Mantan Bad Boy And Bad Girl

Mantan Bad Boy And Bad Girl
Roselia!!


__ADS_3

Halo semuanya dan terima kasih banyak buat masih setia dengan membaca, memberi rate, boomlike, komentar dan juga vote.


Langsung saja kita ke cerita aku dan maaf kalau ada salah ketik atau pun salah kata.


****


“Kita harus janji kalau tidak akan ada yang bisa memisahkan persahabatan kita, ya.”  ujar Melia sembari memberikan jari kelingking.


“Janji!” ujar mereka berempat dan mereka pun pulang dengan perasaan bahagia.


“Ya sudah sekarang kita pulang, ya.”  ajak Nita dan mereka pun pulang ke rumah Jennita.


Mereka semua pun pulang ke rumah Jennita dan akhirnya pulang ke rumah masing-masing.


****


Idris yang sedang melihat bola basket pun kaget saat melihat orang yang sangat dia kenal dari kejauhan sedang melihat Jennita dan teman-temannya. Idris pun menyenggol lengan Aldo pelan.


“Kenapa?” tanya Aldo heran.


“Coba kau lihat orang di sana sepertinya sedang memperhatikan Jennita dan teman-temannya!” titah Idris sembari menunjuk ke arah yang dia suruh tadi.


“Itu ... kan Roselia!” Aldo kaget bukan main.


“Iya, tadi aku pikir aku salah orang dan ternyata benar dia.” ujar Idris sedikit mengernyit.


“Terus?” Aldo bingung dengan ekspresi yang dibuat oleh Idris.


“Ikuti dia!” titah Idris yang membuat Aldo bingung bukan kepalang.


“Kenapa harus ikuti dia?” tanya Aldo yang membuat Idris menatap dia kesal.


“Pasti dia akan melakukan sesuatu yang membahayakan Jennita dan teman-temannya,” jawab Idris sembari pergi meninggalkan Aldo.


“Eh?! Tunggu!” Aldo berlari dengan cepat mengikuti Idris.


Idris dan Aldo pun berjalan dengan tudung jaket yang menutupi wajah mereka. Mereka takut Roselia akan membuat masalah lagi seperti saat mereka SMA kelas 1.


****


Flashback On


Idris yang sedang bermain basket bersama dengan Aldo dan teman-teman di kelas-nya


dikejutkan oleh sebuah suara teriakan.


“Huwaa!!” teriak seseorang dari gudang olahraga.


“Ada apa itu?” tanya semua siswa yang ada di lapangan beserta guru-guru lalu pergi ke gudang olahraga.


Mereka pun sampai di sana dan terlihat seorang siswi sedang duduk dengan menutup matanya dan bergerak menjauh dari gudang olahraga dengan lemas.


“Kamu kenapa?” tanya salah satu guru lalu memeluk siswi yang gemetar itu.


Siswi itu tidak menjawab melainkan menunjuk ke arah gudang olahraga yang pintunya terbuka lebar dengan gemetar. Lalu salah satu guru cowok pun melihat ke dalam gudang olahraga dan akhirnya ikut kaget.


“Kenapa ada mayat perempuan di sini?!” Guru cowok itu pun langsung mundur secara perlahan.

__ADS_1


“Apa?!” ujar semua yang mendengar ucapan guru cowok itu dengan tidak percaya dan Idris pun langsung melihat.


“Benar, ada mayat perempuan yang sepertinya baru meninggal kemarin kalau melihat kulit dari mayat itu.” ujar Idris yang membuat semuanya melotot.


“Segera panggil kepala sekolah, ambulans, dan polisi!” perintah salah satu guru dan semuanya pun langsung di suruh menjauh dari tempat kejadian.


“Seram sekali, ya.” ujar siswi A dengan meremas tangannya takut.


“Pasti pembunuhnya masih ada di sini,” ujar Idris yang membuat Aldo dan yang lainnya merinding ngeri.


“Terus.. sekarang kita harus apa?” tanya Aldo yang membuat Idris berpikir.


“Aku tau caranya!” teriak Idris yang membuat teman-temannya kaget.


“Kesurupan kayak-nya, nih anak satu.” dengus Aldo yang membuat teman-teman sekelas dia tertawa.


“Jadi, kita bakal lihat siapa yang hari ini melihat dia tapi wajahnya biasa aja. Bagaimana?” ujar Idris yang membuat semua temannya tersenyum.


Mereka pun berpencar ada yang di dekat gudang olahraga, kantin, lapangan, taman, dan juga kelas. Idris dan Aldo menunggu di dekat tempat kejadian pun melihat ada hal yang janggal. Lalu terdengar suara perempuan yang sedang berbicara di telepon di belakang lab komputer di dekat gudang olahraga.


“Kerja bagus! Aku akan membayar kamu lebih nanti.” ujar perempuan itu dan akhirnya pergi dari lab komputer.


Idris dan Aldo pun bersembunyi dan mengintip perempuan itu. Betapa terkejut mereka ketika melihat perempuan itu adalah Roselia teman sekelas mereka yang memang terkenal pendiam.


“Ikuti dia!” perintah Idris lalu pergi mendahului Aldo dan tanpa membantah Aldo pun mengikuti Idris dengan pelan.


“Akhirnya, aku bisa membuat dia jatuh cinta dengan aku dan aku bisa mengambil semua yang dia punya. Ha ha ha.” ujar Roselia lalu tertawa jahat di taman belakang sekolah yang sangat sepi.


“Jadi, dia yang membunuh siswi itu!” batin Idris dan Aldo yang tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


Idris dan Aldo pun pergi langsung dengan cepat dan akhirnya mereka kembali ke kelas dengan napas yang tersengal-sengal.


“Tidak apa-apa, hanya habis berlari saja.” jawab Aldo masih dengan napas yang tidak teratur.


Idris pun memanggil semua teman-temannya yang tadi terpencar untuk kembali ke kelas.


“Bagaimana caranya kita melaporkan dia? Kita tidak ada bukti.” ujar Melia yang membuat semuanya mengangguk setuju.


“Tenang.. aku merekam ucapannya di taman belakang.” ujar Idris tersenyum licik yang membuat semua temannya menatap dia dengan tatapan kagum dan kaget.


“Oke, saatnya laporan!” ujar Aldo sedikit berteriak dan semuanya tertawa bersama.


Idris pun memberikannya ke pihak polisi dan Roselia di tangkap lalu semuanya yang melihat kejadian itu pun tutup mulut. Mayat perempuan yang mereka temukan adalah siswi paling pintar di sekolah dan tidak memiliki masalah sedikit pun dengan Roselia lalu dimakamkan di tempat yang layak.


Flashback Off


****


“Kau mau kejadian yang sama berulang lagi?” tanya Idris yang membuat Aldo bergidik ngeri.


“Enggak, deh.” jawab Aldo sembari menggeleng cepat.


“Ya sudah, waktunya jadi detektif sementara!” teriak Idris kecil.


“Oke, siap Bos!” teriak Aldo sembari hormat.


Mereka pun terus berjalan mengikuti Roselia dan akhirnya Roselia berhenti di sebuah toko minuman keras.

__ADS_1


“Untuk apa dia ke sini?” tanya Aldo berbisik.


“Aku tidak tau dan sepertinya kita akan sulit untuk masuk. Bagaimana caranya ini?” jawab Idris dengan raut wajah kesal sangat terlihat.


“Oke, ada duit kan?" ujar Aldo.


"Ada, kenapa memang?" ujar Idris.


"Jadi, gampang, dong.” ujar Aldo yang membuat Idris tersenyum penuh kemenangan.


Mereka pun masuk mengikuti Roselia dengan mengendap-endap meski sebelumnya ditahan tapi ternyata masih bisa di selesaikan dengan uang.


“Kita duduk di sana!” perintah Idris sembari menunjuk salah satu tempat terdekat dengan Roselia.


“Oke.” Aldo pun mengikuti Idris dengan santai agar tidak mencurigakan.


“Aku ingin kau menyiksa empat cewek ini, bagaimana? Kau bisa?” ujar Roselia sembari memberikan satu foto.


Idris pun sedikit melirik dan betapa terkejut Idris ketika melihat empat cewek itu adalah Jennita, Nita, Melia, dan Adzka.


“Berani bayar berapa kau?” ujar cowok yang lebih tua dari Roselia dan berotot.


“Satu miliar, bagaimana?” ujar Roselia yang membuat Idris dan Aldo yang mendengarnya langsung kaget.


“Oke, saya terima.” ujar cowok di depan Roselia lalu beranjak pergi meninggalkan Roselia sendirian.


“Cewek itu sudah gila sepertinya,” bisik Aldo yang membuat Idris mengangguk setuju.


Tak berselang lama Roselia pun bangkit lalu pergi meninggalkan toko itu. Idris dan Aldo pun tetap mengikuti dan akhirnya sampai di rumah besar yang membuat Idris dan Aldo menelan ludah.



“Sepertinya ... ini rumah Roselia.” ujar Idris yang membuat Aldo tercengang.


“Jadi, dia orang kaya sederajat dengan kau dong? Dan ini rumah atau istana besar sekali!” ujar Aldo kaget dan membuat Idris mengangguk.


“Kita harus pulang sekarang!” perintah Idris yang langsung menarik Aldo dengan cepat.


Mereka pun sudah menjauh dari rumah Roselia dan di jalan Aldo masih bingung pun bertanya.


“Kenapa kita lari tadi?” tanya Aldo yang membuat Idris diam sejenak lalu menarik napas.


“Tadi, kita hampir saja ketahuan kalau kita tidak cepat lari!"  jawab Idris. “Tadi, ada pengawal yang mau ke arah tempat kita bersembunyi.”


Aldo pun mengangguk dan mengelus dada, “Heran, deh, ada manusia kayak dia.”


“Banyak kali!” celetuk Idris yang membuat Aldo langsung berdoa.


“Kenapa doa seperti itu?”


“Supaya terjauh dari orang-orang seperti mereka,” jawab Aldo polos yang membuat Idris tertawa


keras.


“Ada-ada aja, sih. Kau itu!” ujar Idris lalu mereka pun kembali ke rumah masing-masing.


****

__ADS_1


Sampai sini dulu ya dan maaf kalau baru bisa update dan terima kasih buat yang masih setia membaca dan meninggalkan jejak.


Sampai jumpa lagi semuanya.


__ADS_2