wajahnya?” ujar Melia.
__ADS_1
“Iya, aku ingat” ujar Kevin.
Melia pun mengambil telepon dari saku roknya dan memainkan teleponnya dan menunjukkan sebuah foto.
“Apakah dia?” tanya Melia dengan wajah kesal.
“Iya, benar. Bagaimana kau tau?” ujar Kevin dengan wajah heran.
Melia pun menghela napas dan mulai bercerita.
“Jadi dahulu aku berteman dengannya. Kami sahabat baik hingga dia merebut pacar aku di depanku. Kami pun saling menjauh dan dia berambisi untuk menghancurkan kehidupan aku dan siapa pun di dekat aku” jelas Melia dengan raut wajah sedih dan kesal.
“Maaf, malah kalian yang terlibat oleh masalah aku dengan dia” ujar Melia sangatlah menyesal.
“Hei Kakak, ini bukan salah kamu” ujar Jennita sambil memeluk Melia.
“Iya benar ini bukan salah kakak” ujar Nita dengan tersenyum.
Melia yang diperlakukan seperti itu pun akhirnya menjatuhkan tetesan air mata yang sudah dia bendung dari saat bercerita.
“Jangan menangis dong Kakak. Ayo kita sama-sama jadi teman dan membalas orang itu hingga tidak bisa berkutik,” ujar Jennita memberi semangat kepada Melia.
Melia pun menghapus air matanya dan tersenyum.
“Nah, seperti ini kan lebih cantik” ujar Nita sambil tersenyum.
“Kevin, apakah kau merekam perkataan dia?” tanya Jennita kepada Kevin.
Kevin tersenyum dan mengeluarkan teleponnya.
“Rekam dong, nih” ujar Kevin sambil memberikan teleponnya kepada Jennita.
“Waktunya pembalasan sudah tiba!” ujar Jennita menyemangati semuanya.
Semuanya tersenyum dan menyantap pesanan mereka yang diabaikan dengan canda ria.
“Rasanya sekarang aku tidak suka dengan Idris. Entah apa yang mengubah aku dari rasa benci kepada Jennita berubah menjadi rasa senang bisa berteman dengannya dan Nita” batin Melia bingung tetapi juga senang.
--------@@@@@@@@@-------------
"Mungkin dahulu dia adalah orang yang buruk atau pun baik tetapi tidak dengan sekarang. Setiap orang bisa berubah mungkin dari baik ke buruk atau sebaliknya. Setiap orang bisa berubah jika dia memiliki niat dan tinggal menunggu waktunya saja untuk dia berubah. " Dari author (Joya Ramadhana)
__ADS_1
Special thanks to Allah Swt. dan kedua orangtua aku yang ternyata mendukung aku dalam membuat novel ini. Dan juga tidak lupa KALIAN SEMUA READERKUU YANG SUDAH MAMPIR DAN MENINGGALKAN JEJAK SERTA SETIA MENUNGGU CERITA INI.
THANK YOU ALL AND LOVE YOUUU😊😊😍😍😍😁😁