
Halo semuanya author up lagi nih. Terima kasih sekali kalian masih setia nunggu cerita ini.Langsung aja ke ceritanya. Maaf kalau ada salah kata dan salah ketik.
Selamat membaca
--------------
Perceraian antara Santy dan Fradito membuat Fradito marah besar. Sebelum Fradito pergi dari rumah Santy. Fradito melempari gelas kaca tepat di kepala Santy dan akhirnya Santy pingsan. Santy yang memiliki penyakit anemia itu pun kambuh. Jennita yang mendapatkan kabar kalau mamanya pingsan dan masuk rumah sakit pun langsung pergi ke rumah sakit bersama Fita.
Sampai di rumah sakit, Jennita pun langsung duduk di ruang tunggu dengan Fita yang terus menyemangati Jennita.
"Sabar ya Jenn, sekarang kita berdoa aja ya" Ujar Fita sambil mengelus lembut punggung Jennita.
"Iya." Ujar Jennita lesu.
"Hidup itu kadang menyenangkan kadang menyedihkan," Ujar Fita sambil menerawang ke atas.
"Maksud kamu apa?" Tanya Jennita bingung.
"Maksud aku kamu tidak boleh menjadi orang yang lemah dan jadilah orang kuat untuk diri kamu sendiri dan untuk orang lain. Kamu pasti mengerti apa yang aku katakan." Ujar Fita yang membuat Jennita tertunduk lemas.
"Kenapa aku lemah seperti ini Fit?" Ujar Jennita lesu dengan tatapan kecewa terlihat di matanya.
"Kamu tidak lemah Jenn." Ujar Fita sambil mengangkat wajah Jennita hingga mereka saling berpandangan.
"Tapi-" Ujar Jennita terpotong oleh Fita.
"Kamu itu hanya kurang percaya diri dan mudah pesimis." Ujar Fita dengan tersenyum. Jennita pun tersenyum dan bertekad untuk berubah.
Semenjak hari itu Jennita pun berubah sangat cepat hingga Jennita memilih bersekolah di luar kota dan meninggalkan mamanya dengan adiknya. Semenjak itu pun Jennita paling tidak suka mendengar sesuatu jatuh seperti gelas kaca yang pecah di depannya. Kejadian gelas jatuh pecah mengingatkan Jennita kepada kejadian yang menimpa mamanya.
Flashback Off
-----------
"Jadi seperti itu kejadiannya." Ujar Melia sambil menatap Jennita sedih.
"Aku baru mengetahui ini juga." Ujar Adzka.
__ADS_1
"Kamu tau hal ini dari siapa? Fita?" Tanya Nita penasaran.
"Iya, saat itu aku pergi ke warung depan kompleks dan tidak sengaja bertemu dengan Fita. Aku tidak tau Fita tapi Fita mengetahui aku dari Jennita. Fita pun menceritakan kejadian itu." Ujar Adzka lalu beranjak keluar dari kamar.
"Aku keluar dulu ya," Ujar Adzka sambil menarik Idris keluar dari kamarnya.
"Kamu kan belum sembuh." Ujar Melia melarang Adzka pergi.
"Sudah mendingan kok kak, tenang saja." Ujar Adzka dengan senyum khasnya.
"Oke," Ujar Melia pasrah.
Di luar kamar Adzka
------------
"Kenapa kamu bertanya hal itu kepada Jennita?" Tanya Adzka ketus.
"Karena aku sudah menembak Jennita dan membutuhkan jawaban Jennita." Jawab Idris santai.
"Karena dia sendiri yang bilang ke aku akan memberitahu aku jawabannya di rumahmu dan aku sudah tidak sabar lagi. Jadi apa aku salah menanyakannya?" Ujar Idris yang membuat Adzka semakin kesal.
"Jangan pernah bermimpi untuk berpacaran dengan Jennita!" Ketus Adzka meninggalkan Idris yang terdiam di tempatnya.
"Apa ini akibat perbuatanku di masa lalu?" Batin Idris sambil menutup matanya.
Idris tidak langsung pergi kembali ke kamar Adzka dan memilih untuk duduk di ruang tamu sambil menerawang.
"Jennita kenapa kamu melupakan aku dengan mudah." Batin Idris sambil mengusap kasar wajahnya.
"Jennita!!" Teriak Nita saat melihat Nita bangun dari tidurnya.
"Ada apa dengan Jennita?" Ujar Idris panik dan Idris pun langsung pergi ke kamar Adzka dengan langkah panjang.
Idris pun melihat Jennita sudah bangun dan rasa sesal memenuhi dada dan pikiran Idris.
"Kamu baik-baik aja Jenn?" Tanya Idris mendekati Jennita dan Jennita hanya menjawab dengan diam.
__ADS_1
"Tumben dia perhatian sama aku." Batin Jennita heran.
"Kenapa diam? Ada yang sakit?" Tanya Idris mulai khawatir.
Jennita pun menggelengkan kepalanya dan menoleh ke arah jendela.
"Tumben kau bertanya kepadaku. Kepala kamu habis terbentur ya?" Ujar Jennita sarkastik.
"Tidak kok." Ujar Idris santai dan duduk di tepi ranjang.
"Ngapain kamu duduk-duduk dekat aku." Ujar Jennita sambil menjauhkan badannya dari Idris.
"Kenapa sih kamu tidak mau dekat-dekat sama aku?" Tanya Idris dengan mata sendu.
"Masih nanya lagi." Ujar Jennita memutar matanya.
Idris yang merasa Jennita tidak akan menjawab perasaannya pun memilih pulang duluan. #
"Aku pulang duluan ya." Ujar Idris pergi keluar dari kamar Adzka.
Semua yang melihat Idris pergi pun tertegun dan merasa heran. Sang ketua osis yang bisa dikatakan dingin, galak dan tegas lebih memilih mengalah.
Idris pun pergi pulang ke rumahnya dan di perjalanan pulang Idris tidak se detik pun tidak memikirkan Jennita.
"Apa aku harus melupakan Jennita ya?" Batinnya pasrah.
Sampai di rumah Idris langsung masuk kamar dan merebahkan tubuhnya di kasur dengan kasar.
"Kenapa dia tidak mengingat aku sama sekali?" Batin Idris bingung dan akhirnya Idris tertidur.
-----------------
"Hidup itu tidak pernah lepas dari ujian. Kadang ujian itu sangat kecil hingga besar, tapi percayalah semua ujian itu memiliki kunci penyelesaian sesulit apa pun itu. Jadi teruslah semangat, usaha dan doa." Dari Joya Ramadhana Tohir.
Maaf hari ini sedikit. Terima kasih semua dan jangan lupa tinggalkan jejak .
Salam hangat dari Joya Ramadhana Tohir
__ADS_1