Mantan Mafia With Single Mother

Mantan Mafia With Single Mother
Chapter 61


__ADS_3

Sebelum melakukan penyerangan, Gail berdiri di depan markas Lucius di mana markas itu di kelilingi dengan tembok yang menjulang tinggi. Anak buah Lucius berjaga di depan markas, mereka semua tampak waspada dengan senjata api di tangan. Mereka bahkan berkeliling di dalam markas secara bergantian untuk melihat situasi yang ada.


Tidak satu pun dari mereka yang menyadari jika Gail sudah berada di depan gerbang dengan yang lainnya. Cctv sudah menangkap keberadaan mereka tapi anak buah yang saat itu bertugas mengawasi cctv sedang bermain kartu dengan yang lain.


Gail bukan orang yang suka menyerang dengan cara sembunyi-sembunyi, dia pasti akan menghancurkan tempat itu apalagi dia mendapat banyak bantuan walau dia tidak tahu kenapa anak buah Leon tiba-tiba membantu tapi dia tidak boleh menolak bantuan yang ada jika dia ingin mendapatkan kemenangan dan menyelamatkan Cristal juga Angela.


"Lucius!!" Gail berteriak memanggil dan setelah itu, seperti yang dia lakukan sebelumnya di tempat Leon, sebuah granat dilemparkan masuk ke dalam.


Granat itu meledak, mereka mulai menghancurkan pintu gerbang dengan senjata api mereka. Anak buah Lucius berteriak dari dalam, semua sudah bersiap dengan senjata api mereka apalagi pintu gerbang yang sepenuhnya tertutup dengan rapat sudah hampir roboh.


Mereka benar-benar waspada tapi siapa yang menduga, sebelum pintu gerbang itu benar-benar roboh, sebuah granat kembali di lempar ke dalam. Benda itu meledak, bersamaan dengan pintu gerbang yang dirobohkan.


Gail dan yang lain masuk ke dalam, mereka melangkah maju sambil menembak. Tentu keributan yang mereka buat membuat Lucius semakin murka. Peluru yang dia tembakan mengenai bahu Cristal, wanita itu sempat terjatuh tapi tekad kuatnya untuk mencari putrinya membuat Cristal mengabaikan rasa sakit di bahunya dan berlari pergi. Entah dia sanggup atau tidak tapi dia harus berusaha mencari keberadaan putrinya.


Suara tembakan itu juga membuat Angela ketakutan, gadis itu berteriak dan menangis dengan keras. Angela terus memanggil ibunya, dia juga memanggil Gail agar segera datang menolongnya.


Lucius memakai bajunya dengan terburu-buru, dia tidak peduli siapa pun yang ada di luar karena yang dia kejar adalah Cristal walau dia bisa menebak jika yang ada di luar sana adalah Gail tapi saat ini dia harus mendapatkan  Cristal terlebih dahulu. Wanita itu sudah membuatnya marah dan dia benar-benar harus mati.


"Jangan lari kau, Cristal Aaron!" teriak Lucius.


Cristal berlari menyelusuri lorong, dia harus mencari keberadaan Angela. Bahunya sangat sakit, darah bahkan sudah membasahi selimut yang dia gunakan untuk menutupi tubuhnya. Dia kira Lucius tidak akan mengejar tapi sayangnya tidak, Cristal terkejut mendengar teriakan Lucius yang ada di belakang sana.


Dia harus cepat, jangan sampai dia tertangkap. Dia juga berharap Gail cepat masuk ke dalam karena dia yakin yang sedang membuat keributan di luar sana adalah Gail.


Gail menembaki anak buah Lucius menggunakan senjata api otomatisnya dengan membabi buta. Kepala Leon dilemparkan ke arah anak buah Lucius yang sedang membalas serangan mereka agar dia bisa menembak dengan mudah. Lagi pula kepala itu akan dia ambil lagi nanti.


Seperti yang dia duga, anak buah Lucius begitu banyak dan waspada. Sebab itu dia tahu jika dia tidak akan bisa menang melawan Lucius dengan keadaannya tapi keberadaan Jonathan Smith dan juga Orland serta anak buah Leon, dia tidak terlalu terdesak saat melawan mereka.

__ADS_1


Gail dan Jonathan membuat sebuah kesepakatan, mereka akan berpencar. Gail akan menyerang ke sebelah kiri, sedangkan Jonathan ke sebelah kanan. Tidak lupa, Gail meminta Jonathan untuk menjaga bosnya karena bagaimanapun Orland memang masih amatiran dalam hal seperti itu.


Mereka berpencar setelah sepakat. Anak buah Leon mengikuti Gail ke sisi kiri, sedangkan anak buah Jonathan mengikuti bosnya di sebelah kanan. Mereka bergerak maju, untuk mencari Angela dan Cristal. Markas Lucius begitu besar, Gail juga tidak menguasai medan. Tidak seperti markas Leon di mana dia tidak asing dengan tempat itu tapi markas Lucius benar-benar asing.


Gail melangkah mengendap, berhati-hati karena bisa saja anak buah Lucius sudah menyambut kedatangannya. Anak buah Lucius sedang bersembunyi, mereka sudah menyiapkan perangkap untuk menjebak Gail atau siapa pun yang akan menghampiri mereka.


Suasana yang hening membuat Gail curiga dan waspada. Gail menghentikan langkah, dia juga meminta anak buah yang mengikutinya untuk berhenti. Tidak saja harus mewaspadai anak buah Lucius, tapi dia juga harus mewaspadai anak buah Leon yang bersama dengannya karena bisa saja mereka balik menyerang.


"Ada apa, Sir?" tanya salah seorang anak buah yang ada di sisinya.


Gail melirik ke arahnya, sepertinya sudah saatnya mencari tahu apa tujuan mereka yang tiba-tiba datang dan bergabung.


"Ada jebakan, apa kalian berani maju?" tanya Gail.


Beberapa dari mereka mengangguk, mereka tidak terlihat ragu sama sekali. Tanpa menjawab pertanyaan Gail, dua orang dari mereka melangkah maju. Senjata api diangkat, mereka berdua tampak waspada. Entah jebakan apa yang dimaksud oleh bos baru mereka yang pasti mereka harus waspada.


Senjata rahasia yang disembunyikan sudah siap di tembakan tapi mereka ragu. Kedua anak buah yang melangkah maju memberi isyarat jika ruangan yang akan mereka lewati tampak aman. Gail tidak yakin, tapi jika dia tidak keluar untuk memancing maka musuh tidak akan menampakkan diri untuk menyerang karena sepertinya dialah target yang diinginkan oleh mereka.


Gail keluar dari persembunyian dan melangkah maju, para anak buah mengikutinya dari belakang.  Mereka terus melangkah maju dan terlihat waspada. Anak buah Lucius sudah bersiap, target yang mereka inginkan sudah keluar. Gail melangkah mendekati posisi di mana senjata otomatis yang akan di tembakan nanti akan mengenainya tepat sasaran.


Gail semakin melangkah mendekat dengan kewaspadaan tinggi, ada yang salah. Langkahnya pun terhenti, dia melihat sana sini.


"Mundur!" teriak Gail karena dia tahu ada yang tidak beres.


"Sial, tembak!" terdengar suara teriakan anak buah Lucius.


Senjata otomatis langsung aktif, puluhan timah panas menghujani Gail dan para anak buah yang bersama dengannya. Mereka segera mundur, beberapa dari mereka tertembak oleh timah panas tersebut dan mati di tempat. Gail mengumpat, dia tampak tidak senang. Akan dia bunuh semua.

__ADS_1


Sebuah granat sudah berada di tangan, benda itu dilemparkan. Tidak saja satu tapi Gail melemparkan beberapa granat ke arah musuh berada. Ledakan demi ledakan terjadi, menghancurkan tempat itu. Bangunan bahkan berguncang akibat ledakan tersebut.


Anak buah Lucius yang bersembunyi terpental akibat ledakan, teriakan mereka bahkan terdengar. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Gail dan yang lain keluar dari persembunyian dan menembaki anak buah Lucius yang sedang berusaha menyelamatkan diri dari ledakan tapi kini mereka harus menyelamatkan diri dari timah panas.


Gail terus maju sambil menembak, suara tembakannya bahkan terdengar oleh Lucius tapi saat itu dia memang menunggu kedatangan Gail apalagi Cristal sudah dia tangkap. Lucius duduk di sebuah kursi yang ada di sebuah ruangan, Cristal berlutut di hadapannya. Rambutnya di jambak, sepucuk senjata api berada di bawah dagu.


Lucius sudah tidak sabar Gail masuk ke dalam ruangan itu, dia akan menghancurkannya dengan membunuh wanita itu terlebih dahulu kemudian putri Cristal. Suara tembakan semakin nyaring terdengar, anak buahnya terpukul kalah sehingga masuk ke dalam ruangan itu.


Gail juga masuk tanpa ragu, senjata api diangkat tinggi namun dia terkejut saat melihat keadaan Cristal yang hanya terbungkus sebuah selimut yang sudah basah olah darah. Cristal bahkan sudah terlihat pasrah karena dia sudah terlihat tidak berdaya.


"Well... Well, akhirnya kau datang juga, Gail Bernard," ucap Lucius mencibir.


"Aku akan membunuhmu, Lucius!" teriak Gail marah.


"Jangan coba-coba, jika kau berani mendekat atau menembak maka dia mati!" ancam Lucius. Rambut Cristal kembali di jambak sehingga wajahnya terangkat. Cristal hanya bisa meringis dan menatap ke arah Gail dengan sendu. Tidak masalah jika dia mati tapi dia berharap Gail dapat menyelamatkan Angela.


"Kau benar-benar baj*ngan yang hanya berani pada wanita!" Gail benar-benar marah, dia tidak akan memaafkan Lucius. Tidak akan pernah.


Lucius tertawa terbahak, terserah pria itu akan berkata apa. Yang pasti dia akan menang sebentar lagi.


"Bawa gadis itu kemari, dia akan menyaksikan mereka berdua mati!" perintah Lucius pada salah satu anak buahnya.


"Jangan pernah menyentuh mereka, Lucius. Aku bersumpah akan membunuhmu dengan kedua tanganku ini!"


"Ha.. Ha.. Ha... Ha...!" Lucius kembali tertawa terbahak.  Apa Gail tidak mengerti situasi? Dia hanya seorang diri walau ada beberapa orang di belakangnya tapi dia tidak akan menang namun sesungguhnya dialah yang tidak mengerti akan situasi.


Anak buah yang mendapat perintah segera pergi ke ruangan di mana Angela disekap, dia akan membawa gadis itu namun ketika dia masuk ke dalam ruangan itu, dia disambut oleh puluhan senjata api dan Angela sudah berada di dalam gendongan seorang pria.

__ADS_1


Anak buah Lucius mengangkat kedua tangan. Sial. Tamat riwayat mereka dan bosnya masih juga menyombongkan dirinya tanpa tahu keadaan yang telah terjadi.


__ADS_2