
Matahari mulai menampakkan dirinya, langit malam mulai terlihat jingga. Di jalanan yang masih terlihat sepi, sebuah mobil melesat dengan kecepatan tinggi. Itu adalah mobil Gail, dia sedang menuju ke tempat Leon Pierce karena mantan bosnya yang akan dia habisi untuk pertama kalinya.
Dia benar-benar kecewa pada orang yang sangat dia hormati selama ini. Padahal dia tidak memikirkan hal ini sebelumnya, dia tidak pernah berpikir jika mereka akan berselisih sehingga harus saling membunuh tapi demi sebuah ambisi, Leon Pierce sudah melewati batas.
Sekalipun dia sangat menghormati Leon, dia tidak akan ragu untuk membunuhnya. Semua rasa hormat pada pria itu sudah hilang, rasa hormat itu bahkan sudah berubah menjadi sebuah kebencian. Dia akan memenggal kepala Leon dan melemparkannya ke bawah kaki Lucius nantinya. Kepala pria itu juga akan dia penggal, jika sampai terjadi sesuatu dengan Cristal dan Angela, dia akan melakukan hal yang lebih keji dari pada memenggal kepala Lucius.
Sebuah bangunan berwarna putih dan berlantai dua sudah terlihat. Di sekitar bangunan itu ditumbuhi oleh pepohonan besar. Itu adalah kediaman Leon dan tempat itu juga markas Leon di mana semua anak buahnya berada di sana. Gail tidak akan ragu, siapa pun yang berani menghalangi langkahnya untuk mendapatkan kepala Leon maka akan mati.
Gail menghentikan mobilnya agak jauh, senjata api yang sempat dia lucuti kembali diambil. Beberapa kotak berisi peluru pun diambil, dan setelah itu Gail bersiap. Dua tas penuh yang berisi senjata api ditinggalkan, senjata-senjata api yang ada di dalam tas itu akan dia gunakan nanti untuk melawan Lucius. Untuk melawan Leon dan anak buahnya, sudah cukup menggunakan senjata yang menempel di tubuhnya.
Dua senjata otomatis diletakkan di atas bahu, Gail melangkah menuju rumah Leon dan terlihat tidak takut sama sekali. Dia benar-benar marah dengan Leon, pria itu harus membayar apa yang telah dia lakukan. Gail menghentikan langkahnya di depan gerbang yang tertutup dengan rapat. Senjata yang ada di bahu diturunkan, sebuah granat yang ada di saku celana pun diambil.
Gail melangkah mundur, pin yang ada di granat pun ditarik . Ancang-Ancang diambil dan setelah itu, Gail melemparkan granat itu layaknya seorang atlet bisbol yang melemparkan bolanya melewati pagar yang menjulang tinggi.
Tidak ada yang menyadari kedatangannya, Leon tidak begitu juga dengan anak buahnya. Granat yang dia lemparkan melesat masuk ke dalam dan jatuh tidak jauh dari sebuah bangunan kecil yang digunakan oleh anak buahnya untuk berjaga. Suara benda jatuh menarik perhatian beberapa anak buah yang sedang berjaga di sana, mereka ingin melihat benda apa itu tapi belum juga niat itu terlaksana, granat pun meledak.
Semua terkejut, anak buah yang ada di sana terlempar akibat ledakan. Leon terbangun dari tidurnya begitu juga dengan putrinya.
"Apa yang terjadi?" teriak Leon.
__ADS_1
"Kita diserang!" teriak anak buahnya. Mereka segera bersiap mengambil senjata, sedangkan Gail kembali melemparkan dua buah granat ke dalam. Lagi-lagi ledakan terjadi, anak buah Leon berlarian menyelamatkan diri akibat efek ledakan yang menghancurkan bangunan.
Gail rasa sudah cukup, sebuah senjata peledak yang ada di bahu ditarik lalu di tembakan ke arah gerbang. Suara ledakan yang terdengar di luar gerbang membuat anak buah Leon kembali bersiap mengambil senjata api mereka. Gerbang sudah terbuka, Gail menyimpannya lagi ke bahu lalu dua senjata otomatisnya kembali diangkat.
Pintu gerbang ditendang hingga terbuka, Gail masuk ke dalam dan melangkah maju sambil menembaki anak buah Leon yang terlihat. Siapa pun yang menghalanginya akan mati.
Leona tampak panik, hal seperti itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Dia segera berlari ke kamar ayahnya untuk mencari tahu apa yang telah terjadi, sedangkan saat itu sang asisten sudah berada di kamar Leon untuk memberi laporan.
"Sir, Gail Bernard datang dan membuat kekacauan di luar sana!"
"Sial, dia benar-benar tidak sabar bahkan begitu berani menyerang di saat semua masih dalam keadaan tertidur!" ucap Leon kesal.
"Diam di sini, Leona. Aku yang akan pergi menemui Gail," ucap ayahnya.
"Gail, jadi dia yang menyerang?" Leona tampak tidak percaya.
"Diam saja di kamar, saatnya memberikan penawaran!" Leon mengambil sebuah senjata apinya dan setelah itu dia keluar bersama sang anak buah.
Leona terlihat gelisah, sebuah pistol pun diambil. Segala kemungkinan bisa terjadi, bisa saja apa yang mereka harapkan tidak berjalan sesuai rencana karena mereka tahu bagaimana Gail Bernard.
__ADS_1
Gail masih melangkah maju dan menghujani para anak buah Leon dengan senjata otomatisnya. Dia tidak memberikan kesempatan pada mereka untuk menembak. Suara dentingan peluru yang sudah kosong dan berjatuhan ke atas lantai, mengiri suara tembakan yang tidak juga berhenti.
Untaian peluru yang berada di dadanya mulai berkurang setiap kali dia menembak. Peluru-Peluru itu tidak saja membunuh anak buah Leon tapi juga menghancurkan bangunan. Gail menembak dengan membabi buta, dia bahkan tidak ragu untuk kembali melemparkan granat sehingga bangunan itu hancur karena dia memang ingin menghancurkan tempat itu.
Peluru senjata otomastinya sudah habis, senjata itu dibuang dan setelah itu Gail menarik dua senjata yang ada di punggung. Itu kesempatan bagi anak buah Leon untuk melawan, mereka mulai menembaki Gail dari balik persembunyian.
Gail melangkah dengan cepat, dia bahkan berlari untuk menghindari peluru yang di tembakan dari segala sisi. Gail mengumpat, satu tembakan mengenai lengannya dan yang lain menggores wajahnya tapi hanya luka seperti itu tidak akan membuatnya gentar. Gail berlari ke arah tembok dan berlari ke atasnya, Gail bersalto ke udara dan setelah itu, dua tembakan dilepaskan ke sisi kanan dan kiri.
Ledakan kembali terjadi, anak buah Leon yang sedang bersembunyi pun terpental keluar. Gail kembali di hujani dengan timah panas, kali ini dia berguling ke atas lantai dan bersembunyi di balik dinding. Senjata api di kokang, dia akan kembali menembak saat ada kesempatan. Dia tahu itu babak awal karena Leon belum menampakkan batang hidungnya.
Dia juga harus menghemat peluru agar tidak kehabisan, sebab itu dia menggunakan senjata peledak agar musuh cepat terbasmi tapi anak buah Leon tidaklah sedikit. Senjata api diletakkan, pisau diambil untuk merobek bajunya. Lengan yang terkena tembakan pun diikat untuk menghentikan pendarahan, dia tidak boleh kalah secepat itu.
Leon sangat murka melihat rumahnya yang hancur dan porak poranda akibat senjata peledak yang Gail lempar dan tembakan. Anak buahnya begitu banyak yang gugur. Semua itu gara-gara seorang pria saja. Gail sungguh sudah melewati batas tapi dia rasa saatnya memberi Gail penawaran. Leon memerintahkan anak buahnya untuk mengepung Gail, dalam keadaan terdesak seperti itu, Gail pasti akan menerima tawaran darinya.
"Berhenti menembak!" teriak Leon lantang.
Gail kembali mengambil senjata apinya, akhirnya Leon menampakkan diri. Dia pasti akan mendapatkan kepala pria itu dan melemparkannya ke hadapan Lucius.
"Keluarlah, Gail. Mari kita buat kesepakatan. Aku akan membantumu menolong wanita dan anak itu asal kau mau menikahi Leona dan menjadi penerusku. Tidak masalah kau akan menjadikannya istri keduamu yang penting kau menikahinya. Para anak buahku ini bisa kau bawa untuk mengalahkan Lucius jadi mari kita buat kesepakatan. Aku tidak akan mempermasalahkan kekacauan yang telah kau perbuat ini jadi ambillah keputusan yang tepat jika tidak, kau tidak akan keluar dari sini hidup-hidup!"
__ADS_1
Leon sangat yakin, Gail tidak akan melewatkan tawaran yang menggiurkan itu. Cukup jadi penerusnya dan menikahi putrinya, maka dia bisa membawa anak buahnya untuk membunuh Lucius. Dia juga tetap mendapatkan wanita dan anak itu tapi sesungguhnya jika Gail setuju, maka anak buahnya yang mengikuti Gail nanti akan membunuh wanita dan anak itu sehingga menyisakan Leona saja. Rencana yang sangat sempurna dan dia yakin, Gail tidak akan tahu akan rencananya itu.