Mantan Bad Boy And Bad Girl

Mantan Bad Boy And Bad Girl
Mulai Cinta?


__ADS_3

Halo semuanya maaf kalau ada salah kata atau salah ketik. Pemenangnya aku kasih abis periode vote ini selesai ya.


 


 


****


 


 


“Jadi, mata-mata beneran kita ini ….” ujar Idris sedikit tertawa.


 


 


Suka sarap ini anak. Batin Aldo. “Iya.”


 


 


Idris dan Aldo terus mengikuti dari belakang pembunuh itu dan segera mengambil ancang-ancang sebelum pembunuh itu maju.


 


 


Idris langsung berjalan sambil menutup wajahnya dengan topi langsung terkesiap saat melihat pembunuh itu akan membunuh dengan pistol-nya. Dengan sigap Idris berjalan di belakang pembunuh itu dan


mendorongnya.


 


 


“Jangan main-main dengan gua!” ancam Idris lalu memberi kode untuk Aldo berteriak.


 


 


Aldo yang mengerti langsung berteriak, “Dia membawa pistol di balik kemejanya!!”


 


 


Semua yang ada di sana langsung mendekat dan melihat. Ada beberapa orang pun memanggil polisi dan pembunuh itu pun tertangkap. Jennita dan sahabat-sahabatnya juga mendengar dan langsung berbalik lalu ikut melihat.


 


 


“Idris! Aldo!” ujar mereka berempat kaget.


 


 


“Oh … Hai!” ujar Aldo salah tingkah.


 


 


“Kalian … kok bisa di sini??” tanya Melia yang membuat Aldo gugup.


 


 


“Aduh … mau jawab apa, nih?” batin Aldo lalu melirik ke arah Idris. Idris yang melihat hanya mengedikkan bahu santai.


 


 


"Kita lagi jalan santai, kan?" ujar Idris sedikit menekan kata sebagai kode keras untuk Aldo.


 


 


Aldo yang mengerti pun langsung mengangguk, "Biasa lah, buat keperluan ekskul,"


 


 


"Oh ... mau bergabung sama kita?" tanya Nita yang membuat Jennita sedikit melirik tajam ke Nita.


 


 


Nita yang sadar lirik 'kan mata Jennita pun langsung merinding dan Adzka langsung memotong saat Aldo ingin menjawab.


 


 


"Ah, maaf. Pasti kalian sibuk, ya. Kami pergi dulu, ya." ujar Adzka yang langsung menarik tangan Nita menjauh.

__ADS_1


 


 


"Kita tidak sibuk, kok." ujar Idris yang membuat Jennita langsung membuang nafas kasar.


 


 


"Ya sudah, ayo ikut!" ajak Melia untuk mencairkan suasana yang canggung antara Idris dan Jennita.


 


 


Mereka pun pergi dengan suasana hati yang senang dan juga canggung bagi Jennita. Mereka pun pergi ke sebuah kafe di dalam mal. Tanpa Jennita sadari Idris selalu memperhatikan gerak gerik Jennita.


 


 


"Kenapa kamu canggung begitu sama aku?" tanya Idris sembari duduk di sebelah Jennita. Jennita yang mendengar itu langsung kaget dan bangkit dari duduknya.


 


 


Idris yang melihat Jennita ingin bangkit pun langsung menangkap tangan Jennita. Jennita langsung refleks menepis dan berlari pergi ke kamar mandi.


 


 


"Jennita!" teriak Idris yang membuat Melia langsung bangkit dan pergi mengikuti Jennita.


 


 


"Apa aku salah nanya ya?" tanya Idris yang membuat Aldo, Adzka, dan Nita menggeleng cepat.


 


 


Di kamar mandi


 


 


Jennita terus mencuci mukanya kasar dan Melia yang melihat wajah Jennita memerah pun langsung kaget.


 


 


 


 


"Tidak, aku tidak akan suka sama dia." Jennita langsung mencuci mukanya lagi.


 


 


"Aku yakin, kamu sudah mulai mencintai dia." ujar Melia yang membuat Jennita terus menggelengkan kepalanya.


 


 


"Mulai cinta?" lirih Jennita yang membuat Melia langsung menarik Jennita keluar dari kamar mandi.


 


 


"Kita mau pergi ke mana?" Jennita hanya pasrah dibawa pergi dan ternyata Melia membawa dirinya ke taman mal.


 


 


Di taman


 


 


"Katakan kepada aku, apa yang kamu rasakan saat di dekat Idris?" ujar Melia yang membuat Jennita langsung duduk di salah satu bangku taman.


 


 


"Aku hanya tau kalau detak jantung ku selalu tidak beraturan di dekatnya," ujar Jennita pelan, "rasanya ingin melompat keluar dari tempatnya."


 


 


Melia hanya menggeleng pelan, "Kamu sudah mulai mencintai dia."

__ADS_1


 


 


"Aku tidak yakin, Aku ... takut ...." ujar Jennita lemah, Melia yang mendengarnya langsung sontak kaget.


 


 


"Kamu takut apa?" Melia langsung memegang tangan Jennita yang gemetar.


 


 


"Aku takut dia akan sama seperti papa dan mantan ku," ujar Jennita gemetar, "aku takut ...."


 


 


"Dia tidak seperti itu!" ujar Melia sedikit keras.


 


 


"Kenapa Kakak yakin sekali?" tanya Jennita yang membuat Melia tersenyum.


 


 


"Dia tipe-nya kalau sudah suka dan cinta pasti setia, aku sudah berteman dengannya sudah lama. Jadi, aku yakin itu." jawab Melia yang membuat Jennita tersenyum dan mengangguk.


 


 


"Kuharap seperti itu," ujar Jennita dan langsung bangkit dari duduknya.


 


 


"Jangan lupa beri tau Adzka dan Nita," ujar Melia smebari bangkit dan berjalan beriring dengan Jennita.


 


 


Di kafe


 


 


"Kamu tadi ke mana?" tanya Idris dengan raut wajah khawatir.


 


 


Jennita tersenyum lalu duduk di sebelah Idris, "Kepo banget, sih."


 


 


"Aku 'kan khawatir," ujar Idris lembut sembari merapikan rambut Jennita. Jennita yang di perlakukan seperti itu langsung tersipu malu.


 


 


"Dih, modus!" ujar Jennita sembari menepis tangan Idris lembut.


 


 


"Iya," ujar Idris menggoda Jennita. Jennita yang mendengarnya langsung mengambil buku menu dan mengabaikan Idris.


 


 


Semua yang ada di kafe pun tertawa kecuali Adzka, Adzka masih tidak tau apa yang terjadi tadi.


 


 


****


 


 


Oke, sampai sini dulu. Jangan lupa vote, like, rate, favorite, komentarnya yaa.


 


 

__ADS_1


Sampai jumpa lagi semuanya.


__ADS_2