
Lucius benar-benar senang, dia menang karena Gail sudah mengayunkan pedangnya saat itu untuk memenggal lengannya sendiri. Ternyata kabar kehebatannya hanya isapan jempol belaka. Dia tetaplah seorang pemuda biasa yang tidak bisa melakukan apa pun saat melawan banyak orang.
Lucius berpikir demikian, dia sudah sangat senang saat melihat pedang yang terayun tapi apa yang terjadi, pedang yang ada di tangan Gail bukannya di ayun untuk memenggal lengannya namun pedang itu melayang ke arahnya. Tentu hal itu membuat Lucius terkejut, begitu juga dengan para anak buahnya yang tersisa.
Mereka fokus pada pedang yang melayang ke arah bos mereka. Lucius segera menghindari pedang itu dan melompat ke samping. Tentunya itu menjadi kesempatan bagi Gail untuk menyerang karena jarak antara Cristal dan Lucius sudah cukup jauh.
"Sembunyi!" teriak Gail karena dia meminta Cristal untuk bersembunyi.
"Sial!" Lucius mulai menyadari jika pedang itu hanya untuk mengalihkan perhatiannya namun sudah terlambat.
Di saat dia ingin menembak, Gail sudah menembakinya dan di saat yang bersamaaan, puluhan orang menyergap masuk ke dalam dan menembaki Lucius dan anak buahnya. Serangan mendadak yang terjadi membuat mereka kalang kabut.
Lucius juga kalang kabut, dia mulai mencari tempat aman untuk bersembunyi. Cristal bersembunyi di bawah meja yang ada tidak jauh darinya, Cristal berteriak ketakutan karena suara tembakan yang tidak juga berhenti.
Anak buah Jonathan menyergap masuk untuk menghabisi semua anak buah Lucius. Tanda yang dilihat oleh Gail memang diberikan oleh mereka. Sebuah laser terlihat dari dinding ruangan, Gaik yakin tanda itu diberikan oleh mereka sebab itu dia bisa melawan balik karena jika dia menyerang tanpa perhitungan maka dia bisa mencelakai Cristal.
Lucius mengumpat marah, dia sedang bersembunyi di balik dinding saat itu. Tembakan masih terdengar di luar sana. Entah siapa yang telah membantu Gail yang pasti itu di luar dugaannya. Semua anak buahnya mulai berjatuhan, Lucius sangat ingin melihat tapi jika dia keluar maka dia akan habis.
Tidak butuh lama, situasi sudah berubah. Anak buah Lucius tidak bersisa, suara tembakan juga sudah terhenti. Cristal keluar dari persembunyian, Angela berteriak senang melihat ibunya namun keadaan ibunya membuatnya menangis.
"Mommy!" Angela turun dari gendongan Orland dan hendak berlari ke arah ibunya.
"Jangan ke sini, bahaya!" teriak ibunya karena dia tidak melihat Lucius sedari tadi. Dia bahkan tidak berani bergerak dan kembali bersembunyi karena bisa saja Lucius berada tidak jauh darinya lalu menangkap putrinya.
Orland meraih tangan Angela dan menggeleng agar Angela tidak menghampiri ibunya. Angela melangkah mundur dan bersembunyi di belakang kaki Orland.
Gail melangkah mendekati Cristal dengan kewaspadaan tinggi. Senjata api yang berada di tangan juga di angkat tinggi, mata juga melihat sana sini. Gail sudah tiba di tempat persembunyian Cristal, tangan diulurkan ke arah Cristal agar dia bisa keluar.
"Cepat!" perintah Gail karena Lucius bisa saja menyerang.
Cristal merangkak keluar dan meraih tangan Gail. Mereka melangkah mundur dengan hati-hati. Angela sudah sangat tidak sabar, begitu ibunya sudah tidak jauh darinya, Angela langsung berlari ke arahnya ibunya.
"Mommy!" Angela sangat senang melihat ibunya, begitu juga dengan Cristal.
Cristal berjongkok untuk menggendong putrinya. Mereka berdua menangis, Cristal sangat senang karena putrinya baik-baik saja walau dia tidak tahu siapa orang-orang yang telah menyelamatkan putrinya.
__ADS_1
"Ada apa dengan Mommy, kenapa Mommy tidak memakai baju?"
"Mommy baik-baik saja, tidak perlu khawatir," lega, sudah pasti. Yang paling dia pikirkan adalah putrinya, dia tidak peduli dengan keadaannya.
Beberapa anak buah Jonathan mengamankan mereka karena musuh belum mati. Mereka dibawa mundur, Cristal memeluk putrinya erat bahkan dia mengajak putrinya untuk keluar karena dia tidak mau putrinya melihat itu semua. Orland meminta beberapa anak buah Jonathan untuk membawa mereka ke rumah sakit karena Cristal membutuhkan perawatan.
"Keluar kau, Lucius!" teriak Gail. Dia tahu pria itu sedang bersembunyi.
Lucius hanya bisa mengumpat, keluar mati tidak keluar juga mati. Dia tidak menduga akan jadi seperti ini. Tidak, semua di luar perhitungan. Padahal dia sudah memperhitungkan semuanya, dia sangat yakin Gail hanya akan seorang diri.
Seorang anak buah Leon menghampiri Gail dengan kepala Leon di tangan. Kepala itu diberikan pada Gail lalu sang anak buah pun melangkah mundur.
"Keluar sekarang juga, jangan jadi seorang pengecut yang terus bersembunyi. Apa kau mau melihat apa yang terjadi pada rekanmu?" Gail melemparkan kepala Leon ke arah Lucius di mana dia sedang bersembunyi.
Suara benda jatuh terdengar, Lucius mencoba menerka ucapan Gail. Rekan mana yang dimaksud oleh Gail? Dia masih mencoba mengartikan ucapan itu tapi tiba-tiba saja, sesuatu menggelinding dari atas lantai dan berhenti tidak jauh darinya.
Lucius melihat benda itu dengan teliti dan ketika benda itu sudah berhenti menggelinding, mata Lucius tampak melotot karena wajah Leon mengarah tepat ke arahnya. Leon? Bagaimana bisa? Bukankah anak buah Leon berkata jika Leon sedang sibuk? Tidak, sepertinya dia sudah ditipu oleh anak buah Leon dan jangan-jangan orang yang bersama dengan Gail saat ini adalah anak buah Leon.
"Keluar jika tidak maka aku akan meledakkan tempat ini bersama denganmu!" teriak Gail lantang.
"Jika begitu cepat keluar, duel denganku jika kau berani!" tantang Gail.
Lucius menelan ludah, mati secara terhormat atau terhina hanya itu pilihan yang dia miliki tapi dari pada mati seperti seorang pecundang, lebih baik dia mati secara terhormat. Lucius keluar dari persembunyian, dia terkejut saat melihat orang-orang yang ada bersama dengan Gail. Mereka bukan anak buah Leon apalagi kedua pria yang bersama dengannya. Siapa kedua orang itu?
"Ambil pedang itu!" ucap Gail seraya menarik pedang yang ada di punggung.
"Sungguh tidak jantan membawa begitu banyak orang!" cibir Lucius sambil menarik pedang yang menancap di dinding.
"Lebih tidak jantan dirimu yang hanya bisa menyandera wanita dan anak kecil!"
"Diam, seharusnya kau tidak ikut campur dalam permasalahanku!" teriak Lucius.
"Jagalah kepalamu baik-baik, Lucius. Leon sudah menunggumu!" Gail mengangkat pedangnya tinggi.
"Aku tidak akan kalah darimu, Gail!" teriak Lucius. Pedang juga sudah terangkat, mereka berdua berlari ke arah musuh sambil berteriak.
__ADS_1
Benturan dua benda tajam terdengar, teriakan mereka juga terdengar. Sebagai orang yang lebih mengandalkan anak buah, Lucius terpukul kalah dan sebagai orang yang sudah membunuh banyak orang menggunakan banyak senjata, mengalahkan Lucius bukanlah hal sulit.
Lucius semakin terdorong ke belakang, sedangkan Gail menyabetkan pedangnya dengan cepat sampai membuat Lucius kewalahan untuk menangkis bahkan beberapa luka sudah dia dapatkan.
"Aku akan membunuhmu. Gail Bernard!" teriak Lucius namun naas, Gail menyabetkan pedangnya dan memenggal tangannya.
Lucius berteriak, lengan yang memegang pedang terjatuh. Darah mengalir membasahi lantai, Lucius bahkan jatuh terduduk sambil memegangi lengannya yang terus mengeluarkan darah. Lagi-Lagi Lucius mengumpat, tawanya pun terdengar, dia tidak menyangka akan berakhir seperti itu hanya gara-gara seorang wanita.
"Apa ada yang ingin kau ucapkan, Lucius?" pedang Gail sudah berada di leher Lucius.
"Walau aku harus kalah tapi lihat dirimu, Gail. Kau hanyalah seorang mesin pembunuh yang tidak jauh berbeda dengan monster!"
"Terima kasih atas pujianmu, sudah saatnya kau mati!" pedang pun diayunkan.
"Jangan Gail, jangan lakukan!" teriak Lucius namun sayangnya, pedang Gail sudah terayun dan menebas kepalanya.
Suara kepala Lucius yang jatuh ke atas lantai terdengar, Gail tampak puas melihat kematian musuhnya. Akhirnya dia sudah menghabisi pria itu, walau dia harus kembali ke jalan yang sudah lama dia tinggalkan. Orland dan Jonathan menjadi penonton sedari tadi, mereka terlihat puas melihat aksi gail.
Mereka bertiga memutuskan untuk pergi dan tanpa sepengetahuan Gail, Jonathan sudah memerintahkan anak buahnya untuk memasang alat peledak di bangunan itu agar tidak ada jejak atau bukti keberadaan mereka. Mereka bertiga sudah keluar dari bangunan, namun mereka belum beranjak pergi.
"Aku sangat berterima kasih atas bantuan kalian," ucap Gail.
"Apa kau yakin tidak ingin menjadi asisten salah satu adikku?" Jonathan kembali melemparkan candaannya.
"Tuan Smith, aku mendengar!" ucap Orland.
"Aku bercanda, tapi aku senang sudah membantumu."
"Terima kasih," Gail membungkukkan badannya, dia sangat berterima kasih atas bantuan mereka.
"Baiklah, sudah saatnya kami pergi. Ini hadiah terakhir untukmu," Jonathan memberikan sebuah pemicu untuknya.
Gail kembali berterima kasih, dia belum beranjak saat bosnya dan Jonathan pergi. Gail juga meminta anak buah Leon untuk pergi karena dia ingin sendirian di sana dan sebelum pergi, Orland mengatakan di mana Cristal dan Angela berada.
Suasana sudah hening, Gail melihat markas Lucius namun tidak lama karena tombol pemicu yang diberikan oleh Jonathan ditekan. Ledakan dahsyat terjadi tidak lama kemudian setelah menekan pemicu itu. Markas Lucius porak poranda, Gail masih menyaksikan hancurnya markas musuh. Asap hitam melambung tinggi, markas terbakar dengan dahsyat. Gail memutuskan pergi dengan perasaan puas. Akhirnya berakhir, saatnya melihat kedua wanitanya yang sudah menunggu kedatangan di rumah sakit.
__ADS_1