
Halo semuanya, ketemu lagi nih sama aku.
Aku punya kata-kata mutiara di bab ini.😁😁😁😁😊😊.
"Hati itu bagaikan kaca yang bila sudah jatuh, meski diperbaiki dengan sangat hati-hati akan tetap menghasilkan bekas retakan"
Oke langsung aja aku lanjut ke ceritanya. Sorry ya semuanya kalau ada salah ketik dan salah kata. 😊😊😁😁🙏🙏🙏.
------------@@@@@----------
Happy reading guys
-----_____----------
Third Person POV
----_____-------
Di sebuah kamar, Melia sedang melamun dan mengenang masa lalunya bersama sahabatnya dahulu. Ya, sahabatnya adalah Bella.
“Ke mana diri kamu yang dahulu Bella?? Dirimu yang selalu membela aku??” lirih Melia dengan sedih.
-------__-------------__---------------
Flashback on
4 tahun yang lalu saat Melia SMP
Di sebuah SMP saat pulang sekolah. Terlihat seorang anak perempuan yang berjalan menunduk berjalan di sebuah jalan kecil sendirian.
Di hari pertama sekolah, dia hanya pulang sendirian. Tidak seperti teman-temannya yang berjalan berdua atau pun di jemput orang tuanya.
Saat Melia berjalan, terdengar seseorang berteriak ke arah nya.
“Hei culun!!” teriak seorang anak laki-laki seumur dengan Melia.
Melia yang mendengarnya langsung mempercepat langkah. Melia tidak merasa bahwa dia yang dipanggil oleh mereka.
Langkah Melia terhenti karena sudah ada seorang anak cowok yang menghadang dia. Ada 3 anak cowok yang mendekati Melia.
“Berikan uangmu!” perintah salah satu dari tiga anak cowok itu. Yang pastinya adalah ketua dari 3 anak cowok itu.
“Tidak mau” tolak Melia yang membuat salah satu dari 3 anak cowok itu melangkah menuju Melia.
Dan dia menengadahkan tangannya.
“Cepat berikan uangmu!” perintahnya.
Melia pun diam dan ketakutan. Melia hampir menangis dan terdengar suara teriakan dari seorang anak perempuan.
“Hei! Jangan ganggu dia!” teriak seorang anak perempuan yang seumur dengan Melia. Ya, perempuan itu adalah Bella.
“Ha?! Emang kamu siapa!” ujar salah satu anak lelaki yang sedari tadi diam pun berbicara.
“Aku temannya” ujar Bella dengan lantang.
Melia yang melihat kejadian itu takut. Takut jika anak perempuan yang menolongnya itu terluka. Terbesit sebuah ide dalam pikirannya.
“Pak guru datang! Pak guru datang!” teriak Melia.
Teriakan Melia membuat ketiga anak laki laki itu panik dan langsung pergi dengan terburu-buru bahkan ada yang terjatuh.
__ADS_1
"Emang enak jahat sih," ujar Bella.
“Terima kasih ya sudah menolong aku” ujar Melia dengan senyum canggung.
“Sama-sama dan tidak perlu tidak enak hati dengan aku. Perkenalkan namaku Bella Agustina, kamu bisa memanggil aku Bella. Apakah kamu mau jadi sahabatku??” ujar Bella dengan senyum ramah yang membuat Bella menjadi lebih cantik.
Melia tertegun dan langsung mengangguk.
“Oke mulai sekarang kita sahabat ya” Ujar Bella dengan girang.
“Ya sudah kita pulang ayo” ajak Bella sambil menarik tangan Melia.
1 tahun berlalu dari kejadian itu.
Melia dan Bella pun bersahabat. Mereka pun naik ke kelas 2 SMP. Dan di saat kelas 2 itulah hubungan persahabatan mereka mulai jauh.
Karena Melia yang berpacaran dengan ketua basket. Ketua basket itu bernama Eiden Purnama.
Seminggu sudah Melia berpacaran dengan Eiden. Dan seminggu itu pun Bella mulai menjauh dari Melia.
“Bella ke kantin ayo” ajak Melia sambil menarik tangan Bella.
“Aku sedang tidak lapar, kamu ke kantin sendiri aja ya atau ajak saja pacar kamu” tolak Bella.
Melia merasa ada hal yang aneh dari Bella pun pergi. Sesampainya di kantin Melia mendengarkan dua orang siswi sedang mengobrol.
“Tau tidak? Kemarin aku bertemu Bella bersama Eiden di mall, mesra sekali tau” ujar salah satu siswi. (anggap siswi satu)
“Benaran? Tapi kan Eiden pacaran sama Melia bukannya?” ujar teman siswi tadi.(anggap siswi 2)
“Sepertinya Eiden selingkuh deh” ujar siswi 1.
“Kasihan ya melia, pacar nya selingkuh sama sahabatnya sendiri” ujar siswi 2 iba.
Seketika Melia terdiam dan langsung mengambil pesanan nya. Dan pergi ke kelas. Di perjalanan Melia masih tidak percaya dan juga kesal.
“Pantas saja tingkah Bella berbeda. Apa karena itu?” batin Melia sedih.
Melia pun sampai di depan kelas dan langsung masuk. Melia melihat Bella sedang mengerjakan tugasnya.
“Bella, ini untukmu” ujar Melia sembari memberikan sebungkus roti dan air putih.
Bella mengambilnya dan tersenyum.
“Bella, bolehkah aku bertanya??” ujar Melia dengan gugup.
Melia takut hubungan persahabatan nya akan hancur jika dia bertanya hal yang menganjal di hatinya.
“Boleh kok…. Tanyakan saja” ujar Bella dengan senyum.
“Apakah benar kamu suka dengan Eiden?” tanya aku dan kulihat Bella kaget.
Bel selesai istirahat berbunyi sebelum Bella menjawab pertanyaan aku. Melia yang penasaran pun langsung berencana untuk mengikuti Bella.
Melia pun mengikuti Bella dan betapa terkejut nya Melia melihat Bella dan Eiden berciuman di depan rumah Eiden.
Seketika hati Melia hancur dan Melia pun memutuskan untuk pergi.
Esok harinya Melia memutuskan hubungannya dengan Eiden.
“Kita putus” ujar Melia dengan ekspresi wajah datar.
__ADS_1
“Apa? Kenapa?” ujar Eiden yang tidak terima ucapan putus dari Melia.
“Iya kita putus” ujar Melia lalu pergi meninggalkan Eiden sendirian.
Hubungan Melia dan Bella semakin jauh dan akhirnya mereka putus hubungan.
Flashback Off
------------_____-----------------------
Tanpa sadar air mata Melia sudah menetes. Kenangan itu tidak pernah dilupakan oleh Melia. Dan sakit hati masih ada di hatinya.
Hati itu bagaikan kaca yang bila sudah jatuh, meski diperbaiki dengan sangat teliti pun tetap menghasilkan bekas retakan.
“Melia! Turun nak, ada teman kamu datang” teriak mama Melia membuyarkan lamunan Melia. Mama Melia bernama Permata Ramadhani.
"Iya Mah" jawab Melia sedikit berteriak.
“Siapa yang datang ke rumahku ya?” Batin Melia bingung.
Melia pun mencuci wajahnya dan turun ke bawah. Betapa terkejut nya Melia saat melihat orang yang datang adalah Jennita dan juga Nita.
“Hai Kak Melia!” sapa Jennita dan Nita berbarengan.
“Hai juga. Ada apa kalian ke sini?” ujar Melia bingung.
“Kita mau mengajak Kak Melia ke mal. Buat hibur kakak supaya tidak sedih lagi” ujar Jennita dengan senyuman kudanya.
Melia yang mendengar itu pun tersenyum.
“Oke tunggu sebentar ya, aku ganti baju dahulu” ujar Melia senang.
Mereka bertiga pun berpamitan kepada Permata dan pergi ke mal.
Sesampainya di mal, mereka berkeliling dan betapa terkejut nya mereka saat melihat Bella sedang berbicara dengan seorang cowok yang lebih tua darinya.
“Itu kak Bella bukan sih?” tanya Jennita yang membuat Nita dan Melia ikut melihat ke arah yang ditunjuk oleh Jennita.
“Iya, itu Bella. Dia sedang berbicara dengan siapa ya?” ujar Melia bingung.
“Wajah cowok itu tidak terlihat karena tertutup oleh topi” ujar Nita yang di setujui oleh Jennita dan juga Melia.
Cowok itu pun berjalan dengan Bella yang memegang lengan cowok itu dengan manja. Dan betapa terkejut nya Melia saat melihat cowok itu.
“Aku tau cowok itu. Dia adalah mantan pacar aku dahulu yang direbut oleh Bella” ujar Melia sedih dan kesal.
Jennita dan Nita yang mendengarnya langsung kaget dan membawa Melia pergi keluar dari mal itu.
“Kenapa kalian menarik aku keluar dari mal?” tanya Melia yang mendapatkan tatapan horror dari Jennita dan Nita.
------____------------@@@@@------
Special thanks to Allah Swt. dan kedua orangtuaku yang ternyata mendukung aku dalam membuat novel ini. Dan juga tidak lupa KALIAN SEMUA READERKUU YANG SUDAH MAMPIR DAN MENINGGALKAN JEJAK SERTA SETIA MENUNGGU CERITA INI.😊😊😊😍😍😍.
THANK YOU ALL AND LOVE YOUUU 😊😊😍😍😍.
```
Salam hangat author, Joya
Ramadhana Tohir
__ADS_1
```