Mantan Bad Boy And Bad Girl

Mantan Bad Boy And Bad Girl
Cinta Menjadi Benci


__ADS_3

Halo semua maaf ya kalau aku baru bisa up hari ini. Maaf juga ya kalau ada salah kata mohon maklum. Langsung aja kita ke ceritanya.


Selamat membaca semuanya!!


-----------------


Flashback On


----------


Dahulu Jennita adalah anak yang baik dan suka menolong teman-temannya yang tertindas hingga Jennita sendiri yang tertindas oleh para penindas. Sampai Jennita berumur 12 tahun.


"Jennita!" Teriak teman sekelas Jennita. Teman sekelas Jennita itu bernama Fita.


"Iya, kenapa Fit?" Tanya Jennita saat melihat Fita nampak lelah mengejar Jennita dari gerbang masuk sekolah.


"Tadi kamu dicari sama cowok," Ujar Fita sedikit gemetar.


"Siapa?" Tanya Jennita penasaran.


"Aku tidak tahu dan yang aku tahu dia menunggu kamu di kelas sekarang." Ujar Fita masih gemetar.


"Siapa yang mencari aku?" Batin Jennita bingung.


Jennita dan Fita pun pergi ke kelas. Dan di depan kelas sudah terdengar keributan. Ya, siapa lagi yang membuat keributan selain cowok yang mencari Jennita.


"Akhirnya datang," Ujar Cowok yang memiliki tampilan berantakan dan juga terlihat galak.


"Nama aku Rio." Ujar sambil memberikan salah satu tangannya untuk Jennita balas.


"Aku Jennita," Ujar Jennita sambil membalas jabatan dari Rio.


"Kenapa kamu mencari aku?" Tanya Jennita langsung pada intinya.


"Tau Oktavia kan?" Tanya Rio dengan senyum licik terukir di bibirnya.


"Tau, kenapa ya?" Tanya Jennita dengan dahi berkerut.


"Aku ke sini untuk membalaskan dendam Oktavia kepada kamu." Ujar Rio yang membuat Jennita menelan salivanya.


"Kenapa dia mau balas dendam kepadaku?" Batin Jennita bingung.


"Temui aku sepulang sekolah di belakang sekolah dan datanglah sendiri saja." Bisik Rio tepat di telinga Jennita. Jennita pun langsung merinding.


"Oke." Ujar Jennita dengan nada sedikit gemetar.


"Dia bilang apa Jenn?" Tanya Fita.


"Dia bilang aku harus datang ke belakang sekolah sendirian." Jawab Jennita dengan tatapan datar. Tidak mungkin Jennita tidak takut.


"Kamu tidak mau aku temani?" Tanya Fita khawatir.


"Tidak perlu" Jawab Jennita menolak.

__ADS_1


"Yakin?" Tanya Fita lagi.


"Iya." Ujar Jennita sambil mengangguk kecil.


"Oke." Ujar Fita masih khawatir.


Pulang sekolah


----------


Jennita pun melangkah ke jalan kecil di belakang sekolah dengan takut-takut.


"Kenapa sepi sekali?" Batin Jennita.


"Sudah datang ternyata" Ujar Rio sambil melangkah mendekati Jennita.


Jennita hanya diam di tempatnya dan terlihat seorang perempuan berusia sama seperti Jennita keluar dari kegelapan jalanan.


"Oktavia!" Ujar Jennita tidak percaya karena seingat Jennita, Oktavia sedang terluka di rumah sakit.


"Kenapa kaget seperti itu? Takut?" Ujar Oktavia dengan nada mengejek.


"Tidak." Ujar Jennita memberanikan diri.


"Oke, kita mulai saja permainannya." Ujar Oktavia sambil mengerakan  jarinya.


Tak berselang lama muncullah beberapa orang laki-laki yang membawa tali.


"Ikat dia!" Perintah Oktavia yang membuat Jennita langsung mengambil langkah panjang untuk pergi.


"Mau kemana?" Ujar Rio sambil menghadang jalan yang ada di depan Jennita.


Jennita pun tidak bisa kabur. Jennita pun langsung ditarik dan diikat lalu dimasukkan ke dalam sebuah ruangan gelap.


Di lain sisi Fina sudah bersiap dengan pasukan polisi yang dia panggil untuk mengepung para penindas itu. Dan tiba waktunya Fina memberi aba-aba kepada semuanya untuk keluar. Rio, Oktavia dan orang-orangnya pun ditangkap. Fina pun langsung menyelamatkan Jennita.


Semua masalah yang dihadapi Jennita pun selesai dan Jennita pergi pulang ke rumah di antar oleh Fina.


"Terima kasih Fina" Ujar Jennita sambil turun dari mobil Fina.


"Sama-sama Jenn, aku pergi dulu ya" Ujar Fina sambil memerintah supirnya.


"Iya hati-hati ya" Ujar Jennita lalu masuk ke rumah.


Terdengar dari dalam rumah ada suara seorang laki-laki yang dia kenal adalah suara ayahnya dan suara perempuan yang sangatlah asing di telinga Jennita.


"Suara perempuan itu bukan suara mama" Batin Jennita.


Jennita pun melangkah pelan dan terlihat ayahnya sedang berciuman mesra di atas sofa ruang tamu.


"Itu kan sekretaris papa" Batin Jennita tak percaya dengan apa yang dia lihat.


Kesabaran Jennita habis dan tanpa pikir panjang Jennita langsung membuka pintu dengan kasar.

__ADS_1


"PAPA JAHAT!!" Teriak Jennita histeris.


Fradito dan sekretarisnya itu pun kaget dan langsung melepas ciuman mereka.


"Kok kamu pulang cepat Jenn?" Ujar Fradito kelabakan.


"Jadi ini yang papa lakukan di belakang mama," Ujar Jennita sinis.


Fradito pun membulatkan mata dan langsung memeluk Jennita. Jennita pun meronta dan berhasil melepas pelukan Fradito.


"Aku akan bilang ke mama!" Ujar Jennita sambil berlari menuju telepon rumah dan menelepon mamanya.


"Halo ma" Ujar Jennita setelah mamanya mengangkat telepon.


"Halo kak, ada apa kak? Tumben kamu telepon" Ujar mama Jennita di seberang telepon.


"Mama bisa pulang sekarang kan?" Tanya Jennita mulai gelisah.


"Bisa kok kak, ini mama sudah mau sampai rumah. Memang ada apa kak?"  Ujar mama Jennita khawatir.


"Oke mama segera datang ke rumah ya," Ujar Jennita.


"Oke, mama tutup ya teleponnya" Ujar mama Jennita sambil menutup telepon.


"Kita lihat sampai kapan papa bisa membohongi mama" Ujar Jennita dengan tersenyum licik.


"Kamu cinta sama papa kan Jenn?" Tanya Fradito.


"Iya tapi itu dahulu, sekarang aku sangat membenci papa," Ujar Jennita dengan tertawa sadis.


"Ingat ya pa, bukan cuman benci menjadi cinta tapi cinta juga bisa berubah menjadi benci." Ujar Jennita dan terdengar deru mobil di luar rumah Jennita. Ya, mama Jennita sampai di rumah Jennita.


"Ada apa ini?" Tanya Santy saat melihat pintu rumah sudah terbuka lebar.


"Mama harus tau kalau papa berselingkuh dengan sekretarisnya dan aku saksinya." Ujar Jennita dan terlihat Santy yang menatap sedih ke arah Fradito.


"Dahulu aku memberi kesempatan untuk kamu berubah tapi ternyata tidak kamu manfaatkan dengan baik. Sekarang kamu keluar pergi dari rumah ini dan bawa juga wanita selingkuhan kamu itu. Dan aku akan mengurus surat perceraian kita." Titah Santy dan Fradito langsung pergi bersama sekretarisnya itu.


"Maafkan mama ya kak" Ujar Santy sambil memeluk Jennita.


"Mama tidak salah kok" Ujar Jennita membalas pelukan mamanya.


--------------------------------------------------


Maaf ini sedikit dan terima kasih ya buat semuanya yang masih setia nunggu.


"Hargai setiap orang yang ada di kehidupan kamu yang sekarang dan janganlah sampai kamu menyesal di kemudian hari" (by Joya Ramadhana Tohir)


Special thanks to Allah Swt. dan kedua orangtuaku yang ternyata mendukung aku dalam membuat novel ini. Dan juga tidak lupa KALIAN SEMUA READERKUU YANG SUDAH MAMPIR DAN MENINGGALKAN JEJAK SERTA SETIA MENUNGGU CERITA INI.


THANK YOU ALL AND LOVE YOUUU


               Salam hangat author, Joya Ramadhana Tohir

__ADS_1


__ADS_2