
Heyoo guys ketemu lagi sama aku dan makasih banyak buat yang udah sempetin baca.
Sorry ya guys kalau ada typo ataupun salah kata, harap maklum aku juga masih amatir hehehe.
Happy reading guys
-----------------
Sebelum Jennita naik ke motor Idris.
Idris POV
---------
Aku melihat Jennita sedikit malas untuk naik ke atas motorku.
“Ayo cepat naik” Desakku menyembunyikan senyum girangku.
Dan aku lihat dia langsung naik ke motorku tanpa mengelaknya.
“Oke kita berangkat” Ujarku.
Aku pun langsung tancap gas dan pergi menyusul Aldo yang sudah jalan duluan.
Di perjalanan aku dan Jennita hanya diam. Dan aku pun memberanikan diri untuk bertanya tentang jawaban Jennita.
“Jenn aku mau nanya” Ujarku dan hanya direspon dengan diam oleh Jennita.
“Jawabanmu apa?” Tanyaku gugup.
“Jawaban apa?” Tanya dia lagi dengan wajah tanpa dosa.
“Jawaban yang pas itu di taman” Jawabku dengan nada gemas.
“Oh itu” Ujar Jennita tidak peduli.
“Apakah ini karmaku ya?” Batinku menyesal.
Ya, aku menyesal dulu jadi bad boy dan juga playboy.
“Apa jawabanmu?” Tanyaku lagi.
Demi apapun baru pertama kalinya aku bisa gugup seperti ini. Dulu aku menembak orang dengan santainya dan sekarang aku gugup di depan bad girl.
Kalau kalian bertanya apakah aku benar-benar suka sama Jennita. Jawabannya adalah benar, entah apa yang merasukiku hingga aku bisa suka dengan Jennita.
Aku melihat dia dari kaca spion dan dia sedang memperhatikan jalanan.
“Apakah dia malu untuk menjawab atau dia tidak suka dengan aku?” Batinku khawatir dan penuh harap.
“Gimana Jenn? Apa jawabanmu?” Tanyaku lagi untuk kesekian kalinya.
Aku pun melihat dia mendengus dan menatap datar ke kaca spion.
“Aku akan menjawab kau di rumah Adzka dan sekarang diam. Fokus saja pada jalan yang ada di depanmu” Jawabnya dengan nada datar dan aku semakin gelisah.
Aku pun fokus ke jalan tapi pikiranku tidak fokus ke jalan melainkan pergi untuk menerka apa yang akan dijawab oleh Jennita.
Skip sampai rumah Adzka
-------------------
“Tok tok” Bunyi pintu yang diketuk oleh Jennita.
__ADS_1
“Assalamualaikum!” Ujar kami semua.
Tak lama kemudian pintu terbuka dan menampilkan seorang wanita paruh baya yang cantik dan sepertinya ramah.
“Waalaikumsalam, siapa ya?” Jawab wanita paruh baya itu.
“Kami temannya Adzka tante” Ujar Jennita dengan senyum ramah.
Entak kenapa senyum itu sangat membuat jantungku berdetak dengan cepat dan berisik.
“Senyumnya manis sekali” Batinku.
Dan tanpa sadar aku jadi melamun. Sentakkan kuat di lenganku membuat aku tersadar.
“Dris!” Teriak Aldo sambil memukul lenganku.
“Ah iya kenapa?” Tanyaku salah tingkah.
“Itu kamu di tanyain sama mamanya Adzka” Ujar Melia kepadaku.
“Ah maaf tadi aku melamun tante” Ujarku malu-malu.
“Malu-maluin banget sih aku” Batinku kesal dan malu pada diriku sendiri.
“Tadi tante nanya nama kamu siapa?” Ujar mamanya Adzka.
“Nama aku Idris tante” Ujarku dengan tersenyum canggung.
“Nama tante Indira Septian” Ujar Mamanya Adzka dengan tersenyum ramah.
“Ya sudah masuk dulu yuk” Ajak Mamanya Adzka kepada kami semua.
Kami pun masuk ke dalam rumah Adzka dan memandang kagum ruang tamu yang rapih sekali.
“Kalian mau duduk dulu atau langsung ke kamar Adzka?” Tanya mama Adzka kepada kami.
Dan lagi – lagi senyuman itu membuat jantungku berdetak lebih cepat.
“Nih jantung kenapa sih?!” Batinku kesal.
“Ya sudah kalian naik ke lantai dua ya, ada namanya kok di pintu kamar” Ujar Mama Adzka.
“Iya makasih tan” Ujar Jennita.
“Iyaa, tante tinggal dulu yaa” Ujar Mama Adzka sambil berjalan ke dapur.
“Iya tante” Ujar kami semua sambil menundukkan pandangan.
Kami pun pergi menuju ke kamar Adzka. Sampai di kamar Adzka, aku pun melihat Jennita mengetuk pintu
kamar Adzka.
“Tok tok” Bunyi ketukkan pintu.
“Masuk” Ujar Adzka dari balik pintu.
Jennita pun membuka pintu di depannya dan terlihat Adzka yang sedang duduk di samping ranjangnya.
“Adzka” Ujar Jennita masuk ke dalam kamar Adzka.
Kami pun ikut masuk ke dalam kamar Adzka dan Adzka pun tersenyum.
“Gimana keadaan kamu dzka?” Tanya Melia sambil mendekat ke Adzka.
__ADS_1
Aku hanya melihat Adzka dari kejauhan. Aku pun melihat Aldo dan Nita berjalan mendekati Adzka. Dan aku melihat Adzka melihat tajam ke arahku.
“Kenapa kau ada di sini?” Tanya Adzka dengan nada kesal.
“Memangnya aku tidak boleh menjenguk orang yang sakit hah?” Tanyaku santai.
Aku pun melihat Adzka hanya diam dan datanglah Mama Adzka dengan membawa semangkuk bubur di nampan.
“Kalian mengobrol saja ya dan jangan lupa makan buburnya sayang” Ujar Mama Adzka sambil menaruh bubur di nakas lalu mengelus rambut Adzka lembut.
“Tante ke bawah dulu ya, kalian mengobrol saja” Ujar Mama Adzka sambil berlalu keluar kamar Adzka.
“Iya tante” Uja kami semua.
“Sini aku suapin” Ujar Jennita sambil mengambil bubur dari atas nakas.
“Iyaa” Ujar Adzka tanpa paksaan.
Aku hanya melihat Jennita dengan senyum manisnya dan menyuapi Adzka seperti anak kecil.
“Lucu banget sih kamu Jenn” Batinku senang.
Sepuluh menit berlalu dan aku melihat buburnya sudah habis dimakan oleh Adzka.
“Habis hehe” Ujar Jennita seperti seorang Ibu yang sudah selesai menyuapi anaknya.
“Iyaa hehe” Ujar Adzka dengan tersenyum.
Aku pun tidak sabar mendengar jawaban Jennita dan memberanikan diri bertanya.
“Mau minum” Ujar Adzka.
“Aku ambilkan yaa” Ujar Jennita sambil beranjak dari duduk dan mengambil gelas yang ada di nakas.
Aku melihat Jennita membantu Adzka saat minum dan aku langsung bertanya.
“Kapan kamu menjawab tembakanku Jenn? Apa jawabanmu?” Tanyaku bertubi-tubi dan aku melihat Jennita hanya diam.
“Kenapa kamu tidak mau menjawabku Jenn?” Tanyaku dengan wajah memelas.
Aku sudah lelah digantungin dan pikiranku sudah kacau. Aku lelah menunggu dan sepintas muncul di pikiranku kalau Jennita sedang mengerjaiku.
Aku pun mendekati Jennita dan aku melihat Jennita kaget. Lalu gelas yang di pegang Jennita pun jatuh dan pecah.
“Prangg pyar” Suara gelas itu dan semua yang menyaksikan Jennita menjatuhkan gelas pun kaget.
Serpihan kaca dari gelas itu tersebar di semuanya dan aku melihat Jennita sangat ketakutan.
“Jennita kenapa ya?” Batinku panik.
Aku melihat Jennita sudah dipeluk oleh Melia dan Nita. Aku pun ikut mendekat dan aku melihat Jennita menangis.
--------------@@@@@@--------------
Heyoo guys maaf ya lama upnya.
Special thanks to Allah Swt. dan kedua orangtuaku yang
ternyata mendukung aku dalam membuat novel ini. Dan juga tidak lupa KALIAN
SEMUA READERKUU YANG SUDAH MAMPIR DAN MENINGGALKAN JEJAK SERTA SETIA MENUNGGU CERITA
INI.
__ADS_1
THANK YOU ALL AND LOVE YOUUU
Salam hangat author, Joya Ramadhana Tohir