Mantan Bad Boy And Bad Girl

Mantan Bad Boy And Bad Girl
Menghindar


__ADS_3

Halo semuanya ketemu lagi dengan aku di cerita aku yang ini dan maaf kalau ada salah ketik atau salah kata. Maklum aku masih amatir.


Selamat membaca semuanya.


****


Idris pun selesai dengan syarat yang diberikan oleh Jennita. Jennita yang melihatnya pun tersenyum masam.


“Sudah selesai,” ujar Idris setelah berdiri di depan Jennita.


“Ya sudah kalau sudah selesai,” ujar Jennita bangkit dari posisi duduk dan mulai berjalan meninggalkan Idris yang diam membatu.


“Jadi kita sekarang pacaran kan?” tanya Idris sedikit berteriak karena Jennita sudah berjalan menjauh dari dia.


“Menurut kau?” tanya Jennita dengan tersenyum licik.


“Menurut aku adalah iya,” jawab Idris dengan senyum.


“Ya sudah,” ujar Jennita meninggalkan Idris yang tetap diam di tempatnya.


****


“Aku mau tau kalau Jennita kita jodoh kan dengan Idris,” ujar Viliana dengan wajah cerah.


“Kamu kok jadi penasaran seperti itu?” tanya Ragiel mengerutkan dahi. Ragiel Novianto adalah papa dari Idris.


“Soalnya kemarin itu Idris ditampar sama Jennita,” ujar Viliana dengan senyum kuda


“Kenapa dia bisa ditampar oleh Jennita?” tanya Ragiel kaget.


“Gara-gara dia menyebarkan kalau dia sama Jennita pacaran padahal tidak pacaran sama sekali,” ujar Viliana yang membuat Ragiel Geleng-geleng kepala.


“Terus kamu mau menikah kan mereka?” tanya Ragiel sembari meminum kopi yang ada di meja.


“Iya,” jawab Viliana yang membuat Ragiel tersedak kopi yang dia minum.


“Apa?!” tanya Ragiel tidak percaya.


“Iya Papa setuju kan?” rayu Viliana dengan wajah ceria.


“Sepertinya papa tidak setuju untuk kali ini sama Mama,” jawab Ragiel yang membuat Viliana langsung berwajah masam.


“Kenapa?” tanya Viliana cemberut.


“Iya karena cinta tidak bisa di paksa kan kalau di paksa kan nanti malah kita yang merusak perasaan mereka. Mama mau mereka sakit batinnya?” tanya Ragiel sembari meminum kopi nya dengan santai.


“Tidak sih Papa, tapi-” ujar Viliana yang terpotong karena Idris sudah pulang dengan wajah super ceria.


"Assalamualaikum!" ujar Idris sembari masuk ke rumahnya.


"Waalaikumsalam," ujar Viliana dan Ragiel serempak.


“Kenapa wajah kamu ceria sekali?” tanya Ragiel yang melihat Idris dengan baju basah dengan keringat tapi wajahnya terlihat ceria.


“Aku kan baru saja berpacaran sama Jennita papa,” ujar Idris dengan senyum kudanya, “aku ke kamar duluan ya Papa, Mah.”


Idris pun berlari ke kamarnya. Viliana dan Ragiel yang melihat tingkah laku anaknya itu hanya bisa geleng-geleng kepala.


“Mereka pacaran Papa dan berarti mereka saling suka dong Papa,” ujar Viliana yang baru sadar dengan


ucapan anaknya tadi.


“Iya mungkin tapi, firasat papa tidak yakin kalau mereka pacaran karena suka sama suka,” ujar Ragiel sedikit khawatir.


“Papa tidak boleh berburuk sangka seperti itu,” ujar Viliana masih dengan senyum cerianya.


“Kenapa aku punya istri dan anak seperti ini,” batin Ragiel heran.


“Ya sudah, mama mau ke dapur.” ujar Viliana sembari berdiri lalu pergi menuju dapur dengan wajah yang super ceria.


****


 Di lain tempat, Jennita sedang ditatap penuh oleh sahabat-sahabatnya.

__ADS_1


“Sekarang jelaskan seperti apa rencana kamu itu,” ujar Melia dengan nada tidak sabar.


“Iya, jelaskan sekarang Jenn,” ujar Nita dan Adzka hanya mengangguk setuju.


“Oke aku akan menjelaskan kepada kalian rencana aku ini,” ujar Jennita, “aku menerima dia agar aku bebas menyuruh dia sepuas aku dan aku akan membuat dia malas berpacaran dengan aku. Kalian harus membantu aku dengan pura-pura aku suka sama dia. Mengerti kan?”


“Tidak mengerti.” Ujar Nita yang disetujui oleh Adzka dan Melia.


“Jadi, kalian harus membiarkan aku berpacaran dengan dia dan seperti menggoda aku seperti itu.” ujar Jennita yang akhirnya di mengerti oleh ketiga sahabatnya itu.


“Oke aku mengerti sekarang,” ujar Nita dengan cengengesan.


“Jadi, kita akan mulai besok di sekolah kan?” tanya Melia.


“Iya,” jawab Jennita dengan senyum licik.


“Pantas saja kamu dipanggil bad girl ya,” ujar Adzka.


“Iya tidak heran,” ujar Nita sambil mengangguk kecil.


“Hari ini mau ke mal tidak?” tanya Melia.


“Boleh.” jawab Nita.


“Iya boleh.” jawab Adzka dan Jennita hanya mengangguk.


****


Di sebuah kamar terbaring seorang cowok dengan wajah cerah dan senyum tidak lepas dari wajahnya. Ya, siapa lagi kalau bukan Idris.


“Hari ini adalah hari terbaik dalam hidup aku,” ujar Idris sambil memandang kalender yang ada di tangannya.


“Idris!” panggil Viliana dari balik pintu kamar anaknya.


“Kenapa mah?” tanya Idris sambil duduk di pinggir ranjang nya.


“Ada teman kamu itu di bawah,” jawab Viliana.


“Siapa mah?” tanya Idris lagi.


“Nanya terus kamu itu, beli tidak,” ujar Viliana meninggalkan kamar anaknya.


Idris yang mendengar perkataan mama nya hanya bisa tertawa. Idris pun turun ke bawah dan terlihat Aldo yang sedang duduk santai mengobrol dengan mama nya.


“Kenapa kau ke sini?” Tanya Idris sembari memakan kentang yang ada di atas meja ruang tamu.


“Kau lupa hari ini kita pergi ke mal buat membeli kado ulang tahun Nita?” tanya Aldo dengan wajah yang berubah dari ceria menjadi masam.


“Maaf aku lupa,” jawab Idris dengan cengengesan, “ya sudah aku ke atas mengganti baju.”


Idris pun mengganti baju dan mereka pun pergi ke mal terdekat.


****


“Mau pergi ke mana dahulu ini?” tanya Melia yang sudah masuk ke dalam mal.


“Beli es krim ayo,” ajak Nita yang sudah berlari duluan ke toko es krim.


“Ya sudah ayo,” ujar Jennita sambil mengikuti Nita di belakang.


Mereka pun membeli es krim dan akhirnya mereka memilih duduk sejenak di bangku mal yang kosong.


“Tau tidak sih?” tanya Nita yang membuat ketiga sahabatnya menggelengkan kepala.


“Tidak tau, kan kamu belum kasih tau,” jawab Adzka dengan polos.


“Jadi tadi pas ke sini aku itu ketemu kak Aldo di jalan dan dia ke arah sini juga,” ujar Nita yang membuat ketiga sahabatnya kaget.


“Kamu yakin tidak salah lihat?” tanya Jennita.


“Iya aku yakin sekali,” jawab Nita dengan membara.


“Aduh bahaya ini,” ujar Jennita yang membuat ketiga sahabatnya menatap heran.

__ADS_1


“Kok bahaya Jenn?” tanya Adzka.


“Soalnya kalau ada Aldo pasti ada si ketua Osis itu.” jawab Jennita dengan raut wajah serius.


“Iya benar.” ujar Melia yang membuat Jennita semakin tidak nyaman.


“Ya sudah kita pergi ke kafe seberang mal ini aja. Bagaimana?” ajak Adzka yang membuat Jennita langsung mengangguk cepat.


Mereka pun pergi ke Kafe dengan langkah cepat.


****


Di lain sisi mal, Idris dan Aldo sedang memilih boneka.


“Yang warna coklat aja,” ujar Idris sembari menunjuk boneka beruang berwarna coklat.


“Iya benar,” ujar Aldo sembari mengambil boneka yang ditunjuk oleh Idris tadi.


“Sudah sana bayar dulu nanti kita ke kafe seberang mal,” ujar Idris dan Aldo pun membayar bonekanya.


“Ayo ke kafe seberang, katanya di sana enak ya minumannya,” ujar Aldo sembari keluar dengan menenteng plastik besar.


“Iya makanya aku mau coba ke sana.” ujar Idris dan Mereka pun berjalan menuju kafe.


****


“Penampilan kafe ini bagus ya,” ujar Melia sembari melihat ke sekeliling kafe.


“Iya bagus sekali,” ujar Nita.


“Ya sudah kita duduk di pojok sana ayo,” ajak Adzka dan mereka pun duduk di pojok.


“Selamat datang di kafe kami, mau pesan apa kak?” ujar pelayan kafe itu.


“Aku pesan ini ya Mas,” ujar Jennita sembari menunjuk dua gambar di kertas menu.


“Saya ini deh Mas,” ujar Adzka dan mereka semua sudah memesan.


“Baik, silakan sabar menunggu.” ujar pelayan kafe sembari meninggalkan Jennita dan


sahabat-sahabatnya.


“Iya terima kasih Mas,” ujar Melia.


"Iya sama-sama," ujar pelayan kafe.


Kring kring


Bunyi bel  yang menandakan ada yang masuk ke kafe dan betapa terkejut nya Jennita saat melihat orang yang masuk adalah Idris dan Aldo.


“Apa?!” ujar Jennita yang membuat ketiganya menatap Jennita bingung.


“Kenapa Jenn?” tanya Melia dan Jennita menunjuk ke arah pintu masuk kafe.


Ketiga sahabat Jennita pun menoleh dan langsung ikut kaget.


“Kok mereka ke sini sih?” tanya Adzka.


“Aku aja bingung kok nanya aku juga,” ujar Jennita dengan wajah sedikit kesal.


“Aduh bagaimana ini?” tanya Nita.


“Kita bersembunyi saja,” ujar Melia.


“Iya.” ujar Jennita.



(Tempat duduk di kafe)


Mereka pun diam hingga Idris dan Aldo duduk di tempat depan  mereka. Mereka pun bernapas lega dan tidak sengaja mendengar percakapan Idris dan Aldo.


****

__ADS_1


“Jangan terlalu senang berlebihan dan sedih berlebihan karena hal itu tidak baik. Jadi budaya kan senang dan sedih sekadarnya saja.” Dari Joyart.


Sampai sini dahulu ya dan terima kasih buat yang masih setia baca cerita aku. Jangan lupa tinggalkan jejak dan sampai jumpa lagi semuanya. Jangan lupa jaga kesehatan semuanya.


__ADS_2