
Cristal dan Angela sudah kembali, mereka tidak sadar jika ada yang mengikuti. Mereka tidak lama berada di rumah sakit. Cristal hanya memastikan kapan ibu mertuanya bisa dimakamkan, dia juga ingin tahu penyebab kematian ibu mertuanya. Sesungguhnya dia sangat ingin melihat jenazah ibu mertuanya namun dia tidak diijinkan untuk melihat dengan alasan jenazah ibu mertuanya masih sedang di otopsi.
Sebenarnya Cristal tidak suka jenazah ibu mertuanya diperlakukan seperti itu tapi apa boleh buat, para pihak berwajib membutuhkan informasi akan kematian ibu mertuanya. Karena dia tidak tahu penyebabnya dan Gail juga tidak memberi tahu apa penyebabnya jadi hal itu sangat membuat Cristal shock. Seperti yang Gail katakan, ibu mertuanya dibunuh oleh seseorang.
Karena hal itu pula yang membuat Cristal tidak menyadari jika dia sedang diikuti padahal biasanya dia selalu waspada akibat selalu dikejar hutang tapi hari ini dia tidak mewaspadainya. Cristal berusaha tidak menunjukkan kesedihannya di depan Angela karena Angela tidak boleh tahu bahwa neneknya meninggal akibat di racun.
Sungguh dia tidak menduga ibu mertuanya akan meninggal dengan cara seperti itu dan sekarang, sebuah rasa takut muncul di hati karena dia tidak tahu siapa yang begitu tega melakukannya. Entah siapa, dia sangat khawatir pelakunya berhubungan dengan hutang-hutang yang ditinggalkan oleh suaminya. Ternyata hidupnya tidak juga tenang, setelah ibu mertuanya jangan sampai putrinya yang jadi korban selanjutnya.
Sepertinya dia harus membicarakan hal ini pada Gail walau sesungguhnya dia tidak mau merepotkan pria itu lagi. Sungguh dia tidak punya pilihan selain bergantung pada pria itu. Karena memikirkan banyak hal, Cristal tidak sadar apa saja yang dimasukkan oleh putrinya pada makanan yang sedang mereka buat.
Angela tampak bersemangat. Gail berkata akan makan apa saja yang dia buat oleh sebab itu dia sangat bersemangat meracik makanan sesuai dengan imajinasinya.
"Mommy, Angela sudah selesai," ucapnya sambil tersenyum manis.
"Oh ya?" Cristal tersadar dan melihat adonan yang sudah Angela campurkan.
"Lihat, Angela sudah bisa masak," Angela masih tersenyum manis sambil mengusap tepung yang berada di tangan di atas celemek yang dia pakai.
"Wah, hebat. Apa yang Angela masukkan?" tanya ibunya.
"Rahasia, Mom. Yang pasti Uncle akan suka dengan masakan Angela."
"Good, pasti rasanya enak," Cristal tidak curiga sama sekali karena sebelumnya dia sudah mengajari putrinya.
Angela masih tersenyum lebar, adonan pun di cetak dan setelah itu dimasukkan ke dalam oven. Sambil menunggu adonan matang, mereka kembali membuat menu lainnya. Cristal meninggalkan putrinya sejenak untuk mengambil sesuatu dan lagi-lagi Angela bereksperimen sendiri karena Gail berkata, apa pun yang Angela buat dia akan suka. Sepertinya setelah ini Gail tidak asal bicara lagi.
Saat Cristal kembali, dia juga tidak menaruh curiga sama sekali dengan apa yang putrinya lakukan. Karena Angela terlihat begitu senang jadi dia tidak banyak bertanya namun saat dia mencoba dari masakan tersebut, Cristal tidak bisa berkata apa-apa.
"Bagaimana, Mom? Masakan Angela enak, bukan?" tanya gadis itu penuh harap.
"Hm, luar biasa," puji Cristal sambil berusaha menelan makanan yang ada di dalam mulut.
__ADS_1
"Benarkan? Sudah Angela duga. Uncle pasti akan suka," Angela semakin tersenyum lebar, Cristal jadi tidak tega menghancurkan kebahagiaan putrinya.
Suara pintu yang terbuka membuat Angela semakin bersemangat, celemek kotor pun dilepaskan dan setelah itu Angela berlari keluar sambil berteriak.
"Uncle, Uncle sudah pulang!"
Cristal tersenyum, tapi tunggu dulu. Apa sebenarnya yang dimasukkan oleh Angela di salam setiap makanannya? Sungguh dia sangat ingin tahu. Cristal melangkah menuju tong sampah dan terkejut melihat apa yang ada di tong sampah. Celaka, pantas saja rasa makanannya sangat aneh.
"Uncle, Angela sudah membuat makanan enak untuk Uncle," ucap Angela sambil tersenyum manis.
"Benarkah?" Gail menggendongnya setelah melepaskan sepatunya. Sekarang hidupnya terasa berbeda, dia merasa memiliki seorang putri yang akan menyambut kepulangannya. Hal itu sudah cukup untuknya, dia tidak butuh yang lain apa lagi kekuasaan. Hidup seperti itulah yang dia inginkan karena memang yang sangat dia inginkan sejak dulu adalah keluarga.
"Tentu saja, Uncle harus memuji masakanku nanti," ucap Angela.
"Gadis hebat," puji Gail.
Cristal keluar dari dapur dan tersenyum melihat kebersamaan mereka. Padahal Angela bukan putrinya tapi Gail begitu menyayanginya. Pria itu memang terlihat menakutkan tapi sikap yang dia tunjukkan tidaklah seperti penjahat pada umumnya.
"Oh, cepat mandi Uncle jika tidak semuanya akan Angela habiskan."
"Yeah, Uncle akan cepat jadi jangan habiskan!" Gail menurunkan Angela dari gendongannya.
Cristal menghampiri mereka dan memberikan sebuah ciuman di pipi Gal.
"Segera mandi, Angela sudah menyiapkan kejutan untukmu," ucapnya.
"Kau ingin mandi denganku?" Cristal terkejut dan menutup mulut Gail dengan terburu-buru. Angela sedang bersama dengan mereka, bagaimana jika sampai Angela mendengar?
"Ja-Jangan berbicara seperti itu, Angela bisa mendengar," ucapnya dengan wajah memerah.
Gail menyingkirkan tangan Cristal dari mulutnya, pinggang Cristal di raih sehingga tubuh mereka merapat. Cristal jadi panik, dia melihat sana sini karena dia khawatir Angela masih bersama mereka tapi gadis itu sudah berlari menuju dapur untuk menyiapkan makanan.
__ADS_1
"Gail," Cristal ingin mencegah namun Gail sudah mencium bibirnya. Dari pada Leona, dia lebih tertarik dengan Cristal Aaron.
"Pergilah mandi, setelah selesai maka ada hal penting yang ingin aku bahas denganmu," Cristal tersenyum sambil memandanginya.
"Apa kau ingin membahas masalah ibu mertuamu?"
"Ya, aku sangat ingin membicarakan kematiannya padamu."
"Baiklah, aku tidak akan lama," Gail kembali mencium bibirnya.
Cristal tersenyum, semoga saja Gail tidak mengatakan apa pun akan masakan putrinya yang bisa membuat Angela kecewa apalagi Angela sangat bersemangat. Cristal masuk ke dalam dapur, membantu putrinya menyiapkan makanan. Malam ini mereka akan menikmati makanan rasa nano-nano. Sakit perut sih tidak, hanya perlu menahan rasanya saja.
Tidak butuh waktu lama, Gail masuk ke dalam dapur. Angela sudah sangat tidak sabar, dia bahkan menarikan sebuah kursi untuk Gail.
"Ayo duduk, Uncle," ucapnya.
"Kenapa begitu bersemangat?"
"Tentu saja, Angela sudah tidak sabar Uncle mencicipi makanan yang Angela buat," Angela memberikan makanan yang sudah dia siapkan di atas piring.
"Wah, sepertinya enak," Gail berkata demikian agar Angela senang tapi sesungguhnya dia ragu dengan makanan tersebut apalagi warnanya terlihat aneh.
"Ayo cepat coba, Uncle," Angela tersenyum lebar, dia berdiri di sisi Gail menunggu pujian.
Gail melihat ke arah Cristal, Cristal tersenyum. Dia juga sedang menikmati makanan yang sama tanpa menunjukkan ekspresi yang aneh. Gail kira makanan itu memang enak jadi dia menikmatinya tanpa ragu. Begitu makanan sudah masuk ke dalam mulut dan dikunyah, mata Gail melotot ke arah Cristal namun Cristal hanya tersenyum saja sambil menikmati makanannya lagi namun gelengan pelan dia berikan beserta isyarat mata agar Gail tidak mengatakan sesuatu yang bisa mengecewakan Angela.
Rasa dari makanan itu sungguh aneh, ada manis, asam lalu bercampur pedas. Ada pula rasa coklat dan yang paling mengejutkan, ada permen di dalamnya. Itu karena Angela mencampurkan makanan sesuai dengan imajinasinya. Kue coklat, yogurd, permen dan juga beberapa bumbu masakan lainnya tak luput dia masukkan. Cristal tidak bisa membuangnya karena jika dia melakukannya maka putrinya akan kecewa.
"Bagaimana Uncle, apakah enak?" tanya Angela dengan ekspresi penuh harap.
"Ya, enak," jawab Gail sambil menelan makanannya dengan susah payah, "Sekarang duduk dan makan," Gail mengusap kepala Angela.
__ADS_1
Gadis itu mengangguk dan segera duduk, Cristal mengambil semangkuk sup dan memberikannya untuk Gail dan Angela. Gail tidak bersuara saat melihat marsmellow yang mengapung di atas sup, beberapa permen warna warni berada di dalam sup saat isinya diangkat menggunakan sendok. Cristal mengangkat bahu, Gail menghela napas. Makam malam yang luar biasa dan tentunya, Angela bahagia.