Mantan Mafia With Single Mother

Mantan Mafia With Single Mother
Chapter 50


__ADS_3

Sahabat lama Gail sudah datang, dia sudah siap menjaga dan melindungi Cristal dan Angela sesuai permintaan Gail karena hari ini adalah hari di mana Gail akan pergi ke California untuk menemani bosnya menjalankan bisnis. Gail menyambut kedatangan sahabatnya terlebih dahulu sebelum membereskan barang-barangnya. Dia tidak meminta bantuan Cristal karena dia bisa sendiri.


Seorang pria sudah menunggunya di ruang tamu. Gail menghampiri sang sahabat yang sudah menunggu. Angela mengintip dari balik pintu, dia tampak ketakutan karena dia memang selalu seperti itu saat ada orang baru.


"Apa kau sudah mau pergi?" tanya sahabatnya.


"Sebentar lagi."


"Mana mereka, aku harus melihat rupa mereka, bukan?"


"Dengar, Alston. Aku percaya padamu jadi jangan khianati aku."


"Tentu saja tidak, Gail. Aku tidak akan mengkhianatimu!"


"Bagus, jika kau berani maka aku tidak akan segan membunuhmu!"


"Wow, tidak perlu mengancam. Semua akan kau bunuh, lalu siapa yang tidak akan kau bunuh?"


"Mereka," Gail menunjuk ke arah Angela dan Cristal yang sedang melihat dari balik dinding, "Juga bosku dan keluarganya yang lain aku tidak peduli!" ucapnya lagi.


"Dasar kau, tapi yeah... setidaknya ada yang tidak akan kau bunuh sekarang dari pada dulu. Dulu kau tidak akan pandang bulu dan membunuh siapa saja mau itu muda, tua atau kecil!"


"Sudah aku katakan, aku ingin hidup normal tapi jika ada yang menggangguku, maka aku tidak akan segan!"


"Baiklah, aku juga tidak mau berakhir di tanganmu jadi aku tidak akan berkhianat!"


"Bagus!" Gail memanggil Cristal dan Angela untuk mengenalkan mereka pada Alston.


Angela bersembunyi di balik kaki ibunya, dia tidak suka dengan orang asing apalagi orang yang baru pertama kali dia lihat.


"Selama aku pergi, Alston yang akan menjaga kalian," ucap Gail.


"Apakah Uncle akan lama?" Angela menghampirinya dan duduk di atas pangkuannya tanpa ragu. Cristal juga menghampiri Gail dan duduk di sisinya.


Alston terkejut melihatnya, walau Gail tanpa ekspresi tapi dia bisa melihat pria itu tulus terhadap gadis manis itu. Gail benar-benar sudah berubah, sepertinya dia sudah mulai mendapatkan kehidupan normal yang dia inginkan. Gadis seperti Angela tampak tidak takut padanya walau wajahnya tetap saja kaku. Itu menunjukkan jika dia sudah banyak berubah.


"Tidak, hanya beberapa hari saja. Jadi gadis baik dan jangan takut dengannya!"


Angela melihat ke arah Alston lalu mengangguk. Walau dia takut tapi dia harus menjadi gadis penurut. Cristal juga memandangi sahabat Gail dengan serius, semoga saja pria itu bisa dipercaya karena jujur saja, dia khawatir. Mereka berbicara sebentar dan setelah itu, Alston pamit keluar. Gail juga masuk ke dalam kamar diikuti oleh Angela dan Cristal.


"Uncle, kenapa Uncle menakutkan itu harus menemani kami saat Uncle pergi?" tanya Angela ingin tahu.

__ADS_1


"Untuk jaga-jaga, Sayang," jawab Cristal.


"Jaga-Jaga dari apa, Mom?" Angela semakin ingin tahu.


"Dari orang-orang yang selalu mengejar kita untuk menagih hutang," dusta ibunya.


"Apa masih ada, Mom?"


"Tentu saja, Sayang. Sebaiknya kita bantu Uncle membereskan barang-barangnya," ajak Cristal.


"Tidak perlu, aku tidak membawa banyak barang."


"Kau yakin?" Cristal melihat tas yang ada di atas ranjang, seperti yang Gail katakan, dia memang tidak membawa banyak barang karena dia sudah selesai mengambil barangnya.


"Yeah, kemarilah!" Gail mengulurkan kedua tangannya. Tentunya Angela langsung berlari ke arahnya dan melompat naik ke dalam gendongan Gail sebelum ibunya.


"Aku duluan, Mom," teriaknya.


Cristal terkekeh, entah kenapa mereka jadi seperti saingan. Cristal melangkah mendekatinya, teriakannya terdengar saat Gail menarik tangannya sehingga Cristal masuk ke dalam pelukannya.


"Aku akan merindukan kalian selama di sana," ucap Gail.


"Kami juga," Cristal memeluknya, padahal Gail bilang hanya pergi beberapa hari saja tapi entah kenapa perasaannya tidak nyaman.


"Apa yang Angela inginkan? Uncle akan membelikannya nanti."


"Angela ingin bayi yang bisa menangis," ucap Angela.


Gail mengernyitkan dahi lalu memandangi Cristal. Bayi yang bisa menangis? Angela serius atau sedang bercanda?


"Uncle mau membelikannya, bukan?" tanya Angela.


"Tentu saja tapi lebih baik memintanya pada ibumu," jawab Gail karena dia tidak tahu ada mainan seperti itu.


"Hei, kenapa meminta padaku?"


"Apa ada mainan seperti itu? Bukankah hanya kau saja yang bisa memberikan Angela bayi yang bisa menangis?" tanya Gail pula.


"Bukan bayi itu, Gail," Cristal menahan tawanya, Gail pasti tidak tahu.


"Lalu, apa ada mainan seperti itu?"

__ADS_1


"Tentu saja ada. Mainan anak perempuan banyak jenisnya, asal kau mampu saja membelikannya tapi jangan terlalu memanjakan Angela. Sekarang dia sudah tidak ragu lagi meminta padamu!"


"Tapi, Mom. Angela sangat ingin memiliki mainan seperti itu," ucap Angela sambil menunduk. Ekspresi wajahnya jadi terlihat sedih karena dia sudah sangat menginginkannya.


"Kali ini saja, aku akan membelikannya tapi lain kali tidak!"


"Benarkah, Uncle?" Angela kembali terlihat senang.


"Yeah, tapi ingat. Angela tidak boleh nakal dan dengarkan apa yang Mommy katakan!"


"Tentu saja, Uncle. Terima kasih," Angela memeluknya dan memberikan ciuman di pipi.


"Angela, Mommy ingin berbicara dengan Uncle sebentar. Apa Angela bisa menunggu di luar?" pinta Cristal.


"Tentu saja, Mom," Angela turun dari gendongan Gail dan setelah itu dia berlari keluar.


"Lain kali jangan memanjakan terlalu berlebihan, Gail. Aku takut dia jadi besar kepala karena kasih sayang yang kau berikan," pinta Cristal.


"Baiklah jika memang itu maumu," Gail meraih pinggang Cristal dan menariknya mendekat sehingga tubuh mereka merapat. Tangan sudah berada di pipi Cristal dan mengusapnya perlahan.


"Apa ada yang kau inginkan, Cristal? Katakan saja, aku akan membelikannya untukmu."


"Hei, aku baru saja memintamu untuk tidak terlalu memanjakan Angela tapi sekarang kau bertanya padaku ingin apa. Jangan terlalu memanjakan kami, Gail. Lagi pula aku tidak mau apa pun. Yang aku inginkan kau kembali sehingga kita bisa bersama lagi!"


"Aku pasti akan kembali tapi kau jangan lupa untuk menjaga dirimu baik-baik selama aku pergi."


"Tentu saja," Cristal berjinjit dan memberikan kecupan di bibir Gail.


"I love you," ucap Cristal tanpa ragu karena dia memang sudah jatuh cinta pada pria tanpa ekspresi itu.


"Hm!" Gail mengangkat dagu Cristal dan mencium bibirnya. Dia juga sangat ingin mengucapkan perkataan itu tapi tidak bisa. Entah kenapa tiga kata itu sulit dia ucapkan tapi dia rasa tanpa dia ucapkan pun, Cristal tahu jika dia mencintainya dengan tulus.


Cristal memeluknya dengan erat, dia enggan melepaskan Gail karena dia takut terjadi sesuatu saat pria itu pergi. Dia takut semuanya jadi berubah karena hal yang tidak mereka inginkan apalagi mereka tahu jika musuh menginginkan perpisahan mereka. Jujur saja, dia tidak bisa mempercayai sahabat Gail karena dia takut pria itu berkhianat.


"Aku sangat tidak ingin kau pergi tapi aku tidak bisa menahanmu," ucap Cristal.


"Aku tidak bisa mengabaikan pekerjaanku, Cristal. Dibandingkan dengan apa pun, aku tidak ingin membuat bosku kecewa."


"Aku tahu, Gail. Maaf jika aku egois."


"Tidak apa-apa, sudah waktunya aku pergi," Gail melepaskan pelukan mereka dan memasukkan barang terakhir ke dalam tasnya.

__ADS_1


Semua barang sudah siap, sudah saatnya berangkat. Gail berpamitan dengan Angela dan Cristal, permintaan untuk mereka berhati-hati kembali terucap. Dia juga meminta sahabatnya untuk tidak lalai. Angela dan Cristal berdiri di depan rumah, mengantar kepergiannya. Mereka bahkan melambaikan tangan dan belum beranjak sampai mobil yang dibawa oleh Gail sudah tidak terlihat.


Cristal segera mengajak putrinya untuk masuk ke dalam, tiba-tiba saja firasatnya semakin buruk. Dia sangat berharap apa yang mereka khawatirkan tidak terjadi namun apa pun yang akan terjadi nanti, mereka tidak bisa menghindarinya.


__ADS_2