
Tanpa tahu apa yang akan terjadi, Gail pergi mengikuti Orland untuk bertemu dengan sang rekan bisnis. Lagi pula dia sudah menghubungi Cristal dan semua baik-baik saja. Dia juga sudah menghubungi Alston dan ternyata situasinya aman.
Lucius memang belum memerintahkan anak buahnya untuk bergerak. Dia baru memerintahkan anak buahnya untuk memantau situasi apalagi dia mendengar jika ada yang menjaga Cristal di rumah Gail. Tentunya dia tidak akan bertindak sembarangan, agar rencananya tidak gagal.
Anak buahnya memang melihat siapa yang menjaga rumah itu, berapa orang dan tentunya mereka mengintai setiap gerak gerik Alston. Mereka mengintai cukup jauh sehingga Alston tidak menyadari kehadiran mereka dan setelah puas, mereka pun pergi untuk memberi laporan.
Setelah mendapatkan laporan itu, Lucius semakin yakin untuk segera bergerak. Oleh sebab itu Gail tidak curiga karena dia masih berbicara dengan Cristal dan Angela tanpa tahu jika bahaya yang sesunguhnya akan segera datang.
Lucius memang sengaja membuat mereka merasa aman untuk satu malam. Membuat rasa waspada mereka longgar sedikit. Dia tidak akan membuat keributan sebelum dia begitu yakin. Lagi pula Leon Pierce memintanya untuk tidak terburu-buru jadi dia harus mendengarkan sang sekutu agar tidak terjadi selisih paham.
Gail dan Orland sudah tiba di sebuah perusahaan. Mereka disambut oleh sang pemilik perusahaan yang memang sudah menunggu mereka. Pemilik perusahaan itu terlihat masih muda namun berwibawa.
"Selamat datang, Tuan Dmytry. Maaf jika sambutanku ini kurang menyenangkan," sang pemilik perusahaan itu mengulurkan tangan ke arah Orland.
"Terima kasih, Tuan Smith. Tidak perlu terlalu formal, seperti ini saja sudah cukup untukku," ucap Orland sambil menyambut uluran tangan Orland.
Pemilik perusahaan itu Jonathan Smith, Orland memang hendak menjalin kerja sama dengannya. Sebagai perusahaan yang sedang naik daun, tentu dia harus menggandeng perusahaan besar supaya semakin maju.
{Sesuai dengan permintaan reader, padahal gak ada alasannya Smith hadir di kisah ini tapi dipaksa hadir, wkwkwkkwk..... Tapi si Jonathan Smith ya. Anggap lagi promo biar pada penasaran sama kisahnya nanti. wkwkwkwk....}
Jonathan membawa mereka naik ke atas, menuju ruangannya karena mereka akan membahas bisnis di sana. Gail mengikuti langkah bosnya, dia tidak menduga jika yang akan diajak bekerja sama oleh bosnya ternyata bukanlah orang biasa.
Siapa yang tidak mengenal pria itu? Dulu mantan bosnya selalu membicarakan mereka dan selalu memperingati dirinya untuk tidak mencari perkara dengan siapa pun dari klan Smith.
"Aku sangat berterima kasih kau mau menerima ajakan kerja samaku ini," Ucap Orland.
"Aku akan menerima ajakan siapa pun untuk bekerja saja asalkan yang mengajakku adalah perusahaan yang berpontensi, Tuan Dmytry. Jadi tidak perlu berterima kasih," pintu ruangan terbuka, mereka masuk ke dalam. Seorang gadis manis sedang duduk di kursi, dia adalah putri Jonathan.
"Wah, apakah itu putrimu?"
"Yes, maaf jika keberadaannya mengganggu. Aku harus membawanya karena tidak ada yang menjaganya."
"Istrimu?"
"Yeah.... istriku sudah meninggal, Tuan Dmytry."
"Oh, astaga. Maafkan aku," Orland jadi tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, silahkan masuk," setelah mempersilahkan Orland untuk masuk dan mengantarnya ke sofa, Jonathan Smith menghampiri putrinya untuk memintanya bermain di luar.
"Jasmine, Daddy ada pekerjaan. Bisakah bermain di luar dengan Robert?"
__ADS_1
"Tidak mau, Dad. Aku bosan dengan Uncle Robert."
"Tapi Daddy kedatangan tamu. Jasmine mau pergi main sebentar dengan Uncle Robert, bukan?"
"Tidak mau, Jasmine mau bermain dengan Uncle itu saja!" Jasmine melompat turun dari atas kursi dan berlari ke arah Gail.
"Jasmine, jangan!" cegah Jonathan tapi putrinya sudah berdiri di sisi Gail.
"Uncle, mau main denganku?" ajaknya.
Gail tidak menjawab, dia melihat ke arah Orland karena dia tidak berani mengambil keputusan.
"Jasmine, dengan Uncle Robert saja," ucap Jonathan.
"Tidak mau, Jasmine mau main dengan orang baru."
"Gail, pergilah temani," ucap Orland.
"Maaf untuk hal ini," Jonathan jadi tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, asistenku suka dengan anak-anak."
"Uncle, bagaimana jika kita bermain tuan putri dan pangeran?" tanya Jasmine.
"Permainan macam apa itu?" Gail melihat mainan yang ada karena dia berniat membelikan mainan untuk Angela. Mungkin saja dia bisa memainkan hal yang sama dengan Angela setelah dia bermain bersama gadis bernama Jasmine itu.
Permainan pun dimulai, teriakan Jasmine terdengar karena dia sangat senang. Dia sudah bosan bermain dengan asisten ayahnya, jadi dia bereksperimen dengan orang baru. Kali ini terasa menyenangkan, biasanya sang asisten tidak mau atau lari jika ingin dia dandani tapi Gail duduk diam seperti yang dia inginkan.
Gail hanya bisa pasrah, dia tidak bisa menolak dan hanya bisa diam saja saat Jasmine mencoret-coret wajahnya.
"Berapa usiamu?" tanya Gail.
"Usiaku dua tahun lima bulan lewat tiga hari tapi kurang sepuluh detik," jawab Jasmine sambil mencoret-coret wajah Gail sesuai dengan imajinasi.
Gail mengernyitkan dahi. Apa maksud perkataan gadis itu? Dia benar-benar tidak paham tapi Jasmine juga tidak paham dengan apa yang dia ucapkan.
Mereka berdua sibuk bermain, Orland dan Jonathan sibuk berbisnis. Mereka berdua begitu serius sampai lupa waktu dan ketika waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, mereka berdua baru melakukan kesepakatan tapi mereka masih harus membahas hal itu lebih lanjut.
"Aku tidak akan ragu untuk menanamkan modal ke perusahaanmu, Tuan Dmytry," ucap Jonathan.
"Aku senang mendengarnya. Ini benar-benar sebuah kehormatan untukku," Orland mengulurkan tangannya, tentunya di sambut oleh Jonathan.
__ADS_1
Mereka sudah sepakat untuk menjalin kerja sama, tapi mereka harus membicarakan bisnis itu lebih lanjut. Tentunya mereka akan membahas bisnis mereka besok karena waktu yang sudah sore. Semua berkas sudah dibereskan, sudah saatnya untuk pergi.
Jonathan melangkah menuju ruangan, dia jadi ingin tahu apa yang dilakukan oleh putrinya dengan teman bermain barunya. Pintu terbuka, Jonathan terkejut melihat rupa Gail yang sudah berantakan karena di coret oleh putrinya.
"Jasmine, apa yang kau lakukan?" teriaknya.
"Mendandani Uncle," jawab Jasmine sambil tersenyum.
"Astaga, jangan melakukan hal seperti ini!" Jonathan menghampiri putrinya dan menggendongnya.
"Aku minta maaf, putriku sudah keterlaluan," ucap Jonathan. Dia sangat ingin menertawakan penampilan Gail tapi dia tahan begitu juga dengan Orland yang melihat penampilan asistennya.
"Tidak masalah, Tuan Smith. Aku sudah terbiasa jadi jangan dipikirkan," Gail membuka penjepit yang sedang menjepit rambutnya saat ini.
"Apa kau memiliki seorang putri?"
"Yeah, usia mereka tidak beda jauh."
"Wah, kebetulan. Pantas saja putriku ingin bermain denganmu. Sebagai ucapan terima kasihku, bagaimana jika kita makan malam bersama. Aku juga belum menjamu Tuan Dmytry jadi anggap ini sebagai jamuan untuk kedatangan kalian."
"Tidak perlu, Tuan Smith. Tidak perlu merepotkan diri untuk menyambut kedatangan kami."
"Tidak jadi soal, tolong jengan menolak," pinta Jonathan.
Karena sudah diajak untuk makan bersama, mereka pergi ke restoran. Tentunya setelah Gail membersihkan wajahnya. Entah kenapa anak perempuan suka mendandani tapi dia tidak keberatan sama sekali.
Jonathan menjamu tamunya dengan sangat baik dan ketika Jonathan dan Orland kembali membicarakan bisnis, Gail mencoba menghubungi Cristal namun tidak ada jawaban. Tidak saja menghubungi Cristal, Gail juga menghubungi Alston namun Alston tidak juga menjawab. Aneh, dia sungguh curiga.
Gail mencoba beberapa kali tapi hasilnya tetap sama. Sial, firasat buruk. Pasti sudah terjadi sesuatu. Sebaiknya dia kembali ke hotel untuk mengambil laptopnya karena dia ingin mengecek cctv. Gail hendak menghampiri Orland tapi tiba-tiba saja ponselnya berbunyi karena Alston yang menghubunginya.
Tidak ingin membuang waktu, Gail menjawabnya.
"Maafkan aku, Gail. Kami di serang!"
"Apa?" Gail terkejut, nada bicaranya bahkan begitu tinggi sehingga membuat Orland dan Jonathan melihat ke arahnya.
"Aku akan segera kembali!" ponsel dimatikan, Gail segera menghampiri Orland.
"Sorry, Sir. Aku harus pulang karena Angela dalam bahaya!" setelah berkata demikian, Gail langsung pergi tanpa mendengarkan jawaban dari bosnya.
Dia tidak menyangka Lucius dan Leon benar-benar bergerak untuk melawannya. Tidak akan dia maafkan, mereka berdua pasti akan mati di tangannya.
__ADS_1