
Halo semuanya terima kasih buat yang masih setia baca cerita aku dan juga yang udah mau
meninggalkan jejak apalagi vote.
Langsung aja ke cerita aku ya dan maaf kalau ada salah ketik atau salah kata.
Selamat membaca semuanya!!
****
“Lama sekali jawabnya Jenn,” Ujar Adzka yang mulai tidak sabaran.
“Iya keburu berlumut ini kita menunggu kamu jawab.” Ujar Nita yang membuat Adzka dan Melia tertawa
terbahak-bahak. Jangan tanyakan Jennita, Jennita sekarang sedang berpikir untuk
menjawab pertanyaan dari Nita.
“Jawab seadanya aja sih Jenn.” Ujar Melia yang mendapat persetujuan dari Adzka dan Nita.
“Aku mau membuat Idris merasakan apa yang dirasakan orang-orang yang pernah dia sakiti saat masih bad boy.” Ujar Jennita ragu.
“Yakin hanya karena itu?” Tanya Adzka curiga dengan jawaban Jennita yang terlihat ragu sekali.
“Iya yakin dan kalian mau membantu aku kan?” Tanya Jennita dengan senyum kudanya.
“Bantu apa?” Tanya Melia bingung dengan tingkah Jennita.
“Bantu aku agar si ketua osis itu jera untuk mendekati aku.” Ujar Jennita yang membuat ketiga temannya geleng-geleng kepala.
“Cepat sekali mood nya berubah.” Batin Melia.
“Oke, aku bantu semampu aku ya.” Jawab Adzka.
“Iya, semampu aku juga.” Jawab Nita dan Melia hanya menganggukkan kepalanya.
Dan mereka pun memainkan permainan truth itu selama satu putaran dan mereka semua tertidur.
****
Esok harinya, Jennita dan teman-temannya pergi ke taman untuk lari pagi.
“Jennita! Tunggu!” Teriak Nita yang ditinggal oleh Jennita.
“Kamu kok tega meninggalkan aku sih?!” Nita pun cemberut dan duduk di kursi taman yang kosong.
“Kamu lama sih jadi, aku tinggal aja deh he he” Ujar Jennita cengengesan.
“Cengengesan lagi.” Ujar Nita kesal.
“Adzka dan kak Melia mana?” Tanya Jennita bingung.
“Tadi beli minuman dan suruh aku duluan mengejar kamu” Jawab Nita yang membuat Jennita bingung.
“Tumben mereka tidak mengajak aku sama Nita?” Batin Jennita curiga.
****
“Adzka!” Teriak Melia.
“Kenapa kak?” Tanya Adzka bingung.
“Itu bukannya Sesil sama Idris ya?” Tanya Melia sambil menunjuk dua orang yang sedang duduk
dengan jarak yang sangat jauh di salah satu bangku taman yang kosong.
“Iya benar kak.” Jawab Adzka dengan wajah kaget.
“Dekati tidak?” Tanya Melia yang membuat Adzka langsung mengangguk setuju.
__ADS_1
“Oke kita pura-pura jalan ya,” Titah Melia dan mereka pun berhasil menyelinap di belakang
Idris dan Sesil.
“Sekarang waktunya kita diam.” Bisik Melia yang mendapatkan anggukan dari Adzka.
“Kau mau bicara apa sama aku?” Tanya Idris dengan ketus.
“Aku minta maaf karena kemarin aku langsung memeluk kamu dan aku mau mengatakan kalau aku sudah
tidak suka lagi sama kamu.” Ujar Sesilia dengan tatapan sedih.
“Sudah aku maafkan.” Ujar Idris datar.
“Boleh tidak aku berteman sama kamu dan teman-teman kamu yang kemarin?” Tanya Sesil sedikit takut. Ya, Sesil takut kalau Idris malah memarahi dirinya.
“Boleh asalkan kamu tidak melakukan hal aneh seperti kemarin itu lagi.” Jawab Idris datar.
“Baiklah, Terima kasih Idris.” Ujar Sesil dengan senyum cantik.
“Ya sudah aku mau lari lagi.” Ujar Idris meninggalkan Sesil yang masih duduk.
“Iya.” Ujar Sesil lalu bersandar di bangku taman dengan perasaan lega.
“Akhirnya aku bisa berteman lagi dengan Idris.” Batin Sesil dengan senyum manis menghias
wajah cantik nya.
Kertak Derak
Bunyi ranting yang tak sengaja terinjak oleh Melia dan mereka pun dengan langkah cepat pergi dari tempat persembunyian mereka.
Mendengar suara ranting patah di belakang Sesilia. Sesil pun langsung menoleh ke sumber suara.
“Tidak ada apa-apa, mungkin hewan kali ya.” Ujar Sesilia sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal dan pergi dari taman.
****
“Iya benar kak.” Ujar Adzka sambil mengelus dadanya.
“Kita beli minum dulu dzka.” Ujar Melia sambil menunjuk warung.
“Iya kak.” Ujar Adzka.
Dan mereka pun membeli 4 botol air minum. Mereka pun pergi menemui Jennita dan Nita yang sedang duduk santai.
****
Idris yang sedang berlari pun terdiam saat melihat Jennita sedang mengobrol dengan Nita di salah satu bangku taman.
“Ke sana tidak ya?” Batin Idris takut. Ya, Idris takut kalau Jennita langsung pergi meninggalkannya.
“Coba aja deh ke sana.” Lirih Idris setelah mengumpulkan keberanian.
“Hai Jenn!” Sapa Idris dengan lembut.
Jennita yang mendengar namanya di panggil pun menoleh dan wajahnya yang ceria berubah menjadi datar.
"Kau lari juga?" Tanya Jennita dengan wajah tidak suka.
"Iya. Kamu masih marah sama aku?" Tanya Idris lesu.
"Menurut kau?" Tanya Jennita balik sambil memutar bola matanya.
"Iya masih. Please kasih aku kesempatan," Ujar Idris dengan menunjukkan ekspresi sok imut.
"Kesempatan apa?" Tanya Jennita bingung.
"Kasih aku kesempatan pacaran sama kamu." Ujar Idris dengan cepat.
__ADS_1
Jennita yang mendengar itu pun kaget dan dengan cepat tersenyum licik.
"Ini kesempatan aku membuat dia jera." Batin Jennita senang.
"Boleh tidak?" Tanya Idris dengan wajah bingung dengan tanggapan yang dia dapat.
"Boleh kok, tapi ada satu syarat," Ujar Jennita yang membuat Nita kaget bukan kepalang.
"Apa syaratnya?" Tanya Idris bersemangat.
"Kamu harus berteriak kalau kamu sudah punya pacar dan lari sebanyak sepuluh kali putaran di taman ini tanpa berhenti. Sanggup tidak?" Ujar Jennita sambil melipat lengannya di depan dadanya.
"Kamu yakin Jenn?" Bisik Nita tepat di telinga Jennita dan dibalas anggukan pasti.
"Oke aku sanggup." Ujar Idris tegas lalu mulai berlari sambil berteriak apa yang disuruh oleh Jennita tadi.
Jennita dan Nita pun kaget bukan kepalang karena seorang ketua osis yang terkenal dingin dan ketus mau menerima syarat aneh dari seorang perempuan yang dia sukai.
"Yakin dia ketua osis kamu Nita?" Tanya Jennita tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Iya aku juga tidak yakin." Jawab Nita dengan mulut masih terbuka.
****
Adzka dan Melia yang baru keluar dari warung pun kaget dengan apa yang di depannya.
"Itu kan Idris," Ujar Melia tidak percaya. "Aku tidak salah liat kan dzka?"
"Tidak kak, kakak tidak salah lihat." Jawab Adzka yang juga kaget.
Idris pun lewat di depan Adzka dan Melia dengan berteriak.
"Aku sudah punya pacar!" Teriak Idris keras hingga kini dia menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di taman.
"Sudah punya pacar?!" Kaget Adzka dan Melia serempak.
Adzka dan Melia tetap melanjutkan perjalanannya menuju Jennita dan Nita dengan kepala yang penuh dengan tanda tanya.
Mereka berdua pun sampai di tempat Jennita dan Nita duduk.
"Kalian tadi melihat Idris berlari sambil berteriak 'Aku sudah punya pacar'?" Tanya Melia masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat tadi.
"Iya lihat lah, orang yang menyuruhnya saja ada di sebelah aku sekarang." Jawab Nita sambil mengambil air mineral botol dari tangan Adzka.
"Apa?!" Kaget Adzka dan Melia serempak.
"Kamu bohong kan Nita?" Tanya Adzka yang masih tidak percaya.
"Dia benar dzka." Jawab Jennita santai.
"Kamu kan tidak suka sama dia, kok kamu terima dia?" Tanya Melia yang membuat Adzka dan Nita refleks menatap Jennita dengan tatapan menuntut.
"Karena ini rencana aku membuat dia jera dan tidak akan mendekati aku lagi." Jawab Jennita dengan senyum licik.
"Jadi ini maksud kamu dengan rencana yang kamu bicarakan kemarin?" Tanya Melia tidak percaya.
Jennita pun mengangguk dan melihat ke arah seorang cowok yang sedang berlari sambil berteriak.
"Ini baru dimulai." Ujar Jennita yang membuat ketiga temannya menggeleng tidak percaya.
"Sadis sekali kamu Jenn." Ujar Nita yang disetujui oleh Melia dan Adzka. Jennita hanya tersenyum penuh arti.
****
"Kadang kita tidak mengakui kesalahan kita dan malah menyalahkan orang lain. Kurangi sifat itu ya karena hal itu akan membuat kamu dijauhi oleh teman-temanmu." dari Joyart.
Jangan lupa tinggalkan jejak dan Terima kasih banyak buat yang masih setia baca cerita aku yang amatir ini.
Sampai jumpai lagi dan jaga kesehatan selalu ya teman-teman semua.
__ADS_1