Mantan Bad Boy And Bad Girl

Mantan Bad Boy And Bad Girl
Detektif Idris dan Aldo Mulai Beraksi


__ADS_3

Halo semuanya ketemu lagi sama aku.


Oke, langsung aja ke cerita aku dan maaf ya kalau ada salah ketik atau salah kata.


Selamat membaca semuanya!!


****


Hari senin adalah hari awal memulai semua kegiatan dan rintik hujan di pagi hari membuat suasana di sekeliling dingin. Seorang perempuan sedang meringkuk kedinginan di sebuah kamar. Ya, perempuan itu adalah Jennita.


“Jennita bangun!!” teriak Santy dari balik pintu kamar anaknya.


Jennita bukannya bangun malah semakin mendalamkan wajahnya ke bantal, “Ngantuk Mah!”


“Bangun atau Mama seret kamu ke kamar mandi!” ancam Santy yang membuat Jennita tidak kapok dan malah kembali tidur.


Santy yang bingung tidak ada jawaban dari kamar putrinya pun memilih masuk dan betapa terkejut dirinya saat melihat kasur.


“Jennita!!” teriak Santy lalu membuka selimut yang menutupi tubuh anaknya.


“Apaan sih Mah?” tanya Jennita masih setengah sadar.


“Hari ini hari senin dan sekarang sekolah, bangun sekarang!” teriak Santy yang membuat Jennita malah memejamkan matanya lagi.


“Malas ah Mah,” ujar Jennita.


“Kamu itu ya, Mama potong uang jajan kamu baru tau rasa.” ancam Santy yang membuat mata Jennita langsung membulat sempurna.


“Iya aku mau mandi nih,” ujar Jennita sembari bangun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi dengan malas.


“Dari tadi kek,” ujar Santy tersenyum penuh kemenangan.


“Mama mah mengancam melulu,” dengus Jennita langsung masuk ke kamar mandi.


“Biar yang penting Mama cantik sama pintar masak, emang kamu.” ujar Santy yang membuat Jennita memutar bola matanya.


“Heran deh, punya mama kayak gitu.” ujar Jennita sembari membuka keran air.


Jennita pun berangkat dengan ditemani cuaca gerimis dan hawa dingin yang membuat siapa pun lebih memilih tidur daripada melakukan aktivitas.


“Ohayou!!” sapa Jennita sembari menyapa Nita yang sudah setia duduk di tempatnya.


“Aku kira kamu tidak masuk, Jenn” ujar Nita sembari menggosok kedua tangannya.


“Iya, tadi aku enggak mau masuk.” ujar Jennita yang membuat Nita bingung.


“Tapi--” Nita belum selesai berbicara pun langsung di sela oleh Jennita.


“Gara-gara mama aku, makanya aku bisa di sini.” tambah Jennita yang membuat Nita hanya mengangguk-angguk.


Tak terasa bel masuk sekolah dan harusnya di hari senin ini ada upacara menjadi jam kosong untuk semua kelas.


“Kamu sudah mengerjakan pekerjaan rumah dari Ibu Hera?” tanya Nita yang membuat Jennita menoleh bingung.


“Emang ada ya?” tanya Jennita yang membuat Nita kaget bukan kepalang.


“Ada,” jawab Nita, “mau lihat punya aku?”


“Mau,” jawab Jennita yang langsung mengambil buku Nita yang sudah tersedia di atas meja.


Jennita pun menyalin semua jawaban dari buku Nita dan jangan tanyakan Nita sedang apa karena dia sedang pacaran sama pacar dia melalui pesan.


Jennita yang melirik Nita hanya bisa mendengus, “Yang jomblo mah diam saja.”


“Lah, kamu kan ada Kakak ketua Osis,” ejek Nita yang membuat Jennita langsung melotot.


“Ogah! Jangan sampai deh aku jatuh cinta sama dia.” ujar Jennita merinding membayangkan dirinya suka dengan ketua osis itu.


“Iya, mungkin.” Nita semakin gencar menggoda Jennita.


“Balas dendam ceritanya nih,” ujar Jennita cemberut.


“Iya, ha ha ha” Nita semakin tertawa keras lalu terdengar suara dering pesan masuk dari telepon Jennita.


 Tring!


“Siapa yang kirim pesan?” gumam Jennita sembari membuka telepon.

__ADS_1


“Siapa?” tanya Nita dengan wajah serius karena melihat wajah Jennita yang super kesal.


              Dari : 089878xxxxxx


              Simpan nomor telepon aku ya –Idris.


“Ketua osis itu,” jawab Jennita lalu hanya membaca pesan itu dan mematikan teleponnya.


“Itu ada,” ujar Nita mulai menggoda Jennita.


“Eh?! Tunggu deh dia dapat nomor aku dari siapa?” tanya Jennita yang baru sadar.


“Bukan aku pastinya,” ujar Nita sembari tersenyum polos.


Jennita yang tidak percaya tetap melihat Nita dengan mata menyipit, “Yakin?”


“Yakin sekali, mungkin Kak Melia yang kasih.” ujar Nita yang membuat Jennita semakin kesal.


“Awas aja kalau ketemu sama aku nanti!” ujar Jennita sembari mengepalkan tangan di depan wajah.


“Aku tidak ikut-ikutan,” ujar Nita sembari mengangkat tangan menyerah.


Tak terasa bel mulai jam pelajaran kedua di mulai dan semuanya termasuk Jennita pun belajar.


****


Di waktu sebelum bel masuk jam pelajaran di kelas Idris.


“Dijawab sama dia enggak?” tanya Aldo yang melihat sahabatnya menatap layar teleponnya dengan sedih.


“Enggak, cuman dibaca doang.” jawab Idris dengan ekspresi sedih yang membuat Aldo tertawa terbahak-bahak.


“Lucu banget ekspresi kau,” ujar Aldo di sela tawa dan langsung ditatap tajam sama Idris.


“Hari ini kita harus mengawasi mereka,” ujar Idris yang membuat Aldo berhenti tertawa dan langsung memasang wajah serius.


“Tapi bagaimana caranya?” tanya Aldo yang membuat Idris langsung berpikir keras.


“Aku tau caranya!” Idris sedikit berteriak yang membuat dirinya ditatap heran.


“Aku pikir dia cuman sok berpikir doang.” batin Aldo.


Sudah aku duga hanya itu yang bisa dia katakan. Batin Aldo. “Oke, jadi kita harus mengikuti mereka dari saat pulang sekolah?”


“Iya, tanya saja ke Nita mereka hari ini kumpul tidak.” titah Idris. Lalu dengan sigap Aldo mengirim pesan singkat ke Nita.


             Untuk : Nita Sayang


             Hari ini kamu sama teman-teman kamu berkumpul tidak atau jalan-jalan gitu?


“Oke, tinggal menunggu kabar saja.” ujar Aldo dan tak berselang lama guru masuk ke kelas Idris.


****


Di sebuah toko seorang perempuan sedang berbicara dengan seorang pembunuh. Ya, siapa lagi kalau bukan Roselia.


“Sekarang kau bisa menjalankan aksi kau itu dan jangan mengecewakan aku,”  ujar Roselia kepada orang di depannya.


“Baik!” ujar orang di depannya dan pergi meninggalkan Roselia sendiri.


“Tunggu pembalasan dari aku, Idris.” ujar Roselia sembari memainkan pisau di tangannya lalu tertawa jahat.


****


Bel istirahat pun berbunyi dan Jennita langsung berlari menuju kantin mendahului Nita.


“Buru-buru sekali sih, Jenn.” ujar Nita yang sudah berjalan di samping Jennita.


“Lapar soalnya.” ujar Jennita terkekeh.


“Iya deh.” ujar Nita yang langsung fokus ke telepon.


“Kalau jalan jangan sambil main telepon, Nita.” ujar Jennita memperingati.


“Iya, ini aku dapat pesan dari Kak Aldo.” ujar Nita.


“Apa isi pesannya?” tanya Jennita.

__ADS_1


“Dia nanya hari ini kita kumpul atau tidak,” ujar Nita, “jawab apa dong?”


“Jawab iya saja.” jawab Jennita yang membuat Nita bingung.


“Tapi--”


“Coba aja kamu tanya Adzka dan Kak Melia nanti di kantin.” ujar Jennita memotong ucapan Nita.


“Di potong melulu!” ujar Nita cemberut.


“Ha ha ha, emang enak.” ujar Jennita berlari meninggalkan Nita sendiri.


“Hei! Tunggu dong!” teriak Nita sembari berlari mengejar Jennita.


“Adzka sudah selesai kali ya?” tanya Jennita setelah Nita sudah ada di sampingnya.


“Sepertinya sudah deh,” ujar Nita, “Lagian cuman di suruh bersih perpustakaan doang.”


Jennita hanya mengangguk dan langsung melihat Melia dan Adzka yang sedang berbincang di salah satu meja kantin.


“Hai!” teriak Jennita tepat di samping Melia dan Adzka.


“Eh kodok loncat!” ujar Adzka kaget yang membuat Jennita tertawa terbahak-bahak.


“Hai juga,” balas Melia sembari menahan tawa.


“Seru ya ngerjain orangnya!” sentak Adzka yang membuat Jennita cengegesan.


“Hari ini kita jalan-jalan enggak?” tanya Nita yang sudah duduk di sebelah Adzka.


“Iya!” jawab Adzka dan Melia semangat.


“Nah, kan.” ujar Jennita yang membuat Nita kaget.


“Oke.” ujar Nita dan langsung mengirim balasan ke pacarnya.


             Untuk : Aldo Sayang


              Hari ini aku jalan-jalan bareng teman-teman. Tumben kamu nanya?


Mereka pun makan dengan canda ria dan keusilan Jennita selalu lekat dalam persahabatan mereka.


****


Tring!


“Di balas sama Nita,”  ujar Aldo lalu melihat isi pesan.


“Apa kata dia?” tanya Idris semangat.


“Iya, mereka jalan-jalan.” jawab Aldo sembari membalas pesan Nita.


               Untuk : Nita Sayang


               Tidak buat apa-apa kok,cuman iseng doang.Hati-hati pas di jalan ya.


“Oke, kita ikuti dari saat keluar sekolah.” ujar Idris dan Aldo langsung mengangguk cepat.


****


Bel pulang sekolah pun berbunyi dan Jennita dan teman-temannya kembali ke rumah terlebih dahulu lalu berkumpul di kafe depan mal.


“Sudah kumpul semua nih ya?” tanya Jennita dan semua mengangguk lalu berjalan menuju mal.


“Kau lihat orang itu?” tanya Idris sedikit berbisik.


“Iya, dia orang suruhan Roselia, kan?” ujar Aldo yang membuat Idris mengangguk.


“Dia sudah mulai bergerak dan kita juga harus selalu waspada.” titah Idris dan Aldo mengangguk setuju.


“Jadi mata-mata benaran kita ini,” ujar Idris sedikit tertawa.


Suka rada-rada ini anak. Batin Aldo. “Iya.”


****


Sampai sini aja ya dan jangan lupa like, vote, rate 5 bintang, komentar dan jangan lupa tekan love di bawah cerita.

__ADS_1


Terima kasih banyak yang sudah vote dan like semua cerita dari awal ataupun yang hanya mampir di satu cerita.


__ADS_2