
Halo semuanya ketemu lagi sama aku dan terima kasih banyak buat semuanya yang masih setia baca cerita aku.
Langsung aja ke cerita aku dan maaf kalau ada salah ketik atau salah kata.
Selamat membaca semuanya!!
-------------------
Mereka pun masuk ke kelas, sampai di kelas terjadi keributan yang menyebut nama Jennita.
"Tau tidak kalau Jennita pacaran sama kak Idris" Ujar siswi 1.
"Kak Idris? Si ketua osis?" Tanya Siswi 2.
"Iya" Ujar Siswi 1.
Jennita yang mendengar namanya pun langsung menengok dan mengerutkan dahi.
"Siapa yang menyebarkan berita bohong itu?" Batin Jennita.
Adzka yang mengetahui Jennita penasaran pun langsung bertanya ke sumbernya.
"Kalian dapat info itu dari mana ya?" Tanya Adzka.
"Kami mendapatkannya dari kakak perempuan yang sekelas dengan kak Idris" Ujar Siswi 1 dengan gugup.
"Siapa namanya?" Tanya Nita.
"Kami tidak tau" Ujar mereka takut-takut.
"Kenapa mereka takut sekali?" Batin Adzka curiga.
"Oke deh makasih ya" Ujar Nita.
"Iya sama-sama" Ujar kedua siswi itu. Kedua siswi itu pun pergi ke tempat duduknya dengan tergopoh-gopoh.
"Kenapa mereka takut sekali ya?" Tanya Adzka curiga.
"Iya, aneh sekali" Ujar Nita.
Jennita hanya diam dan duduk di tempat duduknya dengan ekspresi datar.
"Kamu tidak apa-apa Jenn?" Tanya Nita pada akhirnya.
"Aku tidak apa-apa kok" Ujar Jennita dengan tersenyum palsu.
Beberapa menit kemudian guru pun masuk ke dalam kelas.
"Pagi anak-anak, hari ini ibu mau bertanya satu hal kepada kalian dan jawab dengan jujur ya" Ujar Sinta. Sinta adalah guru BK kelas 10 di kelas Jennita.
"Siapa di sini yang sudah memiliki pacar?" Tanya Sinta.
Sontak semua siswa kaget dan ada yang menggoda temannya, ada yang malu-malu dan ada yang biasa saja seperti Jennita, Adzka dan Nita yang masuk ke dalam anak-anak yang malu-malu.
"Aduh, bagaimana ini Jenn?" Tanya Nita ke Jennita.
Jennita yang melihat Nita malu-malu pun tertawa.
"Ibu! Nita pacaran sama kak Aldo" Ujar Jennita sambil mengangkat tangan kanannya.
"Aldo mana Jenn?" Tanya Sinta penasaran.
"Teman sekelas si ketua osis bu" Jawab Jennita yang membuat semua siswa melihat Jennita kaget dan jangan tanyakan perasaan Nita.
__ADS_1
Nita sudah malu dan mencubit lengan Jennita.
"Auw!" Ringis Jennita sambil mengelus lengannya dan tersenyum kuda ke arah Nita.
"Benar itu Nita?" Tanya Sinta.
"I-iya bu" Jawab Nita malu-malu.
"Sudah berapa lama kamu pacaran sama Aldo?" Tanya Sinta yang membuat wajah Nita semakin merona.
"Baru tuh bu" Timpal Adzka yang mendapatkan tatapan tajam dari Nita.
"Kenapa Adzka memperburuk suasana?" Batin Nita pasrah dan bingung.
"Oh baru, terus kamu Jenn?" Tanya Sinta yang membuat Jennita terkejut.
"Kok Ibu nanya saya?" Tanya Jennita heran.
"Iya, bukannya kamu pacaran sama Idris?" Tanya Sinta yang membuat Jennita refleks melotot.
"Kata siapa bu?" Tanya Jennita masih melotot.
"Kata anaknya langsung" Jawab Sinta yang membuat Jennita refleks menoleh ke arah Adzka dan Nita bergantian.
"Kok Ibu percaya sama ucapannya kak Idris sih" Ujar Jennita yang membuat Sinta bingung.
"Jadi, kamu pacaran atau tidak sama Idris?" Tanya Sinta yang membuat semua siswa di kelas penasaran.
"Tidak bu" Jawab Jennita tegas.
"Kamu sudah jujur?" Tanya Sinta lagi.
"Iya ibu saya sudah berkata jujur" Jawab Jennita dengan menatap bola mata Sinta hormat.
"Ada lagi yang berpacaran?" Tanya Sinta ke seluruh siswa di kelas Jennita.
Jangan tanyakan keadaan Jennita karena Jennita sudah ingin membunuh Idris sepulang sekolah nanti.
****
Pulang sekolah di parkiran sekolah
---------
"Woi ketua osis!" Teriak Jennita yang membuat dia menjadi perhatian semua siswa yang ada di parkiran sekolah.
"Iya kenapa sayang?" Tanya Idris yang membuat Jennita ingin muntah.
"Untuk apa coba panggil sayang emang nama aku sayang apa!" Ketus Jennita setelah di depan Idris.
"Iya, Jennita sayang kenapa?" Tanya Idris dan Jennita yang sudah tidak sabar lagi pun menampar pipi Idris dengan kencang.
Plak!
"Auw sakit" Ringis Idris memegang pipinya.
"Itu hadiah dari aku karena sudah menyebar berita yang tidak-tidak tentang aku!" Ketus Jennita sambil pergi meninggalkan Idris yang masih membatu di tempatnya.
Semua yang ada di parkiran pun membatu melihat kejadian itu dan ada satu orang yang melihat sedih ke arah Idris. Ya, orang itu adalah Sesilia.
"Jadi dia perempuan yang kamu suka dris" Batin Sesil murung. Sesil pun pergi meninggalkan parkiran itu.
"Sakit sekali" Ujar Idris sambil memegang pipinya.
__ADS_1
"Salah kamu sendiri sih ini mah" Ujar Melia ambil mengobati pipi Idris di UKS.
"Iya benar kata Melia" Ujar Aldo.
Idris hanya diam tanpa ekspresi dan menarik napas panjang. Idris pun bangkit dan pergi meninggalkan Aldo dan Melia di UKS.
"Eh! Belum selesai itu!" Teriak Melia geram.
"Sudah biarkan saja dia" Ujar Aldo dan Melia pun menghela napasnya.
"Keras kepala sekali sih teman kamu itu" Ujar Melia kesal. Aldo hanya tersenyum pahit dan mengajak Melia untuk pulang.
****
Sesilia pun masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya kasar di kasur.
"Kamu suka sama orang yang dahulu pernah membuat kamu tidak sadarkan diri" Lirih Sesilia sambil memejamkan matanya.
Tanpa sadar Sesil pun tertidur dan bermimpi tetang kejadian di saat Idris terluka karena menolong Jennita. Ya, Sesil mengetahui kejadian itu bahkan dia melihatnya secara langsung.
****
"Idris!" Teriak seorang perempuan paruh baya dari dapur.
"Iya ma!" Ujar Idris saat mendengar mamanya memanggilnya . Mamanya bernama Viliana Putri.
"Kamu baru pulang" Ujar Viliana setelah duduk di ruang tamu.
"Iya ma tadi ada urusan sebentar makanya pulang telat" Ujar Idris lesu di sebelah Viliana.
Viliana pun menoleh dan melihat pipi anaknya merah.
"Ini kenapa Idris?" Ujar Viliana sambil menangkup wajah anaknya dengan lembut.
"Habis ditampar sama Jennita ma" Jawab Idris lesu.
"Kok bisa ditampar sama Jennita?" Tanya Viliana.
"Soalnya aku yang sebar berita aku sama dia pacaran" Ujar Idris.
"Tapi kan memang kalian pacaran kan?" Tanya Viliana masih tidak percaya anaknya ditampar oleh pacarnya sendiri cuman gara-gara hal kecil.
"Sebenarnya sih aku sama dia tidak pacaran ma" Ujar Idris sedikit menundukkan kepalanya.
"Idris, ada-ada aja sih kamu" Ujar Viliana heran dengan tingkah laku anak semata wayang nya itu.
"Ya sudah aku ke atas ya ma, aku mau istirahat" Ujar Idris sambil mencium tangan mamanya lembut.
"Iya, jangan lupa diobati lagi pipinya" Ujar Viliana menghela napas panjang.
"Bagaimana jadinya kalau mereka menjadi suami istri nanti ya?" Batin Viliana ngeri. Viliana pun membayangkan Jennita dan Idris yang menikah.
"Ha ha ha ha lucu sekali" Ujar Viliana lalu menggelengkan kepalanya.
"Ada ada aja sih aku ini" Batin Viliana sambil memakan makanan yang dia masak tadi.
---------------------------------
"Hidup ini bagai air. Air tidak pernah sedikit pun tenang sama seperti kehidupan yang selalu memiliki masalah. Tapi kita juga harus kuat jangan seperti air yang hanya mengikuti arus saja tanpa melawan ketika dia benar." Dari Joya Ramadhana Tohir.
Maaf ya kalau kata-kata mutiara dari aku tidak jelas hehe.
Terima kasih banyak buat kalian semua yang masih setia baca cerita aku. Dan jangan lupa tinggalkan jejak ya.
__ADS_1
Sampai jumpa lagi semuanya dan aku padamu semuanya.