Mantan Mafia With Single Mother

Mantan Mafia With Single Mother
Chapter 64


__ADS_3

Luka tembakan yang ada di bahu Cristal segera ditangani begitu dia sampai ke rumah sakit. Angela masih menangis melihat keadaan ibunya. Sesungguhnya Cristal sudah tidak sanggup bertahan tapi demi putrinya, dia berusaha bertahan dari rasa sakit yang dia rasakan.


Dibandingkan dirinya, Angela yang paling menderita. Dia harap apa yang mereka alami tidak meninggalkan trauma untuk Angela. Selama ini Angela sudah takut dengan orang asing akibat penagih hutang yang selalu mengejarnya tapi dia justru harus mengalami kejadian tidak menyenangkan itu. Semoga saja setelah ini tidak ada kejadian yang tidak menyenangkan seperti itu lagi tapi bagaimana dengan para penagih hutang yang masih mencari dirinya?


Jangan katakan jika masih ada problem baru yang menghampiri mereka. Cristal sangat berharap hal itu tidak terjadi karena dia ingin tenang tanpa ada gangguan apalagi Angela sudah sangat ketakutan.


"Bagaimana keadaan Mommy, apakah sakit?" tanya Angela sambil menangis.


"Jangan menangis, Sayang. Mommy sudah baik-baik saja."


"Tapi Mommy berdarah," air mata dihapus, Angela masih tidak bisa menghilangkan rasa sedihnya.


"Sudah tidak, Angela bisa melihatnya. Lukanya sudah diobati," Cristal sangat bersyukur dia tidak pingsan. Jika sampai dia pingsan maka Angela akan semakin ketakutan.


"Kenapa Uncle belum juga datang, Mom?"


"Mungkin sebentar lagi, berbaring'lah untuk beristirahat. Mommy akan membangunkan Angela jika Uncle sudah datang."


Angela mengangguk dan berbaring di sisi ibunya. Cristal mengusap kepala putrinya dengan perlahan. Sesungguhnya dia sangat mengkhawatirkan keadaan Gail. Dia bisa melihat beberapa luka yang terdapat di kepala dan lengannya. Entah apa yang Gail alami tapi dia harap Gail segera datang untuk menemui mereka.


Di luar sana, Gail melangkah masuk ke dalam dengan terburu-buru untuk mencari keberadaan Cristal dan Angela. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan mereka berdua apalagi sebuah luka Cristal dapatkan. Rasanya sangat puas memenggal kepala Lucius, mulai sekarang dia tidak akan ragu untuk mengangkat senjata untuk membunuh orang-orang yang berani mengganggu Cristal dan Angela. Hal itu harus dia lakukan agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali.


Cristal sangat senang saat melihat Gail masuk ke dalam ruangan. Gail melangkah lebar mendekatinya, mereka berdua berpelukan dengan erat tanpa mengatakan sepatah kata pun. Cristal  menangis, perasaan lega memenuhi hati. Dia sangat senang Gail kembali untuk menyelamatkan mereka.


"Maafkan aku, lagi-lagi aku hanya bisa merepotkan dirimu saja," ucap Cristal. Jika bukan karena dirinya, dia rasa Gail tidak akan terlibat masalah. Keberadaan dirinya benar-benar membawa masalah untuk Gail.


"Tidak perlu dipikirkan, semua sudah berlalu," Gail melepaskan pelukannya untuk menghapus air mata Cristal.

__ADS_1


"Bagaimana dengan keadaanmu? Apa Lucius melakukan sesuatu yang tidak pantas padamu?" Gail memeriksa keadaan Cristal dengan teliti. Cristal berpaling saat Gail melihat tanda yang dibuat oleh Lucius di tubuhnya. Mata Gail melotot, beberapa memar berada di bagian dada Cristal dan dia tahu itu bekas apa.


"Apa yang telah dia lakukan padamu, Cristal?" tanya Gail dengan emosi tinggi. Seandainya dia tahu Lucius menyentuh wanita miliknya, tidak akan dia biarkan mati dengan mudah. Tidak akan dia penggal kepalanya begitu saja, mungkin dia akan memotong lidahnya terlebih dahulu sebelum memenggal kepalanya.


"Kenapa kau tidak menjawab?!" Gail hampir berteriak.


"Maafkan aku, Gail. Aku sungguh tidak punya pilihan karena keselamatan Angela terancam. Aku terpaksa melakukannya agar Lucius tidak membunuh Angela. Aku memang sudah kotor membiarkan baj*ngan itu menikmati tubuhku walau dia belum sempat melakukan hal keji  itu karena kau sudah datang tapi kau boleh membenci aku. Kau boleh meninggalkan aku. Sebagai seorang ibu, aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan untuk melindungi putriku karena bagiku dia lebih berharga dari pada apa pun," ucap Cristal. Jika memang Gail akan membencinya karena hal itu maka dia tidak akan keberatan. Lagi pula dia hanya bisa menjadi beban pria itu saja.


"Bodoh!" Gail menariknya mendekat dan memeluknya kembali.


"Aku tidak akan membencimu karena kau tidak punya pilihan. Aku hanya menyesal tidak mengetahui hal ini karena jika aku tahu, aku tidak akan membiarkan Lucius mati dengan mudahnya apalagi dia hanya seorang pecundang yang terlalu banyak bicara! Jika aku tahu, aku pasti akan menegakkan keadilan untukmu, Cristal," ucapnya.


"Terima kasih, Gail. Aku dan Angela sungguh beruntung bisa bertemu denganmu," Cristal memeluknya dengan erat, tangisannya kembali pecah.


Dia benar-benar wanita yang paling beruntung dicintai oleh pria seperti Gail. Tangan Gail tidak henti mengusap punggung Cristal, dia sudah mengambil sebuah keputusan. Keputusan yang sesungguhnya tidak dia inginkan. Dia tahu setelah ini masih banyak rintangan yang harus mereka hadapi apalagi orang-orang yang mengejar Cristal karena hutang. Bisa saja setelah Lucius, ada Lucius lainnya dengan ambisi yang berbeda.


Cristal menangis cukup lama untuk menumpahkan perasaan campur aduk yang dia rasakan. Dia bahkan tidak menyadari luka yang terdapat di kepala dan lengan Gail yang masih belum diobati dengan benar.


"Dia baik-baik saja, tapi aku takut hal ini akan terulang kembali sehingga dia semakin takut dan aku juga takut hal ini membuatnya menjadi trauma."


"Tidak perlu khawatir, aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi pada kalian lagi. Aku bersumpah padamu oleh sebab itu kau tidak perlu khawatir," ucap Gail.


"Aku percaya padamu, Gail. Aku sangat beruntung bertemu dan dicintai olehmu," setelah mengatakan hal itu, Cristal memberikan kecupan di bibir Gail.


Mereka berdua saling pandang, Cristal tersenyum tak kala Gail mengusap wajahnya. Harapan untuk selalu seperti itu kembali muncul di hati dan dia yakin Gail menepati perkataan yang dia ucapkan. Mata Cristal terpejam saat Gail mendekatkan bibir mereka, kedua tangannya sudah melingkar di tubuh Gail kembali.


Ciuman mereka dilakukan dengan penuh perasaan. Mereka melakukannya seolah-olah sudah lama tidak melakukan hal itu. Mereka kembali berpelukan setelah berciuman, rasanya tidak cukup mengekspresikan perasaan yang meluap di hati.

__ADS_1


Cristal bersandar dengan di dada Gail, jatuh cinta untuk kedua kalinya ternyata tidak seburuk yang dia kira. Tentunya jika dia jatuh cinta pada orang yang tepat.


"Aku harus mengobati lukaku, terlebih dahulu," ucap Gail.


"Oh, astaga. Maaf aku lupa dengan keadaanmu," Cristal melihat keadaan Gail dan tampak panik.


"Tidak apa-apa, nanti aku kembali!" Gail mengusap kepalanya dan melangkah pergi untuk mengeluarkan peluru yang masih bersarang di lengannya dan luka di kapalanya.


Dia pergi tidak lama, Gail kembali setelah luka-lukanya diobati. Tentunya Angela sangat senang melihatnya karena gadis itu sudah terbangun. Angela melompat turun dari atas ranjang dan berlari menghampiri Gail. Dia juga melompat ke dalam pelukan Gail dan menangis.


"Kenapa Uncle begitu lama datang untuk menolong kami?" tanya Angela.


"Sorry, Angela. Uncle sudah berusaha secepat mungkin untuk datang."


"Mommy terluka dan Angela ketakutan, apa Uncle tidak tahu?"


"Tentu saja tahu, maaf jika Uncle sudah lalai."


"Angela, jangan seperti itu. Uncle sudah berusaha," ucap Cristal.


"Tapi Angela benar-benar takut, Mom."


"Jangan menangis lagi, mulai sekarang kalian tidak akan mengalami hal seperti ini lagi."


"Uncle janji?" Angela memandanginya dengan tatapan penuh harap.


"Tentu saja," Gail mengusap pipi Angela dan memberikan ciuman di sana.

__ADS_1


Mulai sekarang memang tidak akan dia biarkan satu orang pun menyentuh kedua wanitanya. Dan mulai sekarang, dia akan membentuk Angela menjadi gadis yang kuat sedikit demi sedikit agar dia tidak lemah saat menghadapi bahaya bahkan tidak Angela saja, dia juga akan membentuk anak-anaknya kelak untuk menjadi orang yang kuat.


#Karena udah mau end jadi aku fokus ke Vanila dan Abraham ya#


__ADS_2