Mantan Bad Boy And Bad Girl

Mantan Bad Boy And Bad Girl
Cemburu?


__ADS_3

Halo semuanya ketemu lagi sama aku. Maaf kalau ada salah kata atau salah ketik.


Yang mampir bantu like ya please. Ya sudah langsung aja ke cerita aku.


Selamat membaca semuanya!


****


“Kamu cemburu ya?” tanya Idris yang membuat Jennita langsung salah tingkah.


“Ampun deh cemburu sih Jennita,” ujar Adzka yang membuat semuanya tertawa kecuali Jennita dan Dinda.


“Siapa juga yang cemburu,” ujar Jennita yang membuat ketiga sahabatnya tersenyum usil.


“Masa?” tanya Melia semakin membuat Jennita tidak bisa berkutik.


“Tidak perlu cemburu seperti itu karena orang yang aku suka ada di depan aku sekarang ini,” ujar Idris sembari mengelus rambut Jennita lembut.


Jennita yang merasakan perlakuan dari Idris hanya diam membatu dengan pipi yang mulai panas.


“Apaan sih!” ujar Jennita sembari menghempaskan tangan Idris.


“Jangan melayang jauh-jauh nanti susah di tangkap nya,” ujar Adzka yang membuat Jennita langsung menatap Adzka tajam.


“Kamu ke sini sama siapa?” tanya Idris kepada Dinda.


“Aku tadi ke sini sama papa,” jawab Dinda polos, “itu papa!”


Papa Dinda bernama Raga Arian dan Raga pun berjalan menuju ke arah Dinda.


“Halo Om,” sapa Idris dengan senyum.


“Halo juga Idris,” balas Raga sembari memegang tangan Dinda.


“Ya sudah aku pergi dahulu ya kakak-kakak semua,” pamit Dinda yang membuat semuanya sontak tersenyum.


“Imut sekali,” batin Jennita.


“Polos sekali,” batin Adzka.


“Iya hati-hati ya,” ujar Idris dan semua yang ada di sana melambaikan tangannya.


“Dadah,” ujar mereka semua kecuali Idris.


“Imut sekali tadi adik sepupu kamu dris,” ujar Melia yang meremas tangannya gemas.


“Iya dong sama seperti Kakak sepupunya ini,” ujar Idris yang membuat semua yang mendengarnya terdiam dan hening.


Aldo yang merasakan hawa tidak enak dengan keheningan itu pun memecahkan keheningan.


“Pada mau ke mana yang cewek?” tanya Aldo.


“Mau ke mal lagi,” jawab Nita dan seketika ketiga sahabatnya menepuk dahi.


“Kalian kenapa menepuk dahi seperti itu?”


“Tanya pada diri kamu sendiri saja sana,” ujar Adzka yang sudah mulai kesal.


“Ha?” Nita mulai terdiam dan baru sadar. “Aduh aku lupa,”


“Baru sadar dia,” batin Jennita dengan wajah datar terlihat di wajahnya.


“Kita juga mau ke mal lagi,” ujar Idris yang membuat Jennita semakin tidak nyaman.


“Ya sudah bareng aja,” ujar Aldo sembari menarik tangan Nita.


“Mau pegangan tangan?” tanya Idris yang membuat Jennita langsung menggeleng cepat.

__ADS_1


“Tidak mau,” ujar Jennita sembari berjalan cepat meninggalkan Idris yang tersenyum.


Idris pun memasukkan tangannya ke saku celananya dan mulai berjalan di belakang Jennita.


“Imut sekali sih kamu Jenn,” batin Idris sembari memperhatikan Jennita yang sedang bercanda dengan Adzka.


****


“Mama!” ujar Dinda sembari masuk ke rumahnya.


“Sudah pulang sayang,” ujar mama Dinda sembari memeluk Dinda. Mama Dinda bernama Dewina Sari.


“Tadi aku di jalan ketemu sama kakak Idris Mah,” ujar Dinda mulai bercerita, “terus kakak Idris sudah punya pacar Mah”


“Terus kenapa kalau kakak Idris sudah pacaran?” tanya Dewina bingung.


“Aku mau doakan mereka langgeng mah,” jawab Dinda yang membuat orangtuanya tersenyum.


“Bagus dong,” ujar Raga lalu mencium kening anaknya.


“Kita doakan saja ya,” ujar Dewina sembari memeluk Dinda erat.


“Iya Papa, Mah” ujar Dinda.


****


“Hatchim!” Jennita pun mengusap hidungnya.


“Kamu sakit?” tanya Idris sembari memberi tisu.


“Sepertinya ada yang membicarakan aku,” batin Jennita.


“Tidak,” jawab Jennita sembari mengambil tisu dari tangan Idris.


“Ahem,” Melia berdeham yang melihat Idris dan Jennita yang sedang duduk berduaan.


“Dekat sekali itu,” ujar Adzka yang membuat Jennita sadar dan langsung berdiri.


Di kamar mandi


---------


“Adzka, masa sih aku suka sama dia?” tanya Jennita yang membuat Adzka kaget.


“Jangan sampai Jenn,” ujar Adzka sembari memeluk sahabatnya itu, “kok kamu bisa bilang kalau kamu suka sama dia?”


“Soalnya aku merasa detak jantung aku lebih cepat saat melihat dia tersenyum dan saat kalian menggoda aku, aku… benar-benar malu” ujar Jennita yang membuat Adzka mengaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Aduh, bagaimana ya?” tanya Adzka.


“Aku tidak tau,” jawab Jennita yang mulai panik.


“Jaga jarak saja sama dia nanti ya?” tanya Adzka mengusulkan ide.


“Iya, terima kasih ya dzka” Jennita pun memeluk Adzka erat.


“Ya sudah cuci wajah kamu dan bersikap lah seperti biasa,” titah Adzka dan Jennita pun melakukannya.


****


“Kamu mau beli apa emang nya?” tanya Aldo yang membuat Nita kaget.


“A-aku mau beli sesuatu,” jawab Nita sedikit salah tingkah.


“Apa?” tanya Aldo lagi.


“Rahasia,” jawab Nita yang membuat Aldo tersenyum dan mengacak rambut Nita.

__ADS_1


Idris yang melihat Aldo dan Nita hanya tersenyum samar,


“Kapan aku bisa dekat dengan Jennita seperti itu ya?” lirih Idris.


Melia yang di sebelah Idris pun mendengar apa yang dikatakan oleh Idris.


“Kamu benaran suka sama Jennita?” tanya Melia yang membuat Idris kaget.


“Iya,” jawab Idris sembari menatap lurus ke depan.


Melia yang mendengar jawaban Idris pun menoleh dan menatap wajah Idris serius.


“Kamu yakin?” tanya Melia lagi.


“Iya aku yakin sekali,” jawab Idris yang membuat Melia kaget.


“Dia tidak berbohong,” batin Melia, “aku harus mendukung siapa?”


“Kalau kamu yakin maka usaha lah,” ujar Melia dan Idris pun mengangguk.


Lalu hening tercipta di antara Melia dan Idris. Lalu Jennita dan Adzka datang.


“Ya sudah kita berpisah di sini ya,” ujar Melia sambil melambaikan tangan ke Aldo dan Idris.


“Iya,” ujar Idris sembari melirik ke arah Jennita yang memalingkan wajahnya.


“Mau ketemu lagi tidak nanti?” tanya Aldo.


“Tidak, kami harus langsung pulang” ujar Nita dengan tersenyum.


“Ya sudah kalian hati-hati ya,” ujar Idris sembari pergi berjalan ke salah satu toko.


“Iya,” ujar Melia.


Mereka pun berpisah di sana dan mereka tidak tau kalau ada seseorang yang memperhatikan mereka dari mereka datang sampai berpisah.


“Aku akan menghancurkan hubungan mereka semua,” ujar orang yang memperhatikan mereka sembari pergi dari mal itu.


****


“Bagusan yang ini atau ini?” tanya Nita sembari menunjukkan dua jaket yang ada di tangannya.


“Yang abu-abu lebih bagus,” jawab Jennita yang membuat Adzka dan Melia pun mengangguk setuju.


“Oke aku mau bayar ini dahulu ya,” ujar Nita sembari membawa jaket itu ke meja kasir.


“Dari tadi kita datang aku merasa ada orang yang memperhatikan kita,” ujar Melia yang membuat kedua temannya bingung.


“Aku juga merasa aneh sih dari awal masuk mal,” ujar Jennita serius.


“Aku pikir perasaan aku saja tadi,” ujar Adzka yang membuat Jennita dan Melia mengangguk.


“Kita harus lebih mempererat hubungan kita ya,” ujar Melia dan mereka pun tersenyum.


“Kenapa kalian senang seperti itu?” tanya Nita heran.


“Kamu merasa tidak dari awal kita datang ke mal dan kafe ada yang memperhatikan kita?” tanya Adzka.


“Iya aku merasa dan aku pikir aku nya saja yang berburuk sangka,” jawab Adzka.


“Kita harus janji kalau tidak akan ada yang bisa memisahkan persahabatan kita ya,”  ujar Melia sembari memberikan jari kelingking nya.


“Janji,” ujar mereka dan mereka pun pulang dengan perasaan bahagia.


****


Sampai sini dahulu ya dan jangan lupa di like juga dari cerita awal supaya pada mengerti cerita ini.

__ADS_1


Terima kasih banyak buat yang sudah boomlike, vote dan komen serta rate cerita aku ini.


Sampai jumpa lagi semuanya!


__ADS_2